Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
11 #Rasa Yang Mulai Berubah


__ADS_3

🍁 Ku buka gorden jendela, mengintip dari sela-sela jendela. Ku tatap langit yang kini sedang menangis tak henti-hentinya sejak subuh tadi sampai sekarang.


" kak udah pukul 6.15 nih" panggil ku ke kak adam yang duduk sambil memainkan handphonenya, di sisinya ada alif yang juga melihat ke arah layar handphone kak adam.


" kak.... " panggil ku lagi dengan nada agak keras agar dia dengar, karena sepertinya dia asyik bermain game.


" apa??? " jawabnya tanpa menoleh ke arahku.


" sudah jam 6.15" sahutku, karena jam masuk sekolah jam 7 pagi. Aku takut telat untuk sekian kalinya.


" masih hujan dek, palingan belum ada yang datang " kali ini kakak menjawab sambil menoleh ke arahku.


" jalan aja!!! kenapa belum jalan???, kan ada jas hujan " sahut mama yang baru keluar dari dapur. Namun kakak terus saja ngeles untuk jalan nantian tapi mama terus berselisih teguh untuk tetap jalan. Dan akhirnya pemenangnya adalah mama 😁


Memakai jas hujan, kami bertiga berangkat ke sekolah, kali ini alif ikut bersama kami karena hujan.


Tak butuh waktu lama kira-kira 15 menit, setelah mengantar alif,,, akhirnya aku dan kakak sampai di parkiran sekolah. Turun dari motor aku melihat sepatu kakak dan celana panjangnya di penuhi bintik-bintik hitam.


" Tuh kan kotor, di suruh pake sandal gak mau sih " omel ku. Karena hujan aku membungkus sepatu dan kaos kaki ku dengan kertas kresek yang kemudian ku masukkan dalam tas dan memilih pakai sandal dulu agar tak basah.


" Ribet... "


" yang penting gak basah sepatunya, nanti kakinya jadi gemuk loh kak " ucapku sambil melipat jas hujan.


" ya gak apa-apalah"


" yah terserah kakak dachhh " aku memberikan jas hujan ku pada kakak untuk di masukkan, aku berjalan lebih dulu meninggalkan kakak yang masih sibuk membersihkan diri.


Karena Jarak parkir dengan kelasku tidak cukup jauh, aku memutuskan berlari untuk menembus ribuan air yang jatuh secara bersamaan. Menyebrang ke gedung kelas, aku melihat raka yang juga ada di sana sedang membersihkan diri, kakiku tiba-tiba terhenti merasakan dada yang mulai terasa sesak


" Kei... hujan" panggil raka, membuatku sadar dan segera menepi .


" kenapa diam ??? " ucapnya lagi, namun aku tak merespon aku masih terdiam dengan apa yang kurasakan,, dadaku masih terasa sakit. aku memegang dan meremas dadaku. Aku bingung karena kali ini aku merasakannya. Apa aku sakit jantung??? tanyaku dalam hati.


" kei...????"


"a... " jawabku melihat ke arahnya, pandangan kami saling menatap jantungku semakin kencang berdetak, sekejap aku langsung mengalihkan pandanganku.


" ayo masuk kelas " ajakku setelah selesai merapikan diri, karena kita harus melewati beberapa kelas dan anak tangga dulu untuk sampai ke Kelas.


Aku berjalan lebih dulu, aku benar-benar grogi berjalan berdua dengannya padahal dulu biasa aja. Sepanjang jalan dia mengajakku berbicara tapi mulutku terasa kelu tak bisa bicara apa-apa jadi hanya bisa jawab ya.. nggak .. atau jawaban yang sesingkat mungkin. Padahal dalam hati aku menjawab panjang lebar.. sayangnya dia tak mendengar suara hatiku.


Terus berjalan dengan pikiran melayang kesana kemari,, saat menaiki tangga aku tak melihat ada genangan air. Kakiku terpeleset,,,


"aggh...." teriakku,, seketika jantungku terasa berdetak beribu lebih kencang dari sebelumnya.


" Kei.... " aku mendengar suara teriakan raka. membuatku tersadar dari pikirku ,, yang ku pikir aku akan jatuh. Dengan sigap aku ulurkan tangan kiriku memegang pada pegangan yang tersedia di samping tangga.


Untungnya suara hujannya sangat deras jadi suaraku tak di dengar,, kalau anak-anak dengar suaraku,,, aku yakin mereka langsung pada kumpul melihatku.


" Astagfirullah " ucapku sambil mengelus-elus dada. aku menoleh ke belakang melihat raka yang menghembuskan napas panjang ku lihat kedua tangannya di tadahkan ke atas seolah akan menangkapku.


