
Eps. 5
Sedangkan di sisi lain, Rani dan Jihan berjalan lesu menuju kelas, setelah tadi di sidang oleh Bu Meri si guru killer. Niat hati ingin menghindari hukuman, justru malah kena hukuman.
Rani berjalan gontai menuju tempat duduknya disusul Jihan yang jalan di belakang.
Rani mengembuskan napas kasar, "Huuh,, ngeri juga si killer itu kalau ngamuk, ya Han."
"Hushh jangan bilang begitu, lagian kita juga salah. Bukannya masuk kelas malah bolos. Kita harus sadar diri Ran, sadar!" Jihan menekankan intonasi pada kata tersebut. Setelah tadi mendapat kata-kata sindiran yang teramat menusuk ke hati.
Begitulah bu killer yang selalu memberikan kata-kata sindiran untuk siswa yang terkena kasus pelanggaran tata tertib sekolah.
Rani merebahkan kepalanya di meja, sembari membenamkan wajahnya pada tangan yang ia tekuk agar menjadi bantalan tidur.
Sedangkan Jihan mengeluarkan buku-buku untuk mengerjakan tugas tambahan yang bu killer berikan. Dirinya dan juga Rani diberi hukuman disuruh mengerjakan tugas yang jumlahnya tidak hanya dua, tiga lembar. Tetapi berlembar-lembar sebagai sanksi dari tindakan pembolosan.
Selang beberapa menit setelah mereka duduk, terlihat gadis tinggi putih dengan kaca mata yang melingkar di matanya. Dia adalah Kamilah, si ketua kelas. Juga termasuk salah satu murid terpintar dikelas Jihan.
"Hei Han, gimana urusannya sama Bu Meri? Sudah tuntas?" Tanya Kamilah atau yang akrab di panggil Milah.
"Ya begitu deh mil, Bu killer nyuruh aku sama Rani ngerjain nih, banyak banget tugasnya. Mana harus selesai hari ini lagi," Jihan menyodorkan setumpuk kertas berisi puluhan soal pilihan ganda dan isian.
"Gila! Banyak banget ini mah," Milah ternganga melihat soal tersebut. Bukan karena apa, setelah dia amati ternyata itu rekapan soal dari kelas sepuluh hingga dua belas SMA dijadikan satu.
"Tuh kan kamu aja sampai kaget gitu, pasti gak selesai dalam waktu singkat deh. Duhh,, sedihnya, iya kan Ran," Jihan menyenggol lengan Rani tapi bocah itu tak bergerak. Ternyata Rani malah tertidur.
"Astaga Rani, cepat banget ngebonya," Jihan merengek. "Bocah sialan! Dia yang hasut biar bolos, lah kok malah ditinggal tidur."
Milah tertawa menyaksikan tingkah konyol dua sahabatnya ini.
"Ya sudah tenang Han, ntar aku bantu kerjain habis jam mapel ini selesai. Biar cepat selesai, oke."
Milah menawarkan diri untuk membantu meringankan beban sahabatnya tersebut. Mila termasuk teman yang baik hati dan merupakan teman dekat Jihan dan Rani. Meskipun posisinya dengan Jihan tidak sedekat hubungan Rani. Namun, Mila adalah sahabat yang selalu membantu Rani dan Jihan dalam urusan belajar maupun tugas lainnya.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang menyahut perkataan Milah, "Aku juga ikut bantu," ucap seorang laki-laki. Dia adalah Bima. Nah Bima ini merupakan murid terpintar juga di kelas Jihan. Jika Kamilah adalah murid terpintar nomor satu, dan Jihan nomor dua, Bima ini adalah yang nomor tiga. Sedangkan Rani jangan ditanya lagi, dia tetap menduduki peringkat kedua dari bawah.
"Terima kasih ya semuanya, aku sedikit lega kalau tugas ini cepat rampung. Aku janji nanti akan mentraktir makan kalian deh," ucap Jihan.
"Santai Han, kamu tepat sekali kalau membiarkan aku membantu. Udah master ini bos," ucap Bima sambil membusungkan dada bangga.
