Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
5 #AKHIR SEMESTER


__ADS_3

🍁 Waktu dengan cepatnya silih berganti, padahal aku merasa baru saja mendaftar di sekolah ini tapi kenyataannya tanpa ku sadari akhir semester sudah di depan mata. 3 hari lagi kami semua akan melewati sebuah ujian akhir semester.


Persiapan ujian akhir semester semakin tegang. Beberapa anak mulai fokus belajar mempersiapkan ujian dengan cara membaca, menyalin catatan lebih tepatnya melengkapi catatan, dan ada juga berberapa anak yang biasa-biasa aja.


Akhir semester menjadi suasana horor bagiku, aura-aura persaingan terasa sekali terlebih bagi kami siswa siswi yang berebut ingin duduk di posisi atas.


Tak banyak dari kami yang awalnya berteman sampai berkelahi gara-gara tak di diberi pinjam catatan. Berselisih karena di beri pinjam catatan bukannya di catat malah di fotocopy dan malah diperbanyak.


Bagiku catatan itu sangat penting, jadi terkadang aku merasa orang yang menyalin hanya dengan memfoto copy hanya ingin enaknya saja.


Mungkin karena aku tak banyak bicara dan hanya bergaul dengan iki, putri, dan dinda. Tak ada yang berani meminjam catatanku.


Sebenarnya aku merasa aman dengan ini. Karena aku tak perlu kesal jika nanti ada hal yang tak ku inginkan dan tak perlu membuat orang yang ingin meminjam jadi sakit hati karena perilakuku.


Beres-beres buku, aku bangkit dari tempat dudukku.


"Mau kemana? " tanya iki.


" mau fotocopy " jawabku singkat. Aku berjalan sendiri ke tempat fotocopy. Dinda dan putri pergi ke ruang OSIS. Sedangkan iki sedang sibuk mengobrol dengan teman yang lain. Jadi aku tak enak mengajaknya untuk menemaniku.


Yah...sudah beberapa bulan berlalu, aku semakin banyak mengenal teman-teman sekelas ku walaupun tak banyak mengobrol seperti iki yang cepat bergaul. Aku cuma tahu namanya dan sesekali ikut nimbrung dengan mereka. Jadi jika ada waktu kosong karena aku tak pandai memulai obrolan, jadi aku memilih duduk di kusriku, menggambar anime kesukaanku.~


Aku pergi ke tempat fotocopy depan sekolah untuk mencopy buku LKSku, untuk mempermudahkanku belajar,, aku hanya mencopy bagian ulangan harian, ujian kompetensi pokoknya yang ada bagian soal-soalnya. Karena menurutku itu adalah bagian yang akan keluar saat ujian akhir semester nanti untuk pelajaran yang hanya berisikan teori. seperti bahasa Indonesia, IPS dan lainnya.


Sampai didepan fotocopy, untunglah tak banyak orang,


" Pak fotocopy "


" rangkap berapa? "


" satu aja, diperkecil ya pak" tegasku maksudku yang 2 halaman bisa jadi 1 lembar kertas HVS


"ya.. ya" jawabnya, ku pikir bapaknya mengerti maksudku. Ternyata tidak,, dia benar-benar memfotocopy nya dengan ukuran sangat kecil, kupikir seperti kertas contekan.


" kok gini pak kecilnya? " tanyaku bingung karena tak sesuai dengan keinginan ku.


"Emangnya gimana dek? temen-temennya juga biasanya fotocopy segini kok, tuh.." ucap bapak itu menunjuk seseorang di sebelah kananku.


Aku menoleh ke kanan melihat beberapa laki-laki yang ku tahu itu kakak senior ku. Aku kenal mereka karena mengingat wajahnya, saat upacara bendera mereka di suruh maju oleh kepala sekolah karena tak bawa topi.


" kenapa? " tanyanya, aku langsung membalikkan wajahku dan hanya diam saja tak membalasnya.

__ADS_1


" maksud saya yang 2 halaman jadi selembar HVS pak " jelasku pada sik bapak. sambil menggerakkan kedua tanganku memberikan isyarat.


"oh gituuu" akhirnya sik bapak ulang memfotocopy buku LKSku, dalam hati aku berkata dipikir aku mau mencontek apa? .


"fotocopy pak" suara laki-laki di samping kiriku, aku menoleh ke arah Rafael aku kenal dia tapi aku tak sering mengobrol dengannya.


Kenapa ya? terkadang aku bingung kalau dengar suara aku selalu reflek mencari sumber suara. Tapi syukurnya saat aku melirik Rafael tak melirik balik.


