
🍁Hari pertama aktif belajar
Mataku terus berkedut, kelopak mataku terus ingin ke bawah namun aku mencoba menahannya, rasanya rasa ngantuk ini tak dapat ku tahan lagi, sambil menutup mulutku hembusan udara keluar dari mulut.
ku lihat jam dinding yang terus berputar, suaranya semakin jelas terdengar" tukkkk.. tukkk... tukkk" waktu menunjukkan pukul 3.10. 20 menit lagi ucapku dalam hati.
Untuk beberapa minggu ke depan, kami siswa baru di jadwalkan masuk siang. Pasalnya karena ini sekolah negeri baru jadi beberapa bangunan belum kelar konstruksinya.
Alhasil karena biasanya waktu-waktu seperti ini jadwalnya tidur siang, jadi malah gak fokus belajarnya. Bagaimanapun guru menjelaskan di depan seperti dibacakan dongeng tidur bagiku.
Oh.. ya aku berada di kelas D, aku pernah bertanya kenapa aku gak di kelas A? padahal menurutku nilaiku bagus. Tapi jawabnya kelas A, B, sampai E sama saja,, tidak tergantung nilai. Jadi sekelas itu kombinasi dari semua anak biar seimbang katanya.
" ki ngantuk" keluhku pada teman sebangkuku.
" tidur aja" jawabnya sambil terus menulis, penasaran dengan apa yang di tulisnya,, aku mengintip sedikit.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala di buatnya, ku pikir dia mencatat apa yang ada di depan papan tulis,, tapi nyatanya ia mencoret-coret bukunya dengan tulisan
"aihhhh" ucapku dengan hembusan nafas.
dia tertawa Senyum-senyum sendiri melihatku. ini nih kalau mengidolakan sesuatu sampai segitunya, halunya tingkat dewa...
"Teeetttttt.. teetttttt... teetttttttt" bunyi bel 3 kali akhirnya waktu ISOMA. aku kegirangan tak terkira mendengarnya, waktu yang ku tunggu-tunggu dari tadi akhirnya tiba juga😁
"ayokk kei.. " ajak dinda
" tunggu, aku rapikan bukuku dulu" ucapku, dengan tergesa-gesa merapikan buku dan hendak berlari kecil menyusul dinda dan putri.
" kenapa diem?" tanyaku pada dinda dan putri yang tiba-tiba berhenti.
aku melihat ke arah mereka melihat dari lantai atas. yah kelasku berada di lantai 2. Dari atas aku melihat si wajah musam sedang marah-marah sepertinya,
" Jangan panggil begitu, saya ga suka"
" wahhh ,,, cuma main-main aja" ucap salah satu dari mereka, sepertinya mereka anak-anak cowok dari kelas lain.
" ya tetep aja saya ga suka " jawabnya penuh emosi dan lagi-lagi dia menggepalkan kedua tangannya di sampingnya.
" ga bisa bercanda nih anak" sambil memegang kepala si anak masam.
aku jadi takut melihatnya, aku takut melihat orang adu hantam.
__ADS_1
Sepertinya wajahnya terlihat sangat marah. mungkin karena kulitnya putih kalau marah wajah merah saat marah terlihat jelas.
putri yang sedari diam menonton mengajak kami untuk turun. aku dan dindapun ikut turun,, karena iki ga sholat jadi dia malas untuk turun dan memilih diam dalam kelas.
Sesampai bawah, yang benar saja putri dengan tegas ikut nimbrung
" kalau orang bilang ga suka, ya jangan !!!!kenapa coba main-mainnya kayak gitu"
" cuma main-main aja kok" balas mereka.
" tapi dia ga suka" balas putri lagi.
" ya udah " jawab mereka langsung pergi. Tanpa basa basi bilang minta maaf dia pergi begitu saja, si anak masam itupun pergi gitu aja tanpa bilang terima kasih.
🍁Sampai kantin kami bertemu kakak senior kami, yang ku tahu dia itu orangnya galak.
" assalamualaikum kak" sapa putri
" ya dek " jawab kakak itu senyum.
Aku Spechles di buatnya, sedangkan dinda hanya senyum-senyum penuh arti.
"kenapa? kamu kenal ya? " tanyaku pada dinda.
" dia itu tetangganya putri" whattt 😮,, mendengar cerita dinda aku dapat menyimpulkan bahwa putri memiliki rasa suka pada kakak itu.
