Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
Dukamu Dukaku


__ADS_3

๐Ÿ 7 hari di kota B terasa sangat cepat terlewati, padahal baru pertama sampai di sana waktu terasa lambat sekali.


Sekarang aku berada di dalam mobil, melihat suasana jalanan yang sudah gelap namun indah karena di hiasi Lampu-lampu jalan dan kendaraan yang lewat.


Tiba-tiba teringat Raka, Aku membuka tas ranselku melihat beberapa gantungan kunci yang akan ku bagikan pada teman-teman. Namun perhatianku tertuju pada sepasang souvenir bola kaca yang akan ku berikan pada raka dan satunya untukku.


Membayangkan saat aku akan memberikannya membuatku tersenyum senyum malu sendiri.


" kamu kenapa? " tanya lia heran melihatku.


" nggak kenapa-napa " jawabku cepat memalingkan wajah ke depan kaca sambil tersenyum.


Aku menutupnya lagi, Sejak dari kota B sampai sekarang aku menjaga tasku hati-hati agar bola kacanya tak pecah.


Sampai di tempat kumpul pertama kali. Turun dari mobil ternyata kakak dan bapak sudah datang menungguku. Aku hanya melempar senyuman, bahagia sekali rasanya 7 hari tak ketemu serasa 7 tahun tak bertemu.


" Ini siapa punya koper? " tanya pak guru


" saya pak " jawabku langsung menghampiri pak guru untuk mengambil koper ku. Sebelum pisah kami bersalam-salaman dulu dengan tim.


" dada... dada.... " kami saling melambai satu sama lain.


Koper yang tak terlalu berisi saat jalan ke kota B saat balik terasa berat. Melihatku yang kesulitan kakak datang menghampiri ku


" udah beliin yang kakak pesen kan? "


" udah..... "


" cengeng " ejeknya. kakak kembali ke mode awal padahal saat aku di kota B dia selalu mendengar kan ku dan mengatakan hal hal yang enak ku dengar.


naik di atas motor di bonceng bapak, bapak bertanya padaku


" bagaimana di sana? "


" di sana suasananya dingin sekali pak ...bla....bla..." ceritaku panjang lebar. Sepanjang jalan sampai rumah aku menceritakan semuanya kepada bapak. ~


Paginya di sekolah dengan penuh semangat aku berangkat dengan senangnya.


Baru datang teman-teman yang lain langsung bertanya ini itu. Aku menjawab setiap pertanyaan mereka. Melihat bangku depanku masih kosong aku bertanya pada dara yang sudah lebih dulu datang.


" Dinda dan putri belum datang? " tanyaku pada dara


" belum kayaknya " jawab dara.


" kei...... " panggil dara, aku yang hendak ke tempat duduk langsung berbalik


" ya....? " tanyaku


" ga jadi "


" a.... apaan sih, jangan buat penasaran " ucapku pada dara menajamkan mata penasaran dengan apa yang ingin ia katakan.


" nggak ada, nanti aja "


" ya udah "


Panjang umur dinda dan putri datang dan langsung memelukku.


Aku langsung mengeluarkan gantungan kuncinya menyerahkan pada putri dan dinda untuk membagikannya ke teman-teman yang lain.


" ini siapa yang mau? " tanya dinda meletakkan gantungan kunci di atas meja ku. Karena tahu widia dan ema tak seperti yang lain aku menyisihkan 2 gantungan kunci untuk mereka.


" Kalian gak mau ya? " ucapku menghampiri meja mereka dengan muka sedih


" bu... bu.. kan gitu " jawab ema gagu.


" mau lah " jawab widia cepat. Aku langsung tersenyum saat widia langsung mengambilnya dan memberikan yang satunya untuk ema.

__ADS_1


" Terima kasih " ucapku senang.


" kita yang Terima kasih " jawab widia senyum, ema juga senyum walaupun senyumnya tidak seperti orang tersenyum pada umumnya, senyum yang masih canggung.


" kamu udah kasih? " tanya putri saat aku balik ke tempat duduk


" udah, oh.. ya.. raka gak kelihatan ya? " tanyaku, karena sampai saat ini batang hidungnya tak terlihat.


" teettt..... teeettt..... " bel masuk berbunyi.


Gimana ?? besok aja kasihnya, ucapku melihat di bawah kolong meja souvenir bola kaca yang khusus ku belikan untuk dia.


