Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
6 # UTS


__ADS_3

🍁 Hari pertama ujian,, hampir kami semua datang 20 menit dari jadwal seharusnya, berlomba-lomba datang lebih awal merebutkan tempat duduk.


Aku, iki, dinda, dan putri duduk berdekatan walaupun ada jarak di antara kami ber empat. Tapi tidak hanya kami, kelompok yang lainpun sama halnya. Mengatur posisi sebaik-baiknya agar mempermudah diskusi saat ujian nanti. πŸ˜…


Sebenarnya tak semua juga berpikir begitu. Aku misalkan, sebenarnya duduk dimanapun sama saja sih, tapi sepertinya lebih nyaman jika ada teman dekat di samping kita walaupun tak ber dempetan duduk nya.


Karena ujian jadi duduknya sendiri-sendiri dengan jarak sekitar 30 cm antara meja satu dengan meja yang lain.


Seperti biasa ujian di hari pertama selalu di awali Bahasa Indonesia. Terkadang aku bingung sampai sekarang, kenapa ya dari SD sampai sekarang saat ujian, selalu aja di awali bahasa Indonesia πŸ€”


Balik ke kondisi kelas, sebelum ujian,,, banyak anak-anak memulai ritual mereka.


Ada yang sibuk menjelaskan jika jawabannya A maka isyaratnya begini ✌, jika B ibu jari dilipatkan di tengah dan di genggam, jika C jari-jari di bentuk huruf C dan untuk D seperti 🀞,, untuk memudahkan mereka.


Ada juga yang menyiapkan catatan-catatan ukuran kecil, Rafael contohnya, sekarang yang sedang bercerita dengan suara besar.


" nih....lihat nih....." dengan bangganya Rafael memperlihatkan kertas fotocopyannya yang berukuran kecil.


" ntar kasih tahu ya raf "


" tenang...tenang.. " balasnya dengan gaya khasnya yang membanggakan diri.


Mendengar suara langkah kaki, kami semua langsung duduk di tempat masing-masing dan dengan cepatnya Rafael segera memasukkan catatannya di dalam saku celana.


Mungkin karena kebiasaan, hampir seisi kelas matanya tertuju pada pintu masuk termasuk aku.


Melihat putra yang masuk, Anak-anak termasuk aku menghela napas panjang.


" kenapa?? " tanya putra yang kebingungan melihat tingkah kami.


" tak kirain pak guru atuhh" jawab Monik dengan suara khas cemprengnya.


Membawa selembar kertas absensi, putra memberikan informasi bahwa tempat duduk ujian di atur sesuai absensi.


Tak banyak anak-anak yang mengeluh, tapi tak banyak juga anak-anak yang lain menanggapi biasa aja.


" aghhh,, siapa yang suruh? " keluh diki salah satu teman dekat Rafael.


" Pak guru" jawab putra singkat yang segera mengatur tempat duduk kami. Karena pak guru sudah datang.


Sebelum ujian, kami di suruh menaruh tas di depan.


Ujianpun di mulai, beberapa menit ujian di mulai suasana kelas terasa sepi. Hingga di pertengahan waktu ujian, aku mulai mendengar suara-suara yang tak asing bagiku.


" hustttt kenapa ribut sekali" tegur pak guru. Mendengar kami yang ribut pak guru keliling. Hingga suasana menjadi tenang kembali, sayangnya itu tak bertahan lamaπŸ˜…


Rafael yang duduk di belakangku, mulai ribut lagi meminta jawaban, takutnya pak guru dengar karena suaranya besar sekali.


Sepertinya contekan yang di bawanya gak ada yang keluar dehπŸ˜…πŸ˜… pikirku mengingat beberapa hari yang lalu kami bertemu di tempat foto copy, Karena soalnya gak sama persis yang ada di buku, semua soal di adaptasi.


" no. 2.....apa? " aku melirik ke arahnya dan sesekali melihat ke depan, takutnya pak guru mendengar tapi Pak guru masih duduk di sana. Sepertinya beliau tak mendengar aku lanjut menulis jawaban.


" no. 3..." tanyanya lagi pada temannya. kali ini aku hanya mendengarkan tanpa menoleh.


