
Eps. 23
Arga sudah sampai di rumah sang mertua, sebelumnya ia telah mengantar Tofa pulang.
Tanpa banyak tingkah, Arga langsung memecah kelapa muda itu dan mengambil airnya. Setelah itu menuangkan ke gelas dan memberikannya kepada Jihan.
Jihan menerima gelas tersebut dan meminum air kelapa muda itu, rasanya segar dan manis.
''Bagaimana nim? Sudah mendingan belum?'' tanya ibu.
Jihan mengangguk, ''Mas Arga kenapa lama sekali? Emang cari dimana sih?''
Waduh, kalau aku kasih tahu Jihan, pasti dia muntahkan air kelapanya.
Alih-alih menjawab, Arga justru terdiam mencari jawaban yang tepat. Untuk saat ini dia paham betul jika mood sang istri sedang tidak baik, hormon di tubuhnya bisa saja berubah setiap detiknya.
"Mas!" panggilnya lagi. Sedangkan ibu duduk diam dan menyimak interaksi keduanya.
"Eh? Iya sayang?" tersentak.
"Cari dimana kelapanya? Kenapa lama? Di luar negeri kah?"
"Haha mana mungkin," mencubit gemas hidung Jihan. "Tadi mas muter-muter habis itu gak ketemu jadi minta di rumah teman."
"Iyakah? Maaf ya mas, garagara aku mas jadi kerepotan."
Arga tersenyum, "Enggak sayang, aku sama sekali tidak merasa di repotkan kok. Justru sebaliknya, kalau kamu lagi kesakitan langsung bilang ya, jangan di tahan sendiri."
Aaaa mas Arga, rasanya aku mau terbang aku mau terbang ini.
Jihan tersenyum saat tangan arga membelai lembut rambutnya.
"Terima kasih ya mas," Jihan tersenyum.
''Sama-sama sayang, cepat habiskan." Tangan Arga sambil mengusap perut istrinya.
Ibu yang menyaksikan keharmonisan pasangan ini semakin hangat hatinya. Kini dia sepenuhnya yakin bahwa Arga bisa di percaya untuk menjaga Jihan dan membimbingnya. Memang benar pilihan sang suami tidak pernah keliru, batinnya.
"Mas, malam ini boleh gak aku tidur di rumah ibu?" pinta Jihan, sambil tangannya memindahkan tangan Arga yang menempel di perutnya.
Dasar tangan mas Arga nakal, tidak bisa dikondisikan. Seperti aku ini orang hamil saja dielus terus perutnya.
Wajah Arga berubah pias, "Kenapa sayang? Aku melakukan kesalahan kah?" merasa gelisah sebab baru kali ini Jihan minta jauh darinya.
Jihan tertawa, "Mas ini kenapa cemas begitu sih? Aku kan cuma mau tidur di rumah ibu. Kenapa wajah mas panik gitu?" Menghentikan ucapannya. "Emm? Atau jangan-jangan mas melakukan kesalahan kah yang aku tidak tahu?"
Mendapatkan tatapan menyelidik seperti itu membuat Arga menciut. Takut jika ketahuan habis berurusan dengan janda yang menjadi rival istrinya.
"Enggak sayang. Tumben aja gitu mau tidur di rumah ibu," menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau nak Arga mau menginap juga, tidak apa-apa nak. Lagian jarak rumah kalian dekat aja, kalau butuh barang bisa pulang sebentar ambil," tawar ibu.
"Sebenarnya aku mau Bu, tapi ada kerjaan yang harus Arga selesaikan, masa iya Arga harus gotong peralatannya ke sini, berat Bu."
"Begitu ya nak?"
Jihan membalas, "Tapi aku ingin tidur di sini mas," menatap dengan mata panda yang imut.
Arga menatap balik istrinya, jurus jitu yang mampu menggoyahkan pertahanan Arga untuk tidak bisa menolak keinginan sang istri.
