
Beberapa orang bilang katanya masa masa paling indah adalah masa masa di sekolah. Kehidupan sekolah memang penuh warna dan banyak cerita. Seolah kita yang sudah lama berpisah dari masa pendewasaan itu, kini ingin memutar waktu. Kembali pada masa-masa yang jauh dari banyaknya permasalahan orang dewasa.
Hari ini adalah persiapan menuju ujian akhir sekolah Jihan. Ia dan para kawan-kawannya turut serta mempersiapkan diri menuju hari yang menentukan masa depan mereka semua.
Jihan duduk di perpustakaan sembari membuka lembaran demi lembaran buku yang bertumpuk di atas meja.
Ia bolak balikkan setiap halamannya, entah benar dibaca atau hanya sekadar memeriksa isinya barangkali ada celah kata yang cacat.
Brukkkk
Rani terlihat kelelahan membawa setumpuk buku tebal yang langsung ia letakkan di atas meja.
"Ngagetin orang aja deh, kebiasaan kamu!," sahut Jihan.
''Berat tau! kamu bukannya bantuin temannya bawa malah duduk di sini doang. Enak-enakan lagi!'' ketus nya.
''Siapa bilang enak-enakan, aku lagi belajar ya! sudah diam jangan ganggu aku!''
''Idih dasar nggak tau diri, teman nggak ada akhlak. Dia yang suruh bawa ini, malah kurang hajar,'' Rani benar-benar kesal dengan tingkah sahabatnya ini.
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki menyapa. ''Hai semuanya. Aku boleh gabung?''
Rasanya suara ini nggak asing. Batin Jihan.
Mampus gue, perasaanku gak enak. Batin Rani.
Kedua perempuan itu mengangkat kepala menoleh ke sumber suara. Dan benar saja. Laki-laki yang diharapkan jangan sampai bertemu dan mencoba menghindari dimanapun keberadaannya, kini justru bertemu.
''Satrio!'' keduanya sama-sama terkejut.
''Hehe, boleh gabung nggak?'' tanya nya sekali lagi.
Rani dan Jihan tidak langsung menjawab tetapi justru saling menatap satu sama lain. Seolah tau apa yang akan terjadi jika membiarkan satrio bergabung.
''Kita mau cabut, ayo Han udah hampir masuk kelas.''
Rani menggandeng tangan Jihan, namun belum selesai menyimpan buku, satrio kembali berkata.
''Kalau kamu pergi, aku bocorkan rahasiamu Jihan,'' katanya dengan nada sedikit mengancam.
Sialan! harusnya aku lebih waspada tadi. Batin Rani amat kesal.
"Maksud kamu apa ya? Aku nggak ngerti, rahasia apa?" tanya Jihan sewot.
Satrio menatap Rani, "Kamu juga pasti tau yang ku maksud kan?" tersenyum mengejek.
Jihan menelan ludahnya, seolah tercekat. Sulit untuk berbicara.
"Kalian jangan menyembunyikannya lagi, aku juga punya bukti," Satrio berjalan memutar meja dan mendekatkan mulutnya diantara telinga Jihan dan Rani.
"Aku tahu rahasiamu, khususnya kamu Jihan. Kamu sudah ME-NI-KAH."
Setelah mengatakan itu Satrio tersenyum puas.
__ADS_1
Jihan membatu, tubuhnya serasa kaku. Hal yang paling ditakuti akhirnya terjadi juga. Satrio si laki-laki mulut ember dan jabir ini telah mengetahui rahasia nya. Dan sekarang Jihan khawatir jika pernikahannya akan segera tersebar di seluruh sekolah. Dan mengakibatkan ancaman tidak bisa mengikuti ujian kelulusan.
Jihan segera tersadar dan kembali menguatkan diri.
"Bukan urusanmu, jadi orang tolong jangan suka mencampuri urusan orang lain!"
Jihan menggandeng tangan Rani akan pergi, namun Satrio tidak tinggal diam.
"Gimana ya.. kalau satu sekolah tahu perbuatanmu itu? Apalagi aku punya bukti foto kamu serumah dengan laki-laki. Ck ck ck.. Bisa ikut ujian nggak tu?"
"Heh loh jadi orang gak punya kerjaan banget ya. Sampe jadi penguntit ilegal begitu. Lebih baik lo diam dan nggak usah ikut campur!" sahut Rani dengan bara di hatinya.
Satrio tidak takut, justru ganti mengancam. "Aku sih kasihan sama kamu juga. Jadi sahabat yang ikut ikutan nyembunyikan status sahabatnya. Emang dibayar berapa untuk tutup mulut sama suaminya? "
Kesabaran Jihan hampir habis. Dan tangannya sudah terangkat akan menampar wajah Satrio.
