Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
9 # Diantara Saudara


__ADS_3

Sampai di tempat parkir


Sosok perempuan menghampiri kami.


" Maaf ya dam " sosok yang tak asing bagiku. Kak Sindi namanya, kakak pembimbing ketika aku MOS, apa mantan kak kaisar yang dimaksud itu kak sindi? tanyaku dalam hati sambil terus memperhatikan.


" ya gak apa-apa, maaf sin kalau bisa kita jangan dekat-dekat dulu " ucap kakak.


" Ayo pulang.. " ajakku menarik tas kak Adam, di tengah-tengah obrolan mereka.


" oh... ini ya adeknya Adam yang nangis itu? " Hal yang ku pikirkan pertama kali adalah sekarang semua orang yang sebelumnya tak mengenalku mengenal aku sebagai adik kak Adam yang menangis itu.


" Kenalin... " Belum sempat dia berbicara aku langsung menikung nya


" udah kenal kak, aku ingat kakak ko tapi mungkin kakak gak ingat aku " ucapku yang lanjut menarik kak Adam untuk cepat pulang.


Aku tahu, pasti kak sindi marah gak suka padaku. Tapi karenanya kakakku di pukul.


Terus mendesak kakak, akhirnya kakak menyalakan motornya.


" Duluan... " ucap kakakku, yang kemudian melaju ke luar gerbang sekolah. Memang dasarnya kakakku ini selalu baik ke orang gak baik ke adeknya, masih sempat-sempatnya ia pamitan.


Di jalan aku mengomel ngomel dengan sikap kakakku yang baik ke semua perempuan yang bisa buat salah paham.


" Hei... nenek bisa diam gak! "


" Gak... " teriakku di kuping kakakku yang tengah mengemudi. Kakak menggosok-gosok telinganya dengan tangannya.


" Inget ya dek jangan kasih tahu ayah "


" ya.. ya "


" Kak sebenarnya apa sih yang di lihat kak sindi??? menurutku ya...kak kaisar itu lebih ganteng daripada kakak" ejek ku, sebenarnya aku gak suka sebut-sebut si kaisar itu. Cuma karena ingin menggoda kakak, aku akhirnya nyebut namanya juga.


" Heii.... dek, coba deh cek mata sepertinya matamu yang salah bukannya sindi "


" kak sindi tuh yang katarak "


" Lain kali kalok kakak di pukul bales kek jangan diam aja " Lanjutku


" Balas bagaimana?? kakak lebih takut ayah "


" maksud kakak? "


" Kalau kakak balas, pasti guru akan panggil ayah, yang ada ayah bisa pukul kakak lagi" mendengar penjelasan kakak, aku mengingat ketika kakak masih SMP, aku tak tahu jelas kejadiannya karena dari SD sampai SMP aku tak sekolah di tempat yang sama.


FLASH BACK


waktu itu aku libur sekolah karena ada pengumuman kelulusan anak SMP. Asyik menonton TV tiba-tiba aku mendengar keributan di luar. Aku langsung keluar rumah, mama dan alif yang di dapur ikut keluar karena suara ayah yang teriak-teriak.


" kenapa? " tanya mama langsung meluk kak adam yang menangis. Aku dan Alif ikut menangis karena melihat kak Adam menangis.


Ayah marah karena melihat kak Adam di jalanan bersama teman-temannya coret-coretan dan trek-trekan di jalan.


Aku mendekat kek kak Adam


" aduhhh" rintihanya terus memegang tangan kanannya. Jelas terlihat tangan kakakku terlihat bengkok. Aku menangis kencang melihatnya, takut melihatnya. Mama ikut menangis. Ayah masuk ke dalam rumah.


" Kapan kamu perginya? , tadi kamu masih di kamar" tanya mamak kebingungan.


" maaf.. maaf " ucap kakakku sambil menangis.


