
Hari-hariku terasa berat, biasanya aku tak pernah marasa kesusahan seperti ini saat belajar. Terlebih ingin bertanya tapi tak tahu pada siapa, teman tak ada, seperti biasanya saat awal-awal anak-anak membentuk kelompok mereka masing-masing. Anak-anak yang malu dan tak berani untuk memulai seperti aku makan siaplah melewati hari di kampus tanpa ada teman. Dinda dan putri kuliah di luar provinsi, begitu juga dia. Aku merasa seperti motivasi ku hilang saat mereka tak lagi ada di dekatku.
Apalagi Kini mereka benar-benar hilang kabar termasuk dia, saat terakhir aku bertemu dengannya saat itu.
Usai acara perpisahan kami bertujuh aku, dinda, putri, dara, monik, iki, ahmad dan Raka pergi ke Mall bermain bersama. Hari itu pula menjadi hari terakhir spesial karena untuk kedua kalinya aku dan dia bermain bersama tanpa ada yang lain. Dan pulangnya dia mengirimiku pesan
"selamat juara 2"
"Terima kasih"
" Tapi tadi jatuh,,,, malu... " , ketikku lagi.
"nggak apa-apa π, itulah yang saya suka dari kamu ,, kamu sederhana"
...aku tak tahu kenapa kata-katanya yang hanya sedikit ini saja membuatku sangat bahagia....
Itulah terakhir kalinya aku mengobrol dengannya. Aku tahu semua tak sama lagi seperti dulu, semua sudah memiliki jalan masing-masing.~
" woi..... cepetan " panggil seorang perempuan bertubuh besar yang baru-baru ini ku kenal. Sintia namanya, baru beberapa hari mengenalnya aku sudah di buat kesal karena kata-katanya yang ceplas-ceplos tanpa ada saringan. Tapi aku bersyukur setidaknya dia selalu denganku dan melindungiku.
" Ya.. ", jawabku kemudian berlari menghampirinya.
Aku merasa sangat lelah, berulang kali harus naik turun ke lantai 4 dari gedung A ke gedung B untuk mengikuti mata kuliah, pasalnya gedung fakultas kami belum jadi,, Jadi, mau tak mau kami harus meminjam ruangan kosong di fakultas lain.
" Capek.... ", Keluh Sintia.
" ya... " sahutku, langsung duduk di kursi tengah.
Tak lama pelajaran di mulai, setelah selesai kami pindah lagi ke gedung B ke ruangan kelas lantai 4 lagi.
" Lama-lama aku bisa kurus " keluh Sintia.
__ADS_1
Aku tertawa mendengarkannya " ayo... jalan " ucapku sambil mendorong badannya yang besar. Sebenarnya tak apa jika jarak gedung A gedung B dekat tapi.....ini benar-benar bisa dikatakan jauh.
Sampai di gedung B fakultas kedokteran, aku melihat kakak menuruni tangga. Aku ingin menghampirinya tapi tak jadi karena di saat bersamaan seorang gadis datang menghampirinya dengan raut wajah marah.
Penasaran aku coba mendekat, namun Sintia menarik tanganku untuk segera masuk kelas.
Sudah lama rasanya aku tak bertemu dengan kakak walau hanya sekedar mengobrol. Kakak selalu pulang saat aku sudah tertidur, di saat aku bangun dia sudah berangkat, walaupun ada di rumah kakak selalu ada di kamar menyelesaikan tugas-tugasnya. Sungguh jurusan yang menguras tenaga dan pikiran.
Sampai kelas, ternyata ketua tingkat bilang dosen ga bisa hadir karena ada kegiatan lain.
" agh... tahu gitu tadi aku gak naik ", Keluh Sintia. Bukan hanya Sintia yang mengeluh aku dan yang lain juga ikut mengeluh.
Lagi-lagi kami harus menuruni tangga, sebenarnya ada lift tapi katanya di khususkan untuk para dosen. Jadi mau tak mau harus menuruni tangga.
" ting.. tong... ", Terdengar suara notifikasi hpku.
" Siapa??? " tanya Sintia yang juga mendengar ringtone notifikasi WAku.
**Raka :
" Alhamdulillah baik** "
Rasanya kesal ku hilang begitu saja, senyumku merekah kembali, semangatku kembali terisi.
" Kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri? " , tanya Sintia hendak merebut Hpku. Namun segera aku menghindar, tak sengaja aku mengenai wajah seseorang dengan tanganku.
" Maaf... maaf... ", ucapku merasa bersalah.
" nggak apa-apa ", jawabnya Santai.
" Kita sekelas kan? " tanya Sintia pada perempuan kecil berhijab itu yang juga kecilnya sepertiku.
__ADS_1
" oh... ya, kenalkan aisyah panggil aja ica " ucapnya mengulurkan tangannya,, Sintia dengan cepat menyambut salaman ica
" Sintia, ini Keila ", ucapnya memperkenalkanku.
" ting... tong... " lagi-lagi terdengar suara notifikasi.
**Raka :
" Kamu gak tanya kabarku**? " ketiknya lagi membuatku tertawa, aku gak tahu ada sisi imut di balik cueknya itu.
" **Aku tahu kamu pasti baik-baik di sana "
" Bagaimana kuliahmu "
" Biasa-biasa aja "
" Inget jangan pacaran-pacaran dulu, fokus aja belajarnya bahagiain orang tua dulu*!!!!" kenapa dia bilang gini? kenapa dia menyuruhku untuk tidak pacaran ? πapa karena dia suka padaku* pikirku ππ.
" **ya π"
" ya sudah, sehat-sehat di sana "
"kamu juga** "
Setelah selesai mengobrol via WA dengan Raka aku memasukkan handphoneku ke dalam tas.
Menoleh ke sisi kanan ternyata ica dan Sintia sudah tak ada.
" Kemana mereka? " aku mencari-mencari mereka berdua di sekeliling ku.
" Kei.... di sini " panggil Ica sambil melambai.
__ADS_1
Aku segera berlari menghampiri mereka berdua yang sudah lebih dulu jalan meninggalkanku.
πKau adalah ramuan ajaib ku, Hanya mengobrol denganmu membuat sedihku kesalku atau apapun yang buat ku putus asa semua berubah menjadi kebahagiaanku.