
Dari Mall sampai rumah aku hanya diam saja tak bicara sepatah katapun pada kakak, masih kesal rasanya dengan tuduhan kakak.
Masuk ke kamar,, habis sholat ashar aku langsung merebahkan badanku ke tempat tidur, baru memejamkan mata kakak membangunkan ku,,,
" Ga boleh tidur sore-sore, bangun " ucap kakak,, Entahlah aku juga bingung setiap kali aku mau tidur sore mamak atau bapak,, intinya keluarga ku selalu melarang ku katanya ga boleh, tapi aku gak tahu alasannya apa sampai suatu hari aku bertanya pada bapak katanya kalau sering tidur sore ntar jadi pelupa. Karena waktu sore dan malam sangat singkat.
" sana mandi... " suruh kakak dengan nada tegas,, alif yang baru datang dengan membawa makana ikut kenak omel karena makan sambil jalan dan akhirnya kenak jitak kak adam " jangan makan sambil jalan"
Dari cara bicaranya sepertinya kak adam lagi badmood mood. Jadi aku bingung mau gimana, mikirnya aku lah penyebab kak adam bad mood. Takut kak adam tambah marah aku langsung bangun dan go ke kamar mandi.
Lagi asyik mandi sambil nyanyi, tiba-tiba lampu kamar mandi mati.
" alif kakak tahu itu kamu, nyalain gak? " ucapku teriak dari dalam kamar mandi,
Namun tak ada jawaban apa-apa.
" kamu pikir kakak takut... " ucapku lagi. Karena masih sore jadi kamar mandi tak terlalu gelap, aku lanjut mandi,, udah selesai mandi, keluar dari kamar mandi benar saja switch nya dalam keadaan off.
Lihat alif yang duduk di depan TV aku jadi kesal " awas ya " tunjukku,
dia alas mengejek dengan tertawa jail.
" Bapak mana? belum pulang? " tanyaku pada alif. Belum di jawab alif,, kakak keluar dari kamar ngomel lagi melihatku
" kamu kebiasaan, sana pakai baju dulu " omel kakak, karena aku masih memakai handuk. Aku langsung masuk ke kamar
Ku buka lemari hitamku, ku ambil sebuah baju kaos lengan panjang warna pink dan celana panjang berbahan kain yang longgar. Karena tak mau kenak omel lagi.
" Bapak mana? "
" Belum pulang" jawab kakak
" kamu udah mandi? " tanya kakak ke alif
" nanti, tunggu mamak pulang"
" udah jam berapa ini? tunggu mamak pulang keburu maghrib, kamu gak pergi ngaji? "
" nguaajii " jawab alif belepotan karena mulutnya masih penuh makanan.
" pergi mandi " suruh kakak lagi, kali ini kakak langsung mematikan TV agar alif pergi mandi segera.
" Kakak lagi diputusin pacar, ngomel-ngomel terus " ejek alif, yang kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi. Mendengar itu aku hanya bisa ketawa.. sepertinya sifat ke emak-emakan kakak kambuh saat bapak dan mamak gak ada di rumah.
Tahu alif sudah di dalam kamar mandi, aku ikut ke kamar mandi, terbesit sebuah ide dalam otakku, cengir-cengir sendiri aku memulai aksiku.
Aku mematikan lampu kamar mandi .
" nyalain.... nyalain.... " teriak alif dengan histeris. Aku tertawa dari luar mendengar teriakannya. dia laki-laki tapi sangat penakut. Akhirnya aku nyalakan lagi, tapi sebelum pergi aku mematikannya lagi
" hemmm... hemmm " teriaknya seperti dia sedang gosok gigi. aku tertawa lagi kali ini sampai perutku sakit.
Merasakan hawa panas dari belakang aku langsung diam dan berbalik kakak melototiku akupun segera menyalakan lampunya lagi.
" kak kei... " teriak alif dalam kamar mandi. Aku segera keluar dari dapur, melewati kakak yang masih berdiri bersandar samping pintu.
