Terpaksa Menikahi Sang Dokter

Terpaksa Menikahi Sang Dokter
Bertemu Jane


__ADS_3

Alessia diperiksa oleh doktor psikologi dan beberapa tes dan terapi telah dilakukan.


"Bagaimana dok?" tanya Liam dengan khawatir.


"Bu Alessia mengalami depresi berat pak Liam, saya ada seorang kenalan dokter psikologi yang pernah menangani kasus seperti bu Alessia,"ujar doktor Iwan.


"Siapa dokter itu dok?"


"Profesor psikologi Budi Santoso tapi yang saya tau beliau sangat pilih-pilih pasien dan buka praktik hanya pasien yang dia inginkan,"


"Di mana alamat profesor tersebut, saya akan menemui beliau,"


Liam sudah berada di depan rumah Profesor psikologi Budi Santoso, dia ingin bertemu dan melakukan sesi konseling untuk Alessia.


Liam menekan bel rumah tersebut saat pintu dibuka betapa kagetnya Liam melihat seorang wanita yang dia kenal. Wanita itu Jane kekasihnya sewaktu di New York.


"Liam," ujar Jane melihat tidak percaya ada Liam berada di depan rumahnya.


"Jane? Kenapa kamu ada di Jakarta?" ujar Liam dengan tidak percaya juga.


"Aku mengunjungi papa ku, kan aku sudah pernah bilang kalau papa ku orang Indonesia,"


"Kamu anaknya profesor psikologi Budi Santoso?" tanya Liam.


"Iya lah... ayoo masuk dulu, aku akan mengenalkanmu dengan papa," ajak Jane lalu menarik tangan Liam.


Liam menjadi salah tingkah Jane merangkul lengannya dengan mesra. Liam merasa tidak nyaman dengan perlakuan Jane padanya tapi berbeda dengan Jane, dia sangat bahagia dan merindukan Liam.


"Jane apa profesor Budi ada?" tanya Liam.


"Hmm papa ada di ruang kerjanya. Hmm kamu kenapa, Kamu kenal sama papa aku?" tanya Jane.


"Aku ingin bertemu dengan papamu Jane,"


"Kenapa? Kamu mau melamar aku yaa" ujar Jane dengan malu-malu.


"Jane bukan seperti itu, aku ada sedikit urusan dengan profesor Budi"


"Urusan apa?"


"Maaf aku belum bisa memberitahu padamu"


Jane melihat Liam, dia jadi penasaran ada apa sebenarnya tapi dia juga tidak berani bertanya.


Liam bingung bagaimana dia harus menjelaskan pada Jane.


"Tunggu sebentar aku akan temui papa" ujar Jane.


Jane masuk ke ruang kerja Budi papanya.


"Ada apa Jane?" tanya profesor Budi.


"Papa ada tamu yang ingin bertemu denganmu"


"Siapa?"

__ADS_1


"Seseorang yang sangat berarti untukku pa"


"Apa sangat berarti?"


"Aakh papa... tolong lah sepertinya dia sangat membutuhkan bantuanmu pa"


"Seberapa pentingnya dia bagimu?"


"Papa kami bertemu di New York dan menjalin hubungan. Salah satu alasanku kembali ke Jakarta karena dia" ujar Jane malu-malu.


"Kamu menyukai dia anakku?"


"Papa... jangan seperti itu, aku kan jadi malu. Tolonglah pa untuk menemui Liam"


"Jadi namanya Liam"


Jane menutup mulutnya dan wajahnya bersemu merah.


"Baiklah jika ini permintaanmu papa akan menemuinya." Kata Budi yang tidak ingin mengecewakan Jane.


Liam sudah berada di hadapan Budi di sampingnya ada Jane. Budi melihat Liam dan Jane secara bergantian, dia mengerti kalau putrinya menyukai Liam tapi melihat reaksi tubuh Liam yang kurang nyaman saat bersama Jane bisa dia simpulkan kalau perasaan putrinya bertepuk sebelah tangan.


"Jadi kamu yang bernama Liam" ujar profesor Budi memulai pembicaraan.


"Maaf saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Liam Geraldo dan saya teman dari putri anda Jane"


"Papa jangan seperti itu kan Liam jadi ga enak pa" ujar Jane manja pada Budi.


Budi tersenyum melihat putrinya yang salah tingkah karena Liam.


"Eeh iya pa... Liam aku tinggal dulu yaa, papa ku sangat baik kok walau di luar terlihat galak" ujar Jane dengan tertawa lalu meninggalkan Liam dan Budi di ruang kerja tersebut.


Setelah kepergian Jane, Liam merasa lega. Dia dari tadi merasa sangat tidak nyaman ada Jane. Budi memperhatikan semua itu, pasti ada maksud tertentu Liam ingin bertemu dengannya dan yang pasti bukan tentang putrinya Jane.


"Katakan apa maksud dan tujuanmu ke sini, aku yakin bukan tentang hubunganmu dan Jane" ujar profesor Budi dengan wajah serius.


"Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada profesor Budi, saya akan berbicara langsung saja. Saya memerlukan bantuan anda"


"Bantuan apa? Tentu kamu tau saya seorang profesor psikologi dan nama kamu Liam Geraldo, apa kamu dari keluraga Geraldo, perusahaan GL Company?"


