Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
8 # SAUDARA????


__ADS_3

Hari penjelajahan yang menguras tenaga menjadi liburan hari minggu yang singkat. Di lanjutkan dengan hari senin yaitu hari menguras ingatan bagi anak-anak yang harus remedial.


Hari ini menjadi hari menegangkan karena hari pembagian hasil belajar kami selama 6 bulan ini. Dan juga hari pertama kami masuk pagi dan menempati kelas baru.


Pagi-pagi kami sudah bersih-bersih kelas, seperti biasanya tak semua ikut membantu termasuk Rafael. Pegang sapu bukan untuk menyapu tapi dijadikan mix.


" Tepuk..tangan ..tepuk..tangan " perintahnya di depan kelas dengan sapu di genggam sebelah kanan, layaknya seorang penyanyi profesional yang berdiri di atas panggung.


" turun... turun... turun" sahut Rika sambil tertawa ikut bergabung dalam imajinasi Rafael.


Diki memutar musik di kelas dengan speaker kecil yang di bawanya,, jadilah suasana bersih-bersih kelas seperti pasar gembrong.


Ketika alunan musik mulai terdengar,,


Beberapa anak ikut bernyanyi termasuk aku juga tapi aku bernyanyi dengan bisik-bisik. Malu karena ada raka di sebelahku 😅


Tergesa-gesa putra datang dengan sebuah absen di tangan.


" Matiin musiknya, suaranya kedengeran sampai ruang guru lohhhhh" perintah putra dengan menunjuk speaker kecil di atas meja guru sebelah kanannya. Dengan wajah merah putra kembali menegaskan.


" Bu Desi sampai marah-marah ke saya " Bu desi adalah wali kelas kami, 45 usianya, orangnya tegas namun lucu.


" Serius sekali " sahut Rafael, yang langsung membuang sapu di tangannya. Mendengar sapu yang jatuh, semua seisi kelas melihat ke depan.


" D kasi tahu kok gitu " nimbrung Monik, yang mungkin tak terima putra di perilakukan seperti itu.


" Apa ......? " Rafael langsung melihat ke arah Monik dengan membusungkan dadanya ke depan dan kepalanya di angkat.


" apa??? kamu kira karena kamu cowok aku takut atuhhh? " balas Monik.


" Sudah.. sudah " tegur putri. Akhirnya mereka diam.


Aku melirik ke raka memberikan kode untuk melerai mereka, yang kebetulan dia berada di sampingku.


Raka maju ke depan sambil menepuk pundak putra, ntah apa yang dikatakannya.


" isi absen dulu, pembagian rapot jam 12 nanti " ucap putra menaruh absen di atas


meja guru,, yang kemudian langsung keluar kelas, di susul monik di belakangnya.


" husstttt, ayo lanjut aja bersih-bersihnya" ajak putri. ~


Selesai bersih-bersih kelas aku pergi ke kantin bersama dinda dan putri. Mau ke kantin,, dinda dan putri tiba-tiba di panggil oleh temannya sesama pengurus OSIS. Akhirnya aku pergi ke kantin sendiri.


Di kantin aku melihat sosok yang tak ingin ku lihat, aku hendak kembali namun karena lapar aku lanjut saja ke kantin, tapi aku memilih jalan yang agak ramai agar tak terlihat.


" Dek.... " bisiknya di telingaku pelan. Membuatku tersentak kaget seperti terkena sengatan listrik. Beberapa orang melihat kami, akupun mendorongnya dengan keras sampai tubuhnya menabrak yang lain di belakang.


" Maaf.. maaf " ucapku bersamaan dengannya. Dia kakakku satu-satunya, Kakakku yang orang lain gak mempercayainya kalau dia adalah saudaraku. Karena itu aku memilih pura-pura tak mengenalnya, Aku tak ingin jadi pusat perhatian karena dia.


" Bayarin... " Ucapnya santai mengambil 3 roti dan sebuah minuman.


Dengan senyuman aku memberikan kode padanya seperti yang sering kami lakukan jika ada keramaian, kami berkomunikasi dengan bahasa isyarat.


taruh gak? ucapku tanpa bersuara dengan memiringkan kepalaku ke kiri sedikit. dia hanya menggeleng


Gak mau pokoknya. mata alis bibirku hampir menyatu. dia mengangguk menyuruhku harus mau. belum sempat ngomong lagi dia sudah pergi.


Di sepanjang jalan menuju kelas aku memasang wajah kesal karena kakakku satu itu, mengingat tadi pagi karena dia juga aku sampai telat masuk sekolah. Ayah menyuruh kami berangkat samaan,, padahal ayah tahu kakak selalu lama berkaca nya, seperti anak cewek . Aku mengomel sepanjang jalan


" Dasar Gigi tikus "


" siapa??? " aku kaget setengah mati di buatnya, aku yang sedari ngomel sendiri tiba-tiba mendengar suara membuat jantungku diam untuk sejenak.


