Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Tetangga Jadi Suami


__ADS_3

Eps. 1


Pagi yang cerah untuk mengawali kisah romantis ini. Siapa sangka tetangga yang setiap harinya selalu di sapa dengan panggilan Mas Arga kini menjadi suami sah dari seorang gadis muda bernama Jihan.


"Mas Arga bangun mas,, sudah hampir jam tujuh loh," Jihan membangunkan suaminya sembari menggoyangkan tubuh kekar itu.


Yang tubuhnya di goyangkan hanya menggeliat tidak jelas, namun masih memejamkan mata malas. Dan malah berpindah posisi tidur jadi tengkurap.


"Duh habis sudah kesabaranku ini, mas ini setiap kali dibangunin susah banget sih," memukul mukul dengan bantal punggung Arga yang tak mengenakan pakaian.


Namun pukulan itu seolah bagaikan kapas yang tak berasa apapun di tubuh Arga. Hingga membuat pria itu hanya menyunggingkan senyum dibalik bantal yang ia gunakan untuk menutup wajahnya.


"Mas, aku tinggal berangkat ke sekolah beneran loh kalau gak bangun juga."


Jihan berdiri di samping ranjang sembari membenarkan seragam sekolah putih abu-abu yang ia kenakan.


Tak mendapat respon apapun dari Arga, Jihan berdecak kesal. "Aku hitung sampai lima, kalau mas gak bangun beneran aku tinggal. Biarin aja gak salam yang penting aku udah capek bangunin mas!" Bentak Jihan.


"Aku hitung ya mas, satu, dua, tiga, empat! Satu lagi mas gak bangun aku berangkat," Jihan mulai menyangklong tasnya bersiap ingin meninggalkan kamar.


"Li..!" Tepat saat Jihan akan menghitung terkahir kalinya. Arga membalikkan tubuhnya dan meraih tangan Jihan lalu menariknya jatuh ke dalam pelukannya.


"Loh mas, mas aku mau berangkat sekolah lepasin!" Jihan memukul mukul lengan Arga.


Arga tak menghiraukan pukulan dan teriakan Jihan, malah semakin mempererat dekapan tangannya di tubuh mungil itu.


Kini tubuh Jihan sepenuhnya berada dalam dekapan Arga. Arga terlihat masih memejamkan matanya sembari mendekatkan hidungnya ke telinga Jihan dan mengendusnya.


"Kamu wangi banget sih," hidung dan mulut Arga masih berada di dekat telinga Jihan, mengendus aroma wangi yang tercium dari balik rambut Jihan yang terikat.


"Iya lah aku sudah mandi mas, gak kayak mas Arga bau. Sudah sana lepasin!," Jihan meronta ingin melepaskan diri. Arga tak memperdulikannya malah menurunkan penciumannya ke lekuk leher Jihan.


Jihan terkekeh ketika Arga menggesekkan kumis tipisnya di area sekitar leher. "Mas jangan gitu geli banget. Cukup mas!"


"Habisnya kamu wangi banget. Mau berangkat sekolah kenapa pakai wangi wangi segala, hmm." Arga memberikan kecupan kecil di leher putih Jihan.


"Hentikan mas, geli tauu," Jihan menggeliat geli merasakan kumis Arga yang baru tumbuh akibat beberapa hari tidak dicukur.


"Tidak mau!" Tolak Arga masih mengecup setiap area sekitar leher Jihan.


"Mas kalau gak berhenti, aku bisa telat ke sekolah. Sudah ya ini menggelikan juga. Kumis mas cukur dulu."


"Cukur kan ya," kini ciuman Arga berpindah ke pipi Jihan. Arga merubah posisinya menjadi menghimpit tubuh Jihan.


Jihan yang berada dalam kungkungan tubuh Arga merasa panik, dirinya bisa menduga hal apa selanjutnya yang mungkin terjadi jika tidak menghentikan suami manja nya ini.


"Mas aku mau sekolah, nanti saja ya. Ini sudah siang. Plis,'' memohon dengan tatapan melas.


Arga memandangi wajah istri kecilnya yang terlihat imut jika sedang memohon. Menatapnya lekat. Sembari pandangannya menyapu hingga tertuju dengan pakaian yang dikenakan Jihan.