"Berani kamu sentuh wajahku, aku nggak akan segan membalas berkali lipat menyentuh tubuhmu yang lainnya."
Jihan mengepalkan tangannya ke udara.
"Sialan loh cowok brengsek!! Inilah alasannya kenapa aku gak pernah mau Terima kamu. Sikapmu yang brengsek ini alasannya. Oke kalau itu mau mu silakan. Silakan lakukan. Aku nggak akan takut hanya karena gertakan mu!.''
Gadis itu segera mengambil buku-buku nya dan pergi begitu saja.
"Lo tau makhluk apa yang paling gak punya hati di dunia ini? dan hidup lagi? Enggak, nggak tau? Elo itu jawaban nya!" Rani mendorong tubuh Satrio dan segera pergi menyusul Jihan.
Satrio terduduk di bangku, namun tatapannya masih tajam melihat jihan hingga tubuh gadis itu tak terlihat lagi karena terhalang tembok.
Kebencian dan rasa kecewa dimatanya sangat tergambar jelas. Tentang penolakan jihan dan tentang seberapa lama dia memendam perasaan suka pada gadis impiannya tersebut. Namun tadi hati nuraninya sedikit terusik, ketika mengetahui jika gadis yang ia sukai bersikap acuh padanya, sama sekali bukan seperti jihan yang ia kenal dulu.
"Heuh.. siapa suruh dulu menolak ku. Padahal jika kau berikan aku kesempatan sedikit aku pasti bisa jadi lebih baik,'' satrio masih tak bisa menerima kenyataan.
''Memangnya kenapa kalau sudah bersuami? Toh aku yakin kalian menikah karena paksaan. Memang dia bisa bertahan sama anak sekolah seperti mu? Jelas usia kalian terpaut jauh, kalian tidak cocok jadi tidak boleh bersama. Tidak boleh bahagia!" tatapannya lurus kedepan penuh membara.
Satrio teringat lagi pada masa lalu antara Jihan dan dirinya.
Ketika itu Satrio menyukai Jihan semasa duduk di bangku SMP hingga SMA ini. Setiap harinya Satrio selalu memperhatikan jihan.
Berusaha memahami dirinya, dan selalu ada untuknya. Beberapa tahun berlalu mereka memasuki bangku SMA, Satrio mulai berani mengungkapkan rasa sukanya. Rasa suka yang perlahan berubah menjadi cinta. Entah hanya keegoisan untuk keinginan memiliki atau murni rasa cinta.
Intinya saat itu Satrio menginginkan hubungan lebih dari seorang teman. Satrio amat merasakan pedihnya hubungan yang terjebak dalam friendzone. Padahal hanya Satrio yang merasa begitu, Jihan mah tidak.
Hari itupun Satrio telah membulatkan tekad untuk mengungkapkan perasaan nya pada Jihan. Saat semua telah diatur dan ia kira akan berjalan dengan lancar. Moment dimana dia telah mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya, justru jawaban yang tidak ingin di dengar Satrio lah yang terucap dari bibir Jihan.
Jihan tidak mengatakan alasannya, hanya dia tidak bisa menerima Satrio memang saat ini kondisinya.
Dan pernyataan Jihan amat melukai hati Satrio. Dia bertekad mencari tahu alasan sesungguhnya. Hingga pada akhirnya ia pun mengetahui jika alasan Jihan menolak adalah karena Jihan telah memiliki suami.
Sempat tidak mau mempercayai itu semua, namun semakin di cari tahu mana kebenarannya semakin nyata. Gadis yang ia sukai memang benar-benar sudah menikah. Beberapa hari satrio mengikuti jihan tanpa sepengetahuan gadis itu, kenyataannya jihan menang sangat bahagia dengan suaminya.
Marah iya kecewa pun juga di rasa. Saat itu satrio dikuasai emosi hingga ia mengambil beberapa foto untuk dia simpan sendiri. Berharap jika foto-foto yang ia ambil bisa menjadi pedang untuk merusak keharmonisan rumah tangga jihan.
"Ternyata aku masih lemah. Belum bisa melupakan kamu sepenuhnya Jihan. Tapi aku juga tidak mau menyerah. Kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu, maka orang lain juga tidak boleh."
__ADS_1
...****************...
Sejak kejadian itupun, Jihan dan Rani berusaha mengurangi kontak dengan satrio. Tak ingin lelaki itu terpukul dan terus teringat dengan hari penolakan itu. Karena bagaimana pun Jihan hanya menganggapnya sebatas teman saja tidak lebih.
