
Eps. 11
Di pemakaman.
Jihan menatap sendu ke pusara sang ayah tercinta, nisan yang terukirkan nama sang ayah seolah membuat Jihan merasakan kehilangan yang semakin dalam.
Acara pemakaman telah selesai dan menyisakan Jihan, Bu Diana, Arga dan kedua orang tuanya, Rani, dan juga Tofa.
Dalam hati Jihan berkata, "Begitu cepat ayah pergi, membuatku bingung tentang apa yang harus ku lakukan kedepannya jika ayah tidak bersamaku. Aku pasti akan sangat merindukan hadirmu, yah. Semoga tuhan menjaga ayah di sana. Akan ku lakukan permintaan ayah sebisaku, semoga ayah bahagia di sana. Aamiin," Jihan mengelus batu nisan bertuliskan nama ayahnya.
Rani menghampiri Jihan dan memberikan pelukan layaknya saudara, sembari menenangkan sang sahabat.
Pernikahan Jihan dan Arga telah di ketahui Rani dan juga Tofa, sebab mereka adalah teman yang paling dekat kepada keduanya. Awalnya Rani menolak kebenaran, dirinya tak percaya tentang apa yang didengar. Setelah melihat secara langsung jika Arga benar-benar selalu ada di samping Jihan selama proses pemakaman, barulah gadis barbar itu percaya jika sahabatnya telah menjadi istri orang.
Air mata Bu Diana tak ada habisnya bercucuran. Namun, dirinya kembali tersadar akan kenyataan. Dirinya tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, sebab masih ada separuh hidupnya yang selalu menanti kasih sayangnya, yaitu Jihan.
"Kita pulang, yaa," tepukan tangan mas Arga menyadarkan Jihan. Gadis itu masih tak bergeming.
Arga mensejajarkan tubuhnya jongkok di samping Jihan, "Jangan larut dalam kesedihan terus, itu tidak baik. Ayah sudah tenang di sana. Jangan membuatnya sedih, ya,"
Arga tersenyum dan merangkul Jihan, "Bisa kita pulang? Awan semakin mendung, ayoo," ajaknya.
Jihan mengangguk menurut, semua orang segera pergi meninggalkan makam ayah Jihan.
Dihalaman rumah Jihan, masih terpasang bendera kuning yang berkibar tertiup angin, ada perasaan trauma saat menginjakkan kaki di rumahnya. Sebab, ini adalah pertama kali rumah itu sepi tanpa ada tawa sang ayah. Batin Jihan semakin menangis sepanjang jalan dirinya terus saja memikirkan tentang kedepannya jika ayah tak bersamanya.
Mereka telah sampai dirumah Jihan, Arga masuk kedalam untuk mengantar orang tuanya dan mertuanya. Tofa turut mengikuti Arga. Sedangkan Jihan dan Rani sedang duduk di kursi taman depan rumah.
"Han, kamu yang sabar ya. Kita doakan ayah semoga mendapatkan tempat terbaik di sana. Kamu tidak boleh sedih terus. Kasihan ayah mu melihatnya.''
"Terimakasih ya Ran, atas semua dukungan mu," Jihan tersenyum.
"Iya,, yasudah aku pamit pulang, ya sudah mau hujan. Kamu istirahat dan tenangkan pikiran oke," Rani memeluk tubuh sahabatnya. Jihan membalas pelukan itu.
Rani mendekat kan bibirnya ke telinga Jihan, "Sudah jangan nangis lagi, kan sudah punya suami. Bisa elus-elusan nanti, Iya kan, ayo senyumm senyum yang manis,'' Rani menarik sudut pipi Jihan agar membentuk senyum.
Jihan melotot kearah Rani, dirinya kini tersadar jika sudah bersuami. Kesedihan benar-benar membuatnya lupa akan status barunya sebagai seorang istri
"Aku lupa Ran kalau sudah punya suami," ucapnya spontan.
Tiba-tiba Tofa dan Arga datang dari arah belakang, perkataan Jihan tadi sempat tertangkap di telinga Arga dan membuat laki-laki itu penasaran tentang apa yang sedang kedua gadis itu bicarakan.