"Mau berangkat sekolah kok cantik sekali sih. Nanti kalau di lirik teman laki-laki bagaimana?"


"Apanya yang cantik sih mas. Aku berdandan kayak biasanya kok. Sama aja ih," Jihan sedikit mendorong tubuh Arga memberikan ruang untuk bernafas. Jarak antara wajah Jihan dan Arga sangat dekat sebelumnya.


Arga menatap dengan tatapan menyelidik, "Enggak sayang, kamu terlihat lebih cantik dari biasanya. Kamu pakai pelet apa sih. Coba aku periksa."


Arga menyentuh nyentuh pakaian Jihan, dirinya memeriksa setiap sudut tubuh sang istri. Tapi tak menemukan apapun.


"Mas apaan sih, jangan sentuh yang itu. Mas geli! Cukup! Hahaha," Jihan tertawa geli. Saat tangan Arga hendak membuka kancing seragam sekolah Jihan, gadis itu mendorong dengan kuat dada bidang Arga. Hingga membuat pria itu terjungkal ke samping


Jihan mengambil kesempatan itu untuk bangun dari ranjang, dan merapikan seragam yang sudah amburadul akibat ulah si suami durjana.

__ADS_1


"Gara gara mas kan pakaian ku kusut lagi. Aku hampir telat mas," Jihan mengomel sembari merapikan rambut nya.


Arga melipat tangannya untuk menyangga kepala dan masih berbaring miring di ranjang. Menatap sang istri yang menurutnya amat menggemaskan jika sedang kesal akibat ulahnya.


"Hahaha," tawa puas dari mulut Arga. Dan membuat Jihan semakin kesal.


"Mas kok malah ketawa sih. Apanya yang lucu," melotot tajam ke arah sang suami.


"Kamu itu sayang," masih menahan tawanya.


"Apa mas? Ada yang salah kah? Apa bedakku cemong ya? Ih kan gara-gara mas ini." Jihan beralih menuju cermin besar dilemari. Kemudian berkaca wajahnya mencari hal lawak apa yang ditertawakan sang suami.


Arga bangkit dari tempat tidur, berjalan menghampiri sang istri yang tengah bercermin. Kemudian melingkarkan tangannya di perut Jihan.


"Gak ada yang lucu sayang. Tapi kamu buat aku gak tahan untuk melepaskanmu hari ini."


Wajah panik Jihan mulai terpancar. Gadis itu benar-benar dibuat panas dingin dengan tingkah suami manjanya.


"Sini aku bantu ya," tangan Arga mulai menyusuri pakaian yang dikenakan Jihan.


"Heh mas, mau ngapain tangannya kok raba raba sih," Jihan menyekal tangan Arga.


"Bilang seragamnya kusut, sini aku bantu rapikan."


Tangan nakal itu masih usil menggoda dan menyentuh nyentuh setiap lekuk tubuh Jihan.


Padahal yang kusut itu bajunya loh mas Arga, kenapa yang dipegangi malah lainnya? Batin Jihan.


Jihan hampir saja terhanyut dalam buaian sang suami, jika saja tidak sadar karena melirik jam dinding sudah pasti Jihan akan terlambat ke sekolah.


"Mas cukup, sudah siang banget. Aku harus ke sekolah hari ini ada guru killer."


Buru buru Jihan meraih tas nya kembali sembari bercermin beberapa kali untuk memastikan bahwa dirinya sudah rapi kembali dan kancing seragamnya berada pada tempatnya.


"Mas aku berangkat ya, mas jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat kerja. Bekalnya juga sudah aku siapin diatas meja, nanti masukkan sendiri ya. Aku udah telat ini gara-gara mas."


Jihan itu bener bener cerewet dalam urusan mengurus keperluan sang suami tapi Arga sangat suka dengan perhatian yang diberikan sang istri.


"Iya-iya sayang, mas ingat kok. Padahal aku kan mau sarapannya makan kamu tadi."


"Masss!" Jihan merengek. "Bisa gak masuk sekolah aku nanti."


"Haha iyaa iya sayang lucu banget sihh, tunggu sebentar aku antar ke depan ya."


