Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
16 # SALAH PEDULI


__ADS_3

Esok paginya di sekolah gani tak masuk sekolah,, mengetahui hal itu muncul pikiran-pikiran negatif di otakku bepikir bagaimana jika memang benar gani di kroyok oleh farhat dan kawan-kawan nya.


Berusaha mengklarifikasi keadaan gani, pulang sekolah aku menghubunginya tapi tak ada balasan,, ingin menelpon ke no ibu aku takut bagaimana jika benar dan gani tidak ingin memberitahu ibunya,, justru semua akan jadi tambah rumit. Jadi aku urungkan niatku untuk menelpon ibu ( aku memanggil ibu ke mamaknya gani)


Menunggu esoknya lagi untuk mencari tahu,, lagi-lagi dia tak masuk sekolah.


Sudah 2 hari dia tak masuk sekolah tanpa absensi. Semoga pagi ini dia masuk sekolah,, harapku.


" Gani belum masuk sekolah juga? "


" ya " jawabku singkat kembali melamun,, benar-benar beberapa hari ini pikiranku di penuhi dengan pertanyaan bagaiman keadaan anak itu.


" Besok minggu anterin kakak ya beli alat tulis persiapan try out besok senin"


"ya " jawabku lagi. Sepanjang jalan kakak mengajakku bicara seperti biasa saat berangkat sekolah,, sekedar obrolan singkat antara kakak dan adik.


" tumben diem aja " ucap kakakku yang mungkin merasa aneh karena aku hanya bilang ya.. ya.. saja,, entah kenapa aku malas bicara.


Sampai parkiran,, aku langsung turun dan berjalan ke kelas.


" dekkk....,, sakit kamu ya " ejek kakak mengataiku sakit jiwa dengan gerakan tangan telunjuknya yang dimiringkan ke dahi.


" kakak tuh " jawabku malas


" nih kunci,, tangkap ..." kakak melempari ku kunci dengan sigap aku mengadahkan ke dua tangan dengan posisi mantap, bukannya jatuh ke tangan malah jatuh ke lantai. Aku hanya diam dengan posisi mangap melihat ancang-ancang ku yang sedari tadi aku siapkan tak bisa menangkap kunci motor.


" ckckckck.... suruh bapak anterin periksa deh, sakit kayaknya kamu tuh " ejeknya lagi dengan coolnya dia berjalan membelakangiku.


Dengan malas aku berjalan menuju kelas,, melihat dinda dan putri di depanku aku memanggil mereka,,


" din.. put.. tunggu " panggilku,, sambil berlari kecil menuju mereka.


" Gimana?? ada kabar dari gani gak? " tanya putri


" coba tanya dara,, mungkin dia tahu" sambung dinda.


" ya.. ya.. dara pasti tahu " ucapku, moodku jadi kembali ceria,, kenapa aku tak berpikir kesana dari kemarin gani kan suka sama dara.


Berjalan menuju kelas,, aku melihat dara sudah ada di tempat duduknya. Belum menaruh tas aku langsung ke mejanya.


" dara boleh tanya? "


" tanya apa kei "


" tahu gak kabarnya gani "


" nah... aku juga sms, chat, sampai aku telpon ga pernah di jawab "


" ohhhh, ya dah makasih" jawabku pelan. Berbalik ke tempat duduk aku berpapasan dengan raka.


" Gimana udah nonton movie terbarunya gak? "


" ya udah, bareng kakak sama adik" jawabku senyum, membahas naruto the movie 5. Jika sudah bahas naruto bersama dia semuanya jadi panjang lebar bahas sampai detail-detailnya.


" oh ya ini " dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


" Cie... mau di kasi apa tuh" goda putri.


" cie.. ecieee... cieeee " sambung dinda.


" cuma mau ngasi ini " dia mengeluarkan selembat kertas sketsa gambar naruto.

__ADS_1


" wahhh... bagus " ucapku kegirangan " boleh minta? " tanyaku


" nih, emang buat kamu " jawabnya senyum. aku jadi salting karenanya


" din buat kita ga ada "


" kan kalian gak suka anime "


" ya dehh... ya... " jawab mereka serempak kembali menghadap ke depan .


" Terima kasih " ucapku sambil garuk garuk leher padahal gak gatel sih.


" keiii... tuh gani" beritahu dinda.


" gan..... " panggil dara,, yang juga di respon oleh gani " ya " dara menghampiri gani dan mengikutinya,, gani dan dara berjalan begitu saja melewati kami.


Tak seperti biasa, aku merasakan hal yang aneh dengan gani. Biasanya dia akan menyapaku jika kami bertemu dan kali ini dia hanya diam saja.


" aku balik dulu" ucap raka menyadarkanku dari perhatianku yang terus menatap gani.


" Terima kasih ya ka "


" ya sama-sama, syukurlah kalau kamu seneng " senyumnya dengan lesung pipit yang terlihat jelas membuat senyumnya tambah manis dan juga buat aku tak berhenti untuk senyum-senyum sendiri.


Pelajaran pertama di mulaimulai sampai pelajaran ke dua. Aku tak sekalipun mendengar suara riuh gani seperti biasanya. Aku sesekali menoleh ke belakang melihatnya,, ia melihatku hendak ingin berbicara dengannya dengan bahasa isyarat hanya dengan gerakan bibir dia langsung membuang muka.


" yang lain perhatikan ke depan" tegur pak guru.


Tuh anak kenapa sih?? dia marah sama aku?? tapi kenapa??? tanyaku dalam hati.


