
Eps. 16
Hari yang cerah kembali menyambut menyapa penduduk bumi, sinar mentari yang terlihat cerah menandakan hari akan diselimuti hangatnya paparan sinar matahari pagi ini.
Jihan dan Arga kini telah tinggal di rumah milik mereka sendiri, rumah yang Arga janjikan untuk ditinggali bersama istrinya. Orang tua mereka sempat menolak sebab merasa terlalu muda bagi mereka jika harus mengurus rumah tangga sendiri. Namun Arga tetap keukeuh dalam pendiriannya, dan pada akhirnya berhasil meyakinkan anggota keluarga.
Arga sudah bersiap berangkat kerja, dirinya telah rapi dengan stelan seragam kerjanya. Jika biasanya apa-apa harus dikerjakan sendiri termasuk menyetrika baju dan cuci baju, kini setelah memiliki istri, Arga jarang melakukannya lagi bahkan hampir tidak pernah. Sebab Jihan selalu menyiapkan semua keperluan Arga tanpa di minta. Dan itu membuat Arga sangat bahagia karena mendapat istri yang sangat perhatian seperti Jihan.
"Mas ini bekalnya, sudah aku siapkan. Jangan lupa di makan ya," tangannya tergerak sembari memasukkan beberapa kotak bekal ke dalam ransel sang suami.
Arga mengelus pucuk kepala Jihan, "terimakasih sayang," balasnya tersenyum.
Meskipun sudah tinggal bersama berdua saja, namun hubungan mereka masih di bilang belum berada dalam tahap intim. Keduanya masih terlihat saling jaim.
"Oiya mas, hari ini aku kerumah ibu ya. Lagian sekolah lagi libur aku kangen sama ibu, bosan di rumah.''
"Iya pergi saja, jenguk mama sekalian, ya. Aku berangkat kerja dulu ya sayang."
Jihan mengangguk, dan meraih tangan sang suami. "Hati-hati di jalan mas."
Hubungan Jihan dengan keluarga Arga lumayan baik, meskipun jika berada di sekolah sering mendapatkan tatapan ketus dari Haikal. Jihan tak ingin mempermasalahkan hal tersebut, jika Haikal bersikap ketus maka Jihan juga bisa membalas sikapnya tersebut. Tunggu sampai Haikal sadar sendiri barulah Jihan akan perlahan membujuknya.
Jihan telah bersiap untuk mengunjungi rumah sang ibu dan mertuanya, setelah memasukkan beberapa kotak makanan ke Tote bag yang lumayan besar. Jihan segera melangkahkan kaki keluar halaman rumahnya. Jarak rumah baru Jihan tak begitu jauh hanya dengan berjalan kaki saja dirinya sudah sampai ke kediaman orang tuanya
"Ibuu," Jihan mengetuk pintu setelah sampai.
Pintu terbuka, "Hanim! Masuk Nim."
Ibu menyapa, raut wajahnya terlihat nampak lebih segar dari sebelumnya saat kesedihan sebab ayah pergi.
Jihan memeluk ibunya, ibu membalas pelukan itu namun sedikit gengsi. Ta itulah ibu, sangat menyembunyikan bentuk kasih sayangnya. Agar tak diketahui sang putri.
"Ibu, mulai lagi deh." Jihan memaklumi sifat sang ibu sebab telah terbiasa.
"Ya kamu, Pake langsung peluk peluk ibu Nim, malu dilihati tetangga."
"Ibu ini, harusnya senang kalau memiliki anak semesra aku, kan aku kangen sama ibu. Ayo ulangi peluk aku duluan!" Membentangkan tangannya.
"Males sekali, masuk tidak? Kalau enggak ibu tutup lagi nih pintunya."
"Ehh ibu ini benar benar ya, tega sekali. Iya aku masuk ni," Jihan langsung menyelonong begitu saja.
Kedua wanita itu telah duduk di ruang makan.
__ADS_1
"Gimana Nim? Enak tinggal sendiri atau sama orang tua?'
Jihan mengeluarkan kotak berisi makanan dari dalam Tote bag yang ia bawa.
"Sama saja Bu, ada enak ada enggaknya sih tapi."
"Apa itu?"
"Enaknya ya bisa sambil belajar ngurus rumah tangga terus gak enaknya ya kadang takut sendirian kalau di rumah sepi." Jihan membuka satu persatu kotak makan yang ia keluarkan. Aroma khas dari makanan yang ia siapkan sendiri langsung menyeruak.
"Ibu gak tanya itu, maksudnya yang apa itu, apa yang kamu keluarkan. Bukan tanya enak tidaknya punya rumah sendiri."
Jihan menatap datar wajah sang ibu, kesal bercampur malu.
"Astaga ibu" Jihan merengek, "bisa gitu sih? ibu tanya hal lain. Aku kira ibu peduli." Menggerutu kesal. "Ya seperti yang ibu lihat sendiri, ini makanan."
"Buat sendiri?" Tanya ibu.
"Tidak Bu! Tadi minta ke tetangga sebelah rumahku." Berkata ketus
Ibu tertawa, Jihan menatap kesal ke arah sang ibu.
"Kok ketawa sih Bu?'
"Haha, aduh nim nim sudah bersuami masa makanan aja minta ke tetangga sebelah."