"Kamu boleh nginap di sini sayang, tapi jangan lama-lama ya," seuntai kalimat kepasrahan akhirnya terucapkan.
Melihat ekspresi wajah Arga yang menurut nya amat menggemaskan, membuat Jihan jadi tidak tahan untuk tidak menggodanya.
"Ah yang bener? Nanti mas nyesel loh gak ada aku tidur di samping. Bisa jadi gak bisa tidur loh," menyolek dagu sang suami.
"Sayang! Jangan menggodaku, atau tidak nanti aku bopong pulang kamu, Lagian sebenarnya kamu yang gak bisa tidur tanpa aku, kan?" menggoda balik.
"Mana ada," membantah.
"Iya ada! kalau tidak menyusup ke ketiak ku kamu kan tidak tidur," menahan tawa. "Tunggu habis mengendus aroma ketiakku baru bisa tidur, iya kan."
Puas rasanya membuat sang istri tersipu. Mendengar adu bicara Jihan dan Arga, Bu Diana pun tertawa.
__ADS_1
"Owlah Nim, ternyata kebiasaan ayahmu nurun ke kamu ya. Ayahmu juga kalau tidur suka nyusup ke ketiak ibu, haha," ibu tertawa dengan riang, sampai-sampai mengusap air mata yang menitik dari ujung kelopak mata.
Jihan terharu melihat ibunya bisa tertawa sesenang itu kembali. Ibu yang biasanya murung kini perlahan mulai terbuka kembali. Dan itu berkat mas Arga juga yang selalu berusaha menghibur kami.
Jihan tersenyum, "Aku senang melihat ibu tertawa lagi," sembari memandang wajah ibunya.
Ibu ikut tersenyum, "Mangkanya hubungan kalian harus baik-baik terus, ya! Jika ada masalah atau kesalahpahaman selesaikan dengan baik-baik dan cari jalan keluarnya sama sama.''
''Ibu tenang saja, aku akan membimbing putri ibu menjadi wanita dewasa dan mandiri tapi juga harus tetap menjadi dirinya sendiri, yang manja dan imut." Arga tersenyum. Sembari meraih tangan jihan dan ibu mertuanya lalu menggenggam dengan hangat.
Setelah sesi eyel-eyelan tadi, pada akhirnya Arga benar-benar pulang kerumah sendiri, dan membiarkan istrinya menginap dirumah ibu hanya untuk satu malam saja tidak lebih.
Sebenarnya dia pun ingin ikut dengan isterinya, tapi terkendala oleh pekerjaan yang harus ia selesaikan sebab besok sudah harus kembali bekerja.
____
Malam itu Arga masih menuntaskan tugasnya. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, dan diluar terdengar suara hujan yang mulai turun tanpa ada suara gemuruh.
"Untung saja hujan turun tidak disertai petir, atau tidak aku benar-benar khawatir jihan ketakutan."
Pikirannya kembali teringat saat pertama menikah dulu saat turun hujan. Jihan sangat takut akan suara petir dan memintanya untuk tidak meninggalkannya dari kamar.
"Ckk, sepi juga jauh dari istriku. Tidak tahu aku bisa tidur atau tidak malam ini," wajahnya benar benar terlihat lesu.
Ada niatan ingin menghubungi istrinya tapi takut sudah tidur dan malah menganggu istirahat nya.
"Semoga sayang bisa tidur nyenyak ya, meskipun tanpa menghirup bau ketiakku."
Malam itu Arga tak berhenti ngedumel sendirian, dengan ditemani suara rintik hujan.
Diluar masih terdengar rintik hujan yang tidak terlalu deras. Selesai menuntaskan pekerjaan, Arga merasa haus. Dirinya pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
''Oiya, kunci motorku sudah ku ambil belum ya dari motor?'' tiba-tiba dia teringat. Dan langsung pergi keluar untuk mengeceknya.
