Terpaksa Menikahi Sang Dokter

Terpaksa Menikahi Sang Dokter
Frustasi


__ADS_3

Leon frustasi dengan keadaannya sendiri, dia mengalami kelumpuhan walau dokter Willy mengatakan hanya untuk sementara. Efek terbangun dari koma dan anggota tubuh masih dalam penyesuaian kembali.


"Dokter Leon anda pasti mengerti tentang semua ini, ini hanya efek sementara. Anda tentu tau nanti akan pulih dengan seiringnya waktu dan melakukan fisioterapi" ujar dokter Willy memberi semangat pada Leon.


"Tapi aku bukan lah lagi laki laki yang sempurna untuk istri dan anakku" ujar Leon dengan sedih.


Luis mendengarkan itu ikut merasakan kesedihan Leon, dia mengerti kalau putranya selalu ingin sempurna.


"Leon makanya kamu jangan putus asa, papa yakin dengan kamu melakukan fisioterapi akan membuatmu kembali seperti dulu" ujar Luis.


"Tapi pa... aku tak bisa begini" ujar Leon.


"Kamu harus bisa. Ingat Hanna putrimu masih membutuhkanmu Leon"


"Lebih baik aku mati dari pada cacat pa"


"Kamu jangan hanya berpikir dirimu sendiri Leon!!! Kamu tidak memikirkan perasaan papa dan mama melihatmu seperti sekarang!!!" Kata Luis dengan marah.


"Mama mu dia menangis terus memikirkan kamu dan Alessia istrimu, dia tiap hari kesini menemanimu dan selalu setia padamu. Lalu Hanna putrimu dia sempat sakit selalu menanyakan papa nya. Kamu jangan egois Leon"


Leon hanya terdiam, dia memang egois tapi dia juga malu dengan keadaannya.


"Besok anda akan saya jadwalkan bertemu dengan psikiater dan akan melakukan berbagai macam tes dokter Leon" ujar dokter Willy.


"Aku tidak membutuhkan hal itu, aku tidak butuh semua itu. Aku hanya pria cacat yang tak berguna" ujar Leon putus asa.


Luis memutuskan untuk membiarkan Leon berpikir sejenak. Mungkin Leon masih dalam proses penenangan diri sendiri dengan keadaannya.


"Papa pulang dulu, besok kita bicara lagi. Kamu istirahatlah dulu Leon" ujar Luis lalu meninggalkan Leon.


Dokter Willy dan Luis berbicara di berdua tentang keadaan Leon.


"Dok bagaimana ini, Leon sepertinya tidak dapat menerima kekurangannya" ujar Luis sedih.


"Kita tunggu dulu dalam 3 hari ini pak Luis, saya mengerti keadaan dokter Leon yang masih shock dengan keadaannya" ujar dokter Willy.


"Tapi sampai kapan Leon seperti ini"


"Semua tergantung dengan keadaan dokter Leon sendiri pak Luis. Saya yakin dukungan keluarga akan membantu memulihkan emosi dokter Leon, jika kita berhasil membuat dokter Leon kembali percaya diri semua proses penyembuhan akan berjalan dengan maksimal" ujar dokter Willy memberikan semangat pada Luis.


"Saya juga berharap seperti itu dok"


************

__ADS_1


Alessia berusaha menenangkan Hanna yang menangis ketakutan melihat Leon yang tiba tiba marah di hadapannya.


"Sayang jangan nangis, jangan takut. Papa tadi lagi sakit" ujar Alessia dengan lembut.


"Atu atut t cama papa, papa malah malah. Papa jahat" teriak Hanna dengan histeris.


"Ga nak. Papa ga jahat, papa hanya kaget jatuh dari tempat tidur"


"Papa jahat... papa jahat..." ujar Hanna terus menangis dengan ketakutan.


Liam yang baru tiba di rumah mendengar suara teriakan Hanna yang menjerit menangis dan berkata papa jahat. Liam bertemu dengan Yeni baby sitter Hanna yang akan naik ke kamar Alessia membawa sebotol susu.


"Sus Yeni kenapa Hanna?" tanya Liam khawatir.


"Saya kurang tau pak Liam, tadi sewaktu pulang non Hanna sudah menangis terus dan bu Alessia juga menangis, bu Bella juga menangis. Saya sendiri jadi bingung pak Liam" ujar Yeni dengan raut wajah bingung.


Liam bingung mendengarkan perkataan Yeni, bukankah seharusnya Alessia, mamanya dan Hanna bahagia akhirnya Leon sudah sadar tapi kenapa mereka malah bersedih semua.


"Mama dimana?" tanya Liam.


"Bu Bella di dalam kamar pak" jawab Yeni.


