Terpaksa Menikahi Sang Dokter

Terpaksa Menikahi Sang Dokter
Terpesona


__ADS_3

Setelah Liam pergi ke Jakarta dan mengantarkan Hanna ke sekolah, Alessia pergi ke kampus. Dia ingin sekali bertemu Leon, entah kenapa dipikirannya hanya ada Leon.


"Tumben sendirian, tunanganmu yang tampan kemana?" tanya Yana.


"Udah balik ke Jakarta," jawab Alessia.


"Ooh iya kemarin gimana dengan dosen baru? Dia ga memarahimu kan?"


"Ga. Dia hanya memberi peringatan aja."


"Tuh dosen cakep banget sih tapi kayaknya killer. Dosen killer yang ganteng."


"Emang ganteng sih dan mempesona."


"Up's ada tertarik nih hahaha."


"Aduuh Yana, mana mau dosen itu sama aku."


"Kamu cantik, pasti tertariklah tapi sayangnya kamu tuh dingin. Pas awal-awal kuliah banyak loh yang suka sama kamu tapi dingin banget, mahal senyummu itu jadi pada mikir yang deketin kamu."


"Masa sih?"


"Iya bener tapi kamu nya aja yang ga peduli."


Alessia tidak mengetahui hal tersebut, entahlah dia memang tidak tertarik dengan pria lain dan selalu ada Liam yang mendampingingnya. Tapi Leon berbeda, Alessia sangat penasaran dengan lelaki tersebut. Seperti lelaki itu datang dari masa lalunya.


Alessia mengikuti jam pelajaran Leon, dia sekarang memperhatikan setiap pelajaran yang Leon berikan. Saat jam kuliah selesai Alessia mendekati Leon.



"Pak Leon bisa saya konsultasi sebentar, saya dalam proses skripsi," ujar Alessia.


"Hmm bisa kamu ke ruanganku saja," kata Leon.


Yana yang melihat itu merasa heran dengan Alessia, dia tak pernah melihat Alessia yang tiba-tiba berani berbicara dengan seorang pria.


"Ale mau kemana?" tanya Yana.


"Aku mau konsultasi dengan pak Leon," jawab Alessia.


"Loh bukannya dosen pembimbing skripsimu itu bu Julie? Kenapa ganti pak Leon? Apa kamu suka yaa sama pak Leon?" Yana menggoda Alessia.


"Ga lah, pak Leon juga hanya dosen pengganti sementara kan. Apa salahnya konsultasi dengan dia sebelum menemui bu Julie, supaya lebih bagus nanti skripsiku."

__ADS_1


Yana menganggukan kepalanya, benar juga kata Alessia, tapi tetap ada yang aneh dengan sikap Alessia, apa lagi tatapan mata Alessia yang seperti bahagia melihat Leon.


"Udah dulu yaa, aku mau ketemu pak Leon," ujar Alessia semangat.


Diruangan Leon.


"Permisi pak," ujar Alessia di depan pintu.


"Masuklah Alessia, apa kamu merindukan aku?" tanya Leon.


"Bu--bukan seperti itu pak," ucap Alessia gugup.


"Kalau begitu pun aku tidak masalah," ujar Leon dengan senyum menggoda Alessia.


Alessia menjadi salah tingkah sendiri, jantungnya berdetak lebih cepat.


"Ooh iya tadi kamu katanya mau konsultasi tentang skripsimu," ujar Leon mencoba mencarikan suasana. Dia tahu Alessia gugup dan salah tingkah dihadapannya.


"Iya pak."


Alessia menjelaskan tentang bahan skripsinya, Leon memperhatikan dan menjelaskan tentang semua skripsi Alessia.


Alessia terus memperhatikan Leon, apa lagi Leon sekarang berada di sampingnya. Wajah Leon sangat tampan, hidungnya mancung, alis matanya tebal membuat Alessia makin terpesona.



Alessia tidak bisa lepas dari pandangannya melihat Leon.