"Sedang bahas apa kalian?" Tanya Arga.
"Ohh pak suami sudah datang, tidak apa-apa mas Arga. Emm sudah hampir gelap, aku pulang dulu ya mas, Jihan aku pamit," Buru-buru menghilangkan diri dengan jurus teleportasi.
"Nitip salam ke ibu mu ya Han, aku langsung pulang sudah mau rintik nih," sudah naik ke motor dan memasang helm.
"Iya Ran, hati-hati dijalan. Jangan terlalu ngebut, ya," balas Jihan.
"Oke besty," Rani segera meninggalkan pekarangan rumah Jihan.
Selang beberapa saat setelah Rani pergi meninggalkan mereka, Tofa turut pamit undur diri.
"Ga, aku juga pulang dulu ya. Gelap banget awannya takut kehujanan di jalan, sekali lagi yang sabar ya Ga," Tofa menepuk pundak Arga memberikan semangat untuknya.
"Makasih bro.''
Tofa ganti melihat Jihan dan berkata, "Jihan kamu yang tabah ya, jangan sedih terus. Udah punya suami loh gak boleh nangis nangis lagi, oke."
"Mas Topa makasih banyak, haha hampir lupa kalau sudah punya suami aku,'' Balas Jihan diselingi tawa canggung.
"Yasudah aku langsung cabut dulu, assalamualaikum semuanya."
Jihan dan Arga kompak menjawab salam tofa.
"Hati-hati dijalan top," sambung Arga.
Jihan dan Tofa sudah berkenalan singkat sebelumnya, sebab Arga yang memperkenalkan keduanya. Bagi Arga Tofa sudah seperti saudara sendiri oleh sebab itu dirinya berhak tahu akan pernikahannya dengan Jihan dan memperkenalkan istri barunya itu pada tofa.
"Kita masuk?" Arga membuka pembicaraan selepas kepulangan Rani dan tofa.
Jihan mengedarkan pandangannya ke sudut sudut taman kecil halaman rumahnya.
Arga mengerti jika sang istri masih belum bisa menerima kenyataan, "Sudah jangan di pikirkan lagi, ayah sudah tenang di sana. Ayo masuk hujan mau turun."
Mendapati Jihan tak bergerak, Arga meraih tangan sang istri menggandengnya agar masuk ke dalam rumah, Jihan menyekal tangan Arga. "Tunggu mas."
"Ada apa?" Arga berbalik menatap Jihan.
"Aku gak bisa kembali kerumah ku sendiri. Terlalu banyak kenangan bersama ayah, dan itu membuatku teringat lagi dengan kesedihan ini," Jihan menatap dengan sendu mata Arga.
Arga dapat menangkap aura kesedihan itu, ''Kalau begitu, mau tinggal di mana? Aku akan menurutinya."
Jihan menggelengkan kepala, "Gak tau mas."
Arga mensejajarkan tubuhnya ke hadapan Jihan, "Emm gimana kalau tinggal di rumahku saja. Mulai sekarang rumahku adalah rumah mu juga, bagaimana?"
Jihan masih menimbang-nimbang keputusan, "tapi ibu bagaimana?"
"Kita ajak saja," balasnya.
"Ibu gak akan mau kayaknya mas, soalnya ibuku begitu sayang dengan ayah. Pasti tidak tega jika meninggalkan rumah ini."
Arga memikirkan jalan keluar lain, "kalau begitu minta mama untuk menemani ibu jika ibu tidak mau tinggal ke rumahku untuk sementara. Bagaimana?"
Jihan tak tahu harus berkata apa lagi, dirinya menyerahkan keputusan ditangan sang suami, "terserah mas Arga saja. Aku ikut," balas Jihan tersenyum.
Setelah selesai menjelaskan tentang permintaan Jihan kepada orang tua mereka, tidak ada yang menolaknya. Semua menyetujui hal tersebut.
Kini Jihan telah berada di rumah orang tua Arga.