Terkadang juga sikap satrio yang terlalu terang-terangan dan bersikap gegabah, membuat jihan sedikit tidak nyaman jika terus berkontak dengan dia. Takutnya akan membawa vibes negatif. Dilihat dari segimanapun, satrio memang tidak cocok untuk jihan. Apalagi sifatnya yang bisa dibilang masih kekanak-kanakan. Wajar jika jihan memilih menjauh untuk menjaga diri.
''Kamu nggak apa-apa Han?'' Rani memastikan keadaan sahabatnya ketika sudah sampai di dalam kelas.
''Aku nggak apa-apa kok Ran, hanya sedikit kesal saja.''
''Syukur kalau begitu, untung keadaan perpustakaan tadi nggak terlalu ramai ya. Jadi nggak ada yang dengar,'' sambung Rani.
''Iya Ran. Padahal aku udah kesal tadi mau tampar mulutnya bukan pipinya.''
''Sabar Han. Kalau ada kesempatan aku bantu hajar dia oke. Nah sekarang ceritanya bagaimana kalau dia sampai menyebarkan kenyataannya?''
Jihan menarik nafas dalam-dalam. ''Mau bagaimana lagi Ran? memang kenyataanya begitu, kalau sudah saatnya terungkap ya pasti akan terungkap juga. Intinya sekarang hubunganku dengan mas Arga sudah kembali baik-baik lagi. Cukup ada dia yang menopang ku, aku nggak perlu khawatir.''
Rani menganggukkan kepalanya. ''Sabar ya Han.. Sebagai teman aku cuma bisa menyuruhmu sabar,'' memeluk sangat sahabat.
''Iya.. Apaan sih pake meluk meluk segala. Yang boleh meluk aku tuh cuma pak suami aja, tauu??''
''Idih mentang-mentang udah ada yang peluk peluk.''
Jihan menyengir, ''Justru sekarang aku yang khawatir sama kamu. Aku nggak mau kamu ikut-ikutan keseret dalam masalahku. Aku takut kamu kena akan kena imbasnya.''
Rani merangkul pundak sahabatnya, ''Don't worry be happy my besty. Itu nggak akan terjadi kok. Aku kan cukup pintar. Pokoknya apapun yang terjadi aku selalu membelamu. Tenang, itu nggak akan berdampak sama aku kok.'' Rani tersenyum.
''Terimakasih ya ran, aku bangga punya sahabat sebaik kamu. Miss you.''
Jihan dan Rani berpelukan seperti teletubbies. Kondisi keluarga Rani sebenarnya juga sangat rumit. Oleh karena itu dia jarang menceritakan masalah keluarganya pada Jihan, ia hanya tidak ingin menambah beban pikiran sang sahabat.
Jangankan pada sahabat, untuk sekadar bercerita atau membagi masalah pada orang tuanya sendiri saja hampir tidak pernah Rani lakukan. Tidak heran jika orangtua Rani hampir tidak mengetahui dengan siapa saja puterinya itu berteman. Terlebih tidak tahu jika putrinya memiliki sahabat yang bahkan sudah bersuami.
Itulah Rani, si cantik periang dengan sejuta pesona senyum namun memedam banyak sakit hati di batinnya. Si cantik pengertian namun kurang perhatian dari orang tuanya.
''Pokoknya kita harus lebih sering jauh-jauh dari Satrio si sok Friendzone itu katanya, hahhaaa sadboy banget sih dia. Dia itu pembawa aura negatif."
"Iya Ran, yang boleh positif cuma aku aja dan itupun harus gara-gara Mas Arga. Hahaa.''
''Apa? 😧 Jadi kamu udah sensitif?" Rani. menyebutkan nama merk testpack.
''Apa sihh jangan ngaco deh," Jihan menggeleng-gelengkan kepala.
''Jihan aku nggk nyangka kamu udah sensitif aja, pantes aku lihat waktu itu di tas kamu ada testpack rupanya.''
Rani menepuk tangan.
''Ehh itukan yang dulu aku beli sama kamu. Aku takut, karena waktu itu telat datang bulan, makanya aku suruh kamu temani beli.''
''Benar, bahkan aku sampe malu, gimana mau hamil kalau belum pernah berhubungan. Dasar aneh kamu." Agak kesal.
''Buat jaga jaga Ran hehe.."
__ADS_1
''Jadi bagaimana? sensitif di tambah sensitif jadi positif kembar yaa?"
''Gila anak ini, apaaan sih udah jangan ngaco.'' Jihan tertawa lagi. Disusul Rani yang ikut tertawa kencang.