Ibu menghentikan tawanya, "yang nyuruh kangen ibu juga siapa Nim?" Ibu menahan tawa.
"Padahal ibu juga kangen aku kan, cuma gengsi aja mau bilang. Iya kan,"
"Haha orang tiap hari ketemu Nim Nim, rumah kamu juga dekat. Buat apa kangen. Ibu cuma agak kangen sama masakanmu aja," ibu berdehem.
"Oke oke, aku paham. Diatas gunung masih ada langit, tapi diatasnya lagi masih ada gengsi nya ibu."
Ckk ibu ini benar-benar ya buat kesal orang saja. Tau gitu aku gak datang kesini tadi, merusak moodku aja. Niat ingin curhat tapi ibu kayak gak peduli. Dasar orang tua jahil. Jihan menggerutu kesal dalam hati. Tatapannya datar menatap sang ibu yang terus saja menggodanya.
_____
POV Jihan.
Huh akhirnya aku keluar juga dari rumah ibu. Ibu ini tidak bisa ya sedikit lembut padaku? Dari duku gengsi banget mengungkapkan rasa sayangnya. Tapi aku tau meski begitu sebenarnya ibu juga merindukan aku hanya saja cara ibu mengungkapnya sedikit berbeda.
Baiklah sekarang aku sudah sampai dihalaman rumah mama mertuaku. Rasanya aku lebih suka bersama mama dari pada ibu. Tapi keduanya memiliki cara berbeda untuk menunjukkan kasih sayangnya.
__ADS_1
Belum juga mengetuk pintu, tiba-tiba pintu sudah terbuka saja. Dan menampilkan senyum bahagia dari mama. Mama membentangkan tangannya dan langsung memelukku. Aku menghambur dalam pelukan mama. Berbeda dengan ibu yang justru tidak mau dipeluk.
Aku tahu, pasti mama sudah melihat kedatanganku dari jendela sehingga ketika aku belum mengetuk pintu mama sudah menyambut duluan.
"Apa kabar mantu sayang, lama gak berjumpa ya."
Lama dari mana ya ma? Padahal satu hari yang lalu baru juga bertemu. Mama ini.
"Sini masuk Dlu sayang."
Suasana yang masih sama, saat masuk rumah mas Arga aroma wangi coffe yang tidak begitu menusuk langsung tercium indra penciuman ku.
"Arga kerja ya?"
"Iya ma, pagi-pagi sudah berangkat mas Arga tadi."
"Anak itu, bisa bisanya meninggalkan istri secantik ini dirumah. Tidak sayang kah memang? Jangan sedih ya nak, kamu bisa bebas main kerumah mama sampai malam biarkan saja anak itu mencari istrinya. Berani sekali ninggalin kamu kerja."
Duh mama ini bagai mana sih, kalau gak kerja aku mau dikasih makan apa ya ma? Batinku.
"Haha, tidak papa ma, sudah tanggung jawab mas Arga buat kerja. Lagian aku gak kesepian banget, kan ada mama dan ibu juga."
"Iya sayang, tapi kan kalian masih dalam tahap tahap bulan madu jadi ya mesti menghabiskan banyak waktu berdua dong. Tenang saja besok akan mama beri pelajaran agar dia mengerti, oke." Mengedipkan mata.
"Sudah ma, tidak apa-apa. Oiya ini Jihan bawakan makanan buat sendiri loh." Ku keluarkan kotak makan yang isinya sama seperti yang kuberi kepada ibu tadi.
"Iyakah? Waah mama sudah kangen masakan Jihan looh."
Terlihat mama sangat bersemangat sekali. Dan ini membuatku sangat puas jika apa yang aku buat dapat menyenangkan orang lain.
Saat aku dan mama tengah menikmati makanan dimeja makan, tiba-tiba terdengar suara wanita yang asing ditelinga ku.
"Mama, kami pulang." Ucap salah satunya.
Aku melihat mama yang nampak senang matanya jelas berbinar, ketika si pemilik suara tadi menampakkan diri. Mereka adalah Sophia dan Shintia. Kedua kakak perempuan mas Arga.
Aku juga tak kalah terkejut sama seperti mama. Entah darimana dan sejak kapan datangnya mereka tiba-tiba masuk begitu saja.
Mama sangat senang, menyambut kedua putrinya itu dengan hamburan tangan memeluk. Melihat pemandangan ini membuatku ikut tersentuh, mama terlihat sangat merindukan mereka.
Setelah itu mama memperkenalkan aku dengan kedua kakak mas Arga, awalnya mereka berdua sangat terkejut mengetahui jika aku adalah istrinya mas Arga, mungkin saja karena aku terlihat masih seperti anak sekolahan.
Sebelumnya mama sudah memberitahu akan pernikahanku dengan mas Arga, namun baru kali ini aku berkesempatan bertemu tatap muka secara langsung dengan kedua kakak ipar ku ini.
__ADS_1
Kak Shintia menyapaku dengan ramah, wajahnya memancarkan keceriaan yang tulus, bahkan hingga memelukku. Berbeda dengan kak Sophia yang terlihat ketus dan memandangku dengan tatapan tak suka. Entah ada masalah apa baru juga kenal masa sudah ingin mengibarkan bendera perang.
Biarkan saja, aku tidak ingin ambil pusing, jika suka ya suka, jika tidak suka ya tidak suka. Aku berpikir logis untuk kali ini.