
Matahari nampak begitu indah menyilaukan sinar hangatnya. Kicauan burung burung kecil di luar sana berbaur dengan rintikkan embun yang segar.
Hari yang tidak begitu sibuk namun masih harus melakukan aktivitas. Sepasang suami istri yang masih berkemul dibawah selimut tebal nan hangat, enggan bangun dan masih berpelukan satu sama lain.
Entah tadi malam sampai pukul berapa kasur mereka berhenti bergoyang. Malam itu terasa sangat panjang dan melelahkan. Jihan benar-benar letih. Suaminya sudah mirip seperti harimau kelaparan, tidak membiarkan dia tidur semalaman.
Arga membuka mata lebih dulu, dilihatnya sang istri masih terpejam. Dipandangi wajah lesu yang tetap terlihat cantik itu.
"Manis, tidur saja masih terlihat cantik,” Arga merapikan rambut jihan yang sedikit berantakan.
Laki-laki itu memeluk sang istri, sambil diciumnya pipi kanan dan pipi kiri Jihan. Gadis itu menggeliat kegelian.
Arga tersenyum, ide jahil pun muncul lagi. Dia cium lagi sana sini, sampai berhenti pada pipi gembul Jihan lalu menggigitnya gemas.
“Shhtt, sakit,” desis Jihan. Arga malah tertawa.
Gadis itu membuka mata, langsung menatap tajam kepada harimau yang sudah mencabik-cabik dirinya semalaman.
“Mas mau apa ssih??”
Arga tersenyum membalas perkataan istrinya, “Mau kamu lagi.”
“Jangan maniak! Sudah semalaman nggak kasih aku istirahat sekarang mau mulai lagi.”
“Haha,, siapa suruh istriku begitu menggemaskan, salahkan dirimu kenapa bisa seperti ini,” gemas-gemas sambil mencubit pipinya.
“Sakit masssss!!!!”
Arga hanya tertawa, Jihan jadi kesal dia ingin bangun namun badannya terasa sangat pegal.
Apakah begini rasanya malam pertama?
Dia pun tidak jadi bangun malah kembali membungkus tubuhnya dengan selimut.
“Aku tidak masuk sekolah ya mas, badanku cape semua.”
Arga meraih tubuh sang istri kemudian mendekap dari arah belakang.
“Maaf ya, sayang. Maafkan aku.” Hanya kata itu yang bisa ia katakan. Merasa bersalah sudah membuat istrinya seperti ini.
Namun Jihan menanggapinya dengan senyuman.
"Jangan minta maaf mas, sudah jadi kewajibanku untuk melayani mu.”
Arga terenyuh dengan apa yang dikatakan Jihan, tidak menyangka istrinya ternyata bisa menyikapi dengan sangat dewasa.
“Kalau begitu tidak apa-apa kamu istirahat saja hari ini. Nanti aku hubungi temanmu bilang kalau kamu sedang tidak enak badan.”
“Tapi aku kan nggak sakit mas, berbohong nanti jadi sakit beneran gimana?”
“Siapa yang bohong? Kan benar kamu kecapean jadi kurang fit, gara-gara semalam habis…” ucapannya tergantung buru buru Jihan menyahut.
“Cukupp mas jangan bilang seperti itu, aku malu,” menutup wajahnya dengan selimut.
Arga tertawa gemas.
“Mas ini ya ketawa terus dari tadi, senang banget jahili istrinya.”
Arga semakin mengeratkan pelukannya.
“Terimakasih sayangku….” Arga mengecup pundak istrinya.
Mereka berdua tidak jadi bangun, setelah memberitahu Rani untuk membuat surat ijin, Arga juga menelpon rekannya, minta untuk menukar sift. Dia yang seharusnya hari ini masuk sift pagi minta ditukar ke sift malam saja.
Arga menggenggam tangan Jihan, menciumnya beberapa kali.
"Mas, nanti bagaimana kalau aku hamil?”
Bukannya menanggapi serius pria itu justru terkekeh, "Ya bagus dong sayang."
Jihan mencubit perut Arga karena gemas, "Jangan tertawa!!"
__ADS_1
"Haha habisnya kamu lucu, hamil ya tinggal hamil saja. Kan ada suaminya, kecuali tidak ada suaminya."
"Tapi kan aku masih sekolah mas."
"Jangan khawatir, aku sudah berjanji kedepannya akan menghadapi apapun bersama kamu. Aku pasti bertanggung jawab melindungi kamu," balas Arga tersenyum.
"Iya? Gimana caranya coba?"
