Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Sesakit inikah Rasanya?


__ADS_3

Eps. 9


Jihan terduduk cemas sembari meremas tangannya yang mulai dingin, sedang sang ibu terlihat mondar-mandir menunggu pintu ruangan terbuka.


Setelah beberapa menit yang lalu tiba di rumah sakit, ayah Jihan langsung dilarikan ke ruang IGD. Sebab ditengah perjalanan sang ayah sampai memuntahkan darah kental. Hal itu semakin membuat panik seisi mobil.


Bu Nur menghampiri Jihan yang sedang menengadah sambil bibirnya tak henti hentinya mengucap doa, memohon agar sang ayah diberi keselamatan.


"Jihan, yang tabah ya sayang. Ayah pasti akan baik-baik saja. Jangan khawatir, kita harus berpikir positif." Sembari memberikan usapan di punggung Jihan.


"Gimana gak khawatir Tante, aku takut. Sangat takut ayah kenapa-napa. Ayah sama sekali gak cerita sebenarnya ayah sakit apa. Dan tiba-tiba memuntahkan darah begitu. Aku benar benar takut Tante," terlihat tetesan air mata mulai mengalir di pelupuk mata Jihan.


"Sudah sayang, Iya tante paham kekhawatiran mu sudah jangan nangis lagi ya, kita tunggu saja hasil pemeriksaaan nya berdoa saja semoga semuanya tidak buruk," ucap Bu nur menenangkan Jihan.


Namun perkataan Bu Nur justru membuat Jihan tak tahan ingin mengeluarkan air mata.


Bu Nur tak sampai hati melihatnya, hingga membuat dirinya meraih tubuh Jihan dan membawa gadis itu dalam pelukannya.


Arga tengah memperhatikan Jihan, ada perasaan sakit yang ikut Arga rasakan ketika melihat gadis yang biasanya tersenyum ceria itu menangis di pelukan sang mama.


Arga berjalan menghampiri Bu Diana. Menyuruh bu Diana untuk duduk dan tidak mondar-mandir lagi.


"Tante jangan banyak berjalan terus, kalau Tante kecapekan dan ikut sakit, kasihan Jihan nanti. Lihat dia begitu sedih," Arga menunjuk kearah Jihan yang masih menangis dalam pelukan mamanya.


Bu Diana menghampiri Jihan, "Maaf Nim, maafkan ibu. Selama ini terlalu keras pada kalian. Kamu dan ayahmu. Ibu sampai tidak tahu apa penyakit yang di tanggung ayah seorang diri. Maafkan ibu Nim maaf," ibu menangis menyesali perbuatannya yang terkadang sikapnya suka kasar pada Jihan dan suaminya.


"Ibu jangan bicara seperti itu lagi ya. Jihan gak pernah marah sama tindakan atau ucapan ibu. Karena ibu melakukan itu karena ibu sayang kami," kemudian Jihan menghamburkan badannya ke pelukan ibunya sendiri.


Jihan tak ingin mempermasalahkan hal itu, kini satu-satu nya yang ia pikirkan adalah ayahnya harus sembuh dan harus sembuh. Itu saja yang ia inginkan.


Selang beberapa saat kemudian pintu ruangan itu terbuka. Terlihat seorang dokter yang menangani ayahnya keluar dari ruangan.


"Bisa bicara dengan keluarga pasien?" Tanya sang dokter laki-laki tersebut.


"Saya dok, istrinya." Ujuk Bu Diana.


"Mari ikut saya sebentar, ada hal yang ingin saya sampaikan."


Bu Diana mengangguk, tiba-tiba Jihan menyahut, "aku juga mau ikut Bu!"


"Tunggu sini saja Nim, nanti ibu beritahu ya, kamu jaga ayah."


Kemudian Bu Diana segera berjalan menyusul dokter.

__ADS_1


"Tapi Bu.." ucapannya terputus.


"Tunggu sini saja Nim," Arga menahan lengan Jihan yang hendak menyusul sang ibu.


"Iya sayang, ibu akan segera kembali nanti." Sambung Bu Nur.


Jihan menghapus air mata yang terus membanjiri wajahnya, kemudian berjalan menatap kearah ruangan sang ayah di rawat.


''Aku sayang ayah, semoga ayah tidak pergi jauh dari aku,''


Ucap Jihan dengan sendu.


Diruang dokter, terlihat Bu Diana tengah fokus menyimak perkataan demi perkataan sang dokter, Bu Diana terkejut hingga reflek bibirnya menganga tak percaya,. Terlihat guratan wajah yang campur aduk antara sedih bingung khawatir kaget dan terpukul. Ketika dokter mengatakan yang sesungguhnya mengenai penyakit sang suami. Bu Diana bahkan dibuat lemas dengan apa yang ia denger dari penuturan sang dokter.


"Jadi kenapa suami saya menutupinya dok? Malah tidak berkata jujur. Dia bilang hanya batuk biasa," kata Bu Diana kepada dokter yang sama, ketika memeriksa penyakit pak Ardi sebelumnya.


"Saya kurang tahu Bu, sebab pak Ardi sendiri yang meminta agar menutupinya. Beliau hanya mengatakan jika tidak ingin membuat anak istrinya khawatir. Saya sempat menyarankan untuk kemo, pak Ardi juga menolaknya sebab persentase kesembuhannya tidak banyak karena ini sudah stadium akhir. Hanya Tuhan saja yang tahu." Jelasnya singkat.


Hati Bu Diana sangat hancur, sangat sakit. Rasanya seperti sebagian dari dirinya akan hilang. Apakah sesakit ini rasanya?


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Bu Diana keluar dari ruangan tersebut. Terlihat Jihan sudah berdiri sedari tadi menunggu sang ibu keluar dan berharap memberinya penjelasan mengenai sakit sang ayah.