"Haha iya deh iya, Bima memang terbalik," Jihan mengangkat jari jempolnya ke arah bawah, "eh maksudnya terbaik," membalikkan jempolnya ke posisi yang benar.
Sedangkan Rani masih khusyuk dalam alam bawah sadar. Gadis itu tak menghiraukan huru hara didalam kelas. Meskipun banyak ocehan keras dari siswa lain, itu samasekali tak mengusik tidurnya.
Kini jam sekolah telah usai, setelah mengikuti jam mapel terakhir, Jihan, Milah, dan Bima berkumpul jadi satu di meja Jihan untuk membantunya mengerjakan tugas tambahan tersebut.
Meski sudah selesai jam pelajaran, namun Rani tak kunjung bangun. Dirinya masih lelap dalam tidur. Bahkan guru yang masuk jam terakhir tadi sudah paham dan memaklumi kelakuan siswinya tersebut. Berulang kali dibangunkan, Rani tetap tak terusik, justru semakin nyenyak.
"Sudah biarkan saja si kebo ini tidur, susah banguni dia. Kalau gak atas kesadaran dirinya sendiri." Ucap Jihan, yang mengerti raut wajah heran dari Milah dan Bima.
"Iyaa.. udah biasa ya Rani begini, udh jangan heran." Sambung Milah ketika melihat Bima masih dengan tatapan seribu tanya.
Kok kuat ya tidur sampai jam pelajaran selesai, gak pegel apa lehernya. Itulah yang diherankan Bima dari sosok Rani. Gadis yang mampu tertidur di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi bagaimana pun.
Akhirnya mereka bertiga mulai mengisi soal demi soal tersebut.
Membiarkan Rani seorang diri bergelut dengan mimpinya. Perlahan kelas mulai sepi tinggal tersisa empat manusia itu, untung kunci kelas dipegang oleh ketua kelas. Jadi mereka bisa leluasa pulang kapan pun.
Bima juga mondar-mandir ke perpustakaan untuk mencari referensi buku demi mengisi pertanyaan pernyataan yang jawabannya susah ditemukan. Sebenarnya ada fasilitas internet jika ingin searching, namun ponsel mereka berada di kantor. Jika belum waktunya pulang maka tidak diperbolehkan diambil. Terlebih lagi ponsel Rani dan Jihan yang kena sita Bu Meri.
Lembar demi lembar telah terisi, bermacam-macam buku telah diangkut Bima demi mendapatkan jawaban yang dicari.
"Maaf ya gara-gara aku dan Rani kalian ikut ngelembur deh," ucap Jihan merasa bersalah.
"Santai aja Han, semua soal ini aku udah khatam tuntas," balas Bima dengan santai. Sembari membolak-balikkan halaman buku.
"Milah, beneran kamu gak dimarahi mama kamu karena pulang telat?" Tanya Jihan memastikan.
"Enggak Han tenang aja deh, semua aman. Mama pasti tau kalau aku pulang lambat berarti ada tugas tambahan,."
"Iya tugas tambahannya bantui teman menyelesaikan hukumannya," Jihan menyengir.
"Udah jangan bahas itu, cepat kita selesaikan dan lekas pulang, semangat!'' Milah memberikan dorongan semangat kepada mereka.
Waktu ke waktu mulai terlalui hingga jam menunjukkan pukul dua siang, mereka bertiga amat serius mengebut agar cepat menyelesaikan soal-soal itu.
Jihan melirik ke jam tangan nya, dirinya berkata dalam hati.
Sudah jam segini, mas Arga nyariin gak ya? Ya pasti nyariin lah. Aku belum laporan pulang sekolah, hp disita Bu killer pula.
Terlihat hanya tinggal beberapa pertanyaan lagi yang belum terjawab, Jihan mengerahkan seluruh kekuatan otaknya yang hampir konslet. Dan setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka telah benar benar menyelesaikan tugas itu.
Mila, Jihan dan Bima merasa lega dan berteriak bebas dengan rasa syukur karena berhasil merampungkan soal tersebut.
