
Di New York
Liam melanjutkan kuliahnya mengambil bisnis untuk gelar S2. Dia menikmati waktu 2 tahunnya di negeri paman Sam.
Liam juga mengetahui beberapa hari yang lalu kalau keponakannya Hanna berulang tahun, dia melihat foto foto Hanna, Leon dan Alessia yang dikirimkan oleh mama nya Bella tapi pandangan Liam hanya terfokus pada Alessia. Wanita yang dia cintai itu sangat cantik dan tersenyum bahagia bersama kakaknya Leon. Hal tersebut membuat hati Liam menjadi sakit.
"Ale semakin aku berusaha melupakanmu semakin aku tak bisa melupakanmu.. apa cintaku begitu dalam padamu" ujar Liam lihir.
Liam berangkat ke kampusnya dan bertemu dengan seorang wanita yang selama 2 tahun ini selalu ada untuknya.
"Liam" panggil Jane.
"Ada apa?" Kata Liam dengan dingin.
"Iih kamu ini udah kayak manusia kutub aja sih dingin banget dan selalu seperti ini kita pacaran udah 3 bulan ga ada perhatian perhatiannya sama pacar sendiri!!" protes Jane pada Liam.
Liam tidak menganggapi perkataan Jane, dia larut dalam pikirannya. Jane seorang gadis ceria blasteran Indonesia Amerika yang selalu mengejar ngejar cinta Liam, melihat kegigihan Jane akhirnya Liam menerima pernyataan cinta Jane. Liam berpikir mungkin dengan dia bersama Jane bisa melupakan Alessia tapi ternyata Liam masih belum bisa melupakan Alessia.
"Liam aku belum makan, temani aku makan yaa" ujar Jane dengan semangat.
"Kamu makan aja sendiri aku belum lapar"
"Iiis untung aku cinta kalau ga udah ku tendang kamu" ujar Jane dalam hati.
Jane tak memperdulikan penolakan Liam, dia malah menyeret Liam untuk menemaninya makan. Jane selalu menceritakan hal hal yang membuat Liam tersenyum, gadis itu seperti tak memiliki beban apapun dan sejenak dia bisa melupakan Alessia.
Liam kembali ke apartementnya bersama Jane.
Jane memeluk Liam dan mencium bibirnya, Liam membalas ciuman Jane.
"Liam apa kamu tidak ingin memiliki aku seutuhnya" ujar Jane malu malu.
"Aku rasa cukup begini aja Jane"
"Tapi kenapa? Kalau kamu mencintaiku kenapa ragu memiliki aku seutuhnya untukmu. Aku mencintaimu Liam"
Jane kembali mencium bibir Liam dengan mesra, Liam menjadi hilang kendali dia terangsang dengan Jane yang menggoda dirinya. Saat Liam akan melakukan hubungan intim lagi lagi wajah Alessia terlintas dipikirannya, dia melihat wajah Jane seperti wajah wanita yang dia cintai. Liam memilih untuk tetap bermesraan dengan Jane, walau di dalam pikirannya dia sedang bercinta dengan Alessia.
Liam terbangun saat mendengar dering ponselnya berbunyi, dia melihat nama Luis Geraldo di layar ponselnya.
__ADS_1
"Hallo pa" sapa Liam.
"Liam bagaimana kabarmu?" tanya Luis.
"Keadaanku baik baik saja pa seperti biasanya. Bagaimana keadaan mama papa"
"Papa lagi ada masalah, kakakmu Leon mengalami koma" ujar Luis dengan sedih.
"Apa!!! Kenapa bisa kak Leon koma pa? Lalu bagaimana keadaannya pa?" tanya Liam kaget.
"Dokter menganalisa Leon mengalami sleep apnea dan sampai sekarang masih koma"
"Kalau Alessia bagaimana pa?"
"Alessia sangat sedih setiap hari dia selalu menangis"
"Aku akan pulang pa"
"Tapi bagaimana dengan kuliahmu?"