Mengerjakan tugas yang di beri pak guru,, aku lagi-lagi melirik ke belakang,, aku kaget... terkejut ... syoook,,melihat pipi sebelah kirinya terlihat memar,, merasa di perhatikan gani segera berbalik ke depan lagi. Ia melihatku dengan diam aku juga begitu.


" Lihat ke depan" ucapnya dengan bahasa isyarat dengan bibir yang di gerakkan tanpa suara. Aku mengikuti perintahnya.


Aku segera ke meja gani dan bertanya.


" kenapa gak masuk 2 hari tanpa absen? "


" sakit.. "


" kenapa gak nitip surat ijin ke aku? "


" nanti aja bahasnya, tuhhh lihat dara udah nunggu "


" tunggu bentar ya dar " pintaku pada dara yang menunggu di depan pintu.


" kenapa telpon, SMS kamu gak bales? "


" ga sempet" ucapnya berdiri.


" ini pipimu kenapa bengkak? kamu berantem ya? di kroyok sama dia? " tanyaku terus menunjuk tanpa sadar dengan suara besar, saking khawatirnya aku. Mendengar suaraku anak-anak yang lain mulai memperhatikan wajah gani yang memar.


" Kamu bisa diem gak?? " ucap gani dengan nada agak tinggi. Aku benar-benar kaget mendengarnya.


" Kamu siapa sih??? jangan urus urusan orang urus aja urusanmu sendiri" ucapnya dengan penuh emosi. " jangan sok-sokan peduli" ucapnya kemudian pergi melewatiku


" maaf..." ucapku pelan, dengan mata yang mulai berlinang,, entah ia dengar atau tidak. aku kembali ke tempat duduk ku. Aku benar-benar tak tahan ingin menangis,, hatiku sakit.. aku juga gak tahu sesakit ini di marahin sama temen sendiri.


" aku ke toilet sebentar ya "


" dasar pendek tuh, ga tahu orang khawatir " omel iki.

__ADS_1


" udah.. salah aku juga yang ikut-ikutan sok-sok an " jawabku.


Aku berjalan ke kamar mandi, dalam kamar mandi aku menangis dengan air kunyalakan agar tak terdengar suaraku.


Aku mengenal gani sejak kecil,, karena orang tua kami sangat dekat bahkan kami sudah sring jalan bersama sama saat masih dalam kandungan kata mamak dan ibu.


Mengingat kenangan saat kecil dan tak sekalipun gani memarahiku walau aku sangat jail padanya mengingat yang tadi aku jadi tambah nangis.


Selesai itu aku membasuh mukaku.


" maaf ya pak airnya aku buang-buang " ucapku pelan berharap tak ada yang dengar. Kembali ke kelas dan duduk di kursi ternyaman,,


" kamu habis nangis ya "


" nggak "


" keliahatan banget tahu "


" udah.. udah, udah bel" sahut putri.


Karena kursinya ada di baris samping ku,, jadi gani melewati lorong yang sama denganku.


Benar saja saat gani lewat iki nge gas


" eh pendek.. " panggilnya. aku segera menutup mulutnya dan geleng-geleng kepala.


Gani menoleh dengan wajah kesal dia kembali ke tempat duduknya.


putri dan dinda ketawa kecil.


" haisss " aku melepaskan tanganku dari mulutnya.


" habisss nya..., kesel aku"


"Sudah... sudah, pak guru datang" beritahu putri.


Pulang sekolah,,, aku berjalan sendiri,, putri dan dinda ada tugas negara,, dan iki jalan duluan bareng Diki.


" pulang sendiri? " tanya raka, yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.


" ya " jawabku


" mungkin gani ada sesuatu hal yang tidak bisa ia ceritakan, laki-laki cendrung menyimpan masalahnya sendiri gak mau orang tahu "


" kamu juga gitu? " tanyaku penasaran.


" yah mungkin, tapi terkadang dengan orang yang menurutku spesial aku akan cerita seperti ke ibu misalnya"


" ohhh... " jawabku sambil tertawa kecil.


" hemmm tapi terkadang aku milih juga mana yang bisa aku ceritakan sama gak, laki-laki itu pemikirannya ke depan "


" ya... ya... ya " aku dan dia tertawa kecil.


" kamu pulang sama siapa? " suara yang sangat sangat ku kenal.


" Urus saja urusanmu" jawabku kemudian lanjut jalan. Tanpa basa basi dia berjalan mendahuluiku.


" masih marah?? "


" gak tahu, tapi kan dia yang nyuruh urus urusan masing-masing, aku hanya mengatakan apa yang dia suruh kan" balasku. inilah sifatku aku tak bisa beralih dari sifatku ini sejak kecil.

__ADS_1


Aku masih sakit hati dengan kata-kata nya tadi, aku juga tak tahu harus bagaimana karena dia sendiri yang menyuruhku untuk mengurusi urusan kami masing-masing. Jadi aku tak ingin membuatnya marah lagi.


๐Ÿ“Mungkin terlalu ikut campur dengan urusan orang lain membuat orang lain merasa tak nyaman,, yah... walaupun niatmu hanya ingin tahu keadaannya dan menurutmu itu baik. Tapi terkadang apa yang menurut kita baik untuknya tak baik menurut dia.,, sebaliknya. Hanya mencoba mengerti untuk memahami maksud niat masing-masing. ๐Ÿ๐Ÿ‚๐Ÿ


__ADS_2