__ADS_1
"Silahkan masuk Nim," ucap Arga.
Jihan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah minimalis ini. Begitu masuk Jihan dapat merasakan ruangan ini beraroma klasik seperti coffie, berbeda dengan di rumahnya yang cenderung beraroma segar bunga dan buah.
Arga berjalan menuntun Jihan menuju kamarnya, kemudian membuka handle pintu kamar tersebut.
"Ini kamarku, masuklah," kata Arga.
"Kamar mas Arga simpel, tapi rapi ya.''
Terlihat kamar Arga banyak didominasi dengan warna putih dan terdapat satu buah lemari kaca yang lumayan besar, di samping nya lagi terdapat satu buah sofa panjang, sedangkan di sudut ruangan dekat jendela terdapat sebuah meja yang dibuat untuk tempat aksesoris seperti jam tangan dan juga ada keperluan pria lainnya seperti minyak rambut, parfum dll.
Dan itu semua tertata rapi pada tempat nya, Jihan mulai nyaman berada di kamar Arga. Sebuah spring bad berukuran sedang dengan balutan sprei serba putih, warna gorden pun ikut di selaraskan dengan warna sprei dengan sedikit renda berwarna kuning keemasan, menambah kesan mewah dan elegan.
"Bagaimana? Apa kamu merasa nyaman di sini?"
Jihan mendudukkan dirinya di atas ranjang berukuran sedang tersebut, "lebih baik mas. Aku merasa nyaman di sini."
"Syukur lah kalau kamu merasa nyaman, kamu bisa tidur di sini untuk malam ini hingga seterusnya sampai sesuka hati mu." Arga tersenyum.
"Kalau begitu, mas Arga tidur di mana dong?"
"Aku bisa tidur di sofa atau di kamar Haikal. Soalnya anak itu jarang di rumah, lebih sering tinggal di rumah Tante," balas Arga.
Oiya, mas Arga masih punya adik laki-laki, yang sangat menyebalkan itu. Batin Jihan. Ketika dirinya mengingat betapa ketus dan dinginnya sosok Haikal yang tak lain adalah adik kelasnya sendiri.
"Beneran gak apa-apa mas?" Tanya Jihan memastikan.
"Iya Nim, anggap saja kayak rumah mu sendiri. Buat dirimu senyaman mungkin disini ya, jangan khawatir kan aku. Aku bisa memaklumi keadaan kita," Arga kembali tersenyum.
Mas Arga ini baik banget sih, benar-benar perhatian.
Jihan menatap wajah Arga sambil tersenyum. "Makasih ya mas, sudah memahami aku. Jujur aku butuh banyak waktu untuk menerima semua ini termasuk pernikahan kita yang begitu mendadak," Jihan menjeda ucapannya.
Dirinya berjalan ke arah jendela yang menghadap ke halaman samping rumah Arga yang penuh bunga, Jihan menatap bunga-bunga itu. Dirinya tahu jika itu bunga pemberian almarhum ayahnya, jika Bu nur datang kerumah membantu berkebun.
"Maaf ya mas, jika membuat mu terpaksa menikahi aku demi amanah ayah dan membuat mas Arga terikat padaku," sambungnya.
"Aku tidak pernah menyesali keputusan yang kubuat Nim, jika kamu memang benar adalah takdir yang Tuhan berikan untukku, maka aku pasti akan menjagamu. Jangan pernah mengatakan bahwa pernikahan ini adalah sebuah penyesalan. Karena aku sama sekali tidak merasa begitu," Arga menatap ke arah Jihan.
Jihan juga menatap kearah Arga, manik mata keduanya bertemu. "Terima kasih mas, aku akan belajar menerima semuanya secara perlahan. Tolong berikan banyak waktu untukku." Jihan tersenyum.
"Tentu saja, kita jalani semuanya perlahan ya, aku akan membimbing mu juga," Arga membalas senyuman Jihan.
Keduanya saling menatap cukup lama. Tatapan itu tersirat perasaan baru yang tiba-tiba menyusup keruang hati mereka berdua.