"Aku bisa ijin pa, aku harus melihat keadaan kak Leon"
"Iya pa"
Tubuh Liam bergetar, dia tak menyangka kejadian ini menimpa Leon dan Alessia. Liam sangat khawatir dengan keadaan Alessia, dia yakin pasti Alessia sedang terpuruk disana, dia ingin menemani dan menghibur Alessia.
Liam melihat kesamping ranjang ada Jane yang tertidur lelap tapi dia tak tega membangunkan wanita yang telah menjadi kekasihnya. Liam bersiap siap pergi ke Jakarta dan tak membawa banyak barang.
Liam sudah di bandara dan akan berangkat menuju ke wanita yang sangat dia cintai.
**********
Pagi itu di apartemen Liam...
Jane terbangun dari tidurnya melihat tak ada Liam disana. Dia meraba ranjang dan terasa dingin yang berarti Liam sudah bangun dari tadi. Jane memanggil Liam.
"Liaam kamu dimana sayang" panggil Jane tapi tak ada sahutan dari Liam.
Jane memeriksa kamar mandi tapi tidak ada Liam disana. Dia berpikir mungkin Liam keluar untuk berolah raga, dia tahu kalau Liam sering jogging disekitaran taman apartement. Tanpa dia tahu kalau Liam sudah meninggalkannya kembali ke Jakarta, dia memutuskan menuju dapur untuk membuatkan sarapan.
__ADS_1
"Iih aku udah kayak istrinya aja sih buatin sarapan untuk suami hihihi" Jane tertawa pelan.
30'menit kemudian...
"Akhirnya nasi goreng ala chef Jane udah mateng dan rasanya enaaak banget sih masakanku. Aku memang jago masak pasti Liam suka rasa masakanku"ujar Jane.
"Semangat Jane" kata Jane menyemangati dirinya sendiri.
Waktu sudah menunjukan jam 9 pagi tapi Liam tak kunjung kembali dari berolah raga, dia menghubungi ponsel Liam tapi sedang tak aktif. Jane menjadi panik, dia khawatir Liam ada masalah.
Jane menuju kamar Liam tapi melihat ada secarik kertas di nakas samping tempat tidur. Jane membacanya...
Dear Jane
Jane maafkan aku meninggalkanmu pagi ini, tadi kamu tidur sangat nyenyak aku tak tega membangunkanmu.
Jane aku ada urusan keluarga di Jakarta dan harus kembali secepatnya. Maafkan aku tak berpamitan padamu...
Nanti aku akan menghubungimu.
Liam Geraldo
"Kenapa kamu ga berpamitan sama aku Liam" ujar Jane dengan kecewa.
"Bukan kah kamu bisa membangunkan aku dan berpamitan padaku" Jane memegang dadanya entah mengapa hatinya terasa nyeri.
Jane sangat kecewa Liam meninggalkannya tanpa berpamitan. Walau dia tahu Liam belum memiliki perasaan yang sama seperti dirinya tapi dia berharap dan berjuang bisa mendapatkan cinta Liam.
"Liam entah mengapa aku merasa kamu hanya terpaksa bersama ku, apa kah ada seseorang di dalam hatimu? tidak bisa kah kamu membagi sedikit saja hatimu untukku?" Ujar Jane berkata pada dirinya sendiri, tanpa terasa air mata terjatuh di pipinya.
Jane hanya bisa berharap Liam mencintainya walau hanya sedikit saja.
"Apa aku harus menyusul Liam ke Jakarta yaa" ujar Jane kembali semangat.
"Tapi kalau ke Jakarta aku akan bertemu papa dan istrinya, aku ga mau, tapi aku harus bertemu Liam, tapi aku males ketemu papa" kata Jane ragu dan jadi tak semangat lagi.
Jane kembali ke meja makan, dia makan sendirian seperti dulu tanpa seorang pun menemaninya.
*****************
__ADS_1