Belajar pikiranku masih kepikiran raka yang tak masuk apa dia sakit? tapi di suratnya dia ijin .


Saat bel berbunyi tanda istirahat aku langsung menghampiri ahmad. Entah sejak kapan aku mulai dekat dengan ahmad. Rasanya dengan ahmad aku jadi diriku sendiri tak ada jaim-jaiman malu-maluan seperti aku dekat dengan raka.


" Raka kenapa gak masuk? " tanya monik lebih dulu saat aku juga mau bertanya hal yang sama.


" Mbahnya meninggal dunia "


" innalillahi WA innalillahi rojiun " jawab kami serempak.


" nanti kita ke sana melayat ya pulang sekolah " ajak putri.


" ya " jawab kami serempak. aku, monik, dinda, putri, dara, dan widia berencana pergi bersama iki tak ikut, semenjak kelas 11 iki mulai jarang bersama kami mungkin gara-gara aku sempat berkelahi dengannya tapi kami tetap teman sebangku walau kemana- mana sekarang kami jarang.


Pulang sekolah, kami ber enam datang ke rumah raka. Tapi kami telat, karena pemakamannya sudah selesai dan yang kami temukan di rumah hanya seorang gadis paruh baya, kulitnya putih, rambutnya sebahu matanya sipit. Aku mengira itu mungkin ibunya Raka.


" Assalamu'alaikum " salam kami serempak


" temannya raka? " ucapnya melihat seragam kami yang mungkin sama dengan Raka.


" ya tante "


" ayoo... ayo... silahkan masuk, tunggu Raka nya masih ke luar " beritahu tante itu, Kamipun masuk saling dorong monik berbisik padaku


" husttt" ucapku agak kesal, soalnya suara bisiknya monik seperti suara orang ngomong tanpa berbisik. Mendengar hal itu anak-anak yang lain dan tante itu melihat kami.


" monikkk " tegur putri. Si tante hanya tertawa kecil. Seketika wajahku langsung memerah ingin rasanya aku menyembunyikan mukaku.


Menunggu Raka yang belum datang, tante itu memperkenalkan dirinya sebagai ibunya Raka. ia menceritakan tentang anaknya yaitu Raka. Dari cerita ibu Raka dapat ku simpulkan Raka adalah anak rumahan sekali dan juga aku tahu ibunya sangat membanggakan anaknya karena tak satupun ia menceritakan kejelekan anaknya hanya hal-hal bagus saja yang dia ceritakan kepada kami tak seperti ibuku yang selalu bilang aku bukan anaknya, aku hanya anak bapakku saja. Bapakku yang melahirkan ku.


Dari cerita ibunya aku sedikit tahu tentang raka yang selama ini aku tak tahu, walaupun bukan hanya aku saja yang tahu tapi yang lain juga tahu.


Melihat ke luar, dari jendela aku melihat raka yang baru datang berjalan menuju kami. Kepalanya tertunduk ke bawah terlihat lesu. Tak ingin di lihat yang lain aku segera berbalik menghadap tembok cepat-cepat menghapus air mataku yang tanpa ku sadari keluar begitu saja saat melihat raka.


mengingat dia pernah bercerita padaku ayah dan ibunya bercerai dan sejak kecil dia tinggal dengan mbahnya saja. Lalu sekarang dia tinggal dengan siapa? tanyaku dalam hati.


" kamu kenapa? " tanya monik menyadari tangisanku.


" husttttt" bisikku pelan.


Aku mengangkat wajahku ke atas berharap air mataku tak ke luar lagi.


"Terima kasih ya teman-teman" ucapnya kemudian melirikku. melihatnya aku segera menunduk, aku duduk mundur sembunyi dibalik tubuh monik yang gempal.


Raka mengobrol dengan teman yang lain aku dan widia hanya diam mendengarkan tiba-tiba saja monik berbicara melenceng dari topik pembicaraan.


" Raka di bawain oleh-oleh tuh sama kei " ucapnya , aku langsung mencubitnya pelan malu rasanya karena ada ibunya Raka di tengah-tengah kami.


Raka dan ibunya melihatku aku langsung senyum kecil. monikkkk monikkkkk ucapku dalam hati.


" Ya udah tante kami pamit pulang dulu " ucap putri menyelamatkan ku di suasana yang paling canggung


" oh.. ya ini ada sedikit rezeki dari temen - temen sekelas " sambung putri memberikan amplop sumbangan yang kita kumpulkan dari teman- teman yang lain.