"Syukur deh semua sudah beres. Terima kasih banyak ya sekali lagi untuk kalian. Aku gak akan melupakan kebaikan kalian," Jihan terharu dan reflek memeluk tubuh Milah.
Milah membalas pelukan tersebut, "iya sama sama Han. Ingat! Ini pelajaran ya, jangan diulangi lagi. Jangan bolos lagi pas mapel Bu killer," Milah menasihati temannya itu.
__ADS_1
Jihan mengangguk mengerti, "iya gak lagi deh, kapok aku. Nih si Rani malah belum bangun juga, minta di siram air raksa kayaknya," Jihan menggoyang tubuh Rani dengan keras.
"Rani bangun Ran woooii,, enak ya tidur cantik, bangun," tak tinggal diam. Jihan menggebrak meja dengan keras. Dan hal itu mampu membuat Rani bangun dengan raut wajah kaget.
"Sialan, ngageti aja kamu Han," Rani berkata dengan kesal.
"Dasar gak Terima kasih kamu ya, syukur tugas hukuman ini dibantu nyelesaiikan sama Milah dan Bima. Kamu malah enak enakan tidur."
"Lihat tuh, ada iler mu keluar," ejek Bima sembari membereskan buku dan menumpuknya jadi satu.
Rani segera mengelap bekas liur yang sebenarnya tidak ada, sadar telah ditipu Rani jadi malu sendiri.
Jihan dan Mila menertawakan kekonyolan Rani. Sedangkan Bima masih sibuk menyusun buku bukunya.
Kini Jihan telah menyerahkan tugas tersebut kepada Bu killer yang masih setia menjaga ruang BK, menunggu muridnya menyerahkan tugas sebagai hukuman karena telah berani bolos jam pelajarannya. Sekaligus mengambil handphone yang kena sita.
"Saya permisi pamit pulang duluan, ya Bu." Ucap Jihan dengan sopan.
"Hmm, hati-hati! Langsung pulang jangan bolos lagi!" Suara itu terdengar ketus dengan raut wajah jutek dan itu sangat membuat Jihan membutuhkan kesabaran dalam menghadapi nya.
"Baik Bu," Jihan segera berlalu meninggalkan ruang BK yang rasanya punya aura negatif didalamnya. Namun sebisa mungkin Jihan tetap santai dalam menghadapi Bu Meri padahal dalam hatinya sudah kalang kabut ketakutan, hanya saja Jihan pintar menyembunyikan perasaan tersebut.
Setelah keluar dari ruang BK, Jihan menghampiri para sahabatnya di parkiran.
"Udah selesai Han?" Tanya Bima.
Jihan mengangguk, "dah yuk kita pulang. Sudah siang nih kalian pasti lelah."
"Santai aja Han, kami senang membantu kok," Milah tersenyum.
Andai saja semua sahabat di muka bumi bisa seperhatian Mila dan Bima yang gemar membantu temannya dalam urusan seperti ini. Jihan amat bersyukur memiliki sahabat sebaik mereka.
"Bilang makasih dulu Ran!" Perintah Jihan.
Rani turun dari motor, dan berjalan menghampiri milah. Rani langsung memeluk erat tubuh Milah hingga membuat gadis itu merasa sesak.
"Makasih buanyakk ya mil, kamu adalah malaikat aku deh. Aku cinta kamu," Rani langsung mencium pipi Milah.
"Iya Ran sama sama. Udah lepasin dong aku gak bisa nafas."
Rani tertawa, "hehe maaf ya Kamilah sayang," Rani kembali mencium pipi Milah. Masih melingkarkan tangannya ditubuh milah.
"Lain kali jangan diulang lagi! Jangan bolos! Kalau mau bolos jangan pas pelajaran Bu Meri! Ingat itu!"
Rani segera melepaskan pelukannya. "Iya milahh sayang,, emuahh." Ciuman terkahir nya. Mila seolah keenakan mendapatkan ciuman dari Rani, mungkin gadis itu lama tak mendapat ciuman sehingga tidak mempermasalahkan Rani mencium pipinya sebanyak apapun.
