Terpaksa Menikahi Sang Dokter

Terpaksa Menikahi Sang Dokter
Pilihan yang salah


__ADS_3

Leon baru saja di tiba dibandar udara Internasional Adelaide. Dia menunggu Sesil di salah satu kafe di bandara, Sesil terlambat. menjemput Leon.


Dokter Sesil tersenyum melihat laki laki itu duduk di sebuah kafe di bandar udara internasional Adelaide. Lelaki itu masih seperti dulu memiliki wajah tampannya seakan tak pernah memudar sedang duduk di kursi roda.



"Selamat datang Leon" ujar Sesil begitu bertemu dengan Leon.


"Terima kasih Sesil sudan menjemputku"


"Leon ada yang ingin ku sampaikan padamu tentang dokter Willy" ujar Sesil ragu.


"Dokter Willy tak bisa menemaniku ke sini, dia berangkat ke Tiongkok dan ak bersama seorang asisten dokter Willy yang akan membantuku selama aku berada di Adelaide " ujar Leon menjelaskan pada Sesil.


"Iya Leon, dokter Willy memang sudah mengatakan padaku kalau beliau memang mau ke Tingkok ada beritayang ingin ku sampaikan padamu Leon tentang dokter Willy"


"Ada apa Sesil?"


"Pesawat dokter Willy ke Tiongkok mengalami kecelakaan" ujar Sesil dengan pelan.


"Apa!!!"


Leon melihat berita kecelakaan pesawat dari Indonesia ke Tiongkok dan melihay nama nama korban di sana. Terdapat nama Willy Sutomo dan Leonard Geraldo sebagai korban yang tidak selamat.


Leon memejamkan matanya dia tak menyangka semua ini akan terjadi. Dia dan dokter Willy memang merencakan tentang kepergiannya ke Tiongkok untuk mengelabui keluarganya. Dokter Willy memesan tiket pesawat atas nama Leon dan Willy. Dokter Willy yang berangkat sendiri ke sana karena ada urusan perkerjaan dan tidak bersama Leon. Sedangkan Leon berangkat ke Adelaide Australia bersama Jonas asisten dokter Willy.


"Aku yang salah, aku tak menyangka semua ini terjadi" ujar Leon dengan sedih.


"Ada apa sebenarnya ini Leon? Kenapa kalian merencakan semua ini" ujar Sesil penasaran.


Leon menceritakan tentang kejadiannya dan semua rencananya pada Sesil. Sesil mengerti keadaan Leon dan semua permasalahannya.


"Tapi apa tidak sebaiknya kamu mengabari keluargamu dan istrimu di Jakarta. Mereka pasti sangat khawatir dengan keadaanmu Leon, pasti semua sangat terluka dengan kabar kecelakaan pesawat itu" Sesil memberi saran pada Leon.


Leon hanya diam, dia yakin semua keluarganya sangat berduka. Terutama Alessia, Alessia pasti sangat sedih.


"Nanti aku akan menghubungi keluarga ku" ujar Leon lirih.

__ADS_1


"Jangan nanti Leon tapi sekarang!!" Bentak Sesil.


"Tapi aku..."


"Apa kamu punya anak Leon?" tanya Sesil lagi.


"Iya... putriku berumur 2 tahun"


"Apa kamu akan membiarkan putrimu jadi anak yatim? Orang orang pasti menyangka kamu menjadi korban Leon!!"


"Aku belum bisa pulang dengan keadaan seperti ini Sesil. Aku bukan suami dan ayah yang sempurna untuk istri dan anakku"


"Jika istrimu mencintaimu, dia tak akan memandangmu hanya dari fisik Leon!! Dia akan menerima segala kekurangan dan kelebihanmu"


"Sudah lah Sesil jangan ikut campur urusan rumah tanggaku!!! Itu urusan pribadiku dan kamu hanya sebagai dokter yang akan menangani pengobatanku saja"


"Kamu benar benar egois Leon!!! Untung aku bukan istrimu. Jika aku istrimu punya suami egois sepertimu sudah ku tinggalkan kamu" kata Sesil dengan emosi.


"Untung kamu bukan istriku jadi berbeda. Aku tau siapa istriku dan aku sangat mengenal sifatnya"


"Semoga kamu tidak menyesali semua keputusanmu ini Leon. Aku sudah memberitahukan mu. Wanita itu butuh kepastian bukan hanya harapan dan kamu di mata keluargamu sudah mati" ujar Sesil dengan terus terang. Dia sangat kesal dengan Leon, walau Leon temannya tapi dia tak bisa menerima hal tersebut jika jadi istri Leon.


"Tunggu papa putriku sayang... papa akan segera kembali saat papa sudah layak untuk bertemu dengamu lagi" ujar Leon di dalam hatinya.


Leon tinggal bersama Johas di apartement dekat dengan rumah sakit, Sesil yang sudah mengurus semuanya. Sesil berharap Leon memiliki semangat karena faktor pikiran sangat mempengaruhi mental seorang pasien.


