Terpaksa Menikahi Sang Dokter

Terpaksa Menikahi Sang Dokter
Jangan menyerah


__ADS_3

Luis tak sengaja melihat Liam keluar dari kamar Alessia, dia merasa khawatir Liam dan Alessia berhubungan yang tidak seharusnya.


"Liam" panggil Luis pada putra bungsunya.


"Iya pa" jawab Liam salah tingkah karena ketahuan keluar dari kamar Alessia.


"Papa ingin bicara denganmu" ujar Luis menuju ruang kerjanya. Liam pun mengikuti Luis masuk kedalam ruang kerja Luis.


"Kenapa kamu di tengah malam begini keluar dari kamar Alessia. Kamu tau kan hal itu tak pantas" ujar Luis dengan tak suka.


"Ini tidak seperti yang papa bayangkan, aku tidak ada hubungan apapun dengan Alessia. Tadi aku hanya berniat menenangkan Hanna yang menangis ketakutan" jelas Liam.


"Apa maksudmu?" tanya Luis.


Liam menjelaskan tentang Hanna yang menangis dan ketakutan dengan Leon. Menenangkan Hanna sampai gadis kecil itu tidur dengannya dan juga mengatakan kalau Alessia juga menunggu di luar di berada di dalam kamar bersamanya. Luis mengerti dan percaya dengan penjelasan Liam, di sekitar rumah juga ada cctv jadi tak mungkin Liam bertindak gegabah.


"Baiklah papa percaya denganmu tapi jangan pernah kamu ulangi lagi. Ingat dia istri dari kakakmu dan keadaan Leon sekarang sangat memprihatinkan" kata Luis dengan wajah serius.


"Apa maksud papa? Kenapa kak Leon" tanya Liam.


"Kakakmu mengalami kelumpuhan sementara dengan fisioterapi, Leon secara perlahan akan kembali seperti dulu lagi tapi keadaan mental Leon berbeda, dia putus asa dengan dirinya sendiri. Jika Leon menolak untuk terapi sulit baginya untuk bisa berjalan seperti dulu" ujar Luis dengan sedih.


"Kita harus mendukung kak Leon pa"


"Iya kita harus terus mensupport Leon"


Liam tak menyangka kakaknya Leon akan mengalami hal seperti ini, yang membuat dia khawatir dampak dari emosional Leon yang sedang tidak stabil bisa mempengaruhi Hanna. Gadis kecil usia 2 tahun tersebut sudah mengalami trauma dengan Leon, dia harus segera bertindak demi keutuhan keluarga Leon dan demi bisa melihat wajah Alessia tersenyum bahagia seperti dulu.


Keesokan harinya.


Alessia bersemangat untuk menemui Leon di rumah sakit, dia sudah menitipkan Hanna pada ibu mertuanya Bella.


Setibanya Alessia disana dia melihat Leon ada di dalam ruang rawat sedang duduk diam di ranjang.


"Sayang aku datang" sapa Alessia dengan senyuman terindahnya.

__ADS_1


"Pulang lah Ale, aku tak membutuhkanmu" ujar Leon dengan ketus.


"Jangan seperti sayang... aku akan menemanimu untuk terapi yaa" kata Alessia yang sudah mengetahui keadaan Leon dari Luis sebelum dia berangkat ke rumah sakit. Dia harus bisa memberikan Leon semangat agar segera pulih.


"Ada suster disini kamu tak perlu membantu ku"


"Ga apa-apa walau ada suster tapi kamu tetap butuh aku." Alessia menemani Leon untuk fisioterapi walau Leon menolaknya tapi dia tak akan menyerah.


Leon sebenarnya sangat bahagia Alessia dengan setia menunggu dirinya hingga sadar tapi dia juga sedih tak bisa menjadi suami yang sempurna untuk Alessia.


Leon juga sangat merindukan Hanna. Saat dia sadar dari koma nya dia mendengar suara putrinya yang menangis mencarinya. Dia sangat ingin bersama putrinya tapi saat wajah Hanna yang ketakutan melihatnya dia sangat terpukul. Seburuk itu kah dia di mata putrinya.


Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Leon keluar dari ruang fisioterapi. Alessia masih berada di luar ruangan menunggu Leon.


"Sayang" Alessia memegang pundak Leon tapi Leon menepis tangan Alessia.


