
πAkhirnya Ulangan Tengah Semester selesai juga, 2 hari sebelumnya pak andre guru olahraga mengumumkan akan diadakannya penjelajahan untuk mengganti olahraga renang yang tidak jadi. Sekalian juga pak andre menyuruh kami untuk membentuk 1 kelompok dengan jumlah 7-8 orang. Jadi 1 kelas ada 5 kelompok
Aku kelompok 1 bersama iki, putri, dinda, dara, monik, nana, dan gani. Karena ketua kelompok harus cowok jadi posisi ketua kami serahkan pada gani.
Anggota kelompokku rata-rata bertubuh kecil dan kurus, ahh.. ada juga sih yang gemuk tapi tinggi badan kita rata semua, misalnya monik contohnya π
Aku sudah siap dari tadi, pasalnya karena aku belum bisa naik motor jadi perginya minta di jemput ketua kelompok. 15 menit lalu, kata gani dia mau sampai tapi sampai sekarang belum juga.
Aku masih menunggu di depan rumah dengan handphone masih ku genggam, karena terlalu lama, akhirnya aku mencari no. kontak gani.
Hendak menelpon, tiba-tiba terdengar suara bel klakson motor beberapa meter dari rumah. Aku menoleh ke kiri dengan senyum-senyum sambil bisik-bisik gani berkata " maaf... maaf" dari kejauhan, yang kemudian akhirny stop pas di depanku.
" tunggu bentar, aku mau kembaliin HP mamakku dulu" ucapku seraya berlari.
" kamu gak bawa HP?"
" aku gak punya" jawabku kemudian buru-buru lari ke dalam rumah. Memang itulah kebenarannya aku sampai sekarang belum punya handphone sendiri. Mamak bapak belum memperbolehkan ku.
Kembali ke gani, aku langsung naik ke motor duduk di belakang dengan tas ransel ku taruh di tengah sebagai pembantas.
Hanya butuh 10 menit untuk kami sampai ke lokasi janjian untuk kumpul. Karena lokasi penjelajahan dari rumahku tak jauh.
Maklumlah rumahku masih di perdesaan dan jauh dari hiruk pikuk kota. Menunggu teman-teman yang lain, akhirnya kami sekelas berangkat dengan berpasang-pasangan. Pak guru menyarankan kami agar anak cowok di depan kemudi karena jalanan yang akan kita lewati mungkin terjal dan penuh bebatuan.
Tapi ada beberapa anak tidak berpasangan dengan cowok, karena cowok di kelas kami limited edition, jadi dinda berpasangan dengan putri, dan dara bersama monik. nana dan iki berpasangan dengan kelompok lain untuk sementara.
Awalnya jalannya masih beraspal walaupun banyak lubangnya, hingga semakin ke atas jalannya bertanah dan bebatuan. Syukurnya jalannya gak terlalu terjal seperti yang di pikirkan.
Di sebuah rumah besar dengan pagar kayu, kami di suruh menaruh motor di sana
" istirahat dulu sebentar, terus nanti kita lanjut jalan" perintah pak guru yang kemudian bicara dengan pemilik rumah.
Aku duduk berkumpul bersama kelompokku, begitu juga kelompok yang lain. Mengecek barang bawaan kami.
" Asyikkk nih kayak ngetrip kita" ucap monik penuh antusias membuka obrolan.
" udah tahu jalan bebatuan, masih ngebut-ngebutan" omel dara yang di bonceng monik.
" biar kerasa ngetripnya ra" bela monik.
" jatuh tahu rasa loo" sahut nana.
" ayo anak-anak " ajak pak guru, beliau jalan terlebih dulu. Buru-buru kami jalan mengikutinya.
Sampai di depan sungai, pak guru memerintahkan kami melewati sungai dengan saling berpegangan bersama teman kelompok dengan seutas tali yang sudah kami persiapkan dari rumah.
Melihat aliran airnya ada beberapa lokasi yang airnya tenang dan ber arus deras.
Sialnya atau memang sudah nasib kita, ketua kami kalah suit dengan kelompok putra. kelompok putra dapat lokasi dengan aliran air tenang sedangkan kami di aliran yang ber arus deras dan dalam.
Aku benar-benar deg-degan di buatnya, terlebih nana yang histeris tak mau ikut.
" aku takutttt, ga mauu" ucapnya manja dengan penuh ekspresi.
" sudahlah ayo cepetan " kami berunding sangat lama hanya untuk melewati sungai sedangkan putra udah sampai di titik lokasi.
" ayoo cepetan " perintah pak guru.
akhirnya kami memutuskan untuk mulai melewatinya. Gani sebagai ketua didepan dengan tali kami ikatkan di pinggang gani kemudian di belakang gani ada dara, iki, monik, aku, nana, putri, dan dinda. kami ber enam berbaris sambil memegang seutas tali, sampai di ujung dinda yang paling akhir memegang talinya.
