Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
17 #Cuma Alasan???


__ADS_3

🍁 Sesuai janji kemarin, hari ini aku sudah siap-siap untuk pergi ke rumah putri.


Jam dindingku sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Siap-siap berangkat,, mamak yang baru selesai masak bertanya padaku " Gak bisa ya belajarnya di rumah aja? "


" gak bisa mak, ada tugas yang harus di kerjain sama-sama " jawabku sambil mencari kunci motor.


" kunci motornya dimana mak? " tanyaku,, biasanya kunci motor selalu di taruh di samping TV tapi sekarang tak tahu kemana.


" ada di kakak" jawab kakak yang baru keluar dari kamar, bajunya terlihat rapi dengan tas ranselnya yang sudah berada di punggungnya.


" kakak mau kemana? " tanyaku


" kamu mau kemana? kamu gak belajar buat besok? " tanya mamak.


" ini mau belajar mak " jawab kakakku,


" inget pulangnya jangan sampai sore!!!"


" ya " jawabku serentak. mamak kembali ke dapur,, aku sibuk mengintrogasi kakakku


" emang ada ya tugas kelompoknya? "


" Gak harus ada tugas kelompok baru belajar kelompok dek " jawabnya,


" teruss adek mau kemana? " tanyanya balik penuh introgasi


" belajar kelompok di rumah putri "


"sama siapa aja? gak sama raka kan? "


" nggaklah kak " jawabku nge Gas,, di pikirku kakak berpikiran aku belajar sebagai alasan untuk bertemu raka, padahal tidak.


Karena kakak juga ada janji belajar kelompok jadinya aku berangkat bersama, kakak mengantarku terlebih dulu ke rumah putri.


" pulang jam berapa? "


" ndak tahu, ntar adek telpon " jawabku, sambil bersaliman.


" Hati-hati "


" yooooo" motor kakak melesat begitu saja, setelah tak terlihat di pembelokan, aku masuk ke rumah putri.


" assalamu'alaikum putri... putrii "


" Wa'alaikumsalam,,, masuk kei" Buka pintu rumah putri ternyata di sana sudah ada dinda, dara dan monik juga.


" iki mana? " tanya dinda


" katanya dia ada janji" jawabku, kemarin malam ia memberitahuku tak bisa ikut. Hari-hari ini kami jarang bersama semenjak dia dekat dengan Diki.


Seperti tradisi,, setiap belajar kami selalu di temani dengan beberapa makanan ringan yang sudah di siapkan putri.


Di tengah pembahasan mengenai pelajaran himpunan, putri memberitahu kami, ada teman yang mau ikut gabung belajar kelompok bersama kami.


" siapa? " tanya kami ber empat dengan serempak.


" raka sama ahmad " Mendengar nama raka jantungku tak bisa berbohong, aku merasa malu tapi senang juga tahu kalau dia akan datang.


" Gak apa-apakan? " tanya putri. aku hanya diam terus mengerjakan tugas dan yang lain jawab " gak apa-apa"


" gak apa-apakan kei ?" tanya dinda


" ya gak apa-apa, emangnya kenapa? "


" gak ada cuma tanya aja " jawab dinda dengan senyum-senyum dan yang lain juga begitu senyum-senyum cengengesan buat aku tambah malu jadinya.


" aku boleh ajak yang lain juga gak? " tanya dara. Kami sebenarnya sudah tahu siapa yang akan di ajaknya. Karena tahu aku jadi agak malas dan kepikiran saat kami bertengkar kemarin aku dan gani tak bicara lagi sampai sekarang.

__ADS_1


" ya ajak aja " jawab putri.


Selang beberapa menit, sedang mengajar monik, terdengar suara laki-laki di luar pintu memberi salam. Jantung dag.. dig.. dug.. der.. di buatnya karena aku tahu siapa pemilik suara itu. Aku tetap mengajarkan monik, dara pergi membukakan pintu sedangkan dinda dan putri masih di dapur membuat minuman lagi.


Saat dia masuk, aku tak berani melihatnya memilih tetap mengajarkan monik.


" yang punya rumah mana? " tanya ahmad


" masih buat minuman"


" kapan dateng? " tanya monik yang kaget akan kehadiran mereka berdua.


" barusan" pandanganku teralihkan ke raka, malu-malu aku melihatnya , dia juga ikut tersenyum sepertinya dia malu juga.


dinda dan putri datang dengan makanan dan minuman lagi.


" Terima kasih " ucap kami serempak.


Tak buang-buang waktu kami belajar bersama. Kami duduk melingkar. Mengerjakan tugas,, beberapa kali aku harus mengajarkan monik yang kurang cepat memahami matematika.