Jihan tersadar dan memalingkan pandangannya, "mas Arga," panggil Jihan. Matanya masih menatap lurus keluar jendela.
"Iyaa Nim?"
"Bisa aku meminta permintaan lagi?" Tanya juga jenuh harap
"Tentu, selama aku bisa mengabulkan nya."
"Terimakasih mas, ini tidak sulit. Eemm bagaimana ya memulainya?"
"Boleh tidak jika pernikahan kita jangan sampai orang banyak tahu mas? Aku belum siap jika ini tersebar di telinga teman-teman mas Arga. Juga teman temanku, sebab aku masih sekolah mas. Dan aku sedikit malu mengakuinya."
"Aku sudah memikirkan hal itu Nim, aku berjanji tidak kan memberi tahu teman-temanku tentang ini semua. Kamu jangan khawatir, hanya Topa saja yang mengetahui nya. Sebelum kamu yang memintanya sendiri, aku gak akan melakukan yang tidak kamu sukai.''
"Terima kasih ya mas Arga," tersenyum, mata Jihan berbinar, hatinya merasa tenang. Suaminya itu cukup dapat diandalkan.
Ada getaran kencang di hati Arga ketika Jihan memperlihatkan senyum manisnya, terpancar sebuah kebahagiaan yang menjadi awal baru untuk Jihan sebab mas Arga sangat pengertian.
Manis sekali kamu sayang, teruslah tersenyum seperti ini, ya.
"Iya sama sama, aku keluar dulu ya," kata Arga.
"Mas Arga, tunggu dulu," Jihan menghentikan langkah Arga yang hendak keluar kamar.
"Iya? Ada apa? Perlu sesuatu?"
"Eemm bukan mas, sebenarnya aku ingin bilang, tidak bukan bukan itu maksudku, ah tidak jadi deh," ucapnya terbata-bata.
"Ada apa Nim? Perlu sesuatu kah? Bicaralah jangan sungkan?"
Jihan masih terlihat bingung dengan apa yang ingin ia katakan, matanya mengakses seluruh ruangan mencoba menutupi rasa gaguk yang tiba tiba datang.
"Mas Arga," panggil Jihan kembali.
Arga melepaskan tangan yang menyentuh ganggang pintu, dan berbalik menghadap Jihan. "Katakanlah, jangan sungkan."
"Mas Arga, bisa tidak jangan panggil aku Nim, aku sedikit aneh dengan panggilan itu. Hehe," Jihan tertawa canggung sembari mengusap keningnya untuk menutupi wajahnya yang malu.
Arga menahan tawanya.
"Ooh begitu ya, aku kira apa," Arga berbalik badan dan menggenggam ganggang pintu, "Nanti kita sholat berjamaah bareng ya, kita doakan ayah. Setelah itu baru aku beritahu beberapa hal," setelah mengatakan itu Arga tersenyum dan keluar kamar.
Terimakasih ya Allah, kau berikan suami pengertian seperti dia. Terimakasih ya mas Arga.
____
Di sisi lain seorang gadis tengah kelimpungan akibat motornya tiba-tiba saja mogok di jalan. Berulang kali gadis itu berusaha untuk menghidupkan motornya kembali, namun nihil. Kendaraan nya tetap tak bisa di nyalakan.
"Sialan udah mau turun hujan juga pake mogok sih Jum Jum," ujarnya pada sang motor kesayangan. Gadis itu adalah Rani. Setelah pulang dari rumah Jihan, entah mengapa motornya mendadak mogok di tengah jalan dan itu membuat Rani sangat kebingungan. Melihat awan hitam yang mulai gelap menandakan hujan akan segera turun, sedangkan jalanan yang ia lalui terlihat cukup sepi.
"Gimana nih, mana lupa bawa handphone gara-gara keburu tadi. Duhh masa jalan kaki? Mana jauh, motorku ini menyusahkan disaat yang tidak tepat !"
Tiba-tiba suara motor lain berhenti tepat di samping motornya yang mogok, orang itu membunyikan klakson nya.