Pria itu mencubit gemas hidung sang istri. "Menantang ku ya? Oke aku akan buktikan. Intinya aku hanya akan memastikan bahwa yang terjadi di sekitarmu hanya ada hal-hal yang baik saja."
Hati nya senang mendengar ucapan sangat suami. Jihan berharap jika itu bukan hanya sekedar ucapan melainkan dibuktikan dengan tindakan juga.
"Terimakasih ya mas, aku cinta banget deh sama mas Arga."
"Apa? bilang apa sayang tidak dengar. Dekat sedikit coba."
Jihan menggeser tubuhnya lebih dekat lagi, "Aku bilang aku.. "
Belum selesai bicara, Arga langsung mencium bibir istrinya cukup lama. Mereka berdua berpelukan.
''Jika bawa lampion bisa menemukan orang yang lebih baik dari kamu, aku nggak mau sayang."
Jihan mengerutkan dahinya, "Jadi mas mau cari yang lebih baik dari aku?"
"Aku bilang tidak mau! dan tidak akan! karena tidak ada lagi yang seperti kamu. Di dunia ini cuma satu saja yang bar-bar seperti ini," Arga terkekeh lagi.
"Lihat saja kalau mas berani cari orang lain, akan ku bakar pabrik lampion itu."
Keduanya saling lempar pandang kemudian tertawa terbahak-bahak. Kebahagiaan akan lebih lengkap jika satu sama lain saling terbuka. Itulah yang mereka rasakan.
"Nggak ada sayang, cukup kamu hanya kamu saja. Tidak mau yang lain.''
''Harus! nggak mas dapati istri langka sepertiku ini. Jadi jaga baik-baik jangan sampai di ambil orang,'' menyombongkan diri sendiri.
''Ada yang berani ambil, aku gantung dia di lampion terus aku bakar.''
''Heleh, coba aja kalau berani. Yang ada mas nanti yang di gebukin orang karena bakar orang.''
''Nggak tau ya mas, cuma kayaknya nanti aku ngidam kepingin bakar pabrik lampion deh.''
''Mati aku yang, jangan aneh-aneh.''
Kemudian keduanya saling terkekeh.
_________
Rani sudah menyelesaikan tugas yang diberikan pak suami. Setelah memberikan surat izin yang pastinya adalah hasil tulisan tangannya sendiri, gadis itu hampir di buat mati kutu. Takut jika saja guru killer yang menjadi wali kelasnya mengetahui kalau surat yang dia berikan adalah hasil tulisan tangannya sendiri.
"Lega!! bu killer nggak curiga, asli pak suami harus nambahin uang jajan aku nih."
Gadis itu keluar dari kelas menuju kantin. ''Sepi juga nggak ada Jihan. Aduh mereka masih ngapain ya sekarang? Masa lanjut sih buat dedek nya, aaaa soswit. Dasar aku otak mesum.''
Terlihat agak aneh, gadis itu senyum-senyum sendiri. Siswa-siswi yang melihatnya merasa kalau Rani punya sedikit kelainan. Tapi bukan masalah baginya, toh dia sama sekali tidak peduli dengan tanggapan orang asing.
Disaat dirinya akan menuju kantin, tak sengaja berpapasan dengan Haikal, adik ipar Jihan.
Haikal melirik sambil berdecak tidak suka. Rani mendengarnya dan melihat tatapan tidak suka itu.
''Berhenti!'' titahnya.
Gadis itu membalikkan badan ke belakang. Tapi yang di panggil tidak peduli. Sehingga membuatnya terpaksa berteriak lagi.
''Punya kuping nggak? You! berhenti sini!'' sambil menunjuk ke Haikal.
Haikal yang awalnya tidak peduli, jadi menggubris sedikit.
Dia hentikan langkahnya tapi tidak menoleh ke arah Rani.
''Lo ada masalah apa ya sama gue?'' tanya Rani dengan ketus.
Haikal membuang nafas kasar. Laki-laki dengan tubuh tinggi dan rambut sedikit ikal itu diam malas menjawab.
__ADS_1
''Bawel,'' ucap Haikal tanpa menoleh ke arah Rani. Dia pun kembali melangkahkan kakinya.
Rani tidak Terima akan sikap sombong Haikal. ''Gue bilang berhenti ya berhenti!! woiyy dengar nggak?!!.''
Kesal sendiri, kini Rani yang menghampiri Haikal. Sedangkan laki-laki itu terpaksa berhenti sebab lengannya di cekal oleh Rani.
Dengan malas, Haikal menoleh menghadap Rani.