Aku menoleh ke sumber suara sambil menepuk-nepuk dadaku.


" Raka..., ngagetin aja" Semenjak penjelajahan itu aku menjadi lebih akrab dengan nya. Membahas hobi kami yang sama seperti halnya nonton anime, baca komik, dan gambar.


" Tumben sendiri"

__ADS_1


" dinda sama putri kumpul OSIS, iki sama diki " jawabku yang saat ini dia di sampingku berjalan beriringan bersamaku.


" Oh ya.. aku gambar banyak, ntar aku kasi lihat koleksi ku ya " ucapnya dengan antusias. melihatnya antusias aku merasa gak enak karena aku benar-benar lagi bad mood.


" oh ya boleh.. boleh " jawabku dengan senyuman agar dia tak tersinggung.


Sampai di kelas aku langsung duduk, Raka datang dengan buku sketsa gambarnya. Roti yang ku beli akhirnya ku masukan dulu ke tas. Ia duduk berhadapan dengan ku menempati tempat duduk dinda.


Aku melihat beberapa gambar yang di buatnya, ku akui semua gambarnya bagus.


" Bagus..."


" sini aku ajarin "


" a...... " hanya kata itu yang keluar, aku 😕❓dia kenapa ??? aneh... pikirku.


" mana buku sketsa mu? " Padahal aku lagi malas tapi akhirnya aku keluarkan juga buku sketsaku.


Semakin aku mengenalnya dia semakin menjengkelkan dan cerewet, karena dia selalu mengomentari gambarku ini itu. Salah moment nih raka 😈


Melihat gambarku yang begitu , dia mengajariku cara menggambar,, akupun jadi harus memperhatikannya.


" nah gini ngerti kan? " aku hanya mengangguk sebagai jawaban ya aku paham.


" wah... tumben akur" tegur putri, yang baru datang,, di sampingnya ada dinda yang senyum-senyum meledek.


Raka kemudian bangkit dari tempat duduk.


Aku membantunya membereskan beberapa gambarnya sampai dara, Monik dan yang lain ribut dengan hebohnya dara memberitahu kami yang di dalam kelas


" Eh... lihat ada yang berkelahi di luar"


mendengar dara anak-anak pada ke luar, tidak hanya kelasku anak-anak kelas lain juga ikut berlari melihat.


Aku yang awalnya malas, akhirnya pergi melihat juga karena dinda dan putri mengajakku. Dari atas aku melihat keributan di bawah sana dan sayangnya aku mengenal sosok itu, melihat pukulan mengenai wajahnya tanpa pikir panjang aku langsung berlari turun ke bawah menerobos anak-anak yang ramai ingin melihat.


Menuruni tangga, aku menangis kencang tak bisa mengontrol diri. Tubuhku gemeteran hebat takut kakakku kenapa-napa. Aku berlari cepat hingga aku sampai di bawah,,beberapa guru ternyata sudah ada di sana.


" Kakak... " panggilku dengan nada terisak isak. sambil menggosok kedua mataku.


Guru melihatku tapi aku tak peduli. Aku masih diam di sana berdiri tak jauh dari kakakku, Kakiku tak bisa bergerak.


Akhirnya kakakku menghampiriku


" Malu.. maluin, kenapa nangis " mendengar kata pertama yang keluar dari mulut kakakku, aku benar-benar kesal dia tak mengerti perasaanku tapi aku tak bisa berkata apa-apa hanya bisa menangis.


" Lihat itu...tuh..ihhh.. " kakakku menunjuk orang-orang yang sekarang matanya tertuju pada kami. Terlebih aku. Melihat ke arah yang di tunjukkan kakakku, aku langsung diam. Namun masih menangis sesenggukkan.


" ingusmu itu " ledek nya sambil menepuk kepalaku. " sana kembali ke kelas".


" Adam, ayoo " panggil bu guru itu. Kakakku mengedipkan mata padaku menyuruhku kembali ke kelas. Hendak balik kelas aku bingung dengan seribu pasang mata yang melihatku.


Saat ini aku benar-benar malu, sampai aku gak bisa jalan. Syukurnya putri, dinda, dan iki datang.


" Sudah.. sudah " putri merangkul ku sambil menepuk-nepuk pundakku.