"Apa kamu mengerti Alessia," ujar Leon.


"Iya. Kamu sangat tampan," jawab Alessia tanpa sadar melihat wajah Leon.


"Hahaha... kamu lucu sekali Alessia," ujar Leon tertawa, istrinya ini memang seperti ini dari dulu terpesona melihat wajahnya.


Alessia tiba-tiba tersadar dengan kelakuannya, dia sangat malu. Apa lagi saat dia mengatakan kalau Leon sangat tampan.


"Sa--saya permisi dulu pak," ujar Alessia langsung membereskan buku-bukunya.


"Jangan pergi buru-buru." Leon menggoda Alessia.


"Sa--saya ada urusan sebentar pak." Alessia segera keluar ruangan Leon tapi Leon tiba-tiba menarik tangan Alessia dan memeluknya.


"Aku merindukanmu sayang," ujar Leon pelan sambil memeluk tubuh Alessia.

__ADS_1


Alessia tidak bisa berkata apapun lagi, tubuhnya merasa tegang tapi dia juga merasakan sangat nyaman di dalam dekapan Leon.


Leon mendekati wajah Alessia secara perlahan dia mengecup bibirnya secara perlahan Leon mencium bibir Alessia. Alessia membalas ciuman Leon dengan perlahan, mereka berciuman dengan mesra saling menautkan bibir mereka.


Setelah beberapa saat mereka berciuman, Leon melihat wajah wanita yang dia cintai.


"Maafkan aku sudah lancang mencium bibirmu," ujar Leon.


"A--aku..."


"Tidak usah menjawabnya, aku ingin selalu berada di dekatmu Alessia."


Alessia tak bisa berkata-kata lagi, dia merasa kejadiannya bersama Leon seperti sudah pernah terjadi dulu. Kilasan-kilasan seperti bayangan ada di dalam pikiran Alessia.


"Aduuh," ujar Alessia menjerit kecil memegang kepalanya yang terasa nyeri secara tiba-tiba.


"Kamu kenapa?" tanya Leon khawatir.


"Kepalaku sakit, kamu— kenapa bayanganmu ada di— aduuh sakit," teriak Alessia menahan rasa sakit di kepalanya.


Leon sebagai dokter bedah mengetahui kalau ingatan Alessia secara perlahan mulai kembali, dia memang harus terus mensimulasikan setiap ingatan Alessia agar segera kembali mengingat masa lalunya.


"Kamu tarik napas buang," ujar Leon berusaha membuat Alessia tenang.


"Sakit... obatku, tolong obatku di dalam tas," ujar Alessia.


Leon segera mencari obat Alessia dan membacanya sekilas, dia harus memastikan obat itu tidak berbahaya bagi istrinya dan membaca. Setelah yakin hanya sebagai obat antidepresan baru Leon memberikannya pada Alessia. Alessia meminum obatnya dengan cepat, kepalanya sangat sakit.


"Aku antar kamu pulang," ujar Leon.


"Tapi anakku, aku harus menjemputnya," tolak Alessia.


"Aku akan mengurus semuanya," ujar Leon.


Leon hendak menggendong Alessia tapi dia menolaknya.


"Jangan pak kita dikampus," tolak Alessia.


Leon mengerti dengan keadaan tersebut, untung suasana di kampus sepi jadi tidak ada yang menyadari Leon memapah Alessia.


Tak butuh waktu lama, Leon sudah berada dirumah Alessia. Alessia tertidur di dalam mobil dan Leon menggendong Alessia masuk ke dalam rumahnya. Leon sempat kebingungan mencari dimana kamar Alessia, ada 3 kamar disana. Leon membuka satu persatu pintu kamar setelah memastikan salah satu kamar adalah kamar Alessia. Dia membaringkan tubuh Alessia secara perlahan diatas ranjang.


"Tidurlah sayang... aku akan selalu menjagamu," ujar Leon dengan suara lembut.

__ADS_1


***********


__ADS_2