''Apa?'' tanya nya dingin.
''Gue tanya baik-baik ke Lo, Lo ada masalah apa ke gue? ngapain lo berdecak ke gue tadi?'' Rani menahan amarahnya.
''Banyak masalah kalau lihat Lo!'' jawabnya puas.
''Sembarangan!! Lo itu biang masalahnya!''
Haikal berdecak lagi, ''Gue nggak suka ngelihat Lo," sambung Haikal.
''Kalau nggak suka putar balik arah sono, jalanan masih banyak. Nggak usah cari masalah ke gue.''
''Nggak jelas, gue lagi males debat. Lepasin tangan Lo!'' Haikal mengibaskan tangan Rani yang masih menempel di lengan nya.
Haikal dan Rani adalah dua orang yang tidak bisa di persatukan. Bagaimana pun caranya jika dua orang itu bertemu maka akan berakhir dengan perdebatan.
''Makin nggak sopan Lo. Gue heran gimana bisa mas Arga punya adik kek gini, udah aneh, nakal, mulutnya lamis dan nggak sopan pula.''
Haikal berhenti lagi, dia balik badan menghadap Rani lagi. ''Gue peringatin, Lo jadi orang jangan banyak omong. Itu cuma akan memperpendek umur Lo doang!''
''Heh jaga omongan Lo! Lo nyumpahin gue cepet mati?''
''Bukan gue yang ngomong, tapi Lo sendiri.''
Haikal langsung bergegas pergi. Malas meladeni Rani yang notabene nya tidak mau mengalah dan banyak bicara.
''Awas Lo bocah, gue laporin ke kakak Lo. Adiknya sama sekali nggak punya sopan santun dan mulutnya makin jabir!'' teriak Rani pada Haikal, agar bocah itu dengar.
''Kali ini Lo bisa aja lolos, tapi liat aja nanti dasar bocil kematian!'' geram nya Rani.
______
''Kenapa dua orang perempuan itu sama saja. Yang satunya cerewet satunya lagi kecentilan. Lihat saja gimana aku buktikan sama bang Arga kalau istrinya itu wanita licik.''
Haikal sudah duduk di kursi lapangan basket. Sembari menatap beberapa orang kawannya yang asyik bermain basket.
Laki-laki itu memilih tak bergabung bermain bersama, padahal Haikal sangat suka bermain basket namun hari ini dia tidak bersemangat. Terlebih karena masalah dengan keluarganya beberapa waktu lalu. Sampai saat ini dia enggan untuk datang lagi kerumah orang tuanya.
Bukan tanpa sebab Haikal tak menyukai Jihan yang kenyataannya adalah kakak iparnya. Hal itu terjadi sudah cukup lama. Haikal menganggap jika Jihan adalah perempuan gampangan, yang tidak cukup dengan satu laki-laki.
Haikal berpikir, mana ada perempuan yang masih sekolah mau menjadi istri om om tua seperti kakaknya itu jika bukan karena uang saja. Toh, di luaran sana masih banyak laki-laki muda seumuran Jihan yang tidak kalah tampan. Haikal berpikir pasti di balik pernikahan dengan kakaknya tersebut, Jihan memiliki niat lain.
Disela lamunannya, seseorang dari seberang sana melemparkan bola basket pada Haikal. Dengan sigap Haikal langsung tersadar dari lamunan dan menangkap bola itu tepat sebelum mengenai wajahnya.
Haikal menatap laki-laki yang melemparkan bola padanya. ''Ngapain sih bang?''
''Lo ngapain ngelamun dibawah pohon, awas ntar kesambet kunti!''
''Ckk, gue lagi males bang. Badmood."
Laki-laki tadi tertawa dia berjalan menghampiri Haikal, ''Hei bocah, kayak perempuan lagi PMS aja Lo. Pakai acara moody an segala.''
Laki-laki itu merebut bola dari tangan Haikal. ''Sini main basket jangan jadi sister yang moody an. Hahaha.. '' sambil mengacak-acak rambut ikal milik Haikal.
''Ckkk bang Satrio, Sialan Lo bang.''
Mau tidak mau Haikal ikut bergabung dan masuk ke tim nya. Ia bermain basket melawan Satrio. Yang tidak lain adalah kakak kelas sekaligus kawan nongki nya.
''Haha anak kecil, jangan nangis kalau kalah," ejek Satrio.
''Nggaklah, emangnya gue adalah Lo bang. Yang cengeng karena di tolak perempuan,'' lirihnya.
bersambung.....
__ADS_1