
Di antar kakak dan bapak aku sudah sampai di tempat berkumpul sesuai janji kemarin, Ku pikir aku telat ternyata lia dan lainnya belum datang,, yang lain yang ku maksud adalah anak-anak yang juga dari sekolah lain.
" bapak pulang, inget hati-hati " nasihat bapak padaku.
" ya pak " jawabku lalu menarik koper kecilku ke tempat titik kumpul yang juga beberapa guru sudah ada di sana.
" Dek inget pesan kakak " teriak kakak dari kejauhan sambil tersenyum padaku.
" Senyum kalau ada maunya saja " ucapku pelan, dan lanjut berjalan. Tiba-tiba aku teringat alif yang juga tadi ingin ikut mengantarku tapi karena harus sekolah jadi tidak bisa.
nanti aku belikan oleh-oleh ucapku dalam hati sambil tersenyum mengingat adekku yang meminta di bawakan makanan kalau pulang.
Di pikiran anak itu selalu aja makanan pantas aja tubuhnya besar.
Aku berjalan sambil bersenandung, sampai pak guru langsung menyuruhku menghubungi lia.
" kei coba hubungi lia " perintah pak guru pendamping ku.
aku segera menghubungi lia tapi tak ada jawaban, aku mencoba menghubungi kembali tapi lagi-lagi tak ada jawaban
" gak di angkat pak "
" kemana anak itu? " omel pak guru sambil melihat jam tangannya.
pucuk di cinta ulampun tiba,, yang di tunggu -tunggu akhirnya datang, dari kejauhan terlihat lia berlari sambil menarik kopernya.
" maaf.. pak saya telat " ucap lia dengan nafas tersengal sengal.
" ayo.. masuk " suruh pak guru.
Aku dan lia masuk " kopernya? " tanya lia tiba-tiba.
" biar pak guru yang masukin nanti di bagasi " jawab pak guru.
Aku dan lia duduk di belakang berdua.
" minum? " tawarku, memberikan botol minumanku
" Terima kasih, aku bawa " jawabnya mengambil minuman di samping ranselnya. Aku memasukkan lagi minumanku di saku ransel ku. Melihat sisi kiri aku melihat beberapa motor yang melintas melewati kami. Semakin jauh suasana perkotaan semakin hilang yang terlihat hanya pohon-pohon tinggi di pinggir jalan dan beberapa sawah dengan tanaman jagung dan padi.
" kei HP mu bunyi " beritahu lia, aku yang sedari tadi ngelamun segera tersadar dan membuka tas ransel ku di bagian depan.
No. yang tak ku kenal,,,
" siapa? " ucapku pelan
" kalian udah makan? " tanya pak kepala sekolah kami yang juga ikut bersama kami
" udah pak " jawab kami serempak.
Aku menoleh ke arah lia yang memegang handphone nya sambil senyum-senyum sendiri.
" kenapa? kok ketawa-ketawa? " tanyaku penasaran.
" Dari pacarku " ucapnya pelan sambil memperlihatkan handphonenya yang berisi chat bersama pacarnya. Aku yang ikut membacanya di buat senyum-senyum juga,
kok aku yang jadi malu bacanya
" kamu punya pacar? " bisiknya pelan
" nggak " jawabku cepat langsung melihat ke arahnya, aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya.
" terus sama raka itu? " darimana dia tahu?? pikiranku mulai ricuh panik kesana kemari mengetahui lia yang tiba-tiba sebut nama raka.
" cuma temen " jawabku
" ohhhh... " jawab lia singkat , lanjut asyik bermain handphone. Kenapa dia bisa bilang kayak gitu? Tanyaku dalam hati.
Aku kemudian membuka pesan dari no yang tak ku kenal.
" Hati-hati di jalan " aku membaca pesannya dan melihat pesan sebelumnya ternyata dari Raka. Aku lupa menyimpan no barunya.
Hanya membaca pesannya saja membuat jantungku berdegup kencang.
" Terima kasih " balasku.
Selalu seperti ini hanya 2 atau 4 kali obrolan kami sudah mengakhirinya. Aku memasukkan handphone ku lagi.
Kami sudah sampai di depan bandara. Aku dan lia turun langsung menuju bagasi mengambil koper kami. Pak guru menyuruh kami bergegas masuk karena waktu keberangkatan tinggal 15 menit lagi.
" yang mau ke kamar mandi boleh ke kamar mandi dulu " perintah ketua group.
Tak ada yang mau ke kamar mandi, pak ketua group membagikan kami tiket tempat duduk kami.
