
๐Beberapa minggu yang lalu kakak menghadapi ujian nasional dan sekarang sudah giliranku saja untuk bertempur.
Masalah gani dia tetap di kota ini dan untuk ibu setelah hari itu datang ke rumah, sorenya dia langsung berangkat ke Jawa, hal itu aku tahu dari mamakku, kata mamak ibu di sana tinggal dengan kak ajis, kakak dari gani anak pertama ibu. Ibu hanya punya 2 anak dan si gani lah yang paling bontot.
Datang lebih pagi membuatku harus menunggu dengan waktu yang lebih lama dari teman-teman ku yang baru datang.
" fokus sekali belajarnya " ucap raka yang baru datang.
" ya, biar bisa jawab" jawabku dengan senyum.
Menyiapkan alat-alat tulis untuk ujian nanti di atas meja, raka kemudian berbalik menghadap ke belakang mengobrol denganku.
" udah siap ujiannya? "
" InsyaAllah siap, kamu? " tanyaku tak ingin obrolan ini berhenti.
" belum siap sih sebenernya "
" bismillah aja, udah belajar kan? " tanyaku lagi, dan dia hanya mengangguk sebagai jawaban ya.
" ya udah, usaha tak pernah membohongi hasil " nasihat ku, mengobrol berdua dengan raka terdengar suara- suara cengengesan perempuan yang tak asing untukku
" cieeeee.... ecieeeee" goda dinda yang di ikuti putri.
" ehemmm... ehemmm"
" minum put " ucapku.
Mereka berdua ikut gabung bersama kami dinda duduk sebelah raka dan putri duduk di sebelahku.
" ntar pulang sekolah kita belajar bareng lagi ya! " ajak putri
" raka ikut? " ajak dinda
" nggak tahu nanti " jawab raka cepat kemudian pergi meninggalkan kami bertiga.
Melihatnya pergi pandanganku tak lepas darinya sampai pintu ia berpapasan dengan gani. Melihat gani terbesit di pikiranku untuk mengajaknya bicara menyudahi perkelahian ini.
Berdiri dari tempat duduk, ternyata ada dara di belakangnya yang mengikutinya. Jadi aku urungkan niatku dan duduk kembali ke tempat duduk ku.
" kenapa? " tanya putri, di ikuti dinda yang juga melihatku seolah bertanya ya kenapa?
" rokku nyangkut " jawabku, padahal rokku tidak nyangkut tapi entah kenapa aku tak ingin orang tahu masalahku dengan gani.
Tak berselang lama bel masuk berbunyi " teettttt... tettttt... teetttttt"
" Semoga bisa jawab " ucap raka kepadaku sebelum ia berbalik menghadap papan tulis.
" kamu juga " jawabku senyum walaupun ia tak melihat senyumku, aku tak tahu hanya karena raka mengatakan hal itu saja aku udah sangat bahagia ๐.
Karena sistemnya siapa yang sudah jadi boleh keluar duluan jadi aku keluar ruangan lebih dulu daripada dinda, iki dan putri. Di luar ruangan sudah ada putra dan dara yang lebih dulu jadi daripada aku. Tak berselang lama setelah ku gani keluar juga.
" udah jadi? " tanyaku pada gani tapi dia melewati ku begitu saja dan menuju dara dan putra di sana. apa suaraku terlalu pelan? tanyaku dalam hati. yah mungkin begitu jawabku dalam hati.
Aku kemudian mendekati mereka ingin ikut gabung mengobrol, tapi lagi-lagi begitu aku mendekat dara dan gani pergi berdua. Aku sampai benar-benar gila bicara sendiri dalam hati sabar... sabar... sabar.. kei.
satu demi satu teman-teman yang lain mulai keluar, sudah selesai mengerjakan soal. Aku masih menunggu dinda, iki dan putri karena itu aku terus menatap ke pintu, sayangnya yang kulihat malah raka yang keluar dengan Rika yang menggandeng tangannya.