''Ya ampun untung aku ingat, kebiasaan deh kalau gak diingatkan Jihan mesti kelupaan terus,'' katanya sembari mencabut kunci yang masih menggantung di motor.
Arga mengedarkan pandangan ke halaman depan rumahnya, dia mengucek matanya. Ketika melihat sekelebat bayangan dibawah rintikan hujan.
Dia ingin tidak peduli tapi orang itu terlihat sangat kasihan, bukannya segera pergi orang itu justru duduk berjongkok seperti menahan sakit.
''Bagaimana jika dia butuh bantuan? Aihh aku bukan manusia yang tak berperikemanusiaan.''
Hatinya tergerak untuk membantunya, Arga masuk dulu ke dalam rumah untuk mengambil payung, setelah itu pergi keluar lagi untuk menghampiri orang tersebut.
''Maaf permisi? ada yang bisa saya bantu?''
Ternyata seorang wanita yang sedang menundukkan wajahnya. Ketika mendengar suara Arga, wanita itu menengadah menatap ke atas.
''Mba Mutia?'' Arga tersentak. ''Ngapain mba disini tengah malam begini, hujan hujanan pula.''
Arga jadi kasihan dan membagi payung untuknya.
Wajah Mutia nampak pucat, dan sedang menahan sakit.
''Pe-perutku sakit bang, sakit sekali,'' rintihnya dengan suara parau.
''Mba mau kemana emangnya?'' tanya Arga penuh khawatir. Dia pun membantu Mutia untuk berdiri namun wanita itu tak sanggup sebab perutnya terlalu sakit.
''Aku mau ke klinik bang, tapi tidak kuat jalan. Sakit sekali. Aww.. aduh.." rintihnya.
Arga jadi tak sampai hati, memang terkadang wanita ini bisa menyebalkan dan bersikap kurang sopan. Ditambah lagi selalu mencari masalah dengan sang istri. Tapi melihatnya sendirian tertatih-tatih di bawah air hujan membuat perasaan Arga kasihan. Dia bukanlah orang yang setega itu melihat orang lain kesusahan.
''Mba sendirian ya?''
''Iya bang, mau minta antar siapa lagi? Aku cuma tinggal sendiri.''
Arga menimbang keputusan yang membuat hatinya dilema. Disatu sisi ingin membantu. Tapi gelisah jika Jihan tahu dan salah paham.
''Bang Arga, aku bisa minta tolong antar ke klinik gak? Aku udah gak tahan lagi, sangat sakit,'' pinta nya dengan tatapan memohon.
Tidak buru-buru mendapat jawaban Mutia lanjut bicara lagi, ''Untuk sekali ini saja Bang, aku benar-benar tidak sanggup pergi sendiri. Ayolah bang bantu aku!''
''Sebentar ya mba, saya minta ijin istri saya dulu.''
__ADS_1
Mutia memilih mengangguk pasrah, sebab rasa sakit tak bisa ia tahan lagi.
Arga meraih ponsel di saku celana nya dan ingin menghubungi Jihan. Tapi ketika melihat jam sudah menunjukkan hampir tengah malam ia mengurungkan niatnya.
''Jihan pasti sudah tidur, kasihan juga jika ku ganggu dia sedang sakit.''
''Jihan memang kemana bang?'' tanya Mutia.
''Ada, dia menginap dirumah ibu. Yasudah mba biar saya antar saja. Besok pagi saya jelaskan ke dia. Semoga tidak salah paham.''
Hehe baguslah kesempatan datang juga padaku, kau terlalu sombong kan bocah. Maka tunggu aku menghancurkan kesombongan mu itu!
Sempat sempatnya Mutia merencanakan siasat licik.
Arga langsung memasukkan ponselnya kedalam saku dan berdiri menuntun Mutia.
"Mba pegang dulu payungnya, ya! Aku ambil motor dulu."
Mutia mengangguk dan menepi sedikit dibawah payung.