" 1 pak yang ini diperkecil"


" diperkecil gimana nih? " tanya sik bapak sambil menyerahkan fotocopyanku.


" sekecil-kecilnya pak supaya bisa masuk saku" jelas Rafael.


Mendengarnya aku langsung menoleh, ia balas menoleh, aku tak bisa berkutik, melihat penggaris di sana aku sekejap memiliki ide pengalihan.


" berapa harga penggaris nya pak? " tanyaku langsung.πŸ˜…


"tiga ribu " kebetulan juga sih, memang lagi butuh penngaris selesai bayar aku balik ke kelas.


Hmmm ada-ada aja ucapku dalam hati sambil menghembuskan nafas panjang.


Sebenarnya aku sedikit kesal dengan anak-anak seperti itu tak mau berusaha tapi jika ku pikir-pikir lagi, bagaimanapun mereka diam sajalah yang penting aku bisa jawab dengan kemampuanku sendiri.


" udah dari mana? " tanya putri.


" fotocopy " jawabku sambil merapikan tempat dudukku.


" buat apa? " tanya putri lagi


" catatan siapa? " tanya iki, aku sedikit tersinggung dengan kata-kata iki.


" bukan catatan, tapi LKSku biar gampang belajar aja" jawabku menjelaskan.


" coba lihat " aku memberikan cooyanku ke iki. Melihat dinda yang diam saja aku penasaran.


" Din lagi ngapain? " tanyaku


" lagi lengkapi catatan " jawabnya, ia melepas catatannya dan berbalik ke belakang sambil mengeluh.


" uhhh... banyak kegiatan pramuka"

__ADS_1


" berhenti aja din, daripada gak fokus belajarnya"


" gak ah "


" ya gak gitu juga kei, setidaknya kan kakak seniornya tahu bentar lagi ujian akhir sementara di off dulu lah kegiatan eskul nya" sahut putri.


" yah bener tuh" aku setuju dengan putri.


" kei, aku pinjam fotocopy ya punyamu" ucap iki. Sontak aku diam dan berbalik melihatnya.


"Bukannya LKSmu ada"


" Gak apa-apa lah biar sama"


Saat itu aku benar-benar berusaha mengatur ekspresi ku aku memang sedikit kesal tapi aku mencoba berpikir ya gak apa-apa lah masihan catatan bukan jawaban. Jadi aku berikan saja iki meminjamnya.


" Dinda mau fotocopy juga gak? " tanyaku.


" Ga usah dah kei, biar aku catat aja"


" Gak apa-apa din" mungkin dinda tak enak denganku. Aku terus memaksa, aku tak mau temanku kesusahan, lagian itu cuma catatan bukan meminta jawaban.


" Gak usahlah kei" ucapnya lagi.


" Mau gak? aku pergi fotocopy nih? " tanya iki yang hendak mau pergi.


" Fotocopy 2 rangkap aja lah ki " sahutku


" Gak apa-apa masihan cuma catatan kan " lanjutku sambil tersenyum, aku berusaha menghilangkan rasa gak enak di antara kami. Sejenak aku berpikir kenapa aku merasa biasa aja? padahal dulu pasti akan merasa marah dalam hati.


" ya udah deh ki aku juga, ntar aku ganti uangnya ya"


" aku sendiri nih perginya? " dia berdiri di samping pintu menunggu seseorang menemaninya.


" ya udah deh, aku ikut juga" ucap dinda yang segera bangkit dari tempat duduknya.


" kei tanya dong ini gimana caranya? " Tanya putri menyodorkan sebuah buku dengan beberapa soal matematika. Sebelum menjelaskan putri aku merasa seseorang memperhatikanku, akupun balik menoleh ternyata yang ku lihat si Raka yang sedang bertanya pada putra di sana. hmmm mungkin cuma perasaanku saja,, ucapku dalam hati.


Aku menjelaskan cara menyelesaikan matematika pada putri. Dengan menganggut anggut putri mulai paham namun ia terkadang bingung dengan cara menjelaskanku. Membuat kami berdua ketawa.


" Sepertinya aku tak cocok jadi guru " ucapku sambil tertawa

__ADS_1


" tenang walaupun kamu ngomongnya terbalik, saya paham kok" ucapnya sambil tertawa juga.


Aku lebih menghargai orang yang ingin berusaha daripada orang yang belum mencoba tapi menyerah, Sekeras apapun hati akan luluh ketika melihat usaha seseorang itu πŸ“


__ADS_2