"Idihh ogah, aku cuma mau bilang thanks aja!"
"Jahat sekali sih, yaudah kalau gitu minta peluk Jihan aja. Ayo peluk aku Han,!"
Gila nih bocah belum tau aja kalau Jihan punya suami, kalau pak suami lihat bisa habis kamu ditonjok babak belur. Batin Rani.
Jihan hanya menanggapi dengan tawa receh, bagaimana bisa dia memeluk pria lain sedangkan dirinya punya pria yang sah dan bisa dipeluk kapanpun dia ingin.
Wajar saja, sebab pernikahan Jihan belum diketahui Milah dan Bima sehingga mereka bisa bebas bercanda sesuka hati seperti saat ini.
Rani menghadangkan tubuhnya membentuk pertahanan di depan tubuh Jihan, kini dirinya sadar akan tugas nya sebagai karyawan pak suami. "Enak aja minta peluk peluk, mau dipeluk? Minta peluk teletabus sana."
Rani menarik lengan Jihan agar menjauh dari Bima, bisa habis nanti kalau pak suami tahu. Batinnya.
"Ehh guys, aku udah di jemput mama tuh. Aku pulang duluan ya," ucap Milah memotong pembicaraan para sahabatnya.
Setelah pamit undur diri, Kamilah meninggalkan ketiga sahabatnya yang masih asyik bersenda gurau.
"Ayo Han, pulang sama aku aja," ajak Bima.
Rani melotot, "No! No boleh! No! Jihan ayo kita lekas pulang sebelum pak suami marah."
Upss dasar Rani mulut susah di kontrol, malah keceplosan seenak jidatnya aja.
Panik gak tuh panik panik, Jihan dan Rani panik.
"Pak suami? Suami siapa?" Tanya Bima dengan polos.
Rani mencoba mencari cari alasan, "Suami..? Eemm suami ..ahh ya suami istri lah pokoknya," jawab rani dengan asal.
"Sudah ya bim aku laperrrr banget. Aku bawa Jihan pulang dulu. Babay," Rani menarik tangan Jihan dan lekas naik ke atas motor. Perlahan motor yang dikendarai Rani meninggalkan halaman parkir.
Meninggalkan Bima yang tengah mematung, mencoba memahami ucapan absrud Rani tadi.
Motor yang di kendarai Rani dan Jihan tiba di pekarangan rumah Jihan, dua gadis itu terlihat gugup pasalnya mereka pulang telat dari jam biasanya. Sehingga menyebabkan Jihan tidak mengabari sang suami. Biasanya saat sampai dirumah setelah pulang sekolah Jihan akan menghubungi Arga. Namun hari ini berhubung dirinya mendapat sanksi bolos sekolah, sehingga tak bisa menghubungi Arga.
Hal itu membuat Jihan khawatir kalau saja suaminya akan mencarinya, dan menanyakan hal apa yang membuat dirinya hingga tak memberi kabar.
"Gimana ya Han, jujur aja kali ya sama pak suami. Kalau tadi kita di hukum," kata Rani. "Pasti nanti pak suami akan tanya juga ke aku," sambungnya.
Jihan turun dari motor, masih berdiri di depan pagar rumahnya, "Kalau di hukum bukan karena bolos aku pasti ngaku Ran. Tapi ini gara-gara bolos. Apalagi sama kamu bolosnya. Bisa bisa kita gak boleh berteman dan kamu bisa di pecat!"
__ADS_1
"Waduhh, gak gak gak.. aku belum siap jatuh miskin lagi." Rani menggelengkan kepalanya tak sanggup membayangkan jika pemasukan yang baru beberapa pekan bertambah jadi berkurang akibat di pecat pak suami.
"Udah lah kamu gak usah panik gitu, mukanya biasa aja. Aku bisa menghadapi suamiku kok, besok kan hari Minggu. Aku punya cara mengatasinya," balas Jihan.
Rani menepuk pundak sahabat nya itu, "Oke deh, aku percaya sama kamu. Pak suami kan bucin banget pasti dia akan nurut deh."