Ia berlari menghampiriku " Hati-hati mangkanya"


" ya.. maaf " ucapku lanjut jalan, dan kali ini jalannya pelan-pelan karena sandalku licin terkena air.


Sampai di kelas aku langsung duduk,, kelas terasa sangat sepi dan dingin pastinya. Dinda dan putri belum datang. Iki tak masuk sekolah karena masih sakit katanya.


Raka sekarang duduk di sebelah kananku bersama Rika.


Aku mengganti sandalku, memakai kaos kaki dan sepatu " aduhhh " ringisku kesakitan aku merasa kaki kiriku keseleo karena tadi. aneh kok tadi gak kerasa sihh ucapku dalam hati.


" Kenapa?? " tanyak raka


" Gak ada " jawabku tanpa menoleh, karena aku merasa malu kalau melihatnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian teman-teman yang lain pada datang termasuk dinda dan putri. Sudah jam 8 pagi guru belum juga datang hujan masih belum reda. Beberapa anak keluar ke teras kelas melihat hujan tapi ada juga yang memilih diam di kelas dengan segala aktivitas mereka seperti Rafael yang sedang tidur, lesti dan kawan-kawan yang sedang mengobrol, dan lain-lain.


Dan aku termasuk orang yang memilih diam dalam kelas dan mengobrol dengan temanku.


Dinda dan putri bercerita tentang kakak kelas yang di sukainya.


Dipikir putri buku yang di pinjam nya itu hilang, dan saat hendak memberi tahu kakak senior itu ternyata bukunya sudah di dia. Betapa leganya putri mendengarnya sik kakak senior itu malah senyum-senyum sendiri melihat putri yang terlihat lega.


" Kenapa gak bilang langsung coba, kan kamu jadi gak capek cari kemana-mana bukunya " komentarku


" gak apa-apalah lagian aku yang salah lupa naruhnya " sahut putri. Di tengah obrolan kami raka duduk di tempat duduk iki. Aku sontak langsung berdiri aku benar-benar salting di buatnya. Jantungku lagi-lagi berdetak lebih cepat.


" mau kemana?? " tanya putri dan dinda bersamaan.


" mau ke luar sebentar " ucapku,, sebenarnya aku ingin ikut ngobrol juga tapi aku juga bingung tubuhku refleks sendiri. Aku benar-benar takut karena jantungku sakit rasanya.


Akhirnya aku keluar kelas ikut gabung dengan anak-anak yang lain yang ada di depan teras kelas. Sesekali aku melirik ke belakang melihat mereka bertiga asyik mengobrol.


" uh.... " aku menghela nafas panjang, aku menjulurkan tangan kananku menghadang air-air yang jatuh dari langit.


Sekilas dari atas aku melihat kak adam mengobrol dengan seorang perempuan. Perempuan yang tak ku kenal. Melihat ke arah bawah kelas, aku melihat bu eyen guru ipaku sedang berjalan mungkin mau ke kelas.


Akupun masuk ke kelas, dengan kaki yang masih sakit aku berjalan pelan-pelan.


" Kenapa kakinya, sakit? " tanya putri.


" keseleo " jawabku singkat.


" kok bisa? " kali ini dinda yang bertanya. Akhirnya aku menceritakan tragedi yang ku alami. Tanpa memberitahukan bahwa ada raka saat tragedi tersebut.


Mungkin sadar karena aku tak menyebut namanya raka menoleh ke arahku, aku melihatnya tapi aku langsung memalingkan wajahku aku benar-benar takut menatap matanya aku takut dadaku sesak lagi.


kembali ke mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, Bu eyen sudah ada di depan kelas memberitahukan setiap kelompok untuk maju mempresentasikan tugas makalah yang diberikan 2 minggu lalu.


Presentasi di mulai dengan Rika sebagai moderator dan dia sebagai pemateri.


Sepanjang penjelasannya, Aku merasa ia terus melihat ke arahku seperti hanya menjelaskan kepadaku saja. ihhh.. perasaanku saja, jangan ke PDan kei..., ucapku dalam hati sesekali melirik ke sana kemari melhat teman-teman yang lain.


" raka, kalau menjelaskan jangan cuma melihat ke satu arah, kamu harus lihat audiens yang lain" tegur bu guru.


" ya bu " jawabnya


Aku benar-benar salah tingkah di buatnya, padahal mungkin itu bukan di tujukan padaku. Raka mengikuti nasihat bu guru sayangnya lagi - lagi aku merasa dia kembali ke arahku,, melihatnya aku tertawa kecil, aku melihatnya tersenyum,, kemudian kembali menjelaskan ke arah yang lain.


padahal aku sudah bilang pada diriku untuk tidak terlalu ke GRan, tapi nyatanya rasanya ga bisa karena aku sudah terlanjur senang. Jantungku terasa seakan ingin loncat-loncat.