" ya " jawab dinda senyum. Yah aku juga sebenarnya kasi ke dia juga sih soalnya kakak senior laki-laki yang ku kenal cuma dia, secara selama MOS dia kan kakak pembimbing di kelas kami.
🍁 Usai sholat ashar kami balik ke kelas sambil mengobrol kecil tentang kakak senior itu yang hitam manis berlesung pipit.
" cuma kagum, bukan suka" jelas putri membela diri.
" terus tadi ngomongin apa put?" tanyaku dengan senyum kecil.
" pinjam buku"
" Cieee " sahut dinda, penuh tawa.
" waduhhhh, garcep nih put" kamipun tertawa melihat tingkah putri yang salting karena bercandaan kami.
"kenapa tertawa? " Tanya iki di tempat duduk.
kami hanya geleng, karena putri tak ingin membahasnya lagi.
__ADS_1
🍁Jam terakhir
waktu bebas, sepertinya waktu bebas adalah waktu yang paling membahagiakan bagi kami semua, begitu juga aku yah walaupun aku harus belajar yang giat tapi aku sangat suka waktu bebas.
Yah beberapa anak langsung membentuk kelompok mengobrol masing-masing.
kami berempat kedatangan tamu, monik, dara dan putra. Kami bertujuh pun mengobrol kecil.
Hal yang tak terduga seseorang datang menghampiri kami bukan hanya aku yang kaget tapi, kami bertujuh yang ada di sana kaget. Si anak masam ikut nimbrung bersama kami.
" Terima kasih yang tadi" ucapnya pelan, ternyata dugaanku tentangnya salah dalam batinku.
" oh ya sama-sama, lain kali abaikan aja" balas putri. sudah menyampaikan Terima kasih dia langsung berbalik pergi. Entah perasaanku atau memang benar saat berbalik dia melirik ke arahku sebentar.
" kenapa balik?, sini duduk biar aku gak jadi yang paling tampan di antara mereka" ucap putra, yah dia sendiri laki-laki di sini di kelilingi 6 perempuan. Benar-benar tanpa basa basi dia duduk bersama kami dengan membawa kursinya.
" Raka dulu SMPnya di mana? " tanya putra membuka obrolan. oh.. jadi namanya raka, jadi sekarang bukan si anak masam lagi ucapku dalam hati.
"SMP S " jawabnya singkat.
" ini kamu yang gambar? " tanyanya menunjuk bukuku. Aku yang masih bengong tergagap menjawabnya " ahh.. ya....ya"
"ini tuh salah, seharusnya buatnya kayak gini" ucapnya, ia mengambil pensilku, sambil mengoceh memperbaiki gambar ku.
aihhhh, aku benar-benar salah menduganya dia benar-benar cerewet dan menyebalkan mengkritik gambar ku tanpa memahami perasaanku😡
Aku hanya bisa diam melihatnya aku akui gambar nya memang bagus, tapi itu kan imajinasiku sendiri kenapa harus di ubah-ubah sihhh 😑
" wahhh raka jago gambar ya? "
"suka gambar ya? " Anak-anak mulai bicara ini itu kagum melihat gambarannya.
" cara gambar buat tangan itu kayak gini, bukan kayak gini " ucapnya tegas padaku sambil memperlihatkan gambar tanganku yang hanya bisa membuat tangan tanpa jari-jari tangan.
" ini mah buntung namanya" aduhh bener-bener nih anak, ucapku dalam hati membuat tanduk kepalaku ingin keluar dari kepalaku 👿👿
Mendengar kata-kata raka sontak anak-anak tertawa, yang paling keras ketawanya adalah iki dan monik.
" yah Terima kasih, nanti aku belajar buat tangannya biar ga buntung" aku mengambil buku gambarku darinya dan langsung memasukkan ke dalam tasku.
" Jago ya gambarnya"
" ah gak biasa -biasa aja kok" ku pikirnya dia akan jawab gitu rendah dirilah, inilah malah di luar dugaan
__ADS_1
" ya, saya bisa kok gambar ini itu....bla..bla..bla.. " dengan cerewet nya ia menjelaskan dirinya bisa gambar ini itu, dia udah suka gambar dari dulu.
Pokoknya semua tentangnya sejak awal yang menurutku pendiam salah semua. fix dalam pikiranku dia anak yang sombong dan pemarah. 😑