
Liam sangat terkejut melihat keadaan Alessia, dia tidak menyangka Alessia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Untung dia mengetahui hal tersebut dan segera membawa Alessia ke rumah sakit.
Bella dan Luis sangat terpukul melihat keadaan Alessia yang putus asa karena Leon meninggal. Mereka tidak menyangka cinta Alessia begitu dalam pada Leon.
Alessia terbaring lemah di rumah sakit, dia tertidur dan sudah di berikan obat penenang.
"Liam kamu pulanglah nak, mama yang akan menemani Alessia," ujar Bella yang merasa khawatir dengan keadaan Liam.
"Ma, aku tidak apa-apa. Mama lah yang pulang dan beristirahat," tolak Leon.
"Kamu tidak lihat bajumu yang banyak darahnya, kamu pulang ganti baju besok pagi kamu kembali ke sini."
Liam melihat keadaannya sendiri, bajunya banyak darah Alessia. Sebaiknya dia memang harus pulang dulu.
"Iya ma, aku akan pulang dulu. Mama jangan terlalu lelah yaa," ujar Liam.
"Iya... kamu temani Hanna yaa, kasihan dia pasti mencari Alessia," kata Bella dengan sedih.
Liam menyunggingkan bibirnya, dia mengerti keadaan keluarganya yang sedang dilanda musibah.
Liam sudah berada di rumah, dia mencari Hanna. Gadis kecil itu tertidur dengan lelap di dalam kamarnya di temani Yeni baby sitter Hanna.
"Maaf pak Liam saya tidak tau anda sudah kembali," ujar Yeni kaget ada Liam sudah berada di kamar Hanna.
"Bagaimana keadaan Hanna?" tanya Liam dengan khawatir.
"Non Hanna dari tadi menangis mencari bu Alessia tapi sekarang sudah lebih tenang dan sudah tidur pak," Yeni menjelaskan keadaan Hanna.
"Kamu temani Hanna dulu yaa." Liam beranjak meninggalkan kamar Hanna.
"Pak... maaf saya mau bertanya bagaimana keadaan bu Alessia?"
"Nyawanya dapat tertolong dan sekarang lebih tenang."
Sementara itu Leon merasakan resah, entah mengapa dia begitu ingin menghubungi Alessia.
Leon mengambil ponselnya dan segera menghubungi istrinya, dia berharap Alessia tidak mempercayai tentang kabar kecelakaan pesawat dan kematiannya.
Liam pergi ke kamarnya tapi saat dia hendak melewati kamar Alessia terdengar suara dering ponsel. Liam masuk ke kamar Alessia melihat ponsel yang berada di nakas samping ranjang. Dia melihat nomor yang tidak di kenal di layar ponsel Alessia.
Dering telepon terdengar tiga kali.
"Hallo Ale," ujar Leon di ujung telepon.
__ADS_1
"Hallo kak" sapa Liam.
"Mana Alessia?" tanya Leon.
"Oow bukannya kamu sudah mati kak Leon? Kenapa kamu bangkit kembali," ejek Liam.
"Jaga mulutmu Liam!!! Aku belum mati," ujar Leon dengan emosi.
"Hahaha bagi kami kamu sudah mati Leonard Geraldo. Kamu yang memalsukan kematianmu sendiri, yang mati biarlah mati tidak perlu lagi mengganggu orang yang hidup"
"Liam kamu!!!"
"Iya aku... aku kenapa?"
"Kamu adikku kenapa kamu seperti itu Liam"
"Karena kamu menyakiti orang yang aku cintai kak, aku sudah merelakan Alessia kepadamu tapi kenapa kakak begitu kejam padanya dan aku tidak bisa memaafkan semua perbuatan kakak pada Alessia"
"Liam kamu harusnya mengerti, kakak hanya akan melakukan pengobatan dengan kelumpuhan kakak setelah kakak bisa berjalan kembali. Kakak akan menemui Alessia"
"Jangan jadikan kelumpuhanmu menjadi alasan kak!! Kamu terlalu pengecut untuk menerima kekuranganmu sendiri"
"Liam ini adalah keputusanku, jangan ganggu istriku atau kamu akan menyesalinya," ancam Leon.
Liam menutup telepon Leon, dia mengambil ponsel Alessia. Leon tidak boleh lagi berkomunikasi dengan Alessia apapun alasannya.