Pelan-pelan gani mulai turun, aku melihat jelas sekali gani menahan tumbuhnya agar tak terbawa arus, dara kemudian turun hingga aku dan dinda .
__ADS_1
Di tengah jalan monik sempat kepeleset dan hampir jatuh semua jadi tegang nana yang panik nangis- nangis karena tak seimbang dia ikut jatuh sambil memegang talinya,
aku yang berada di tengah yang awalnya gak kenapa-kenapa keseret nana, hingga talinya berada di leherku karena lokasi yang kami dapat dalam dan ber arus.
Tak bisa lama-lama karena sudah mengenai leherku, akhirnya aku melepas talinya.
Akupun terbawa arus, aku diam seribu bahasa kepalaku sesekali tenggelam di bawah air sampai aku berusaha untuk berdiri, aku melihat teman-teman ku dan suara yang terdengar samar, tiba-tiba air mataku keluar karena rasa takutku memikirkan kemungkinan yang terjadi. Air sungai yang deras masuk ke mulutku mau tak mau aku menelannya.
" bukk kk.... " suara bahuku yang terbentur batu, Aku benar-benar kaget. Aku diam sejenak,, Alhamdulillah ya Allah ucapku dalam hati. Aku langsung bangkit dan berjalan menuju tepi sungai. aku segera pura-pura tak terjadi apa-apa padahal tadi aku nangis π
Aku berjalan ke titik awal lagi. Dan diam sebentar.
" Gak kenapa-kenapa kan? " tanya pak guru.
" ya " angguk ku. aku lihat tempatku tersangkut tadi penuh bebatuan, mungkin karena panik aku merasa terseret jauh padahal ga jauh dari sini.π
Pak guru masih berdiri dan diam memperhatikan kami.
Gani sudah sampai di sebrang bersama yang lain. Dia melemparkanku seutas talinya untuk menyebrangi sungai tapi lagi-lagi aku terbawa arus dan berakhir di bebatuan. Aku bangkit lagi karena aku tak mau menyerah.
sampai di titik awal lagi.
" coba tasnya di taruh dulu, itu karena bawaanmu terlalu banyak, tubuhmu kecil, gak sesuai" tegur pak guru. Akhirnya tas ku di bawakan pak guru.
Aku mengambil seutas tali yang dilemparkan oleh gani lagi dan menyebrangi sungai. Beberapa kali airnya ke minum, air sudah di batas dada. karena batunya licin aku terpeleset tapi talinya masih kupegang. teman-teman ku membantuku sambil menarik tali.
Hampir sampai di sebrang kakiku sudah tak kuat untuk naik ke atas.
" Sini.... " Raka mengulurkan tangannya.
Aku sempat bengong karena Raka langsung mengulurkan tangannya bersamaan dengan diki. Karena posisi raka lebih dekat denganku jadinya aku meraih tangannya.
Misi selanjutnya berjalan melawan arus air.
Kami sekolompok berjalan, raka pisah dengan kelompoknya dan terus di dekatku.
Karena malu aku berjalan lebih pelan sehingga ia di depanku. Kali ini tak terlalu menegangkan karena airnya tenang. sampai di tengah ada batu besar yang harus kami lewati.
Raka naik terlebih dahulu, yang di ikuti iki selanjutnya yang langsung turun, dia masih berdiri di sana hingga giliranku lagi-lagi ia mengulurkan tangannya padaku, akupun meraihnya. Raka masih menggenggam tanganku sampai kita turun.
kenapa dia ngulurin tangannya cuma ke aku ya padahal tadi ada iki juga pikirku dalam hati sambil terus berjalan di belakangnya yang kemudian semakin jauh di depanku.
di titik selanjutnya kita mendaki ke atas. Kali ini raka jalan terlebih dahulu pisah dengan kelompokku.
Aku mengobrol di sepanjang jalan bersama iki, dara, dan yang lain dengan teman sekelompok ku. Mendaki ke atas beberapa kali kami melewati perumahan. Aku ngos-ngosan di buatnya.
" ini bukit ya? " tanyaku penasaran dengan suara nafas yang sudah tak teratur.
" ya mungkin " jawab putri dengan nafas yang sama sepertiku.
" Gan sini tas ku " aku mengambil tas ku dari gani. aku lupa mengambilnya tadi.
" Terima kasih gan" ucapku sambil tersenyum.
" berattttt,,, bawa apa sih? "
Aku hanya cengar-cengir menjawabnya, sebenarnya aku gak bawa apa-apa terlalu banyak tapi anak-anak seperti iki dan nana nitip barang bawaan mereka.