" Kei... " ucap raka ketika melihatku
" ya " jawabku dengan senyum terpaksa, aku sudah terbiasa di ajarkan mamak ketika bicara dengan seseorang harus sopan dan senyum agar orang yang kita ajak bicara nyaman dengan kita. Tapi melihat raka dengan Rika hatiku tak bisa berbohong.
Melihat putri dan dinda sudah keluar aku berlari kecil menghampirinya dan meninggalkan mereka berdua.
" cemburu ya??? " ejek putri
__ADS_1
" cemburu apa coba " jawabku cepat, padahal dalam hati ya ๐
Kami bertiga berjalan ke kantin bersama tanpa iki karena biasanya iki ke kantin selalu dengan Diki semenjak mereka berdua dekat.
Sudah belanja kebutuhan perut kami kembali ke kelas, di kelas kami melihat iki sendiri, melihatnya kami bertiga menghampiri.
" tumben sendiri, mana Diki? " tanya putri
" ya " jawabnya singkat kemudian pergi meninggalkan kami. Merasa ada yang berbeda kami bertiga saling bertanya
" dia kenapa? " tanyaku
" nggak tahu " jawab putri
" aku juga nggak tahu " jawab dinda juga.
Agak kesal dengan sikapnya di tanya baik-baik malah gitu jadi aku cuma bisa bilang " yah diemin aja " ucapku, kemudian balik ke tempat duduk.
Dalam hatiku hari ini benar-benar , orang yang ku sayang, dia juga yang buatku kesal . ~
Pulang sekolah sampai rumah aku mengganti baju seragam dengan baju santai.
Habis makan aku istirahat sebentar karena sesuai janji dengan putri belajar kelompok nanti setelah sholat dzuhur. Bangun-bangun sudah jam 1.30 aku buru-buru ke kamar mandi untuk mandi dan sholat. .
" mak ....kei pergi "
" ya " jawab mamak gak marah seperti biasanya karena jauh-jauh hari aku sudah minta izin untuk belajar kelompok awalnya mamak gak ngasi tapi karena bapak ngizinin akhirnya mamak ngikut juga.
Dan kakak cuma bilang satu kata " modus " tapi aku gak mau ambil pusing toh kakak cuma bercanda.
Melewati jembatan baru yang digadang -gadang tempat tongkrongan anak-anak geng dan di kenal sebagai tempat balapan liar tengah malamnya.
Tapi karena masih siang aku memberanikan diri melewati jalan tersebut yang sebenarnya jauh-jauh hari kakak pernah menasehati ku kalau bisa jangan lewat jalan ini.
Melewati jalan raya , setiap jalan aku melihat beberapa warung di pinggir jalan dipenuhi anak-anak berseragam SMA
Karena terlalu ramai di samping kiri kanan jalan, merasa diperhatikan aku fokus ke menghadap depan mengendarai motor.
Tiba-tiba di depanku sebuah motor dengan arah berlawanan denganku dia melaju cepat ingin menyalip motor yang ada di depannya.
Kaget, aku langsung menutup mata sambil kedua tanganku menekan pegangan rem pada motor. astagfirullahalazim... astagfirullahalazim.... ucapku berberapa kali dalam hati.
Buka mata, beberapa anak tertawa melihatku masih gemetaran tangan dan kakiku aku masih diam saja motorku masih dalam keadaan menyala.
Motor tiba-tiba dimatikan,, aku menoleh ke sosok laki-laki pendek di samping kananku. Dengan marah-marah dia mengatai ku
" kamu bodoh ya..., kenapa kamu lewat sini? " bentaknya. Aku yang masih kaget takut terus tiba-tiba dimarah aku hanya bisa menangis.
Melihatku menangis gani menyuruhku turun dari motor. Aku duduk di atas alang-alang pinggir jalan
"Astagfirullahalazim.. astagfirullahalazim " ucapku dalam hati masih dalam keadaan menangis.