" no 4 sampai 40 " untuk ketiga kalinya aku mendengar dia bertanya dan kali ini aku menoleh karena aku kaget dia meminta jawaban hampir semuanyaπŸ˜… soalnya cuma ada 40 soal, dia minta jawaban dari no 2 sampai 40, berarti yang dia jawab cuma 1 soal doang pikirku.


Saat aku menoleh ke Rafael jantungku terasa berhenti seketika, aku melihat pak guru sudah ada belakangnya, takutnya pak guru marah besar. Aku sangat takut melihat orang berantem, marah-marah pokonya ribut yang akhirnya nanti saling adu hantam.


Diki yang sedari tadi memberikan jawaban pura-pura tak mendengar dan melihat. Sedangkan aku terus melirik memperhatikannya.

__ADS_1


" no. 4 C, no. 5 B " jawab pak guru dengan bisik-bisik, sontak dia langsung melihat ke belakang. Saking kagetnya dia hampir jatuh dari tempat duduk.


Melihat ekspresi Rafael yang menganga dengan mulut besarnya aku langsung tertawa ngakak πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… rasa takutku sekejap hilang. Beberapa anak yang melihat juga ikut tertawa tapi ada juga yang tak melihat tetap fokus menjawab sampai bertanya kenapa ? kenapa?


" husttt diam, yang lain kerjain ulangannya " aku yang ketawa langsung diam dan lanjut mengerjakan.


namun aku masih mendengarkan apa yang di bicarakan.


" no berapa lagi? daripada tanya temenmu yang belum tentu benar, tanya pak guru aja yang sudah jelas tahu jawabannya, ya kan? "


" udah tahu pak saya jawabannya, mudah ini' ucapnya dengan memetik jarinya.


" terus tadi kenapa tanya? "


" ngetes tadi itu pak, pura-pura aja"


" ya sudah lanjutin ..." ucap pak guru, kemudian duduk kembali sambil memperingati sisa waktu "15 menit lagi "


Satu demi satu teman-teman yang lain maju ke depan mengumpulkan lembar jawaban mereka, termasuk Rafael yang lebih dulu dan paling pertama mengumpulkan .


" sudah di periksa lagi? "


"udah pak" jawab Rafael, ke luar ruangan dia melambai-lambai kan tangannya ke arah kami semua. sakit tuh anak


Sudah di pengujung waktu, masih tersisa sedikit anak lagi yang belum mengumpulkan termasuk aku. Sebelum mengumpulkan aku masih memeriksa kembali jawabanku.


" ayo cepetan siapa lagi yang belum? " tanya pak guru. aku segera berlari mengumpulkan ke depan melihat pak guru yang mulai bangkit dari tempat duduk.


Waktu istirahat aku duduk di meja memilih untuk belajar. Aku mendengar Rafael dan gengnya sedang mengobrol. Sebenarnya aku tak ingin tapi mau tak mau jadi dengar karena dia duduk di dekatku.


" pintar bos ya..., " ucap diki mengacungkan jempol namun dengan tertawa meledek.


" terus gimana jawabnya? " tanya teman yang lainnya.


dengan tawa khasnya dan rasa percaya dirinya dia menjawab " tinggal tulis A, B, C aja gampang " sambil menunjukkan caranya, ia melemparkan sebuah penghapus yang sudah ditulisnya dengan huruf A, B, C, dan D. Tanpa sadar aku terus memperhatikannya.


" Kenapa lihat-lihat? iri bilang boss " ucap Rafael memergokiku yang sedang memperhatikan mereka. Tapi aku tak menjawab aku hanya diam saja dan balik belajar lagi.


" ckck.. ,,,belajar ya ....belajar aja kali... "


" Ribut sih kamunya" sahut raka dengan nada sedikit ngeGas. Aku lupa yang duduk didepanku adalah raka. Namanya Juana Raka Saputra dan Aku Keila Az- Zahra.


" yaudah kaliii, tutup telinganya boss " balas Rafael nyantai


" kamu tutup mulutmu" balas raka lagi.


Aku jadi merinding di buatnya.


Anak-anak yang memilih diam di kelas untuk belajar malah melihat kami karena mendengar perdebatan antara Rafael dan Raka.


Akhirnya aku berdiri dan pindah duduk, memilih duduk bersama dinda dan putri di sana.


