
Alessia tak mau menyerah dia keesokan harinya datang lagi kerumah sakit tapi kamar Leon kosong. Alessia kebingungan dia keluar mencari Leon ke meja suster jaga.
"Sus kemana dokter Leon? Kenapa kamarnya kosong?" tanya Alessia dengan panik.
"Dokter Leon sudah keluar rumah sakit bu" jawab sang suster.
Alessia bingung Leon baru kemarin masih ada di kamar tersebut dan dia masih dalam keadaan sakit bagaimana mungkin bisa keluar dan kenapa dia sebagai istri tidak mengetahui perihal suaminya sendiri.
Alessia menghubungi Bella, reaksi Bella sama. Ibu mertuanya sangat kaget mengetahui Leon tidak ada di rumah sakit. Bella menuju ruang kerja Luis yang kebetulan belum berangkat ke kantor.
"Pa kemana Leon? Dia tidak ada di rumah sakit" tanya Bella.
"Tenang aja ma, Leon di bawa dokter Willy ke Tiongkok untuk pengobatan dan terapi. Alessia sudah berangkat ke rumah sakit?" tanya Luis pada Bella.
"Kalau aku tau pasti aku melarang Alessia pergi ke rumah sakit pa. Kenapa kamu baru memberitahu kan berita sepenting ini sekarang, kamu benar benar tak mengerti Alessia. Dia itu udah pusing dan stress Leon selalu bersikap dingin padanya"
"Aku juga baru tau, tadi dokter Willy baru memberitahu kan ku. Suruh Alessia pulang" perintah Luis.
"Kamu seenak aja main perintah perintah aku. Bikin kesal aja sih"
Bella lalu menghubungi Alessia dan meminta menantunya untuk segera kembali.
Alessia pulang dengan keadaan yang menyedihkan, dia menangis sepanjang perjalanan pulang. Dia sendiri tak mengerti dengan keadaannya, kenapa dia begitu rapuh dan cengeng. Sebelumnya dia tak seperti ini.
Bella menyambut Alessia dengan prihatin, dia sangat mengerti perasaan Alessia. Seorang wanita mana yang tidak sakit hati dan kecewa jika di perlakukan tidak baik dan dingin oleh pria yang di cintainya.
"Kamu tenang aja sayang... Leon pergi pengobatan ke Tiongkok, ga akan lama kok paling sebentar lagi pulang" ujar Bella memberi semangat pada Alessia.
"Leon 3 bulan di sana Alessia, kamu jangan seperti ini. Nanti akan kembali saat sudah sehat" ujar Luis.
"Tapi pa... kenapa Leon tidak berpamitan pada ku, kan aku bisa menemaninya" kata Alessia tidak terima.
"Mungkin ini sudah keputusan Leon. Kamu harus menghargai keinginan Leon" ujar Luis, dia sebenarnya juga tak mengerti keputusan Leon pergi secara diam diam.
Liam mendengar pembicaraan orang tua nya dan Alessia. Dia sangat menyesali kenapa kakaknya pergi begitu saja, pasti suatu alasan yang dia sendiri pun belum tau apa itu.
Sekretaris Luis tiba tiba datang ke rumah mereka dengan wajah pucat. Luis melihat sekretarisnya di sana dan merasa heran, bukan sifat kakaknya seperti sekarang ini. Dia mengenal Leon bukan pria yang tidak bertanggung jawab, pergi begitu saja.
"Selamat pagi pak Luis, bu Bella, bu Alessia. Maaf kedatangan saya yang tiba tiba ke sini. Pak Luis mohon maaf, saya ingin berbicara pada anda" ujar Dewi dengan sopan.
"Eeh Dewi masuk saja, bos mu itu terlambat ke kantor yaa" ujar Bella tersenyum ramah pada Dewi.
"Terima kasih bu Bella" jawab Dewi.
"Ada apa Dewi? Jika bukan hal yang penting kamu tidak mungkin datang ke rumah saya" tanya Luis.
"Ada masalah yang sangat penting pak. Saya tidak bisa berbicara di sini" ujar Dewi lagi.
"Ikut ke ruang kerja saya. Ma kamu temani Ale dan Ale kamu tenangi dirimu kamu dulu" ujar Luis.
__ADS_1
"Iya pa"
Luis dan Dewi berada di ruang kerjanya.
"Ada apa Dewi" tanya Luis.
"Pak maaf apakah dokter Leon melakukan penerbangan ke Tiongkok?" tanya Dewi.
"Iya dia tadi pagi pagi sekali ke Tiongkok" kata Luis.
"Pak tadi pihak rumah sakit menghubungi ponsel anda tapi tidak ada yang menjawab lalu menghubungi kantor. Ada berita yang harus saya sampaikan kepada anda pak" kata Dewi dengan hati hati.
"Langsung pada intinya saja Dewi, jangan berputar putar seperti itu. Sebenarnya ada hal apa ini?" tanya Luis dengan curiga.
"Pesawat yang di tumpangi dokter Leon menuju Tiongkok mengalami kecelakaan pak. Beritanya sudah ada di televisi dan di media online" ujar Dewi.
Luis sangat kaget mendengar perkataan Dewi, pesawat yang dinaiki Leon mengalami kecelakaan. Dia merasa kan kepalanya tiba tiba sangat pusing, dia tak bisa menerima hal menyakitkan seperti ini.