Giliran kelompok ku yang maju. Saat aku menjelaskan aku tak pernah berani melihat ke arahnya.


Sampailah pada waktu istirahat, karena hujan aku malas untuk ke kantin, padahal sebenarnya hujannya sudah berhenti tapi melihat becek-becek jadi malas keluar. Dinda dan putri juga memilih ke kelas.


Lagi-lagi dia ikut duduk di bangku iki, aku yang tadinya tak ingin ke kantin jadi harus ke kantin karena untuk menghindarinya.


" aku mau ke kantin, ada yang mau nitip? "


" nitip minum aja ya " ucap dinda


" put??? " tanyaku


" gak ada kei"


Aku berjalan ke kantin dengan kaki yang masih sakit karena keseleo 😭


Di kantin aku bertemu dengan gadis yang ku lihat tadi berbicara serius dengan kakak. Dari belakang aku memperhatikannya aku benar-benar penasaran πŸ˜…


Tiba giliranku, aku membayar makananku, dan segera pergi.

__ADS_1


" kenapa kakimu? " ucap seseorang yang tak asing bagiku. Kakak menepuk pundakku hingga mau tak mau aku menoleh ke belakang.


" keseleo 😭" ucapku manja


" sok imut lo.. " ucap kakak. " oh ya dek bayarin kakak dong "


"ogah " ucapku meninggalkannya, tapi kakak menarik jilbab ku.


" kakak...... " aku berbalik melihat ke arah kakak.


" ayolah dek.., sekali aja " pintanya sambil mengedipkan matanya.


" uang jajan kakak kemana sih ??? "


" kakak tabung "


" paling di tabung buat beli kuota game kan? " introgasiku. Mau tak mau akhirnya aku keluarkan juga uangku


" nih..., besok- besok teraktir adek juga kak "😏 aku memberikan selembar uangku.


Sampai di kelas dia masih duduk di sana. Hingga jam pelajaran sudah mau mulai dia duduk di sampingku. Selama jam pelajaran hingga waktu pelajaran habis, pelajaran, isoma, belajar dan akhirnya pulang kami tak berbicara sepatah katapun.


Aku berjalan ke parkiran lebih dulu meninggalkan dinda, putri, dan raka yang masih duduk. Sampai parkiran aku menunggu agak lama kakak belum keluar juga.


Jadinya mau tak mau aku bertemu lagi dengannya di parkir.


" yohhh belum pulang?? " tanyanya


" ya " jawabku singkat tanpa menoleh ke arahnya. pandanganku terus tertunduk ke bawah. Hingga akhirnya kakak datang juga dan Dia pun pergi.


" nih kunci motor "


" kok kunci motor? kakak gak pulang?? "


" kakak ada pengayaan ,,, mungkin pulangnya jam 6 nanti "


" tapi adek ga bisa nyebrang kak " karena pertama kali pakai motor ke sekolah jadi aku gak berani. biasanya di jalanan sepi bisa.


" pelan-pelan aja pakainya" sampai terdengar suara motor melaju di sampingku.


" ah.... " kakak memanggil seseorang


" siapa namnya? " kakak menoleh ke arahku dan bertanya ,, kakak sepertinya tadi hampir mau panggil ahok


" raka " jawabku singkat.


" Raka " panggil kakak, mendengar panggilan kakak raka berhenti dan menoleh ke belakang.


" Boleh minta tolong gak, sebrangin kei nanti di depan sana dia gak bisa nyebrang "


" boleh " jawabnya cepat.


" Terima kasih " jawab kakakku, kakak kembali menoleh ke arahku.


" ya udah sana jalan, inget pelan-pelan pakainya,, inget yang kakak ajarin " aku mengingat apa yang di ajarkan kakak tidak boleh menyalip dari sisi kiri,, kalau mau menyalip klakson dulu, kalau mau belok lighting nya di nyalain kira-kira 7 m dari pembelokan dan lain-lain.


Dengan cepat aku menunggangi motor dan menyalakannya, di sana raka sudah menunggu.


Sudah berada di posisi yang sama kami berjalan beriringan dia di depan dan aku di belakang. Sampai depan dia membantuku menyebrangi jalan.


aku menyempatkan diri tanpa menoleh ke belakang bilang Terima kasih. Aku takut menoleh karena takutnya ntar saat menoleh ada motor di depanku.


" Hati-hati " teriaknya.


πŸ“**Aku benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada diriku. Aku rasa aku menyukainya tapi bukannya mendekat tapi aku malah menghindarinya.

__ADS_1


__ADS_2