Akhirnya dengan cemas mamak menelpon seseorang yang bisa mengurut tangan. Alhamdulillah nya tangan kakakku yang patah sembuh juga. ~

__ADS_1


Lanjut di perjalanan kami full saling mengejek. Sampai di rumah, mamak menanyai rapotku.


" Peringkat ke berapa? " tanya mamak padaku. Mengingat kata-kata bu Desi putra menempati posisi pertama, Dara posisi ke dua, putri posisi ketiga, Belinda posisi ke empat, Kristin posisi ke lima, aku posisi ke 6, dinda posisi 7, raka posisi 8, iki posisi 9 dan lala posisi 10.


" Enam " jawabku pelan.


" Adamm !!! " panggil mamak


" 2 bun.. " jawab kakak dalam kamar.


" Kok bisa, padahal mamak gak pernah lihat kakakmu belajar tapi dia bisa peringkat 2 kamu yang sering mamak lihat belajar kenapa bisa dapat peringkat 6" omel mamak. Aku tak bisa jawab apa - apa karena itulah kenyataan kadang aku iri pada kakakku. Dia tanpa berusaha banyak sudah mendapatkan yang dia mau tapi aku harus berusaha dulu.


" pasti kamu belajar sambil baca komik lagi"


" Gak kok ma, kan komiknya udah mamak bakar semua " jawabku mulai dengan nada kesal mengingat komik ku di bakar mamak karena ketahuan aku pura-pura belajar, membuka buku paket di tengahnya aku selipkan buku komik.


Aku gak sependapat dengan mamak yang mengatakan baca komik itu tak ada manfaatnya. Padahal sebaliknya dari komik aku bisa membayangkan dunia luar yang di gambarkan penulis.


" Assalamu'alaikum... " terdengar suara alif adik laki-laki ku. Kami 3 bersaudara. Ku yang paling tengah dan perempuan sendiri. Kupikir akan sampai situ mamak ngomelnya tapi...


alif masuk dengan memakai ranselnya di tangan sebelah kanan ia membawa reportnya.


Tanpa di tanya dia langsung memberitahu dengan senangnya " ma alif peringkat 1 lagi" tegasnya, alif masih duduk di bangku 5 SD.


Lagi-lagi, selalu seperti ini


" Lihat adek sama kakakmu masa kamu gak bisa masuk 5 besar " Aku benar-benar tak suka di Banding-bandingkan sejak kecil selalu begitu. Mau kemana-mana orang-orang selalu bertanya aku anak siapa? Karena kata mereka aku sendiri yang paling beda, tubuh kecil dengan kulit hitam. Tak seperti saudara ku yang lain tinggi putih.


Terkadang aku malu ikut -ikut acara keluarga, pasti ada perkataan seperti itu. Mamak selalu menceritakan kakak maupun adekku.


uhhhh 😭😭😭😭


" Ya, adek sama kakak di masukkin TK kalau aku gak " jawabku mulai menitikkan air mata mengingat masa kecilku, aku yang di titip di rumah mbah sedangkan kakak selalu ikut sama mamak.


" Sudahlah ma " ucap kak raka yang baru datang untuk menghentikan omelan mamak.


" Nonton drama Korea dia tuh mah " sahut adekku. Bukannya menghentikan malah menyulut api lagi.


" itu lagi...korea..korea..itu" omel mama lagi


" Alif ini ckckck.... " kak raka menjitak kepala Alif.


Aku masuk dalam kamar " Jangan banding-bandingkan lagi, kei sudah berusaha ma, ya kei tahu ga sepintar kak Adam maupun alif" sahut ku dalam kamar dengan air mata tak terbendung.


" Nah.. mulai dah kayak drama, nangissss.....terus peluk bantal " ucap mama dari luar lagi.


" Di tanya gitu aja udah nangis " balas mamaku.


Aku mengunci diriku dalam kamar,,


Karena lelah menangis aku ketiduran.


" Dek... adek..." panggil kakak dari luar pintu. Aku terbangun dari tidurku ternyata hari sudah sore.