Sampai di sebuah tempat, suasananya bener-bener bagus. Airnya benar-benar jernih, arusnya juga tenang,, bebatuan nya banyak dan seperti berpola. Di tepi sungai terdapat pohon-pohon rimbun menghalangi matahari, suasana semakin enak untuk bersantai.
" kita istirahat di sini sebentar, yang bawa makanan makan, yang mau mandi silahkan" perintah pak guru yang kemudian mojok di samping pohon bersama teman yang lain.
__ADS_1
Aku membuka tas ku, roti ku basah kenak air. Yang ada sekarang hanya makanan snack aja.
" maaf ..... yang nitip roti, rotinya lepek" dengan rasa bersalah aku mengeluarkan roti yang sudah tak berbentuk.
" gak apa-apa kei, mungkin rotinya udah gerah pingin mandi juga" sahut nana dengan tawa jahilnya. Yang sontak membuat kami tertawa mengingat kembali keadaan kami yang tadi yang panik saat menyebrangi sungai. Aneh padahal tadi kami sangat tegang π π
Kami mengeluarkan makanan dan memakannya secara bersamaan sambil mengobrol. Selesai makan kami mandi di sungai, mengambil beberapa foto ala mermaid sebagai kenang-kenangan~
π Perjalanan menuju pulang, kami pulang melewati sawah-sawah. Anak-anak yang lain sudah jauh d depan sedangkan kami ber sembilan masih di belakang. Bersama 2 anggota baru putra dan raka.
" masih sakit kakinya? " tanyaku pada dara. yang saat ini berpengan di pundak gani. Karena kakinya keseleo saat menyebrangi sungai tadi.
" ya masih " jawab dara.
" berat nih anak" sahut gani sambil melirik dara yang sedari tadi terus bergantung padanya. Mendengar kata gani akhirnya sebuah pukulan mendarat pada gani.
" aduhhh sakittt " rintih gani sambil mengelus elus bahunya. Sakit hati akhirnya dara melepaskan pegangannya. Ia mundur berberapa langkah sambil menjijit ke arahku.
" sini.. sini.. cepetnya ngambek " gani menghampiri dara yang kemudian meraih tangan dara kembali dan di ditaruhnya di pundaknya seperti posisi semula.
" iki mana? " tanyaku pada putri dan dinda yang berada di depan.
" sudah jauhhh......sama diki di depan" sahut monik, yang saat ini bergelantungan di tas putra.
Melihat monik mataku terarah pada raka yang berada di samping putra.
Aku melihat punggung raka bersama tas ranselnya. Mengingat yang terjadi tadi,,,
pikiranku mulai kesana kemari, mencoba menelaah apa maksud perilakunya padaku.
Pikiranku mundur sesaat ke kejadian dimana aku baru sampai di tempat parkiran ia melihatku berboncengan bersama gani.
sadar kei... sadar... bukan apa-apa Aku menyadarkan diri.
" kamu kenapa kei? " tanya dinda melihatku sedang memukul mukul jidatku.
" ga ada "
" ayo cepetan kesini, jangan jadi nyamuk antara gani dan dara " ejek putri.
akupun berlari meninggalkan gani dan dara berdua. Aku maju lebih depan dari dinda dan putri.
Melihat Monik bergelantungan aku ikut bergelantungan memegang tas ransel raka, karena saat ini kami menapaki sebuah jalan tanjakan.
Mungkin karena merasa berat raka menoleh ke belakang. Akupun langsung melepaskan penganganku dan berjalan pelan menunggu putri dan dinda. ~
Sampai rumah aku, aku membersihkan diri dan sebelum tidur aku mengirim pesan ke raka. Yang sebelumnya aku berusaha meminta no hpnya dari onik. Monik meminta ke putra, sebagai ketua kelas putra memiliki semua no teman-teman kelas.
" assalamu'alaikum, Terima kasih udah bantuin aku tadi " dengan ragu-ragu aku masih berulang kali membacanya sebelum ku kirim. Takutnya ada salah kata dan di anggap alay. Dengan baca bismillah akhirnya terkirim juga.
Tak lama handphone mama berbunyi. Aku ragu-ragu untuk membacanya. Dengan Takut... takut sambil senyum senyum aku membuka pesannya.
" sama-sama, Terima kasih ke yang lain juga"
melihat balasannya aku langsung bungkam.
" ya,,,sudah tadi, Terima kasih " jawabku lagi.
Aku yang awalnya tak terpikirkan untuk berterima kasih pada yang lain karena dia,, akhirnya aku mengirimi pesan ucapan terima kasih ke gani dan teman kelompok ku yang lain.
πHal yang ku pelajari hari ini ketika aku terbawa arus air sungai adalah seberapa kalipun kita terjatuh jangan menyerah. ingat kita tak sendiri ada Allah dan orang-orang yang menyayangi kita.
__ADS_1