Masuk ke pesawat, aku mencari tempat duduk, aku mendapat tempat duduk di tengah di apit lia dan satu teman cowok dari sekolah lain.
Sepanjang jalan aku menatap mata, saat pesawat mulai terasa bergerak dan pelan-pelan naik aku merasa isi perutku keluar semua.
" pertma kali ya? " tanya cowok di samping kiriku.
__ADS_1
" Chandra " ucapnya mengulurkan tangan.
" Keila " jawabku singkat menyambut uluran tangannya.
" aku lia " sambung lia mengulurkan tangannya.
" ini juga pertama kali naik pesawat? " tanyanya lagi
" ya " jawabku singkat
" nggak, sudah sering " jawab lia. Nyambung mereka akhirnya mengobrol berdua dan aku hanya mendengarkan mereka di tengah-tengah. ~
Sampai di kota B, kami di bagikan kunci kamar,, aku dan lia tak sekamar,,
" yah gak sekamar " keluh lia
" Gak bisa di tuker mba? " tanya lia pada petugas hotel.
" nggak bisa mba, ini sudah di atur dari panita Olimpiade langsung " jawab mbaknya. Aku dan Chandra naik ke lantai 2 kami sama-sama mendapatkan kamar di lantai 2.
" kunci kamarmu mana? " tanya Chandra.
" katanya sudah ada orang di kamarku" jawabku. Kata petugas tadi kuncinya sudah di berikan ke peserta olimpiade yang sudah datang lebih dulu dariku.
Sampai depan kamarku, aku mencoba mengetuk-ngetuk kamarku tapi tak ada balasan.
" nggak di buka-buka " keluh ku ke Chandra yang masih diam menungguku.
" Coba lagi " suruh Chandra. Aku mengetuk lagi tapi lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam. Aku yang merasa capek sedikit kesal
" tunggu, aku taruh barangku dulu nanti kita sama-sama ke resepsionis nya "
" ya " ucapku sambil mengangguk. Menunggu Chandra yang kamarnya berada di urutan no 3 dari kamarku.
Setelah Chandra masuk ke kamar, " klikkkkk " tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, aku langsung menoleh.
" maaf tadi kami tidur " ucap 2 orang yang terlihat sama dengan kulit hitam wajah manis.
" ya gak apa-apa " jawabku langsung masuk menarik koper ku.
" Sini biar ku bantu " salah satu dari mereka membantuku memasukkan koper ku.
Masuk ke kamar aku mengingat Chandra yang ingin mengantarku ke bawah,
Setelah menaruh barangku, aku segera keluar
" aku ke luar sebentar "
" Gak jadi Chandra, udah kebuka " ucapku sambil menunjuk pintu kamarku yang masih ke buka
" Syukurlah " jawabnya. ~
Malamnya, aku mendapat telpon dari Pak guru yang mengingatkanku untuk makan malam.
" ya pak " jawabku.
" kalian tidak turun? " tanyaku pada 2 orang teman sekamar ku
" ini mau siap-siapa, kamu duluan aja " jawabnya sambil senyum padaku,, syukurlah aku dapat teman sekamar yang baik gak jutek ucapku dalam hati.
Mau keluar, terdengar suara seseorang mengetuk pintu sambil memanggil namaku. Aku buru-buru ke luar, membuka pintu ternyata Chandra sudah di depan kamarku
" mau turun? " tanyanya
" ya "
" ayokk samaan " ajaknya, aku mengikutinya dari belakang berjalan pelan di kepalaku mulai timbul pikiran aneh-aneh
*kenapa dia baik kepadaku ?
mungkin dia suka padamu π
mana mungkin ,,, ngaca dong !!!π
ya juga mana mungkin, stop gak usah ke PDan*.
Melihatnya berjalan cukup jauh darimu aku berjalan lebih cepat untuk menyusulnya.
Di bawah sudah ada lia dan 3 guru pendamping kami. Satu siswa di dampingi satu guru pendamping. Dan aku di dampingi oleh kepala sekolah langsung. 2 temanku yang lain yang berasal dari daerah sama berada di hotel yang berbeda tapi tak jauh dari hotel tempat kami. Katanya hotelnya ga cukup menampung banyaknya peserta.
Sampai di meja makan, kami sama -sama pergi mengambil makanan, yang sistemnya seperti makan jalan (resepsi). Mengambil makanan lia dan Chandra tak berhenti mengobrol aku yang berada di tengah di antara mereka harus mendengarkan obrolan mereka.
Duduk di meja bersama guru-guru aku lagi-lagi duduk di tengah antara Chandra dan lia.