"Ha? Dengan tubuh polos ini? Mas cuma pakai celana bokser doang. Nanti kalau dilihat janda bodong kayak mana?"


"Haha ya enggak sayang, aku pakai baju ni, nih liat aku pakai kaos," Arga meraih kaos didekat ranjang tidur dan memakainya.


"Nah gitu kan aku gak khawatir tubuh mas dilirik sama janda bodong bisa sarapan mata dong dia nanti lihat mas telanjang dada," berkata dengan ketus.


Arga tergelak karena tingkah lucu istrinya yang semakin imut saat mencemburui dirinya.


Kini mereka berdua telah berada di depan halaman rumah, terlihat Rani sahabat dekat Jihan telah stay sedari tadi menunggu sahabatnya keluar rumah. Rani sudah paham betul akan kebiasaan sahabatnya jika berangkat sekolah pasti si suami menyusahkan dirinya dengan beraneka ragam drama percintaan.


Arga menyodorkan tangannya dan di raih oleh Jihan. Kemudian mengecup punggung tangan Arga. "Aku berangkat dulu ya mas," sembari memperlihatkan senyum cantiknya.


"Duh gimana aku tega melepas kamu keluar rumah kalau kamu semanis ini sayang." Mengusap lembut pipi Jihan kemudian mengecupnya cukup lama dengan penuh cinta.


"Kan aku sekolah cuma tinggal beberapa bulan lagi dan lulus mas. Setelah itu dirumah aja nemani mas Arga."


Senyum lagi dengan sangat cantik.

__ADS_1


"Ckk dasar pencuri! Kamu cantik banget sayang, aku gak tahan. Sudah sana cepat berangkat. Atau nanti aku gak akan lepasin kamu." Arga mendorong pelan tubuh Jihan hingga membuat gadis itu terdorong beberapa langkah kedepan.


"Mana ada pencuri secantik aku mas," Jihan masih mencoba menggoda pertahanan suaminya dengan sedikit mengibas ngibaskan rambutnya yang terkuncir.


"Ada, ya kamu itu. Pencuri hati! Dasar licik! Istri jahat kamu," berlagak sok tersakiti. "Sudah sana pergi,, husshh sana."


Mengkibaskan tangannya mengusir Jihan.


Dasar mas Arga, tadi berlagak sok gak mau ditinggal sekarang malah ngusir sesuka jidatnya. Huhhh.. batin Jihan.


"Haha iyaiya. Aku berangkat. Jangan lupa pesanku tadi ya mas."


"Iya aku ingat hati-hati di jalan sayang."


Jihan melangkahkan kakinya semakin menjauh dari pekarangan rumah, tapi dirinya masih belum membalikkan tubuh. Jihan berjalan mundur dengan pandangan yang masih melihat kearah sang suami.


Baginya sangat menyenangkan sekali melihat raut wajah itu setiap hari jika ingin berangkat sekolah. Jihan tak tahan jika tak melihat wajah Arga yang sangat sedih hingga membuat hati Jihan geli, dengan tingkah manja suaminya yang hampir setiap pagi tidak mau ditinggal.


"Sudah sana jangan lihat ke belakang teruss, mau aku makan kah?" Teriak Arga dari depan pintu. Kini Arga menutup mata dengan tangannya tak sanggup menyaksikan istrinya berangkat sekolah. Padahal hanya sebentar untuk pergi ke sekolah saja tapi baginya perpisahan itu lama.


"Haha iyaiya mas, mas Arga lucu banget sih. Jadi gak tega deh." Jihan masih menggoda suaminya. Dirinya melambaikan tangan dan memberikan kecupan ditelapak tangan lalu meniupkannya ke udara. Arga meraih kecupan dari istrinya itu kemudian menyimpannya dalam dada.


"Sayang, jangan diteruskan lagi. Atau ku gendong kamu nanti masuk lagi kedalam rumah lagi," ancam Arga. Jihan malah menjulurkan lidahnya mengejek sang suami.


Arga benar-benar tak tahan dengan keimutan sang istri, jika saja dirinya tak mendengar ucapan Jihan yang mengatakan akan ada guru killer maka Arga tidak akan membiarkan Jihan berangkat ke sekolah hari ini.