Ke ruang tamu, ternyata bapak sudah pulang
" tumben pulang segini pak? " tanyaku
" mamakmu mana? "
" masih senam " jawabku langsung masuk dalam kamar.
__ADS_1
Di dalam kamar aku teringat ikat rambut yang kudapatkan dari game center, karena menukarkan kertas poin yang semacam itulah kertas yang punya poin,, karena nilai poinnya kecil jadi cuma bisa di tukar satu buah ikat rambut. Tapi walau cuma satu aku benar-benar bahagia bukan dari nilainya tapi melihat siapa pemberinya.
Mengingatnya aku cuma senyum-senyum sendiri. Jika bisa di lihat mungkin sekarang kelihatan bunga-bunga mawar merah muda di sekelilingku🤣🤣🤣☺
" Gila kamu ya " ucap kakak yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku mengambil charger HP nya ,, aku yang tadi senyum-senyum sendiri langsung mingkem.
Sampai kakak keluar dari kamar, aku menutup pintu kamarku dan kembali membayangkan saat di game center tadi.
Dan aku tiba-tiba teringat " astagfirullah " ucapku teringat saat aku menggenggam tangannya dan menyeretnya tadi. Aku melihat tangan kananku sambil mengingat kejadian tadi, aku takut tapi aku juga senang, aku jadi malu mengingatnya. Aku jadi sampai guling-guling di atas kasur.
" hahahaha " aku tertawa sambil guling-guling.
" udah maghrib, ngaji kak " teriak alif, dia membuka pintu kamarku dan melempar handuk basah ke muka ku.
" Gila..." ucapnya langsung menutup kembali pintu kamarku. Aku langsung bangkit dari tempat tidur
" udah kakak bilang, jangan pakai handuk kakak" teriakku
" kalian ini wajib, maghrib pasti ribut, sana jalan ngaji " omel mamak.
Karena tempat ngaji tak terlalu jauh dari rumah, jadi kami berjalan kaki kesana, aku senang karena berjalan ke tempat ngaji selalu ada teman-teman yang lain juga jadi gak terasa jalannya.
Aku berjalan bersama Sinta dan Desy teman samping rumahku. Di antara mereka aku yang paling tua, cuma beda 3 bulan aja tapi dengan desy aku beda 1 tahun. Walau begitu kelas kami sama 1 SMA, yahhh walau memang tempat sekolah kami beda sih. ~
Usai ngaji aku langsung pulang, kakak dan alif masih di musholla karena ada kegiatan tadarus keliling. Sampai rumah sudah jam 8 malam.
" assalamu'alaikum "
" wa'alaikumsalam " jawab bapak
" Bapak gak pergi tadarus? " tanyaku
" absen "
" masih beli apa mungkin" jawab bapak.
Aku masuk kamar untuk menggantung muknah, aku mendengar suara pintu yang kebuka, suara cempreng yang khas, aku tahu itu mama dengan hebohnya mamak bicara keras sampai dari dalam kamar aku bisa mendengar
" aku dengar si budi katanya punya anak lain" cerita mamak antusias,, meraba - raba aku mencoba mengingat nama budi,, nama budi tak asing bagiku tapi aku masih bingung apakah budi yang dimaksud mamak sama dengan budi yang ada di pikiranku.
Penasaran aku keluar dari kamar, tapi aku tak langsung bertanya, aku duduk samping bapak mendengarkan sambil nonton TV.
" denger dari mana? " tanya bapak
" tadi ibu asih yang bilang"
" mak, maksud si budi itu paman budi? " tanyaku
" ya " jawab mamak. mendengar kata ya dari mamak aku benar-benar kaget, terus bagaiman dengan gani kalau tahu ayahnya punya anak lain selain dia tanyaku dalam otakku.
" Ibu hamil lagi mak? " ibu untuk panggilan ku ke mamaknya gani.
" ndak "
" terusss" tanyaku semakin penasaran
akhirnya bapak turun tangan menceritakan kejadiannya,,TV yang nyala jadi tidak di tonton, dan malah fokus dengan penjelasan bapak.
" awass ya kalau kamu gitu " ancam mamak. Karena bapakku sangat dekat dengan paman budi.