Aku berjalan tanpa melihat ke sana kemari. Iki ketawa melihatku, aku benar-benar kesal. Aku melirik nya dengan raut wajah kesal 😑


" Maaf.. maaf, habisnya kamu lucu sihh "


" uh.... adek yang penyayang" ucapnya sambil memelukku. Aku yang marah tak jadi marah karenanya. Dinda dan putri juga ketawa.


"Aku kaget lihat kamu yang tiba-tiba sudah di bawah " ucap dinda sambil tertawa


" Sudah.. sudah ayo ke kelas" ajak putri sambil tersenyum.


Menaiki tangga beberapa kelas lain melihatku, begitu juga teman-teman kelasku. Aku sangat malu.


" Kamu gak apa-apa? " tanya raka yang kini di depanku. Aku hanya geleng-geleng dan masuk kelas.

__ADS_1


Tiba-tiba bel berbunyi " teetttt.... teettttttt.. teeettt"


putra datang dengan membawa rapot, di sampingnya ada bu Desi.


Satu demi satu di panggil ke depan mengambil raport. Karena mataku cepat sembab walau hanya menangis sebentar saja mataku sudah bengkak.


Saat giliranku bu Desi bertanya


" kamu kenapa nangis ?"


" Ga ada bu" jawabku sambil geleng-geleng.


" kenapa temenmu nangis, siapa yang gangguin? ayoo jawab... !!!!" tanya bu Desi dengan tegas.


" Gak ada bu " jawabku pelan


" Gak ada yang gangguin kok bu" sahut Rafael.


" Tadi kei nangis karena kakaknya berkelahi bu " terang dara.


" Oh... ternyata kei, adeknya Adam yang nangis itu " ucapa bu guru senyum - senyum dengan tawa kecil.


Aku kembali ke tempat duduk dengan raport yang sudah di tangan.


" Dia kenapa tadi itu bu? " tanya Monik penasaran.


" itu pacarnya kaisar suka sama Adam "


" Eh... mantannya kaisar, ibu salah sebut" lanjut bu Desi cerita sambil tertawa geli.


" mantannya suka sama adam, di pikirnya dia diputusin gara-gara Adam, gak terimalah si kaisar, aduhhh... anak-anak ada-ada aja" bu Desi geleng-geleng.


" ingat jangan sampai ada kejadian kayak gini lagi, jangan gara-gara di putusin ga terima malah pake kekerasan" nasihat ibu.


Aku hanya diam mendengarkan setidaknya, aku tahu apa yang terjadi.


Selesai pembagian raport, kami langsung di suruh pulang.


Hal yang tak pernah terjadi sama sekali, sedang beres-beres. Dinda memberitahuku


" kei kakakmu" Aku melihat ke pintu,, kakak datang menghampiriku. Ia tersenyum pada teman-teman ku.


" kei, kami duluan ya !! " putri, Dinda, dan iki pergi terlebih dahulu.


" Gimana peringkatnya? " aku hanya diam gak menjawab. Aku berjalan mendahului kak Adam. Mau tak mau kak Adam mengikuti.


"Ngambek ya " Ucap kak ada sambil colek colek


" Lihat ni bibir kakak berdarah"


" Siapa suruh berkelahi" Aku marah karena dia berkelahi, buat aku takut dan buat aku jadi malu karena menangis di banyak orang.


" aduhh.. duhh " rintihnya membuatku goyah dan akhirnya melihat lukanya, Aku itu gak pernah bisa lihat kakakku atau adekku terluka. Melihatnya aku ingin menangis lagi.


" Sudah jangan nangis lagi " Ucap kakakku sambil mengelus kepalaku. Bukannya diam aku mulai menangis lagi karena aku ingin marah tapi tak bisa karena aku sayang sekali pada kakakku.


" sudah..." kak Adam menyuruhku diam.


" inget jangan berkelahi lagi"


"ya... ya..., dek kakak minta tolong jangan kasih tahu ayah ya !!" pinta kakakku


" ya " ucapku pelan mana mungkin aku kasi tahu ayah yang ada bukan di bela malah di pukul lagi kakakku.


" Nah gitu dong, memang cantik nih adikku " rayunya sambil senyum-senyum.


" Pas ada maunya baru cantik..., sana jangan deket-deket " aku mendorongnya jauh-jauh dariku. Tapi kak Adam terus dekat-dekat sambil menyenggolku dengan bahunya. Tahu tubuhku kecil sekali di senggol langsung terpental.


" Kakak... " teriakku kesal, karena senggolan nya membuat tubuhku terpental ke tembok. Dia belari menjauhiku, tertawa senang melihatku kesal. Aku berlari mengejarnya sampai menuruni tangga.

__ADS_1


📝Seberapapun aku kesal marah pada saudaraku tetap saja hatiku rasanya sakit jika melihatnya terluka.


__ADS_2