Jihan mengangguk, tiba-tiba dirinya memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat siklus menstruasinya.
Rani panik ketika melihat wajah sahabatnya yang sedikit pucat, "Han, nyeri nya kambuh lagi ya?"
Jihan mengangguk masih memegangi perut yang nyeri.
"Kalau gitu kamu istirahat aja ya, sudah sana cepat masuk. Minum air anget dan obat nyerinya. Apa aku antar ke rumah sakit aja kah?"
"Gila kamu Ran, cuma nyeri begini aja kok sampe kerumah sakit. Udah gak apa-apa kok, aku masuk aja ke dalam habis itu minum obat." Balasnya sambil sedikit meringkukkan tubuh.
"Kamu langsung pulang aja, sudah mau sore juga. Bukankah waktu nya kamu berhibernasi kembali."
"Haha iya ya, yasudah aku pulang dulu. Jaga kesehatan dan istirahat ya besty, aku gak ganggu lagi, tapi beneran gak apa-apa kah aku tinggal?," ucapnya memastikan.
Jihan mengangguk, "iya besty gak apa-apa kok. Sudah sana cepat pulang."
"Baiklah nyonya istri aku pulang dulu ya, Babay!"
Rani menyalakan mesin motor. Kemudian melaju meninggalkan halaman rumah Jihan sembari melambaikan tangan.
Setelah itu Jihan mengambil kunci rumah di tempat biasanya Arga menyimpannya sebelum berangkat kerja. Setelah berhasil membuka pintu dia masuk dan langsung merebahkan diri di atas sofa. Dengan kaos kaki yang belum di lepas, Jihan sedikit melonggarkan ikat pinggang dan melepas beberapa kancing bajunya.
Jihan mendesis kesakitan, saat merasakan nyeri di perut.
"Hari pertama haid selalu saja seperti ini, ada tidak sih mesin penyedot darah kotor biar semua langsung kesedot gitu. Nyeri banget," ucapnya sembaru mengusap perut.
Jihan memiliki sedikit masalah pada siklus menstruasinya. Dan hal ini pasti terjadi setiap bulannya ketika datang bulan. Mungkin tidak hanya Jihan saja yang mengalami, sebagain wanita lain pasti juga pernah mengalami hal yang serupa. Rasa nyeri dan pegal di pinggang saat sedang menstruasi, bahkan ada juga yang sampai pingsan jika tak tahan dengan rasa nyeri tersebut. Untungnya Jihan wanita yang kuat, dan rasa nyeri itu tidak sampai ke tahap pingsan.
Jihan memejamkan matanya dan hampir tertidur, tiba-tiba saja dia teringat jika belum mengabari mas Arga nya. Segera Jihan meraih handphone dalam tas dan mencari kontak Arga kemudian melakukan panggilan.
Ponselnya berdering namun tak kunjung mendapat jawaban, hingga beberapa kali Jihan menekan ulang kontak yang bertuliskan nama 'Mas Arga ku.'
Tak kunjung mendapat jawaban rasanya emosi bawaan akibat hormon yang sedang tidak sinkron membuat Jihan kesal. Dan langsung mengakhiri panggilan tersebut kemudian menutup handphone nya.
"Sudahlah biarkan saja, mungkin mas sedang sibuk. Yang penting aku sudah coba buat hubungin."
Setelah itu Jihan beranjak menuju kamar dan mengganti pakaiannya. Perutnya sangat lapar. Jihan berjalan ke dapur dan mencari bahan makanan yang bisa di masak.
Terlihat hanya ada telur dan mi instan saja. Dirinya tidak sempat berbelanja tadi pagi sebab terlalu lama meladeni sang suami.
Jihan berdecak, "hanya ada ini. Yasudah lah aku bikin orek telur dan mi saja. Sekalian untuk makan mas Arga pulang nanti."
Jihan mulai berkutat dengan peralatan masak di dapur. Meski rumah tersebut dibilang baru namun peralatan untuk memasak bisa di bilang lengkap. Sebab Jihan gemar memasak sehingga wajib baginya memiliki peralatan masak yang lengkap.