"Iya saya putra ke dua dari keluarga Geraldo. Anda sudah mendengar tentang keluarga Geraldo yang sedang berduka karena meninggalnya kakak saya Leonard Gerlado akibat kecelakaan pesawat"


"Iya saya mengetahui hal tersebut lalu tujuan kamu datang kesini apa? Saya seorang psikologi tidak ada hubungannya dengan perusahaan GL company"


"Kakak ipar saya Alessia Javier istri Leonard Gerlado mengalami depresi dan sudah mencoba bunuh diri. Saya ke sini karena rekomendasi doktor Iwan, menurut doktor Iwan anda pernah menangani kasus depresi seperti kasus kakak ipar saya," Liam memberikan berkas tentang keadaan mental Alessia pada profesor Budi.


Profesor Budi membaca dan menganalisan depresi yang di alami Alessi.


"Dari data yang saya baca, Alessia Javier mengalami depresi kronis sampai dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri dan keadaan yang mental Alessia Javier ini sangat mengakwatirkan. Ada beberapa metode yang saya lakukan akan ada dampak dari ingatan pasien"


"Dampaknya seperti apa profesor?"


"Saya akan menjelaskan kepada kamu Liam, seorang pasien yang depresi kronis akan mengalami fungsi kognitif otak yaitu berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengingat segala sesuatu. Pada pengidap depresi kronis yang melakukan bunuh diri bukanlah cara untuk mencari perhatian atau wujud balas dendam pada orang yang menyakitinya, melainkan lebih karena faktor biologis. Dalam artian, gangguan jiwa serius yang dialaminya membuat otak kehilangan kemampuan kognitif untuk berpikir jernih dan menimbang pilihan. Ketidakseimbangan zat kimia dalam otak juga semakin memicu rasa putus asa, seolah-olah memang tak ada gunanya lagi melanjutkan hidup." Profesor Budi menjelaskan pada Liam.


Liam mendengarkan penjelasan profesor Budi dengan serius, Alessia mengalami semua yang dikatakan profesor Budi.

__ADS_1


"Apa ada cara untuk membantu pemulihan jiwa Alessia prof?" tanya Liam.


"Ada bisa dengan psikoterapi, Cognitive behavior therapy (CBT), Problem solving therapy (PST), Interpersonal therapy (IPT), terapi psikodinamis, obat antidepresan dan terapi kejut listrik atau electroconvulsive therapy (ECT)"


"Untuk kasus Alessia mana langkah yang terbaik prof?"


"Saya akan menganalisa dulu kondisi Alessia setelah itu baru bisa mengambil terapi apa yang terbaik untuknya"


"Saya mohon profesor untuk membantu Alessia, kasihan kakak ipar saya dan keponakan saya yang masih sangat kecil. Ayahnya meninggal dan ibunya depresi, saya mohon bantu saya prof"


Profesor Budi memperhatikan Liam, dia memang tertarik dengan kasus Alessia tapi dia ingin memastikan suatu hal pada Liam menyangkut dengan hubungannya dengan Jane putrinya.


"Saya ingin bertanya, bagaimana perasaanmu pada putriku Jane?" Tanya Budi.


Liam tidak bisa menjawab pertanyaan Budi, dia takut salah jawab dan bisa mengakibatkan Budi menolak membantu Alessia.


"Sa--saya dan Jane memiliki hubungan saat di New York," ucap Liam gugup.


"Saya mengerti... Jika kamu tidak memiliki perasaan pada Jane jangan kamu memberikan harapan padanya, kamu harus bisa bersikap tegas!!!. Besok saya akan ke rumah sakit dan memeriksa keadaan Alessia Javier"


"Terima kasih profesor"


Liam berpamitan pada Budi. Sebelum Liam keluar suara Budi terdengar kembali.


"Saya berharap kamu tidak akan mengecewakan putriku Jane karena kakak iparmu Alessia Javier membutuhkan pertolongan ku"


"Iya profesor Budi"


Liam merasa lega akhirnya dia bisa menolong Alessia. Jane menunggunya di luar sambil tersenyum, dia sudah tidak sabar untuk berduaan bersama Liam.


"Liam sudah berbicara dengan papa?" tanya Jane.


"Sudah Jane"


"Liam apa kamu tidak merindukan aku?"


"Jane aku senang kita bisa bertemu lagi dan terus terang keluarga ku sedang mengalami musibah"


"Maaf Liam aku tidak tau, aku baru beberapa hari tiba di Jakarta," ujar Jane menjadi tidak enak sendiri.


"Kakakku Leonard Geraldo meninggal karena kecelakaan pesawat dan istrinya mengalami depresi, aku kesini meminta bantuan profesor Budi untuk menangani kasus Alessia"


"Aku mengerti, maafkan aku Leon tidak bisa menemani kamu saat melewati hari-hari yang berat dalam kehidupanmu"


"Tidak apa-apa Jane"


"Kapan kita akan pergi bersama Liam?"


"Nanti aku akan menghubungimu sekarang aku mau pulang dulu menyampaikan kabar ini pada orang tua ku"


"Hati-hati Liam"


Jane melihat kepergian Liam dengan sedih, Liam lagi-lagi tidak memperdulikannya tapi dia akan membantunya untuk mendapatkan hati Liam.


"Aku mencintaimu Liam"

__ADS_1


************


__ADS_2