
Alessia, Hanna, dan Liam makan siang bersama di salah satu restoran di London. Mereka sudab seperti keluarga tapi Alessia tidak bisa konsetrasi, dia memikirkan Leon. Dosen yang mampu membuat jantungnya berdebar, dia bingung sendiri dengan perasaannya.
"Sayang," panggil Liam pada Alessia tapi yang dipanggil tidak memberikan respon.
"Mama... Mama!" Teriak Hanna.
Alessia terkaget saat mendengar teriakan Hanna memanggilnya.
"Eeh ada apa nak?" ujar Alessia salah tingkah.
"Mama kok diam aja sih?" tanya Hanna.
"Mama lagi mikiran tugas kuliah sayang...," ujar Alessia mencari alasan.
Alessia melihat Liam, terlihat raut wajah laki-laki itu tak suka dengan Alessia seperti itu.
"Kamu kenapa? Apa perlu aku bantu tugas kuliahmu?" tanya Liam.
"Ga apa-apa kok Liam, aku bisa mengatasinya ada Yana juga yang membantuku," ujar Alessia.
"Yana teman kamu sepertinya baik tapi kamu harus tetap berhati-hati tidak semua orang itu baik di depan dan di belakang," ucap Liam yang khawatir pada Alessia.
"Terima kasih Liam,"
"Tidak perlu berterima kasih padaku sayang, sudah kewajibanku sebagai tunanganmu untuk menjaga dan melindungimu. Aku mencintaimu Ale,"
Alessia hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Liam, dia tidak bisa membalas ucapan cinta Liam karena dia tidak merasakan perasaan seperti yang Liam rasakan.
Setelah makan siang bersama Liam memutuskan membawa mereka jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan di sana. Hanna sangat bahagia, Liam selalu menuruti semua keinginnya gadis kecil itu.
"Liam aku mau ke toilet dulu yaa," ujar Alessia.
"Aku antar ya," kata Liam.
"Ga usah Liam, kamu temani Hanna aja beli mainan. Nanti dia ngambek loh,"
"Tapi aku—"
"Udah sana, tuh si Hanna udah milih-milih mainan," ujar Alessia tertawa melihat gadis kecilnya berlari menuju toko mainan.
"Yaa udah, kamu aku tinggal sebentar yaa,"
"Siap bos,"
"Om sini," panggil Hanna sambil melambaikan tanggannya.
"Iya tunggu sebentar," jawab Liam.
"Tuh udah di cari," ujar Alana.
Liam tersenyum melihat Alessia dan berjalan menuju toko mainan.
"Om aku mau boneka ini," ujar Hanna saat melihat boneka teddy bear.
"Ambilah apapun yang Hanna mau," ujar Liam.
__ADS_1
"Asyiiik terima kasih om," ujar Hanna yang langsung sibuk memilih mainan yang lainnya.
Alessia berjalan mencari toilet di area pusat perbelanjaan. Saat dia keluar toilet ada Leon disana diluar pintu toilet.
"Hey kita ketemu lagi teman sekampung," tegur Leon yang berpura-pura terkejut ada Alessia disana.
Alessia juga sama dia sangat terkejut ada Leon yang sekarang tepat berada di hadapannya.
"Eeh pak Leon, anda disini juga?" Ujar Alessia gugup.
"Jangan memanggil aku pak dong kalau diluar kampus, panggil Leon aja,"
"Tapi kan ga enak pak,"
"Dienak-enakkin aja, eeh iya kamu kesini ngapain? Sendirian ga?" Tanya Leon.
"Aku dengan putriku pak eeh Leon," jawab Alessia salah tingkah. Entah mengapa menyebut nama Leon tanpa panggilan pak membuat jantungnya berdebar-debar.
"Kamu sudah menikah?" ujar Leon pura-pura terkejut.
"Bukan seperti itu pak tapi anak memiliki seorang putri angkat,"
"Kamu baik sekali dan sangat cantik," ujar Leon melihat Alessia dengan intens.
Mata Alessia dan Leon saling bertemu, mereka saling bertatapan. Alessia terpanah melihat Leon, dia seperti melihat ada kesedihan dan kerinduan di mata indah itu.
