
Hanna sudah berumur 4 tahun, gadis kecil anak Alessia sudah bersekolah.
"Mama" Hanna berlari ke arah Alessia.
"Jangan lari-lari sayang" ujar Alessia mendekati putrinya.
Alessia memeluk Hanna dengan erat dalam ingatannya Hanna hanya anak angkatnya bukan putri kandungnya.
"Mama kapan kita pulang jakarta?" tanya Hanna.
"Kuliah mama sebentar lagi skripsi sayang, setelah itu kita bisa kembali lagi ke Jakarta" ujar Alessia.
Alessia dan Hanna tinggal di London selama 2 tahun. Alessia melanjutkan hidupnya dengan kembali kuliah di London, walau dia sering ragu dengan Hanna yang katanya Liam merupakan putri angkatnya tapi dia sendiri bingung alasan apa dia mengangkat seorang anak saat statusnya sendiri yang masih gadis. Alessia merasakan ada ikatan yang berbeda dengan Hanna seperti anak kandungnya sendiri.
Alessia dan Hanna tiba di rumah mereka di London, Alessia tinggal di rumahnya sendiri. Rumah yang dulu di belikan kakeknya Sebastian, Alessia sempat sedih kakeknya meninggal dan dia tidak dapat mengingat kenapa kakeknya meninggal?
Menurut cerita Liam, Alessia mengangkat Hanna karena dia menemukan gadis kecil itu di depan rumahnya. Kata Liam, Alessia jatuh cinta saat melihat Hanna dan mengangkatnya menjadi putrinya walau Alessia belum menikah.
Menurut cerita Liam lagi, Sebastian kakeknya meninggal kena serangan jantung. Alessia mengalami depresi karena Sebastian meninggal dan mengakibatkan dia mencoba untuk bunuh diri.
Walau ragu tapi Alessia mencoba untuk mempercayai cerita Liam, apa lagi Liam mengaku kalau dia tunangan Alessia. Kepada siapa lagi Alessia harus percaya? Hanya Liam yang selama 2 tahun ini berada di sampingnya, merawatnya dan menjaganya. Selama 2 tahun ini perusahaan Jcorp sudah di akuisisi oleh perusahaan GLcompany jadilah Alessia tetap mendapatkan uang dari sahamnya di Jcorp.
Sempat Alessia berusaha mengingat kejadian yang menimpanya tapi yang ada dia mengalami sakit kepala yang luar biasa mengakibatkan dirinya masuk rumah sakit.
"Om Liam" ujar Hanna yang melihat Liam sudah berada di depan rumah Alessia.
"Hallo gadis kecilku, bagaimana kabarmu?" Liam memeluk Hanna.
"Aku baik om..."
Hanna dan Liam saling bercanda, Alessia melihat hal tersebut seperti sesuatu yang tidak asing. Tiba-tiba dia merasa kepalanya nyeri, Alessia bagaikan dejavu dengan keakrapan Liam dan Hanna tapi ada yang aneh pria yang ada dalam ingatan Alessia sepertinya bukan Liam.
"Sayang kamu melamun yaa" tegur Liam yang membuat Alessia sadar dari lamunannya.
"Ooh maafkan aku Liam, aku hanya merasa tidak asing dengan...."
"Sayang tidak usah terlalu mengingat hal yang perlu diingat, nanti kepalamu sakit lagi" ujar Liam khawatir dengan keadaan Alessia.
Lebih tepatnya Liam tidak ingin Alessia mengingat Leon. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi, Alessia miliknya dan akan selalu menjadi miliknya.
__ADS_1
Flashback
Liam tiba di London dari Jakarta, dia memang sering pulang-pergi Jakarta-London. Sekalin mengurus perusahaan GL company, dia harus memastikan Alessia tidak akan bisa lepas darinya.
Sebelum Liam ke rumah Alessia, dia sempat mampir ke klinik psikologi yang menangani Alessia di London. Doktor psikologi Andreas mengatakan kalau Alessia dalam beberapa bulan ini mulai mengalami mimpi-mimpi tentang masa lalunya.
"Pastikan agar Alessia tidak dapat mengingat masa lalu nya" ujar Liam.
"Tapi pak Liam, perkembangan memory bu Alessia mengalami kemajuan yang sangat bagus"
"Aku sudah mengatakan agar Alessia tidak bisa mengingat masa lalu nya. Kamu mau aku tidak akan membantu keuangan klinik mu ini!!" Ancam Liam pada Andreas.