" kenapa? " tanya putri dan dinda.


Aku duduk di samping putri berhadapan dengan dinda.


" Gak tahu...mereka" jawabku, aku kembali melanjutkan untuk belajar.


pindah tempat duduk dan mungkin karena di lihat banyak orang, akhirnya mereka diam juga.

__ADS_1


Sesekali aku melirik ke arah raka yang sedang belajar. Aku tak tahu kapan dia ada di sana perasaanku tadi dia keluar kelas. ~


Detik terus berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Tak terasa ujian tengah semester tinggal hari ini saja. Beberapa hari yang lalu aku sempat kesal dengan iki karena meminta terus jawaban saat ulangan. Tapi apa mau di kata dia temanku jadi aku gak bisa marah lama-lama.


Jam terakhir ujian penjaskes, suasana kelas masih riuh karena masih waktu istirahat. Semenjak kejadian bersama Rafael aku jadi sering duduk bareng dinda, putri, dan iki.


" kayaknya lesti dan Belinda lagi marahan deh" cerita iki yang baru bergabung bersama kami. Kami bertiga pun melirik ke arah Belinda yang duduk sendiri dan di sebelahnya ada lesti dengan kawan-kawan yang lainnya seperti Rika, jasmin, dan vio.


Memang janggal rasanya, karena yang ku tahu selama ini mereka selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi.


" marahan kenapa? " tanya dinda. Mata ku masih tertuju pada lesti teman masa SDku yang tak mungkin aku lupain.


" biasa karena jawaban ulangan" sahut iki. Mataku menoleh ke arah iki kembali.


" kok bisa? " tanyaku penasaran.


" katanya Belinda gak mau kasih jawaban, pura-pura gak denger"


" Sudah.. sudah.., gak usah omongin orang, belajar yang bener" tegas putri menghentikan obrolan kami.


Memang benar-benar ulangan itu menyeramkan, yang deket bahkan jadi bisa pisah. Sebenarnya pertemanan itu seperti apa sih? pikirku. Masa berteman sebatas karena butuh saja.


aku hanya geleng-geleng kepala ikut merasakan apa yang dirasakan Belinda, karena aku pernah berada di posisi itu.


Bel berbunyi aku kembali duduk ke tempat asalku.


" Kei pulpenmu.. " panggil putri di tengah jalan saat aku hampir sampai tempat duduk. Aku langsung menoleh ke belakang namun tanpa sengaja menyenggol seseorang.


" maaf.. maaf" ucapku sambil melihat siapa orang itu ternyata itu raka. Aku kemudian mengambilkan selembar kertas yang ku jatuhkan dan segera mengembalikannya.


Tanpa mendengarkannya terlebih dahulu aku langsung lari ke meja putri untuk mengambil pulpen ku.


Kembali ke tempat duduk, melihat punggung Raka aku terpikirkan kira-kira tadi dia mau ngomong apa ya?


Menjawab pertanyaan ada beberapa jawaban penjaskes yang benar-benar aku tak tahu jawabannya, tiba-tiba saja aku teringat cara Rafael, jadi aku mengikutinya...


Sebenarnya aku tahu itu adalah hal yang paling gak mungkin banget untuk di lakuin. Tapi aku lakuin juga akhirnya.


Dengan cepatnya kami semua mengumpulkan jawaban padahal waktunya masih banyak, dalam hati Yeayyyy Ulangan Selesai 😁😁😁~


Sehari setelah ujian hari bersih -bersih kelas, di kolong meja banyak sekali kertas-kertas yang sudah tak karuan bentuknya. Aku coba-coba membukanya karena penasaran. Yang benar saja sebagian besar isinya cerpean semua.


ada juga sebuah catatan kecil dengan tulisan-tulisan yang membuatku tertawa


" **no 5 -10"


" Maaf anda kurang beruntung, coba lagi" balasnya


" no 4, 6, 7 "


" belajar boss" balasnya


" no 1 - 40"


" gila lo**..."


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚~


πŸ“Semenjak kejadian waktu lalu antara aku, Rafa, dan raka, aku belajar satu hal di antara hak-hak kita di sana ada hak orang lain juga jadi sebaiknya saling menghormatiπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2