" nggaklah, walaupun banyak yang ngajakin tapi tetep lah setia " ucap bapak sambil bercanda, aku refleks langsung tertawa.
" kamu mau mamak baru kei ?" tanya bapak
__ADS_1
" mau yang kurusan " jawabku sambil ketawa. Bukan beneran ya... cuma bercanda karena aku tahu bapakku tak akan mungkin walaupun ku tahu mamak dan bapak sering berantem syukurnya mereka tak pernah sampai berpisah dan semoga tidak pernah terjadi.
" ya cari dah sana " jawab mamak ngambek, bapak dan aku tambah ketawa melihat ekspresi mamak.
" terus gimana ibu mak? "
" nggak tahu, kasihan Ningsih, mau tanya tapi gak enak "
" kalau dia belum cerita jangan tanya dulu " pesan bapak.
Masuk ke kamar, aku hendak ingin bertanya kabarnya, tapi inget kata bapak aku jadi gak enak mungkin dia gak mau orang-orang tahu. Jadi aku bingung sendiri, dalam otakku aku terus berpikir,,, lelah berpikir akhirnya aku punya ide untuk tetap bertanya tapi pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Aku benar-benar pasrah jika di caci lagi olehnya untuk jangan ikut campur dalam urusannya.
Ke kamar kakak, aku meminjam HP kakak dan mengirim pesan ke gani
"**Assalamu'alaikum gan "
"Gan????
" gannn 😕???? "
"G...... "
" a... "
"n... "
" i**.... "
Berulang kali aku kirimkan pesan tapi tak ada balasan juga. Aku benar-benar memikirkan keadaannya. Ku teringat saat pertama kali aku bertemu dengannya, saat itu aku masih duduk di bangku 5 SD ayah selalu mengajakku ke kantor jika ada keperluan saat sore hari.
FLASHBACK
Saat itu melihatnya aku benar-benar kagum masih kecil tapi sudah pandai bermain tenis meja. Melihatku baru datang paman budi menyuruhku untuk mencoba bermain tapi aku menolak,
dia yang awalnya berdiri di ujung meja langsung menghampiriku dan bilang
" mana bisa kalau belum di coba "
akhirnya aku mencobanya tapi ya tetep aja gak bisa alhasil aku jadi bahan tertawaannya. Aku jadi kesal dan berhenti bermain.
Sejak itu kami terus sering ketemu, tak di duga saat SMP kami masuk di SMP yang sama, walau kelas kami berbeda. Dan untuk pertama kalinya dia memberikanku sebuah gantungan kunci berbentuk bola kecil, namun sayangnya saat itu aku bukannya bersyukur malah minta yang lain
" kok cuma gantungan kunci, padahal kamu menang dapet juara " ucapku,, saat itu gani mendapatkan juara 1 dalam olahraga tenis meja tingkat provinsi.
" jangan lihat harganya, lihat siapa yang kasih "
" aku lihat kok, kamu kan? " balas ku saat itu.
" ya udah kalau gak mau " ucapnya sambil merebut kembali gantungan kunci dari tanganku tapi aku menahannya dengan kuat.
" ya gak apa-apa dah daripada gak dapet apa -apa" ucapku. Dapat hadiah gantungan kunci yang tak aku suka bentuknya jadi aku gak pernah pakai dan ku simpan dalam kotak. ~
Teringat hal itu aku mencoba mencari kotak itu dan alhamdulillah nya gantungan kuncinya masih ada.
Ku angkat gantungan kuncinya,,aku baru ngeh ada tulisan GK. apa artinya ya? aku bertanya-tanya 🤔
" GK???? " masih berpikir yang sama.
" kei ayo makan!!! " panggil mama dari luar. Mendengar mamak aku langsung memasukkan nya kembali ke dalam kotak.
📝*Jangan menilai suatu pemberian dari nominalnya tapi nilailah dari niat pemberinya.🥀🥀🥀
Dan kerap kali Besar kecilnya suatu pemberian akan berkesan ketika yang memberikan juga berkesan di hati, benar tidak???? 😚😚
__ADS_1