Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
13 #Sudah Terlanjur Suka


__ADS_3

Kian hari kian sering ku dengar,, tak banyak teman-teman yang membicarakan kedekatan raka dan Rika dan bahkan menjodoh-jodohkan mereka. Aku yang berusaha untuk biasa - biasa saja tapi tak bisa sepenuhnya untuk bersikap biasa saja.


Aku jadi semakin tak berani untuk dekat dengannya takut jika Rika mungkin akan marah karena mungkin sekarang mereka benar-benar pacaran. Karena itu aku berusaha untuk menghindari apapun yang berkaitan dengan mereka berdua bukan hanya untuk Rika,, mungkin lebih untuk diriku agar aku tak terlalu kecewa.


Seperti paham dengan perasaanku dan tahu apa yang kurasakan 3 sahabatku ini selalu mengajakku keluar agar tak mendengar apa-apa tentang mereka.


Tapi aku merasa bersalah pada iki, karena dia selalu menolak saat di ajak bersama ke kantin oleh Diki dan memilih untuk menemaniku.


" Gak apa-apa ki, kasihan Diki"


" kasihan apa?? saya sama dia cuma temenan kok " selalu saja dia bilang begitu saat aku menyuruhnya pergi bersama Diki.


" sudah... sudahhh...,, yuk ke kantin " ajak putri yang sudah mulai bersekolah hari ini.


Sampai kantin lagi-lagi aku bertemu kakak sedang duduk mengobrol dengan teman-temannya. Anehnya saat belanja dan sampai mau balik kelas kakak tak memanggilku seperti biasanya untuk minta di bayarin. apa mungkin karena ada teman-teman ku tanyaku dalam hati. Yang akhirnya membuatku penasaran dan ingin tahu kenapa


" tunggu bentar, aku mau ke kakakku dulu " ucapku kemudian berbalik ke belakang, tapi karena aku merasa gak enakan aku menyuruh mereka duluan ke kelas kalau mau


" gak apa-apa kita samaan aja" jawab mereka serempak.


Sampai di tempat kakak duduk- duduk bersama teman-temannya.


" kak.... " panggil ku.


kak adam langsung menoleh ke arahku. aku lambaikan tanganku menyuruhnya menghampiriku.


" ada apa? " tanya kak adam yang ada di depanku.


" kakak udah makan? " tanyaku penasaran.


" udah "


" ohhh... ya sudah" jawabki kemudian berbalik hendak meninggalkannya


" eitssss tunggu " kakak lagi-lagi menarik ujung jilbab ku bagian belakang.


" kenapa? tumben nanya?"


" nggak ada, soalnya kan biasanya kakak sering minta di bayarin,, jadi adek penasaran "


" ohhh adek mau bayarin kakak lagi " goda kakak cengar cengir


" nggaklah " ucapku langsung kabur, aku mengerti cengar cengir jahilnya itu.


berlari menuju dinda, putri, dan iki yang sudah menunggu sedari tadi,, tiba-tiba saja perutku terasa nyeri. mungkin karena belum makan Pikirku dan mempercepat langkah kakiku.


Sampai di kelas, lagi-lagi harus mendengar anak-anak lain yang menggoda goda raka dan rika. Memang susah untuk menghindarinya ucapku lagi.


" makan... makan.. " ajak putri.


Baru ku gigit roti yang ku beli, belum masuk ke perut lagi-lagi perutku terasa lebih sakit dari yang tadi seperti usus ku di gulung-gulung terlilit. Aku memegang perutku meringis kesakitan.


" kenapa??? " tanya mereka bertiga

__ADS_1


" perutku sakit " ucapku, tak tahan rasa sakitnya ku tempelkan dahiku di atas meja sambil salah satu tanganku menahan rasa sakit perutku.


" kayaknya aku dapet deh "


" tak izinin pulang ya? " tawar putri.


" ya,, minta tolong " ucapku pelan.


Iki menggenggam tangan kananku, putri dan dinda pergi ke ruang guru meminta surat izin untukku,,, wajahku berkeringat tapi tangan dan kakiku terasa dingin.


Tak lama dinda dan putri datang dengan surat izin. Alhamdulillah nya bu guru wali kelasku memberikan ku izin pulang lebih awal. Di antar iki ke bawah, aku menyuruh dinda dan putri tetap di kelas karena bel sudah berbunyi


" minta tolong titip kunci motor kasiin ke kak adam ya!!!! " pintaku pada putri


" ya " jawab putri mengambil kunci di tanganku.


" Hati-hati di jalan"


" ya " jawab iki,,


Menuruni anak tangga aku berpapasan dengan raka dan anti yang hendak menaiki tangga.


" mau kemana? " tanya raka


" pulang " jawab iki, aku hanya diam mendengarkan.


" kamu sakit? " tanyanya padaku.


" ya " jawabku pelan rasanya aku sudah nggak sanggup bicara.


15 menit berkendara, aku sampai di rumah,,, karena masih dalam waktu sekolah iki langsung balik untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Aku masuk sendiri ke dalam rumah. mamak kaget melihatku yang pulang lebih awal


" kenapa pulang? "


" sakit perut " ucapku.