" sedikit sekali makanannya? " ucap pak guru yang melihat sajian di piring ku.
" hmmm... ya pak " jawabku senyum tipis.
Selesai makan, aku meminta ijin untuk kembali ke kamar duluan.
__ADS_1
" ayokkk jalan-jalan lihat-lihat hotel " ajak lia antusias
" ya kei jarang-jarang kan " sahut pak guru.
Benar juga sih, " ya udah ayok " ajakku.
Kami berkeliling bertiga mengitari are-area hotel. Di samping kolam renang terdapat lampu-lampu taman.
" ayook duduk di sini " ajak lia.
aku dan Chandra mengikuti lia dan duduk di sana.
Airnya yang jernih memantulkan sinar rembulan dan cahaya-cahaya bintang
" kalau ada ikan hias sepertinya bagus " aku berbicara sendiri.
" ikan? " tanya Chandra melihatku sambil tertawa.
" kenapa? " tanya lia heran dengan Chandra yang tiba-tiba ketawa.
" nggak tahu " jawabku singkat,
" lia aku ke kamar ya? " ijin ku
" ya " jawab lia. Aku berjalan ke atas sendiri meninggalkan lia dan Chandra yang masih mengobrol. Entah kenapa ada yang kurang dariku aku merasa malas semenjak tadi.
Sepertinya aku rindu dengan rumahku, rindu pada bapak, mamak, kak adam dan alif.
aku akan menghubungi mereka ucapku dalam hati,, mempercepat jalanku.
Di kamar aku kebagian giliran tidur di bagian tengah. Mengambil handphone ingin menghubungi mamak, aku teringat ucapan mamak yang mengatakan
" nanti pasti langsung nelpon, dia kan cengeng "
Mengingatnya aku gak jadi menelpon pasti mamak akan mengejekku nantinya.
Aku mencoba mengirim pesan ke raka, menunggu lama tapi tak ada balasan juga.
" Mungkin sudah tidur " ucapku.
Aku akhirnya tidur lebih dulu.
Memejamkan mata tak membuatku tidur dengan terlelap, sudah pukul 11 malam, cuaca semakin dingin yang lain sudah tidur aku belum juga bisa tidur.
Aku mengambil handphone ku dan menghubungi kak adam.
" tut... tut..... " panggilanku tak di angkatnya. Mencoba lagi ke tiga kalinya akhirnya di angkat juga.
" assalamu'alaikum " ucapku dengan nada sedih
" wa'alaikumsalam " jawab kakakku
" kenapa??? gak bisa tidur? " tanya kakakku
" ya.... " jawabku mulai mewek, air mataku turun ketika kak adam sepertinya selalu mengerti diriku.
" kamu sudah makan? "
" ya " jawabku dengan nada sedih.
" ya sudah tidur sana! "
" Gak bisa tidur, kakak kenapa belum tidur? "
" masih ngerjain tugas "
" di sana udah jam 12 kan kak? "
" ya "
" kakak.... " panggil ku manja ingin menceritakan apa yang kurasakan benar-benar sepi rasanya yang biasanya saat ku tertidur mamak dan bapak akan datang mengecek aku sudah tidur belum,, yang terkadang bapak atau mamak merapikan selimut ku dan sekedar mengelus rambutku saatku tertidur.
" Ya.... " jawab kakak pelan.
" sudah tidur sana, udah malam besok ada kegiatan kan? kalau ada apa-apa langsung telpon kakak "
" ya.... "
" ya udah kakak mau lanjut tugas dulu, tidur ya! "
" hmmmm" jawabku sambil mengangguk.
" assalamu'alaikum " ucapku mengakhiri panggilan ku
" wa'alaikumsalam " jawab kakak.
Aku menaruh handphone ku di samping bantal. Aku menyelimuti diriku menyembunyikan kepalaku. Menangis di balik selimut.
Sudah ah .. kayak anak kecil Fighting ucapku menyemangati diri, aku mengusap air mataku dengan tangan yang kemudian mencoba memejamkan mata kembali membayangkan hal-hal bahagia bersama keluargaku di rumah.
__ADS_1
πaku yang saat marah selalu ingin pergi dari rumah, ternyata setelah jauh dari rumah baru merasakan, aku benar-benar tak bisa jauh dari keluargaku. Apa yang ku inginkan ternyata tak membuatku bahagia. Aku rindu bapakku, mamak ku, kakakku, dan adikku. Ternyata Keluargaku adalah segalanya bagiku walaupun terkadang kami sering berselisih paham.