"Yang mati tetap akan mati!!" Ujar Liam dengan emosi.
Leon sangat marah dan kesal dengan ke tidak berdayaannya. Benarkah apa yang dikatakan Liam kalau Alessia dan Hanna sudah melupakannya?
*********
Keesokan harinya Liam datang ke rumah sakit, dia sengaja membawa bunga Lily kesukaan Alessia. Dia ingin menghibur hati wanita yang dia cintai.
"Ma...," panggil Liam.
"Kamu sudah datang Liam, tolong bantu mama," ujar Bella yang sedang sibuk menyuapi Alessia makan tapi Alessia tidak mau membuka mulutnya.
"Biar aku yang gantikan ma," ujar Liam mengambil piring dan sendok bergantian membujuk Alessia untuk makan.
Tapi usaha Liam juga percuma Alessia hanya diam mematung, bagaikan raga tanpa jiwa.
Alessia hanya diam dengan pandangan mata yang kosong.
__ADS_1
Seminggu kemudian...
Keadaan kesehatan Alessia sudah membaik tapi keadaan mentalnya berbeda. Alessia masih dalam keadaan yang sama. Hanya diam dengan pandangan kosong.
"Ayo kita jalan-jalan ke taman rumah sakit yaa," ujar Liam yang masih setia menemani Alessia.
Liam membawa Alessia jalan-jalan di sekitaran taman rumah sakit dengan kursi roda. Liam terus mengajak Alessia bercerita walau tidak ada tanggapan dari Alessia.
Bella datang ke rumah sakit dengan membawa Hanna dan melihat Alessia juga Liam berada di taman. Ada perasaan sedih melihat Liam dan Alessia, satu sisi dia melihat betapa Liam begitu perhatian pada Alessia dan satu sisi lagi melihat keadaan Alessia yang mengalami depresi berat.
"Ale lihat siapa yang datang," ujar Bella menggandeng tangan Hanna.
"Mama... atu tangen cama mama" kata Hanna lalu memeluk lutut Alessia.
"Mama tenapa cuma diam, Hanna dicini mama" ujar Hanna melihat Alessia dengan bingung.
"Om cenapa mama cuma diam, mama... mama" ujar Hanna mulai menangis.
Liam langsung memeluk tubuh gadis kecil itu, dia tidak tega melihat Hanna yang menangis.
"Hanna sayang jangan nangis, mama lagi sakit. Hanna kan anak baik ga boleh nangis." Liam membujuk Hanna.
"Mama... mama jangan diam aja, mama... mama" Hanna menangis dengan sedih.
"Mama jangan diam aja... mama malah cama atu, papa waktu itu malah lalu pelgi ke culga kalau mama juga malah nanti bica pelgi juga keculga atu nanti cama ciapa? Mama jangan pelgi telculga yaa"ujar Hanna menangis dengan bahasa anak kecil umur 2 tahun yang celat.
Bella menangis dengan keadaan tersebut, dia mengerti keadaan cucu nya yang belum mengerti dengan apa yang terjadi.
Tiba-tiba air mata menetes di pipi Alessia, Liam yang melihat hal tersebut sangat terkejut begitu juga dengan Bella. Alessia menangis walau pandangan matanya kosong.
Liam langsung mendorong kursi roda Alessia ke ruang rawat inap Alessia dan memanggil dokter yang menangani Alessia. Bella langsung menggendong Hanna dan menyusul Liam.
"Bagaimana dok?" tanya Liam.
"Keadaan bu Alessia masih sama pak Liam. Masih tidak ada respon tapi ini perkembangan yang sangat baik bagi keadaan mental bu Alessia," ujar dokter.
"Lalu sekarang harus bagaimana?" tanya Liam lagi.
"Besok psikologi akan memeriksa keadaan bu Alessia, nanti akan saya jadwalkan sesi konseling untuk mental bu Alessia. Keadaan tubuh bu Alessia sangat sehat hanya harishs"
"Baiklah dok lakukan apapun yang terbaik bagi Alessia. Saya hanya inginkan yang terbaik untukny."
Liam dan Bella lega ada perkembangan yang terbaik bagi Alessia. Liam akan melakukan apapun demi Alessia bisa tersenyum kembali seperti dulu.
__ADS_1
****************