Tiba-tiba ponsel Alessia berbunyi... Alessia sangat kaget mendengar suara ponselnya sendiri.
Alessia melihat nama Liam di layar ponselny.
"Ma--maaf saya harus pergi," ujar Alessia gugup.
"Hmm a--aku...
Belum sempat Alessia menjawab, Leon langsung merebut ponsel dari genggaman tangannya. Alessia sangat kaget dia berusaha mengambil ponselnya dari tangan Leon tapi yang ada Alessia
memeluk Leon karena Leon menyembunyikan ponselnya dibelakang tubuhnya.
Alessia kaget sendiri karena tanpa sengaja dia memeluk Leon. Alessia menengadahkan kepalanya ke atas melihat Leon.
"Cup"
Leon mengecup bibir Alessia.
Alessia membulatkan matanya, dia sangat terkejut Leon mengecup bibirnya walau hanya sesaat.
"Ini ponselmu dari tadi berisik banget," ujar Leon dengan santai memberikan ponsel Alessia.
Alessia hanya bisa terdiam, dia merasa kejadian ini pernah dia alami.
"Jangan diam kayak patung gitu dong, aku pergi dulu yaa sampai jumpa di kampus," ujar Leon dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Leon memang sengaja mengikuti Alessia semenjak istrinya itu dari kampus dan di jemput oleh Liam. Leon hanya bisa menahan rasa marah dan cemburunya saat melihat istrinya, anaknya dan adiknya makan siang bersama. Seharusnya dia yang berada di antara keluarganya bukan Liam adiknya sendiri. Leon juga mengikuti Alessia dan menunggunya di luar toilet, ini lah kesempatannya untuk bisa mendekati Alessia kembali.
Setelah kepergian Leon, Alessia mengerjap kan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Ale," panggil Liam yang menyusul Alessia bersama Hanna.
"I--iya," jawab Alessia gugup.
"Kamu kenapa? Kok lama banget di toiletnya?" Tanya Liam curiga.
"Ga apa-apa, udah selesai sayang beli mainannya?" Ujar Alessia yang berusaha mengalihkan pertanyaan Liam.
"Udah mama... lihat yang dibawa om, banyak banget kan ma. Mama pulang yuuk," ujar Hanna dengan riang gembira.
"Iya yuk kita pulang,"
Liam memperhatikan Alessia, ada apa dengannya? Kenapa wanita yang dia cintai itu jadi berbeda tidak seperti biasanya?
Malam harinya...
Alessia tidak bisa tidur di dalam kamarnya, pikirannya hanya tertuju pada Leon. Pria yang baru dia kenal itu berada di dalam pikirannya dan sulit untuk dilupakannya.
Tok...tok...
Suara pintu kamar Alessia ada yang mengetuknya, Alessia yakin itu Liam.
"Yaa Liam," ujar Alessia melihat Liam.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Liam.
Alessia dan Liam berbicara di ruang tamu berdua.
"Besok pagi aku harus kembali ke Jakarta," ujar Liam memulai pembicaraan mereka.
"Ooh iya," jawab Alessia.
"Aku ingin kamu ikut aku ke Jakarta bersama Hanna,"
"Maaf Liam, kuliahku sebentar lagi akan selesai," tolak Alessia.
"Aku ingin kita segera menikah,"
"Jangan seperti itu Liam, ijinkan aku menyelesaikan kuliahku dulu baru menikah,"
"Tapi sampai kapan?"
"6 bulan lagi aku akan wisuda,"
"Baiklah aku akan menunggu 6 bulan lagi setelah itu kita menikah,"
"Iya,"
"Aku mencintaimu Ale,"
"Terima kasih atas cintamu padaku Liam," ujar Alessia yang tidak enak sendiri mendengarkan berkali-kali Liam mengatakan cinta padanya.
"Hmm Liam aku mau istirahat dulu yaa," ujar Alessia melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Liam hanya bisa diam mendengar perkataan Alessia, jujur saja dia sangat kecewa pada Alessia. Sudah 2 tahun dia selalu menemani Alessia tapi wanita itu tidak membalas perasaannya.
__ADS_1
"Belajarlah untuk mencintaiku Ale," ujar Liam sedih.
***********