Gani datang dengan membawa sebotol air putih untukku.
" nih " Aku meminumnya. Merasa orang-orang mulai memperhatikanku aku langsung diam tapi masih sesegukkan. Sudah berapa kali aku menangis tanpa malu di lihat orang banyak.
" Bener... bener ya, gak punya otak " ucapku marah-marah, yang ku tujukan pada anak yang tadi hampir menabrakku.
" kamu yang gak punya otak, kenapa kamu lewat sini? " ucap Gani masih marah-marah.
" pacarmu gan? " tanya laki-laki tinggi putih yang ada di hadapanku.
" bukan " jawab Gani cepat.
Laki-laki itu kemudian ketawa keras, sepertinya mengetawaiku.
__ADS_1
" kenapa kamu ketawa? lucu ya? " bentak Gani.
" yah.. " ucapnya kemudian pergi
Berada di dekat Gani aku merasakan bau yang berbeda setiap Gani berbicara.
" kamu merokok? " tanyaku pelan.
" nggak "
" jangan bohong, baunya keras sekali " ucapku penuh curiga.
" urus saja urusanmu" jawabnya kemudian berdiri hendak meninggalkanku dengan cepat aku meraih ujung bajunya.
" ayo pulang " ajakku.
Namun ia terus saja berjalan, aku jadi bingung bagaimana caranya mengajaknya pulang.
" kakiku masih gemeteran aku takut naik motor " teriakku, berharap dia akan menurutiku. Yah sebenarnya memang benar sih kakiku gemetaran tapi aku masih bisa naik motor sendiri.
Benar saja dia berbalik ke arahku.
" tunggu "
Dia pergi ke warung yang ada di ujung sana, tak tahu apa yang dia bicarakan bersama teman-teman nya, tak lama ia kembali kepadaku.
" kunci " ucapnya dengan nada datar.
Aku berdiri dengan kaki yang masih gemetaran.
" nih " aku memberikan Kuncinya. Aku naik ke atas motor. Ingat janji dengan putri aku meminjam handphone Gani " Gan boleh pinjam HP? "
" buat apa? " masih dengan nada yang sama
" mau kasih tahu putri aku gak bisa ke sana, kamu punya no HP putri kan? "
" nggak "
" kalau dara? "
" ada kayaknya" ucapnya, dan mengambil handphone di saku celananya yang kemudian dia berikan padaku.
Menyalakan motor Gani mengantarku pulang ke rumah,, aku tak jadi ke rumah putri.
" sejak kapan kamu merokok ? " tanyaku di atas motor.
" bukan urusanmu"
" kamu gak kasihan sama ibu? "
" kamu bisa diem gak? aku kan sudah bilang jangan urus urusanku " ucapnya dengan nada tinggi, aku jadi ikut bicara dengan nada tinggi.
" aku itu peduli sama kamu " tiba-tiba ia menghentikan motornya.
" jangan ajak aku bicara lagi " ucapnya lagi, dan lanjut menjalankan motor.
Mendengar semua kata yang keluar dari mulutnya membuatku sakit hati, air mataku keluar lagi tapi aku berusaha agar dia tak mendengar suara tangisku. Dan akhirnya aku memilih diam, sampai rumah aku langsung turun
" Terima kasih " ucapku langsung masuk ke dalam, aku masuk ke kamar kak adam kebetulan kak adam sedang main handphone. Aku meminta tolong ke kak adam untuk mengantar balik Gani.
Bingung melihatku kak adam hendak bertanya dengan serius aku menjawab
" nanti saja " dalam hati dia bukan orang yang ku kenal dulu
๐Ketika ada masalah jangan sampai kamu melakukan hal-hal yang tidak baik untukmu karena hal itu bukan memenangkanmu malah akan membuatmu semakin terluka dan orang yang peduli padamu. Jangan lari dari masalah jika kamu tak bisa menghadapinya,, kamu hanya perlu menerimanya dulu ๐๐๐
__ADS_1