
🍁Aku baru saja pulang kuliah, selepas sholat maghrib aku langsung di suruh bapak mengantarkan baju ganti untuk kakak.
" Kakak lama sekali " , keluh alif yang ikut bersamaku. Aku dan alif menunggu kakak di depan ruang IGD, yah kakakku sedang PKL di sebuah Rumah Sakit Kota di daerah kami.
Aku tak tahu sudah berapa lama rasanya aku tak pernah mengobrol lagi dengan kakak. Rasanya kami sekarang sudah punya dunia masing-masing. Semakin bertambah usia kami semakin jarang kumpul, hanya untuk sekedar bercerita atau bercanda. Terkadang aku rindu saat-saat kami masih kecil dulu.
" Kak.., itu kak adam ", beritahu alif kegirangan. Melihat kak adam yang baru keluar, entah aku merasa kasihan. Dia berjalan lesu, tubuhnya yang berisi sekarang mulai terlihat tak berisi, lingkaran matanya penuh dengan warna hitam. Kakak yang dulu nggak pakai kacamata sekarang harus memakai kacamata.
" Sudah lama nunggunya? "
" nggak " , jawabku cepat. Aku baru sadar kakak ku yang dulu sangat jail padaku kini sudah tak ada lagi. Wajahnya selalu tampak serius. Apakah semakin dewasa seseorang semakin serius seseorang itu bersikap?
" nggak apaan, udah dari tadi.... " keluh alif. Kesal karena mulutnya yang gak bisa di jaga, aku melayangkan jitakan tepat di dahinya. Padahal niatnya aku berbohong agar kakak gak merasa bersalah tapi karena ulah anak usahaku sia-sia.
" sakitt... " , keluh alif sambil mengusap usap kepalanya.
" hahahaha " , kak adam tertawa melihat kami yang berselisih kecil.
" Kakak udah makan? ", tanyaku lagi " biar adek yang teraktir " ajakku .
" makan geratis, ya maulah "
Karena waktu kakak istirahat cuma sebentar, kami mencari tempat makan depan RS.
" kakak harus makan yang banyak, biar kayak alif, sekarang kakak mirip jerangkung saja " , omel alif. Kami bersaudara saling menyayangi satu sama lain, namun setiap kami punya cara yang berbeda-beda untuk mengungkapkan rasa sayang kami.
Melihat kakak terus tersenyum tanpa sadar aku memeluk kakak, air mataku mengalir deras. Ku pikir hanya diriku yang kesulitan pasti kakak juga merasa kesulitan. Walaupun kakak tak membicarakannya dan selalu menyembunyikannya, aku tahu dari raut wajahnya.
" kakak kenapa? kakak ada masalah? ", bisikku pelan.
__ADS_1
Melihatku memeluk kakak, alif juga ikut memeluk kakak.
" Dek... malu ", bisik kakak pelan, saat mata beberapa orang tertuju pada kami. Walaupun begitu kakak balas memeluk kami dan beberapa saat melepaskan pelukan kami.
" ayo.. lanjut makannya, kakak harus cepat balik "
" Kakak kalau ada masalah jangan pendem sendiri "
" kakak baik-baik aja kok ", ucap kakak sambil pura-pura senyum seperti tak terjadi apa-apa padanya. ~
Esoknya aku mencari tahu dari salah satu teman dekat kakakku. Awalnya ia tak ingin menceritakan apa yang terjadi pada kakak. Tapi setelah aku berjanji untuk tak memberitahu kak Adam kalau dia yang memberitahuku, akhirnya dia memberitahuku.
Ternyata beasiswa kakak terancam karena ada masalah fatal yang kakak lakukan di RS, dia salah memberikan penanganan pada pasien. Dan dia harus bertanggung jawab kalau tidak beasiswa kakak akan di cabut.
Hal yang kupikirkan adalah kakak tak mungkin seroboh ini. Apa benar kakak berbuat kesalahan? pikirku, karena aku rasa itu tidak mungkin walaupun berulang kali aku memikirkannya aku masih merasa itu mustahil.
Aku merasa marah karena kakak tak memberitahuku tentang masalah ini. Segera setelah aku menghubunginya,,
"DI RS, ada apa?"
" Ayo ketemu di taman, ada yang adek mau bicarakan!!!"
"kakak hari gak bisa, kakak sibuk"
" Sebentar aja " ucapku menekankan nada bicara.
" ya udah nanti kakak ke kampus aja "
" ok "
__ADS_1
***
Sudah jam 4 sore kakak belum juga datang, menunggu lama aku mengeluarkan handphone ku.
" Maaf kakak telat ", ucap kakak yang tiba-tiba sudah di depanku saja.
Aku mulai bertanya ini itu, kakak kaget aku mengetahuinya dan balik bertanya aku tahu dari mana, namun aku tak menjawab dan balik bertanya kebenarannya. Namun kakak hanya diam tak menjawab.
" Baiklah kalau kakak gak mau jawab, biar adek ceritakan ke bapak "
" Dek.. ", ucap kakak dengan nada agak tinggi.
" Ini masalah kakak, kamu gak perlu ikut campur, kamu urus aja masalahmu !!! ", ucap kakak yang kemudian pergi meninggalkanku. Tak mau mengalah aku pergi mengejar kakak dan menarik lengan baju kakak.
" Bagaimana kakak bisa bilang begitu? kita saudara, bagaimana bisa aku hanya diam aja melihat kakak seperti ini? " ucapku dengan penuh emosi.
" Kakak bisa menyelesaikan masalah kakak sendiri " kakak melepaskan tanganku yang memegang lengan bajunya.
" Jadi maksud kakak, kalau aku ada masalah berarti aku harus menyelesaikannya sendiri? aku gak boleh minta bantuan kakak? " teriakku.
" Bukan begitu maksud kakak " kakak berbalik ke arahku.
" Ya itu maksud kakak, baik,,, karena kita sudah besar kita berjalan masing-masing saja " , ucapku kemudian berbalik berjalan meninggalkan kakak ke arah yang berlawanan.
" Kak..., ingat kakak ga sendiri ada adek, alif, bapak, dan mamak " , ucapku lagi sambil menoleh.
Bagaimana ia bisa berpikir seperti itu? aku tahu ia tak ingin membuat orang tua khawatir, namun darah itu lebih kental dari air.
" mama khawatir, kakakmu semakin hari kelihatan semakin kurus, apa kuliah di jurusan kedokteran sesibuk itu? " aku teringat ucapan mama beberapa hari yang lalu, ketika mengomeliku yang sibuk dengan urusanku sendiri sampai tak menghiraukan saudara sendiri. Saat itu aku benar-benar sadar aku salah.
__ADS_1
📝Aku ingin saudara -saudaraku memeprehatikanku, menanyakan keadaanku, menanyakan apa aku ada masalah atau tidak. Sampai-sampai aku menjadi egois, tak berpikir saudaraku mungkin ingin hal yang sama denganku. Dan aku rasa semakin dewasa seseorang menjadi semakin egois pula, menganggap semua bisa ia selesaikan sendiri padahal tidak.