Di luar sudah jauh tapi tak terlalu jauh dari rumah Raka putri menegur monik yang berbicara tanpa pikir aku malu atau tidak

__ADS_1


" maaf " ucap monik


" nggak apa-apa udah terlanjur " ucapku menenangkan monik untuk tidak terlalu memikirkan nya yang sebenarnya aku sangat kepikiran.


Sampai rumah sebuah pesan masuk dari Raka


" Terima kasih udah datang "


" ya, kan sama yang lain juga "


" kamu baik- baik aja? " tanyaku. Namun tak ada balasan darinya. Tak ada balasan aku langsung mandi dan ganti baju.


" kei.. tolong anterin baju lab kakakmu dia lupa bawa, tuh... anak belum tua udah pikun " omel mamak.


" kei tunggu ashar dulu " jawabku


" ashar mau di pake, sebentar aja, sana anterin " suruh mamak.


Tak mau kenak omel lagi aku langsung cabut ke kampus kakak membawa baju lab nya.


Aku menunggu kakak di depan lab sesuai instruksinya, tunggu lama akhirnya kakak datang bergerombol dengan teman-teman nya. Namun perhatianku tertuju pada sosok perempuan yang rasanya aku pernah lihat tapi aku tak tahu di mana.


" mana? " tanya kakak meminta jas labnya padaku.


" Cie.... pacarnya ya...? " goda teman-teman kakakku.


Tapi kakak hanya diam tak membalas, dia mengambil tas kecil berisi jas labnya dari tanganku, kemudian masuk dalam lab namun sebelum masuk kakak menyuruhku untuk hati-hati pulangnya.


" hati-hati pulangnya "


" ya " jawabki kemudian menyalakan motor untuk pulang lebih dulu dari kakak. ~


Sudah pukul 9 tak juga ada balasan dari Raka, sedari tadi aku bolak balikkan HP tapi tak ada pesan yang masuk jikapun ada hanya pemberitahuan 1818 atau XL AXIATA.


" kamu kenapa lihatin HP mulu, berharap ada yang SMS ya? " ejek kakak. Tapi aku hanya diam gak mau membalas ejekannya karena sudah malas.


Tak lama HP ku berbunyi buru-buru aku membuka HP


Di depan layar tertulis Kak Adam


" nungguin ya " kirimnya, sontak aku langsung mengambil bantal dan melemparkannya ke kakak. Aku langsung masuk ke kamar.


menaruh HP di samping bantal. Mau tidur lagi-lagi HP ku bunyi, pasti kak adam lagi pikirku, aku mengabaikannya tapi aku lagi-lagi berpikir bagaimana kalau itu pesan dari Raka aku langsung buru-buru mengambil handphone ku. Membaca nama yang tertera depan layar wajahku langsung sumringah kembali mataku terasa segar kembali


" **ya baik-baik aja, maaf baru balas "


" ya gak apa-apa, gambatte** " balas ku seperti dia yang selalu mengucapkan gambatte untuk menyemangatiku.


" Tadi kenapa nangis? " aku kaget ketika membaca pesannya.


" kamu melihatnya? " balas ku cepat untuk memastikan


" ya hehehehe "


" aku ingat kamu yang bilang dari kecil udah sama mbahmu, terus sekarang kamu bagaimana? " Lagi-lagi air mataku turun sendiri saat aku memikirkan keadaannya sekarang dan kemungkinan yang akan terjadi padanya.


" oh.... ya tetep tinggal di sini sama bibiku "


" maaf ya sudah buat kamu nangis, buat kamu kepikiran terus** " balasnya lagi saat aku tak tahu harus mau mengatakan apa-apa lagi. Dia bilang gitu bukan menenangkanku malah bikin tambah mewek.


" hmmm ya, kamu yang semangat harus tetap tegar "


" ya, InsyaAllah "


" ya udah aku istirahat dulu, kamu juga Oyasumi Nasai " lanjutnya lagi mengakhiri obrolan kami.


๐Ÿ“Aku tak tahu kenapa saat kamu merasa sakit aku juga sakit, saat kamu sedih aku juga sedih, Aku hanya ingin melihatmu bahagia . Apakah perasaan ini terlalu berlebihan??

__ADS_1


__ADS_2