Rani yang melihat keuwuan pasangan itu dibuat baper. "Ekhem,, masih pagi sudah jadi obat nyamuk aja nih. Lama-lama pak RT ku suruh mengadakan fogging nanti, ya."


Jihan terkekeh dan menghampiri sahabatnya itu, "Maaf ya Ran, biasa mas Arga memang begitu," Jihan jadi tak enak hati karena memperlihatkan kemesraan pada sahabatnya yang masih jomblo akut tersebut. Sedangkan dirinya malah sudah bersuami tetangganya sendiri pula.


"Gak papa, gak papa Its okay, aku paham. No problem my besty. Aku kuat kok." Ucap Rani untuk memberikan kekuatan pada dirinya sendiri agar tahan godaan dunia ini.


Namanya juga ngontrak di bumi, jadi harus sabar dan tahan godaan. Batin Rani. Yang mendadak merasa terzolimi karena berada diantara dua insan yang tengah bucin bucinnya.


Jihan telah naik ke sepeda motor yang Rani kendarai. Sebelum Rani menyalakan mesin motornya, Arga masih sempat sempatnya berkata. "Ran, jaga istriku ya. Jangan sampai dia lecet sedikitpun. Nanti aku tambahi uang jajan kamu."


"Wah beneran kah pak suami? Baiklah komandan aku akan menjaga nyonya istri dengan aman," jawab Rani dengan riang.


"Iya kayak biasa. Jagai jangan sampai ada laki-laki yang dekati istriku! Awas sampai ada yg berani menyentuh nya, jangankan menyentuh. Ada yang menatapnya lebih dari tiga detik kamu harus lapor aku ya! Dan ya, gak hanya natap, ada yang ngelirik pun kamu harus lapor aku, kalau bisa congkel aja matanya!."


Arga mulai menunjukkan keposesifannya, dirinya benar benar tak terima jika sang istri diminati laki-laki lain. Meskipun Arga tak bisa selalu mengawasi gerak-gerik sang istri selama di sekolah. Namun dirinya mempunyai mata-mata yang cukup bisa diandalkan yakni Rani.


"Iya-iya Pak suami, istrimu aman sama aku. Asal ininya nambah ya. Kerja berat ini soalnya." Rani menggesekkan antara jari telunjuk dan jempol nya meminta bayaran di tambahkan.


"Tenang, nanti aku kasih gajimu."


Jihan hanya menggeleng gelengkan kepala, dia sudah paham betul tingkah kocak antara suami dan sahabatnya. Bagi Jihan itu sudah hal biasa, jika Arga memberikan uang saku lebih untuk Rani hanya untuk meminta menjaga Jihan dari laki-laki di sekolah mereka.


"Kita berangkat ya mas, dadaa," Jihan melambaikan tangan.


"Berangkat dulu pak suami." Pamit Rani sembari membunyikan klakson motornya dan menarik gas motor melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah Jihan.


"Baik banget suami mu Han, bisa kaya mendadak loh aku cuma gara-gara selalu ada untukmu selama setengah hari di sekolah. Hahah,'' tawa Rani. Baginya sebuah anugerah besar bisa antar jemput Jihan setiap hari kesekolah, dan juga selalu berada di manapun Jihan berada. Karena uang sakunya terus bertambah akibat kebaikan Arga.


"Hmm enak yaa, belum lulus sekolah udah berpenghasilan milyaran rupiah," ejek Jihan sembari sedikit menoyor kepala Rani dari belakang, terlihat Rani sangat hati-hati saat membonceng Jihan. Kecepatan sepeda motornya bahkan tak bertambah sama sekali masih dalam kecepatan sedang.


Bahkan dirinya tak peduli jika harus telat asalkan temannya itu aman.


Rani terpekik, "iya lah cuma sama pak suami, si mas Arga mu iitu aku bisa jadi orang kaya mendadak," berkata sambil mengelus kepalanya yang tadi di toyor Jihan.


"Dasar! Pemanfaatan dalam rumah tangga teman." Dan akhir pembicaraan itu diakhiri dengan canda tawa kedua sahabat karib sebangku sekelas sehidup seperjuangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2