Maafkan aku sayang, bukan aku berkhianat. Jika orang lain yang berada di posisi mba Mutia, aku akan melakukan hal yang sama. Besok aku akan jujur padamu.
____
Arga langsung melajukan motornya menebas hujan yang turun malam itu dengan Mutia yang ia bonceng dibelakang.
Wanita tidak tahu malu itu, bukannya menjaga jarak dengan suami orang justru malah berpegangan erat memeluk pinggang Arga.
''Mba jangan terlalu erat pegang nya!" bernada kesal.
"Aku takut jatuh bang Arga, perutku sakit. Sakit sekali bang.'' Bukan Mutia namanya jika tidak mengambil kesempatan bahkan dalam keadaan sedarurat apapun.
Arga menghembuskan nafas kasar, "Baiklah! Sebentar lagi sampai."
Pria itu menambah kecepatan sepeda motornya agar segera sampai sebab tak betah berlama-lama dengan wanita yang bisa menjadi pemicu kemarahan istrinya.
Akhirnya sepeda motor yang mereka tumpangi sudah sampai di sebuah klinik yang selalu buka 24 jam untuk berjaga-jaga jika ada keadaan darurat.
Arga segera turun dan menuntun Mutia masuk kedalam lalu mendaftar ke bagian administrasi.
Tak menunggu lama dokter pun langsung membawanya ke ruang pemeriksaan. Arga sedikit bernafas lega. Entah sudah pukul berapa malam ini. Yang kalut di pikiran Arga hanyalah, berdoa semoga besok pagi ketika ia menjelaskan pada Jihan tidak akan marah atau salah paham.
Selang beberapa menit kemudian Mutia keluar, raut wajahnya nampak membaik.
"Sudah mba?" tanya Arga.
"Iya bang sudah baik, terimakasih ya maaf merepotkan."
"Sudah gak apa-apa mba, sini biar saya tebus obatnya. Mba tunggu di sini!" mengambil resep obat yang di pegang Mutia dan menuju ke meja apoteker.
Mutia mengangguk dan memilih duduk di kursi tunggu.
Tidak jauh dari tempat berdirinya Mutia dan Arga tadi, rupanya ada seseorang yang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Nah kan betul, itu suami dek Jihan tapi kok sama janda ya? malam-malam begini berduaan. Apa dek Jihan tidak tahu ya?"
Siapa lagi kalau bukan Bu Rida. Tetangga yang tinggal di dekat rumah ibu Jihan. Bu Rida juga berada di klinik yang sama dengan Mutia. Sebab memeriksakan kondisi anaknya yang tiba-tiba panas demam.
_____
Arga sudah sampai dihalaman rumah Mutia. Mengantarkan Mutia pulang, sebab dia ingat kata Mama nya jika sedang membantu orang maka lakukan sampai tuntas jangan setengah-setengah.
"Mba nanti kalau bertemu istriku jangan bicara yang macam-macam ya tentang malam ini. Sungguh aku tidak mau ada kesalahpahaman diantara kita semua. Besok setelah dia kembali dari rumah ibu, aku akan jelaskan semuanya. Mohon mba Mutia mengerti!" tegasnya.
"Maaf ya merepotkan bang Arga. Aku janji gak akan cari masalah ke istri Abang kok,'' turun dari motor sambil menenteng kresek berisikan obat-obatan.
Arga mengangguk, "Aku pegang janji mba. Kalau begitu aku pulang. Selamat beristirahat mba."
Setelah kepergian Arga. "Maaf bang aku janji nya bohongan," sembari mengangkat sebelah tangannya yang jarinya ia tautkan antara jari tengah dan jari telunjuk membentuk tanda silang (🤞).
"Tapi gak sepenuhnya ingkar kok bang, memang aku gak akan kasih tahu tapi istrimu akan tahu dari orang lain," tersenyum licik.
bersambung...
__ADS_1