"Ba--baik pak Liam. Apakah saya perlu melaporkan perkembangan bu Alessia ke profesor Budi?" tanya Andreas dengan takut.
"Yang di Jakarta biarlah tetap di Jakarta sekarang kita di London. Tidak perlu yang jauh untuk ikut campur hal masalah di sini" ujar Liam dingin.
Andreas hanya bisa menelan saliva nya, ancaman Liam membuatnya takut. Dia dulu salah satu murid yang dipercaya profesor Budi untuk menangani dan mengontrol Alessia di London. Profesor Budi lebih sering di Jakarta.
Flashback off
Liam menemani Hanna bermain di halaman belakang rumah dan Alessia sibuk memasak untuk makan malam mereka bersama. Kalau Liam datang dari Jakarta pasti menginap di rumahnya.
"Ayoo sayang kita makan dulu, makanan sudah siap" panggil Alessia dengan semangat.
Liam tersenyum mendengar Alessia memanggil dia sayang, kata-kata itu yang dia inginkan selama 2 tahun ini. Alessia bingung sendiri, kenapa dia memanggil Liam dengan panggilan sayang?
Liam, Alessia dan Hanna makan bersama,
lagi-lagi Alessia seperti pernah mengalami kejadian yang sama tapi bukan dengan Liam.
Alessia menidurkan Hanna di kamarnya sendiri.
"Hanna sudah tidur?" tanya Liam yang sudah menunggu Alessia di depan pintu.
"Sudah. Kamarmu sudah aku bersihkan, kamu istirahatlah dulu Liam" ujar Alessia.
Liam menarik tangan Alessia dan memeluknya.
"Aku merindukanmu Ale" ujar Liam dengan mesra. Alessia hanya tersenyum mendengar perkataan Liam.
__ADS_1
"Liam please jangan begini" tolak Alessia merasa tidak nyaman dengan pelukan Liam.
"Apa aku salah memeluk tunanganku sendiri?"
"Liam... aku belum siap"
"Aku mengerti Ale..." ujar Liam lembut mencium bibir Alessia.
Alessia hanya membalas ciuman Liam dengan biasa saja, walau Liam beberapa kali mencium bibirnya dan sering memeluknya selama 2 tahun ini tapi dia merasakan ada "sesuatu" yang berbeda.
"Aku mengingikanmu Ale" ujar Liam dengan napsu. Hanya berciuam dengan Alessia sudah membangkitkan gairahnya.
"Liam kita belum menikah" tolak Alessia dengan halus.
"Aku ingin menikahimu Alessia, mau kah kamu menikah denganku" tanya Liam sambil menatap mata Alessia.
"A--aku belum selesai kuliah Liam dan aku masih kehilangan kenangan kita selama ini"
"Kenangan kita dulu tidak usah kamu ingat, ingatlah kenangan bersamaku saat ini. Aku mencintaimu Alessia"
"Maaf Liam..."
"Aku akan menunggu sampai kamu mau menikah denganku"
"Terima kasih Liam atas pengertianmu"
Alessia berada di kamarnya, dia mencoba menyakinkan dirinya sendiri kalau dia mencintai Liam walau dia sendiri tidak merasakan hal tersebut. Alessia merasakan ada seseorang yang dia rindukan tapi dia sendiri bingung siapa pria tersebut. Alessia memilih untuk tidur...
Dalam mimpinya Alessia mengingat seorang pria tapi dia tidak tahu siapa pria itu. Wajahnya tidak terlihat...
"Sayang kita makan dulu" ujar Alessia memanggil seorang pria.
"Iya sayang" jawab pria itu.
Alessia dan pria itu makan bersama dalam sebuah rumah yang tidak asing lagi bagi Alessia. Rumah penuh kehangatan dan canda tawa pria itu dengan Hanna.
Alessia terbangun dengan keringat dingin, Alessia sangat penasaran siapa pria yang akhir-akhir ini selalu hadir dalam mimpinya.
"Kamu siapa kenapa saat aku berusaha mengingatmu hanya rasa sakit yang ku rasakan" ujar Alessia menangis sendirian di dalam kamarnya, dia seperti merasakan betapa sakit di dalam hatinya mengingat pria tersebut.
__ADS_1
***********