Walaupun mengajarkan monik sesekali aku melihat ke arahnya yang juga kelihatan sedang bingung, ku perhatikan dia di ajarkan dara di sana. Aku ingin mengajarkannya tapi ia tak bertanya padaku.


" gani jadi ikut belajar gak? " tanya putri


" gak tahu, dia gak balas pesanku" jawab dara


" coba kei kamu yang tanya" usul dara.


" aku gak punya HP" jawabku karena itulah kenyataannya, aku belum punya HP.


Tanpa kehadiran gani kami tetap belajar sampai jam 12 lewat tugas kami sudah selesai walaupun seharusnya tak butuh lama dalam mengerjakannya tapi karena di selingi candaan dan lain sebagainya jadinya butuh waktu agak lama.


" kita mau ngapain terus sekarang? " tanya dara.


" kita main yuk ke game center " usul monik. Aku yang gak pernah ke game center sekalipun langsung tertarik dengan idenya.


" Gini aja, pakai motor dinda juga"


" aku gak bisa pakai motor gigi " jawabku, ku harap raka akan menawarkan diri untuk memboncengku tapi dia hanya diam saja.


" biar aku aja yang pakai " jawab ahmad.


Akhirnya di luar rencana selesai sholat dzuhur kami pergi ke game center. Aku dan ahmad satu motor, aku agak sedikit kesal karena raka hanya diam saja, sepertinya dia tak mau boncengan denganku, sedangkan dara bersama monik, putri dengan dinda dan raka sendiri.


Untuk pertama kalinya aku di bonceng laki-laki selain dengan ayah, kakak dan gani. Yahhh aku masih kepikiran gani yang selalu setia memboncengku kemana-mana. Sayang sekali dia tak ikut.


Sampai di Mall, kami harus menaiki lift dulu atau eskalator yang sudah ada untuk ke lantai 4 karena game centernya ada di lantai 4.


" kita naik lift aja"


" aku gak berani " jawabku, aku pernah naik lift saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar bersama teman-teman karena mendengar ada lift di mall,, untuk pertama kalinya kita mencoba naik lift dan tiba-tiba di tengah perjalanan liftnya mati dari sana aku gak pernah mau naik lift lagi.


Perdebatan naik lift atau eskalator akhirnya kami semua menggunakan eskalator menuju lantai 4.


Seperti anak yang baru pertama kali ke game center, aku benar-benar kegirangan melihat banyaknya permainan di sana.


Menuju ke ruang game center, pandanganku teralihkan ke sisi kiri, lokasi tempat bermain futsal.


Aku melihat sosok yang sangat akrab bagiku, karena ramai aku tak berani memanggilnya lagipula aku teringat tadi dipikirnya aku akan belajar dengan raka tapi aku bilang tidak.


Kalau kakak tahu pasti akan berpikiran yang lain-lain jadi aku memilih untuk pura-pura tak lihat.


" kei ayokk" ajak putri dan yang lain yang ternyata sudah jalan lebih dulu.


aku berjalan berpapasan dengan raka


"itu bukannya kakakmu sama gani yang main futsal? " ucap raka dengan pelan padaku. Aku yang hanya melihat kakak saja untuk memastikan ucapan raka aku menoleh lagi.

__ADS_1


Seperti de javu gani juga melihatku, sayangnya saat aku melihatnya balik dia buang muka . Hemmmmm aku menghela nafas panjang spertinya pertengkaran ini akan makan waktu lebih lama dari biasanya.


" Pura-pura gak lihat aja " jawabku reflek mendorong punggungnya sampai ke dalam ruang game center. Membeli beberapa koin kami kesana kemari memainkan game center.


Karena permainan yang ingin kami mainkan beda-beda kami berpisah tapi gak semua permainan kita pisah ada saatnya kita bermain permainan yang sama.


Sekarang kami berlomba memasukkan bola ke dalam ring. aku dan raka bergroup dan lawan kami adalah monik dan dara. Dinda dan putri bermain game center untuk mendapatkan koin lebih banyak, dan ahmad bermain balap mobil sendiri di sana.


Bertanding memasukkan bola ke dalam ring, aku benar-benar bahagia karena aku bersama dia. Serunya aku sampai berebut bola dengannya bahkan aku sampai loncat karena bola ku tak pernah masuk ke dalam ring mungkin karena tinggi badanku.


Melihatku yang ngos-ngosan karena beberapa kali harus loncat untuk memasukkan bola dia hanya tertawa dan anehnya di ejek bukannya kesel tapi aku malah ketawa juga.