Aku membuka pintu kamar. Kakaku masuk membawa jajanan kesukaannku ada yupi bunny bear.


" Mamak gitu biar adek termotivasi" nasehat kakakku, ia duduk di lantai aku jadi iku duduk di sebelahnya.


" ya " ucapku pelan. Alif tiba-tiba masuk sambil main game, ia duduk di depanku, hendak mengambil makanan aku langsung memukul tangannya.


" Mau apa? "


" Makanlah"

__ADS_1


" Gak boleh.. "


" pelit ttt"


" Biarin" akhirnya dia tak memakannya, dia hanya duduk sambil main game di pojok kamar, tak tega akhirnya aku mengajaknya ikut makan juga.


" Nih makan, ayoo sini ntar ku habisin ya " Tanpa basa basi ia langsung duduk dan makan. Mengingat ada roti di dalam tas, aku mengambil tas untuk mengambil roti. Syukurnya roti ku masih tapi keadaannya mengenaskan rotiku lepek karena di tindih.


Walaupun sudah lepek aku tetap memakannya, tiba-tiba aku teringat buku sketsa ku. Aku langsung mencari di dalam tas, tapi tak ketemu.


" Buku sketsa ku kemana ya? "


" taruh dimana emangnya? " tanya kak Adam.


Aku mencoba mengingat kembali


" Diemin aja hilang, masihan gambarnya gak bagus, gak karuan bentuknya,,,dia buntung semua tangannya " Banyak bicara akhirnya aku layangkan tunjuku ke bahunya.


Aku ingat terakhir kali karena dinda dan putri datang raka buru-buru membereskannya. Kemungkinan di bawa raka.


" Kak pinjam bentar hpnya, adek mau tanya temen "


" alif... " tegur kak Adam.


" ih... kita lagi main nih kak "


" pinjam bentar aja" ucapku.


aku mengirim pesan ke Raka


"assalamu'alaikum, raka buku sketsa ku ada di kamu gak ? " tanyaku dengan cepatnya sebuah balasan datang.


"tunggu coba aku periksa dulu" beberapa menit menunggu


"Oh ya ini dia, maaf kebawa"


"gak apa-apa, minta tolong besok bawain ya "


" ya"


Selesai itu aku langsung mengembalikan HP kakak ku. Karena hari sudah mulai menjelang magrib aku pergi mandi.


Malamnya setelah sholat isya, baru pulang mengaji. kak Adam memanggilku


" Siapa dia? " tanya kakakku menunjukkan sebuah pesan


" Kei ada yang mau saya kasih besok "


"temen sekelas kak" jawabku cepat. Namun kak Adam tampak mencurigaiku, akhirnya aku menceritakan tentang Adam hingga ngelantur ke sana kemari.


" Oh... ini yang di bilang mirip ahok temen kakak"


" ahok??? " tanyaku penasaran, perasaaan cuma dia yang di panggil ahok. Kakaku pun menjelaskan dia mempunyai teman putih sipit yang cara bicaranya mirip ahok yang di TV TV itu mangkanya jadilah dia di panggil ahok.


"ohhh... gitu" hendak membalas pesan, kakaku lebih dulu membalaskan pesan untukku.


"Ahok " tulisnya, aku benar-benar kaget, karena aku tahu dia gak suka di panggil begitu.


" kakak kenapa bilang gitu, nanti dia marah, dia gak suka" aku memukul bahu kakakku. Benar saja pesan balasannya, dia mengumpat ku dengan menyebut nama binatang. Kesal aku tak membalas pesannya lagi. Kakak yang ikut baca ikut kesal,


" kurang ajar nih anak "


"gara-gara kakak tuh " ucapku sebal, meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


πŸ“ Tak ada orang tua yang tak menyayangi anaknya, hanya saja jarang orang tua kadang terlalu memasakkan kehendaknya sampai lupa apa yang benar-benar di inginkan anaknya.


__ADS_2