Terutama piring, Jihan lebih memilih menggunakan piring berbahan seng ataupun plastik. Sebab tahan banting dan tidak mudah pecah. Mengungkap kebiasaan ceroboh Jihan yang sangat gemar memcahkam piring kaca. Entah di sengaja atau tidak, tapi gadis itu hampir sering membuat piring kaca menjadi terbelah dua jika sedang mencucinya.
Ibu nya sendiri bahkan sampai di buat heran dengan keajaiban anaknya yang bisa memecahkan setiap piring kaca yang di cuci.
Entah itu karena jatuh atau hal lainnya.
Jihan masih fokus meneruskan masakannya. Sambil menahan nyeri di pinggang dan perut, gadis itu masih terlihat kuat menahannya.
Sudut bibirnya tersenyum bahagia ketika masakan itu telah siap.
Sebelum meninggalkan dapur Jihan mencuci seluruh peralatan masak yang kotor, kemudian mengambil piring yang diisi nasi lalu menambahkan orek telur dan mi yang ia masak tadi.
"Makan begini saja udah kenyang lah, mas Arga juga gak akan rewel selama aku yang masak," ucapnya sambil menuang air minum ke gelas.
Jihan menuju meja makan dan mulai menyantap masakannya, perutnya amat lapar. Dua butuh asupan energi sebab habis terkuras saat mengerjakan tugas hukuman dari Bu killer tadi.
Selang beberapa saat kemudian Jihan telah menghabiskan santapannya. Ia meneguk air putih tersebut hingga tandas. Jihan melirik ke jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah empat sore. Hal itu menandakan mas Arga sebentar lagi akan pulang.
Dengan kelagapan, Jihan segera mencuci piring yang kotor tadi dan melanjutkan aktivitas sorenya dengan membereskan rumah. Menyapu ruangan, mengepel lantai teras, dan menyapu pekarangan rumah yang kotor akibat daun pohon mangga yang berhamburan.
"Pegal sekali pinggangku ini," Jihan menggeliat ke kiri dan kanan agar pinggangnya berbunyi. Setelah mendengar bunyi pinggangnya ada perasaan lega. Seakan sedikit beban telah keluar pergi.
Jihan meletakkan sapu halamannya dan duduk di kursi teras, niat hati ingin menunggu kedatangan sang suami sembari menikmati suasana sore. Namun lagi-lagi nyeri dan pegal datang menganggu.
"Sudah cukup lah, aku gak kuat lagi. Lebih baik aku berbaring sejenak menunggu mas Arga," Jihan memutuskan masuk ke dalam rumah dan memilih berbaring di sofa.
Rasa lelah dan kantuk yang tiba-tiba datang menyerang membuat mata Jihan tak kuasa melawannya. Dan gadis itu tertidur pulas.
Entah sudah berapa lama gadis itu tertidur hingga sebuah tepukan tangan di pipinya yang terasa sedikit dingin itu membuat Jihan mengerjapkan mata.
Jihan menggeliat, "Hmmm,, apa ini kok dingin-dingin?" Jihan memegang tangan itu dan sedikit meremasnya. "Kok kasar ya?," ucapnya masih belum tersadar. Dengan kelopak mata yang masih setengah tertutup.
Sedangkan tangan orang yang di pegang tadi hanya menyunggingkan senyum jahilnya, siapa lagi jika bukan Arga.
Pak suami itu sudah datang sejak setengah jam yang lalu, dirinya sedikit terkejut mendapati pintu rumah yang dibiarkan setengah terbuka, dan ketika dirinya masuk mendapati sang istri tengah tidur pulas diatas sofa dengan menggunakan daster.
Arga sempat geram dengan tindakan ceroboh istrinya. Bagaimana bisa membiarkan pintu rumah terbuka sedang dirinya tidur diatas sofa tanpa menggunakan selimut untuk menutupi tubuh. Bagaimana jika ada orang jahat yang masuk dan memandangi tubuhnya.
__ADS_1