"Permisi dulu pak, saya mau membawa susu untuk non Hanna" ujar Yeni dengan sopan.


"Tapi pak"


"Ga apa-apa, kamu istirahat saja. Ini juga sudah malam"


"Baik pak terima kasih" ujar Yeni dengan ragu.


Yeni dan beberapa pelayan di rumah ini sudah di berikan tugas untuk tidak membiarkan Liam berduaan dengan Alessia. Walau mereka tak mengetahui alasannya tapi mereka menuruti perintah Luis.


Liam menuju ke atas melihat keadaan Hanna sambil membawa botol susu milik keponakannya. Liam melihat Alessia menggendong Hanna dengan kewalahan, Hanna masih rewel dan terus menangis.


"Hanna sayang" panggil Liam lembut.


"Om... om Liam" teriak Hanna lalu merentangkan kedua tangannya minta di gendong Liam.


Liam mengambil Hanna dari gendongan Alessia tanpa sengaja siku nya menyentuh salah satu dada Alessia. Liam menyadari itu begitu juga dengan Alessia, Alessia spontan melindungi dirinya. Liam berpura pura tidak ada hal yang terjadi, akan canggung rasanya jika dia menyadari hal tersebut.


"Om... papa malah-malah, papa jahat. Atu atut cama papa" Hanna mengadu manja dalam pelukan Liam.


"Udah sayang sekarang Hanna aman sama om, ga ada lagi yang akan malah malah eeeh... kok malah malah sih tapi marah marah" ujar Liam memeluk tubuh kecil Hanna dengan erat.

__ADS_1


"Om jangan malah sepelti papa yaa"


"Ga sayang... om kan sayang Hanna, ga mungkin marah sama Hanna"


Liam menggendong Hanna dengan erat, Hanna berhenti menangis. Hanna seperti menemukan kenyamanan dalam pelukan Liam, dia menenangkan gadis kecil itu.


Alessia merasa sedih dengan hal tersebut, seharusnya Leon yang menenangkan putrinya bukan malah Liam. Seandainya Leon bisa mengendalikan emosinya, tentu Hanna tidak akan setakut ini pada papanya sendiri.


"Nah sekarang Hanna minum susu dulu, ganti baju terus bobo yaa sayang" ujar Liam.


"Om jangan pelgi, atu mau ganti baju cama om"


"Hanna jangan seperti itu. Om Liam pasti lelah nak, ayoo mama gantikan baju aja yaa"


"Ga mau. Atu mau nya cama om Liam" ujar Hanna dengan mata berkaca kaca.


"Hanna tidak boleh seperti itu nak"


"Maunya cama om hiks... hiks... mau cama om" ujar Hanna kembali menangis.


"Ale biarkan aku yang menggantikan pakaiannya Hanna"


Liam menggantikan baju Hanna sambil bercanda dengan gadis kecil itu. Alessia hanya melihat interaksi Liam dan Hanna dengan sedih, yang dia inginkan bukan Liam seperti itu pada Hanna tapi Leon suaminya.


"Sekarang udah cantik dan bersiap untuk tidur yaa sayang" ujar Liam lalu mengecup dahi Hanna.


"Om jangan pelgi yaa... bobo cini aja cama aku dan mama"ujar Hanna dengan polos.


"Hanna!! tidak boleh seperti itu, kamu ini tidak boleh meminta hal berlebihan seperti itu sama om Liam" bentak Alessia pada putrinya.


Hanna kembali menangis, dia tak pernah dibentak oleh mama nya sendiri. Liam juga kaget mendengar permintaan Hanna padanya dan Alessia yang membentak Hanna, seandainya Alessia istrinya tentu dia akan dengan senang hati menuruti permintaan Hanna.


"Ale sudah lah... kamu tunggu saja disitu dulu, biar aku yang menemani Hanna sampai dia tidur. Ini sudah malam, tak baik kamu membentak putrimu sendiri seperti itu. Ga baik untuk psikologinya" ujar Liam dan tidur di ranjang bersama Hanna.


Alessia memilih untuk keluar kamar, dia tak ingin orang orang dirumah ini akan salah paham jika dia dan Liam berduaan di dalam kamarnya.


Tak lama Liam pun keluar kamar dan berbicara dengan Alessia.


"Ada apa? Kenapa Hanna ketakutan seperti itu dengan kak Leon, bukannya kak Leon sudah sadar" tanya Liam.


"Besok saja aku jelaskan, aku lelah" ujar Alessia dengan tak nyaman.


Liam hanya menghela napasnya, kenapa begitu berat melihat wajah murung Alessia seperti itu.

__ADS_1


**************


__ADS_2