Usai bermain itu, aku dan raka bermain mengambil sebuah jam dengan hanya memasukkan 1 koin dalam kotak game. Raka dengan serius membidik sebuah jam


" kamu mau yang mana? " tanyanya


" yang itu" aku menunjuk ke sebuah jam,, bukannya boneka dia malah memilih jam tangan.


Fokus dengan arah jam dan pengait yang di atas, dia memencet tombol merah. Penuh kegirangan pengait yang berhasil mengambil beberapa jam belum sampai lubang satu demi satu jam tangannya berjatuhan al hasil gatot... ( gagal total).


" kali ini pasti dapet" jawabnya, berulang kali dia coba tapi gagal, gagal dan gagal lagi. Sampai-sampai karena penasarannya dia membeli koin lagi.


" sudah-sudah, kita main yang lain aja" ajakku, aku memegang tangannya dan menyeretnya ke tempat game lain. karena aku tahu kalau main ini terus bisa-bisa jam gak dapet yang ada kantong jadi bolong.


Dan akhirnya kami balik ke game memasukkan bola ke dalam ring basket lagi. Sepertinya dia memilih game ini karena dia merasa ahli.


Asyik bermain berdua anak yang lain ikut gabung dan berebut bola bersama kami untuk di masukkan ke ring.


Tak terasa sudah hampir mau sore, karena sudah janji pulang sebelum sore, aku mengajak yang lain untuk pulang. Apesnya baru keluar aku berpapasan dengan kakak, gani dan beberapa teman kakak yang lain.


bodohnya aku Reflek bersembunyi di balik monik, padahal kakak pasti melihatku. Seolah mengetahui sesuatu kakak tersenyum cengengesan melihatku tapi cengengesan nya seperti marah. Akupun balik senyum seperti mengancamnya balik.


Aku benar-benar seperti ketahuan mencuri.


Melihat gerak gerik ku,, Putri langsung menyapa kakak dan gani di ikuti teman-teman yang lain. Aku berjalan lebih dulu dari mereka, monik bertanya " kenapa?? kamu takut sama kakakmu ya? " tanya monik, dia berbalik ke belakang melihat kakak


" Gak kenapa-napa" jawabku. Kami mengobrol bersama, aku hanya diam menyimak sesekali ikut jawab juga.


di lantai 2 teman-teman kakak yang lain ke jalan yang berbeda bersama kami tinggalah kami ber sembilan.


Dara dan Gani berjalan lebih dulu,, aku sengaja berjalan lebih pelan menunggu kakak .


" Katanya mau belajar? " aku agak takut ketika suara kakak terdengar serius.


" udah selesai belajar kak terus main " jawabku pelan.


" yang bener? gak modus kan? " tanya kakak, aku seperti gak di percaya aku jadi sedikit kesal.


" terus kakak gimana? katanya mau belajar tapi main futsal" balasku,, kakakku diam tak menjawab seperti dia tahu dia juga salah.


Kakak menghela nafas panjang sampai akhirnya dia lanjut bicara " ya kakak salah karena bohong juga "


" bohong ??? adek gak bohong kak, adek beneran belajar kok kak, selesai belajar mangkanya kesini" jawabku dengan nada agak kesal.


" mangkanya dengerin kakak dulu, kamu ini kebiasaan " di suruh diam akhirnya aku diam.


"mau main setelah belajar boleh, kakak cuma mau ingetin jangan jadikan belajar sebagai alasan untuk bisa ketemu yang lain" aku mulai tahu arah kakak ngomong yang lain yang dia maksud.


" maksud kakak gimana? " tanyaku dengan nada kesal merasa gak Terima.


" adek ga tahu kak kalau dia ikut juga, adek memang bener-bener belajar bukan sebagai alasan" jawabku dengan nada pelan . Sedih sekali rasanya kalau kakak ngira aku menjadikan belajar alasan sebagai ketemu raka.


" ya sudah.. sudah, kakak cuma ingetin aja" Aku menggosok mataku karena kelilipan, mengira aku menangis kakak membelai kepalaku .


" kita langsung pulang aja "


" ya " jawabku singkat berjalan mendahului kakak. Sampai parkiran kami berpisah. Aku dan kakak langsung pulang ke rumah.

__ADS_1


πŸ“Aku tak terlalu mempedulikan pikiran orang lain tentangku,, aku hanya mempedulikan pikiran orang-orang yang aku sayang, dan hal yang paling menyedihkan adalah ketika orang yang kita sayang berpikir salah tentang kita. πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


__ADS_2