"Ada apa mbak? Mogok ya motornya?" Tanya seorang laki-laki.
Rani belum melihat ke arah si suara yang bertanya, dirinya malah menggerutu kesal sembari sok sok an mengotak-atik mesin motor.
__ADS_1
"Hello? Mbakk?" laki-laki ntadi kembali memastikan jika gadis yang ditanya bisa mendengar.
Rani berdecak kesal, "ckk,, sudah tau pakai tanya lagi mas, kalau gak mogok ngapain saya berhenti dari tadi si sini?" Berkata ketus.
"Aku pikir bensin habis, atau sedang mencari sesuatu gitu. Baiklah tidak masalah, boleh aku bantu?" Laki-laki itu tak lain adalah Tofa.
Rani mendongakkan kepala nya melihat siapa si empunya suara, "Ehh mas mas temannya suami Jihan, bukan?" Tanya Rani memastikan jikalau dirinya tak salah mengingat wajah.
Kebetulan Tofa melewati jalan yang sama dengan jalur yang di lewati Rani, melihat ada seseorang sedang berhenti di tepi jalan dan terlihat sedang kebingungan membuat Tofa tergerak ingin membantu.
"Iya benar, kamu teman istrinya Arga ya?"
Rani mengangguk, ada perasaan lega karena akhirnya Tuhan menurunkan pertolongan kepadanya.
"Maaf mas agak kasar tadi nyahutin perkataan mas, soalnya aku udah kesal tadi," Jihan tertawa canggung.
"Haha gak apapa, boleh aku coba lihat motornya kenapa," Tofa sudah turun dari motornya dan beralih mengecek motor Rani.
Beberapa saat kemudian setelah memastikan penyebab motor Rani mogok, "ini busi nya mati, mangkannya mogok. Kalau gak di bawa ke bengkel aku gak bisa ganti nih. Mesinnya gak ada soalnya," jelas Tofa.
"Duh,, mana mau hujan lagi. Bengkel masih jauh dari sini juga mas," Rani khawatir.
Tofa menawarkan ajakan, "kalau mau, ikut aku aja yok, ku antar pulang sampe rumah dgn selamat "
"Tapi Motorku gimana mas?"
"Nanti aku hubungi bengkel langganan tempat service motorku, bisa kok mereka ambil asalkan tahu keberadaan motornya, gimana?"
Rani amsih terlihat bimbang, antara terima tidak ya.
"Loh kok diam? Ayo jawab, lihat mau turun hujan tuh, nah kan udah gerimis kecil.''
Rani menengadahkan tangannya ke langit, benar saja rintikan air hujan mulai turun.
"Tapi mas, saya gak enak. Emm nanti,," Rani menghentikan ucapannya. Dan memandangi Tofa dari ujung kepala hingga ujung kaki, berusaha memberikan penilaian jenis laki-laki tipe bagaimana mas Tofa itu.
"Haha, jangan takut, aku gak akan ngapa ngapain kamu kok. Aku masih waras tau, udah jangan banyakan mikir. Mau ikut atau gak? Kalau enggak ku tinggal ni, kalau iya ayoo buruan,'' mengerti arti tatapan menyelidik dari Rani.
''Nah justru itu yang aku takutkan mas, karena mas Tofa itu masih waras mangkanya aku harus berhati-hati.''
Tofa menggeleng-gelengkan kepala, ''Apa aku kelihatan semesum itu kah?"
"Kayaknya sih iya,'' balas Rani.
''Baiklah kalau gak mau ku antar, bukan aku juga yang rugi,''
Tofa segera naik ke motornya dan ingin menanyalakan mesin motor.
"Eh eh, mas tunggu. Kok aku mau ditinggal sih?" Ketusnya. "Tega banget sama perempuan.''
''Katamu tadi aku kayak orang mesum, ya kalau gak mau kuantar ya gak usah,'' sedikit kesal. Niat tulus ingin mantu justru dicurigai sebagai laki-laki mesum.