***********


Tiga hari kemudian.


Selama tiga hari Alessia terus menangis, dia selalu ingin pergi ke bandara untuk mengecek tentang data korban tapi Luis melarangnya, Luis tak akan membiarkan Alessia seperti itu. Dia yakin Alessia pasti hanya akan histeris.


Alessia terus menangis di dalam kamarnya, dia tak menyangka Leon begitu cepat meninggalkannya. Semua keluarga menjadi sedih dan sangat sedih, Bella juga berkali kali pingsan dan Luis mencoba untuk tegar dalam menghadapi masalah mereka.


Hanna yang belum mengerti dengan keadaan terus menangis meminta bertemu dengan Alessia.


"Mama... mama tenapa nangic, mama jangan cedih" ujar Hanna menghapus air mata yang jatuh di pipi Alessia.

__ADS_1


"Mama sangat sedih sayang... papamu sudah meninggalkan kita selamanya" ujar Alessia.


"Memang papa temana ma? Butannya papa di lumah catit lagi atit" ujar Hanna yang belum mengerti dengan apa yang terjadi.


"Papa pergi ke surga sayang... Sekarang papa sudah sehat dan ga merasakan sakit lagi" ujar Alessia dengan isak tangisnya.


"Apa papa udah ga jahat lagi ma? Papa udah baik lagi ma?"


"Papa ga jahat nak, papa waktu itu hanya sedang sakit. Papa sangat sayang dan baik sama Hanna"


"Aciiik papa udah ga jahat lagi tapi ma tenapa papa malah pelgi ke culga? Tenapa ga pulang kelumah? Culga itu dimana ma? Tapan tita ke culga tetemu papa. Atu tangen cama papa" ujar Hanna dengan raut wajah sedih.


Alessia tidak dapat menjawab pertanyaan Hanna, sangat menyakitkan baginya menjawab semua pertanyaan Hanna. Alessia menangis sambil memeluk tubuh gadis kecilnya dengan erat.


Liam menyadari ada yang salah menurut informasi yang di dapatkan dari salah kenalannya, mengatakan memang ada nama dokter Leon dan dokter Willy di sana. Juga sudah melakukan check in tapi menurut cctv bandara tak terlihat Leon masuk ke dalam ruang tunggu pemberangkatan ke Tiongkok.


Liam juga sudah mendapatkan nama Leonard Geraldo melakukan penerbangan di hari yang sama ke Adelaide Australis, ada bukti cctv nya seseorang mirip Leon walau memakai topi tapi pakai kursi roda menaiki pesawat yang berbeda. Liam yakin pasti Leon bukan salah satu korban dalam kecelakaan pesawat ke Tiongkok.


Jika memang benar Leon bukan salah satu korban kecelakaan pesawat tapi kenapa sampai sekarang tidak ada kabar dari Leon? Apa mungkin Leon dengan sengaja pergi meninggalkan keluarganya? Kenapa Leon menjadi seseorang yang berbeda dan tidak bertanggung jawab seperti sekarang? Liam tak bisa menjawabnya, dia hanya mampu menebak menebak sendiri dalam pikirannya.


"Selidiki terus dimana Leon? Jika memang kamu harus pergi ke Australia cepat pergi kesana dan selidiki apa yang sebenarnya terjadi" ujar Liam pada berbicara di telepon dengan seorang pria.


"Baik pak Liam saya akan menyelidiki semuanya dan akan memberikan kabar terbaru pada anda"


Liam menutup teleponnya, dia belum memberitahukan pada papa dan mama nya tentang hal yang dia ketahui. Setelah dia tahu pasti baru, dia akan memberitahukan keluarganya tentang hal yang sebenarnya.


1 minggu kemudian...


Keluarga Geraldo mengadakan pemakaman secara simbolis untuk menggenang kematian Leon. Walau jasad Leon dan dokter Willy tidak dapat di identifikasi karena pesawat yang meledak dan tak ada satu penumpang pun yang selamat dari kecelakaan tersebut.


Semua keluarga menghadiri upacara simbolis pemakaman Leon. Tak ada yang tak menangis, semua menangis dengan sedih, Luis memeluk Bella dengan erat. Alessia duduk memangku Hanna dengan tatapan kosong, dia seakan tak punya gairah untuk hidup. Separuh jiwa nya pergi dengan meninggalnya Leon.


Liam melihat Alessia menjadi sangat sedih, dia bingung harus bagaimana dengan Alessia.


2 jam kemudian...


Semua keluarga sudah kembali ke rumah Luis. Hanna di bawa Bella dan Luis, mereka mengerti pasti Alessia ingin sendiri. Mereka sangat memahami keadaan Alessia sekarang ini.

__ADS_1


Liam mendengar suara teriakan histeris bi Wati asisten rumah tangga mereka dari kamar Alessia. Dia bergegas menuju kamar dan melihat tangan Alessia berlumuran darah, Alessia mengiris urat nadi di tangannya untuk mengakhiri hidupnya.


***************


__ADS_2