Alessia hanya bisa terdiam dengan apa yang terjadi, kenapa Leon berubah seperti ini padanya? Apa kesalahannya sehingga Leon bersikap dingin dan acuh padanya?


Alessia tak ingin menyerah, dia tetap akan mendampingi Leon walau seperti apapun keadaan suaminya.


"Aku bisa makan sendiri"


Alessia membiarkan Leon untuk makan sendiri, mungkin suaminya hanya ingin terlihat dia bisa tanpa bantuan orang lain.


"Ale kamu pulanglah... aku ingin sendiri" ujar Leon dingin.


"Leon aku akan menemanimu di sini nanti malam aku akan kembali"


"Apa kamu tidak bisa mendengar perkataan ku Ale!!! Aku ingin kamu pulang, aku ingin sendiri di sini"


"Leon jangan seperti ini padaku? Apa salah ku sama kamu? Kenapa kamu selalu dingin dan kasar padaku?" tanya Alessia dengan sedih.


"Sudah ku katakan padamu, aku ingin sendiri!!!" Bentak Leon.


"Ba--baiklah aku akan pulang besok aku akan datang lagi menemanimu." Alessia mencoba tersenyum dengan semanis mungkin pada Leon walau di dalam hatinya terasa sakit.

__ADS_1


Setelah Alessia pergi Leon memejamkan matanya, dia tahu Alessia pasti terluka dan sedih atas apa yang dia lakukan tapi dia malu pada dirinya sendiri. Dia tak pantas bersanding dengan Alessia, Alessia begitu sempurna dan cantik berbeda dengan dirinya.


"Maafkan aku Ale... maafkan aku"ujar Leon dengan sedih, tanpa terasa air mata jatuh di pipinya. Banyak orang mengatakan bahwa laki laki tidak sepantasnya menangis tapi jika beban berat di hati sudah tak bisa dia tahan, apakah salah dengan menangis?


"Selamat siang dokter Leon" sapa dokter Willy begitu masuk ke ruang rawat Leon.


"Dokter Leon saya sudah menemukan dokter Sesil teman anda yang seorang dokter rehabilitasi medis yang anda saran kan" kata dokter Willy.


"Dokter ada menemukan di mana dokter Sesil praktik?" tanya Leon.


"Dokter Sesil sekarang berada di The Royal Adelaide Hospital di Australia dan saya sudah menghubungi dokter Sesil. Saya sudah memberikan rekam medis anda dan setelah mengetahui bahwa dokter Leon adalah teman kuliahnya dulu, beliau bersedia untuk melakukan pemeriksaan pada anda." Dokter Willy menjelaskan pada Leon.


"Atur jadwal secepatnya saya ke sana tanpa di ketahui oleh keluarga Geraldo khususnya pada istri saya"


"Tapi saya harus berkata apa pada keluarga anda dokter Leon?"


"Katakan saja saya melakukan pengobatan di Tiongkok"


"Baik dok"


Leon memutuskan hal terberat dalam hidupnya, dia harus melepaskan Alessia jika dia tidak bisa kembali ke Jakarta dalam keadaan bisa berjalan seperti dulu. Dia sangat mencintai Alessia tak ingin dirinya menjadi beban untuk Alessia di masa depan. Alessia masih muda dan sepantasnya mendapatkan laki laki yang lebih baik dari pada mempunyai suami lumpuh seperti dirinya.


*********


Jane yang berada New York merindukan Liam, sudah 2 bulan Liam tak kembali di New York. Walau Liam dan dirinya tetap saling berhubungan melalui telepon tapi tetap berbeda jika mereka saling bertemu.


Jane memutuskan untuk menyusul Liam ke Jakarta. Kota Jakarta merupakan kota kelahirannya, dia lahir disana dan saat umurnya 15 tahun dia pindah ke New York ikut ibunya yang telah bercerai dengan ayahnya Budi Santoso warga negara Indonesia sedangkan ibu Martha seorang wanita berwarga negara Amerika.


"Aku akan berangkat 2hari lagi tapi aku ga mau bilang Liam, aku ingin memberikan kejutan pada Liam" ujar Jane dengan semangat pada dirinya sendiri.


Jane sudah membayangakan akan selalu bersama Liam di Jakarta, dia akan bersikap sebaik mungkin jika dia bertemu dengan keluarga Liam.


"Aku akan datang sayang"


**************

__ADS_1


__ADS_2