Mama menghapus keringat di wajahku dan menyuruhku tidur di kamar. Istirahat di kamar bukannya semakin baik perutku semakin lama semakin sakit aku menangis sambil memanggil mamak. Panik mamak memanggil meminta tolong pada bapak untuk pulang lebih cepat.


Saat bapak datang, dengan seragam yang masih menempel di tubuhku aku di bawa ke puskesmas dekat rumah.


Ternyata maghku kambuh, kurang minum, plus waktunya datang bulan juga,,,jadi sakitnya dobel-dobel yang akhirnya saluran infus mendarat di tanganku. Ketika jarum memasuki kulitky aku benar-benar kaget bukan sakit tapi karena takut jadi aku tutup mata,,,saat selang mulai di sambungkan ke tanganku aku merasakan cairan melewati pembuluh darahku.


Hanya 2 jam aku di puskesmas dan diperbolehkan pulang. Sepanjang jalan bapak mengomeliku karena jarang minum air putih dan selalu telat makan. Aku yang tahu salah hanya diam. ~


" enak ya sakit?? " ucap alif yang manyun-manyun. Mungkin karena kebiasaan saat sakit bapak mamak jadi lebih perhatian padaku, makanan banyak terhidangkan, mau makan tinggal di ambilkan mamak, aku hanya tidur di tempat tidur tapi ada gak enaknya juga.


" adek mau??? hemm enakkkkk " godaku sambil memakan ayam upin ipin ( paha ayam)


" samaan kak " rengek alif


" alif....., jangan ganggu kakaknya " panggil mamak dari ruang tamu.


" sana... sana.. keluar,,, hustttt " usir ku

__ADS_1


" pelit " ucapnya lalu menutup pintu.


Hari sudah sore, sambil berbaring karena bosan aku meminjam HP kakak. Baru pegang sebuah pesan masuk. Ku lihat di depan layar HP tak ada nama hanya sebuah no tanpa nama. Akhirnya aku buka saja mungkin ada hal yang penting


"**Gimana udah baikan? "


"siapa? " tanyaku


"kamu gak save no. saya? "


" maaf ini siapa ya "


" r.... a..... k..... a* " membaca satu demi satu hurufnya aku sedikit kaget dan penuh bertanya


apa????? kenapa???? tumben*?????


"**alhamdulillah udah baikan"


"syukur alhamdulillah** "


Setelah itu aku jadi agak bingung menjawab pesan selanjutnya, aku berpikir agak keras jawab atau tidak,, tapi jawab apa??? akhirnya karena bingung tak tahu aku tak membalas pesannya lagi.


" apa aku buat salah? "


" salah ????apa maksudmu???"


" kamu terus menghindar " membaca kata menghindar, alisku terngkat πŸ˜• bukannya dia yang menghindariku, biar lebih jelas aku langsung menjawab apa yang di hatiku


" **Bukannya kamu ya??? "


" aku??? kapan???? "


" itu kan karena kamu duluan yang menghindar, ku pikir kamu gak suka berteman sama aku* " ketiknya lagi. apa jangan-jangan karena waktu itu,,,, saat aku mulai merasa aku ada sesuatu padanya aku mulai menghindarinya,,, tapi aku menghindar bukan karena tak suka tapi sebaliknya* ucapku dalam hati. Tahu alasannya menghindariku karena aku yang duluan aku jadi merasa bersalah


" **maaf"


" maaf, kenapa? "


" maaf untuk semuanya** " ketik ku


" mulai dari kosong-kosong ya πŸ˜„???? " pintaku padanya.


" ya, aku juga minta maaf"


"**kenapa minta maaf, saya yang salah"


" yaudah,,, Sama-sama salahnya sama-sama minta maafnya πŸ˜…**" Aku senyum-senyum sambil ketawa membaca pesannya, sampai aku lupa kalau saat ini aku sedang sakit.


" **yaudah, istirahat dah"


"ya**" jawabku singkat sambil senyum sumringah, di akhir obrolan kami. Aku berpikir padahal beberapa hari yang lalu aku sudah memutuskan untuk berhenti untuk gak lagi salah mengartikan sikapnya padaku tapi hanya mengobrol singkat dengannya saja membuat hatiku senang. Sepertinya susah bagiku untuk berhenti. Namun saat mengingat kembali kedekatan dia dengan Rika tiba -tiba saja aku merasakan sakit,, air mataku keluar sedikit tapi aku tertawa sendiri. ini anehhhh... aku suka tapi aku takut untuk suka padanya.


Tak ingin kakak membaca obrolan kami,, aku menghapus pesan Terima dan kirim di handphone kakak. aku kemudian memilih untuk mengistirahatkan tubuhku dengan pikiranku masih memikirkan tentangnya.

__ADS_1


πŸ“Ada beberapa hal yang ingin kita hindari tapi tak bisa kita hindari. Yang perlu kita lakukan adalah menghadapinya dengan ketabahan,,, apapun yang terjadi yakinkah skenario Allah lebih indah,, walau mungkin untuk melewati itu semua harus melewati jalan yang penuh rintangan.


__ADS_2