"Haha bukan gitu mas, maaf ya. Iya aku mau deh numpang. Aku tadi kan cuma berhati hati, kata ibuku jangan asal mau diajak sama orang asing,'' masih mengelak.
''Ckk banyak alasan, yasudah jadi ikut gak? keburu deras nanti.''
"Tapi bener loh ya, mas Tofa gak bakal macem macem," tekannya lagi.
"Astaga, anak ini bandel sekali sih! gak akan! Sumpah deh! Ayoo buruan naik. Atau tak tinggal nih," ancam Tofa sembari menghidupkan mesin motornya dan akan menarik gas motor.
"Ehh mas,, i-iya aku ikut. Tunggu dong," Rani mengambil helmnya dan memakainya. Kemudian naik ke motor Tofa. Sebenarnya ada perasaan waswas takut jika di apa apaan sama om-om yang lumayan ganteng ini.
Bagi Rani sekarang yang terpenting adalah ingin cepat pulang sebelum pantatnya di pukul sapu oleh ibu asuhnya, sebab pergi tak membawa handphone dan tanpa memberi kabar.
"Kalau aku punya niatan buruk sudah kulakukan sejak tadi tanpa perlu basa basi," ucap tofa ketika Rani telah naik ke atas motor.
"Ha? Ha? Apa? Bicara apa tadi mas?" Untung Rani tak mendengarnya. Karena gadis itu telah memakai helm sehingga suara Tofa tak begitu terdengar jelas.
"Gak papa, gak papa, sudah naik, pegangan ya! Jangan erat-erat! Asal kamu gak sampe terjungkal aja, aku agak barbar soalnya."
"Gak mau lah gini saja udah aman kok," ketusnya. Rani berpegangan pada ujung jok motor.
"Tau darimana kalau aman? Nanti kalau kenapa-kenapa dijalan aku juga yang tangguh jawab. Jangan bandel cepat pegangan!"
''Ya mangkanya jangan sampai kenapa-napa dong mas, emangnya mas mau tanggung jawab? enggak kan? yasudah pelan-pelan aja jalannya."
Rani tetap keukeuh pada pendiriannya, tatap tak mau pegangan ke badan tofa dan itu membuat Tofa sedikit kesal.
''Dasar bocah bandel!"
Tofa terpaksa menarik tangan Rani supaya melingkar di perutnya untuk pegangan.
"Hei hei,, mas mau apa? Berbuat mesum ya?" Rani mulai heboh sendiri.
"Dasar kamu yang mesum! Orang cuma suruh pegangan aja kok. Cepat pegangan atau turun saja!" Tofa melirik Rani dari kaca sepion gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya kesal.
"Huh,, iya iya! pegangan ya tinggal pegangan, udah nih!"
Rani menggenggam jaket Tofa untuk dirinya pegangan. Sambil menggerutu kesal dalam hati. "Pegang jaket aja, gak mau pelu- peluk kayak tadi."
"Terserah! Asal gak pegang pegang yang lain! takutnya kamu malah yang cabul, bukan aku," ucap Tofa.
"Idih memangnya aku kelihatan cabul gitu itu kah?''
"Kayaknya sih iya,'' balas Tofa diselingi senyum kemenangan, seolah berhasil membalikkan perkataan Rani sebelumnya yang mengatakan dirinya terlihat seperti pria mesum.
"Heh! Sembarangan aja kalau ngomong, cepat jalan mas tuh sudah turun banyak rintikan nya."
"He'emm pegangan!"
Sial banget sih, kayak habis ditampar omongan sendiri aku. Kalau bukan karena aku lagi sendirian, pasti sudah ku tonjok babak belur om ini. Batin Rani.
Tofa menahan tawanya melihat kekesalan gadis konyol satu ini.
__ADS_1
"Dasar bocil!" Ucapnya sebelum menaikkan standar motor setelah itu segera menarik gas motor dan melajukan motornya melawan hukum alam sebab awan hitam benar-benar mengungkung mereka.
Sedang Rani tak mendengar perkataan Tofa tersebut dirinya masih asyik menggerutu kesal.