"Pak anda baik baik saja pak?" tanya Dewi dengan khawatir.
"Apa kamu sudah memastikan hal tersebut!"
"Sudah pak. Ada nama dokter Leon dan dokter Willy di dalam penerbangan ke Tiongkok dan menjadi salah satu korban yang tidak selamat"
"Aku-- aaakh-- Luis merasa kan kepalanya berputar putar, dia tak sanggup menerima berita yang sangat menyakitkan baginya. Dunia Luis terasa berputar, dia terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri.
"Pak... pak... bangun pak." Merasa tak ada respon dari Luis, Dewi berlari keluar ruang kerja Luis. Dia mencari Bella tapi tidak menemukannya tapi malah bertemu dengan Liam.
"Loh papa kenapa? Mama... mama... papa sakit ma!" Liam berteriak memanggil ibu nya dan langsung berlari menuju ruang kerja Luis.
Bella sedang bersama Alessia, dia menemani Alessia di dalam kamar dan mendengar Liam memanggilnya.
"Sebentar yaa Ale, sepertinya Liam memanggil mama" kata Bella lalu menuju ke lantai bawah.
Bella heran melihat orang rumah pada sibuk keluar masuk ruang kerja Luis. Makin heran lagi melihat Dewi berdiri mematung di luar ruang kerja dengan wajah pucat.
"Dewi ada apa?" tanya Bella pada Dewi.
"Bu... pak Luis bu.. pak Luis" kata Dewi dengan suara bergetar.
"Kenapa Luis?" Bella segera masuk ke dalam dan melihat suaminya di baringkan di sofa dengan wajah pucat.
"Pa... kamu kenapa pa?" tanya Bella dengan panik.
"Papa pingsan ma, om Yohan sebentar lagi datang. Aku sudah menghubunginya" kata Liam.
"Kenapa papamu bisa pingsan Liam? Tadi baik baik saja" ujar Bella dengan menangis.
"Ma... tenangkan diri dulu ma, jangan menangis ma" Liam berusaha menenangkan mama nya.
__ADS_1
"Luis bangun sayang... Luis bangun" ujar Bella memberikan Luis minyak kayu angin di tubuh Luis.
Tak lama Luis pun sadar, Bella menangis memeluk suaminya.
"Sayang ada apa kenapa kamu bisa pingsan" ujar Bella.
"Bella... Bella... aku tak sanggup Bella... kenapa begitu banyak cobaan dalam kehidupan kita Bella" Luis menangis, hatinya terasa sangat sakit. Kabar Leon kecelakaan membuatnya sangat sedih.
"Sayang jangan seperti itu... semua cobaan pasti ada akhirnya, kita harus kuat Luis" kata Bella mencoba menenangkan Luis. Luis menangis di dalam pelukan istrinya, dia yakin Bella belum mengetahui kalau Leon mengalami kecelakaan pesawat.
Liam keluar dari ruang kerja Luis, dia merasa aneh. Dia melihat Dewi, pasti Dewi menyampaikan suatu pesan yang membuat keadaan papanya seperti sekarang.
"Katakan ada apa ini Dewi?" tanya Liam dingin.
Dewi menelan salivanya, dia mengenal Liam. Liam dulu berkerja sebagai salah direktur di GL company, terkenal dingin dan sangat pintar dalam berbisnis. Hanya tinggal menunggu waktunya saja, Liam akan mengambil alih seluruh perusahaan GL Company.
"Kenapa kamu diam saja!! Katakan apa yang terjadi" tanya Liam lagi.
"Pak... sa--ya" ucap Dewi dengan gugup.
Liam melihat dengan tajam ke arah Dewi, Dewi semakin ketakutan.
"I--ini pak... pak Luis pingsan saat saya menyampaikan berita kalau pesawat yang di tumpangi dokter Leon ke Tiongkok mengalami kecelakaan" Dewi lega akhirnya dia bisa mengatakan hal yang dari tadi sangat takut dia ucapkan.
"Apa!!!" Mata Liam membulat mendengar perkataan Dewi. Liam dengan cepat mengambil ponselnya dan melihat berita di online.
Dug.. suara orang jatuh menganggetkan Liam dan Dewi. Liam melihat Alessia pingsan di dekat ruang kerja Luis, Liam langsung berlari mendekati Alessia.
"Ale... bangun Ale" ujar Liam menepuk pelan wajah Alessia.
"Liam bagaimana keadaan semuanya? Kamu sudah tau kan beritanya" ujar Yohan baru tiba di rumah Luis.
"Iya om. Saya baru mendengarnya"
"Apa Alessia mengetahuinya?"
"Sepertinya tau om"
"Cepat bawa Alessia ke kamar, kemungkinan dia shock. Om mau periksa kak Luis dulu, ooh iya mama mu bagaimana? Apa sudah tau?" tanya Yohan lagi.
"Sepertinya belum om kalau sudah tau pasti keadaannya seperti Ale juga" kata Liam.
"Om periksa papa mu dulu setelah itu baru akan periksa Alessia" kata Yohan langsung menuju ruang kerja Luis.
"Dewi kamu bantu saya" ujar Liam.
***********
Dokter Sesil tersenyum melihat laki laki itu duduk di sebuah kafe di bandar udara internasional Adelaide. Lelaki itu masih seperti dulu memiliki wajah tampannya seakan tak pernah memudar sedang duduk di kursi roda.
__ADS_1
************