Harap harap cemas terpancar dari wajah Jihan, matanya sembab dan sedikit memerah akibat kebanyakan menangis.


Jihan terus bertanya, namun ibu tak kunjung menjawabnya. Ibu masih bingung bagaimana menyusun kata agar tidak terlalu terdengar menyakitkan di telinga sang putri.


"Bu,," panggil Jihan kembali agar ibunya segera memberikan jawaban.


Dari arah belakang terlihat Arga dan sang mama berjalan menuju Jihan. Mereka masih diam menunggu jawaban sang ibu.


"Ayah,,, dia,, ayahmu," ucapan ibu tersendat. Antara tak mampu meluapkan dan bingung bagaimana caranya menyampaikan pada Jihan. Karena tak ingin membuat Jihan kembali bersedih.


"Ayoo ibu katakan, ayah kenapa? " Jihan tak dapat membendung air matanya lagi. Matanya mulai berkaca kaca. Melihat ekspresi ibunya yang ikut sedih membuat Jihan memiliki dugaan bahwa ada hal buruk yang sedang terjadi.


"Ayah sakit kanker stadium akhir, Nim. Usianya tidak lama lagi," setelah mengatakan itu Bu Diana terduduk lemas air mata yang coba di tahan dari tadi pada akhirnya tumpah.


Bagai di sambar petir hati Jihan hancur. Seolah bagian dari dunia telah usai. Jihan menganga tak percaya. Dirinya amat hancur. Masih mencoba menyangkal kebenaran itu.


"Tidak mungkin, ibu lagi becanda kan. Bu!" Jihan mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir kembali. "sudah keadaan seperti ini masih bisa bercanda. Gak lucu Bu!"


"Ibu tidak bercanda Nim, ibu bilang yang sesungguhnya." Bu Diana menatap mata Jihan. Mencoba meyakinkan sang putri tentang kebenaran. Meskipun kebenaran itu adalah hal yang paling menyakitkan sekali pun namun kita tidak boleh menyangkalnya. Sebab tidak akan bisa diperbaiki. Tinggal diri sendiri harus mampu menerimanya dengan hati yang lapang.


Tubuh Jihan mendadak gemetar, kakinya lemas. Pikirannya sudah berlalu kemana-mana. Memikirkan bagaimana hidupnya nanti jika tidak ada sang ayah. Separuh hidupnya direnggut. Bahkan dia belum sempat mewujudkan kebahagiaan sang ayah.

__ADS_1


"Gak mungkin, ini pasti salah. Dokter pasti salah Bu. Gak mungkin ayah gak akan pergi kemanapun. Ayah pasti akan tetap sehat. Ini mimpi ini semua bohong, " Jihan merasa frustasi. Menolak kebenaran tersebut. Arga yang berdiri dibelakang Jihan menjadi tak tega. Hatinya ikut tersayat pula.


Dengan sigap Arga meraih tubuh Jihan yang hampir terjatuh merangkulnya dan menopang tubuh yang sedang rapuh itu. Mencoba memberikan kekuatan di sana.


Sedangkan bu nur juga sama terpukulnya, hingga tak terasa air mata ikut membanjiri pelupuk matanya.


Layaknya sebuah keluarga Bu Nur mencoba memberikan kekuatan untuk tetangga yang telah ia anggap saudara sendiri itu. Bu Nur memeluk tubuh ibu Jihan sembari menenangkannya.


"Nim, tenangkan dirimu. Jangan rapuh, kamu harus kuat. Ingat, ayah masih ada sama kita saat ini. Jangan buat dirinya ikut sedih sebab melihatmu serapuh ini, ya." Tangan Arga tergerak mengusap kepala Jihan.


Jihan menatap wajah Arga, "tapi aku gak sanggup mas, ini terlalu sakit untukku. Aku merasa kehilangan separuh duniaku," Mata sendu itu kembali meneteskan air mata.


"Shuutt, shuutt tenang lah.. jika kamu butuh tempat untuk menangis aku pinjamkan pundak ini. Selama itu bisa mengurangi tangismu, Nim." Ucap Arga. Hatinya tak tega melihat Jihan yang sedang menangis.


Jihan tak kuasa menahan sakit hatinya, reflek dirinya menjatuhkan kepala ke pundak Arga. Arga menerima gadis yang tengah terpukul itu, kini tangannya merangkul tubuh Jihan dan membawanya dalam pelukannya.


Arga mencoba menghibur Jihan, "Hanya separuh dunia mu yang hilang kan. Kamu merasa begitu bukan? misal Nim, jika kamu memintaku menggantikan separuh dunia yang hilang itu aku bersedia."


Jihan menghentikan tangisnya, sedikit mengusap hidungnya yang penuh dengan ingus, "Maksudnya? Mas Arga mau jadi pengganti ayahku begitu kah? Huuu jahat sekali masa mau menikah sama ibuku." 😭


Tangis jihan semakin pecah. Arga kelimpungan sendiri. Padahal bukan itu maksudnya kenapa Jihan mikir nya ke situ.


Astaga anak ini kenapa polos sekali. Arga tersenyum getir dalam hati.


"Heyy jangan tambah menangis kencang begitu dong, bukan. Bukan itu maksudku. Sudah diam yaa maafkan aku," merangkul pundak Jihan.


"Lupakan saja yaa, jangan dipikirkan hal yang tadi, oke. Sini, aku pinjamkan tubuhku buat sandaranmu menangis."


"Tapi maaf mas, baju mas Arga jadi basah kena sedikit ingusku tadi. Habis mas meluknya agak erat tadi," dasar Jihan masih sempat-sempatnya ya bercanda.


"Nggak apa apa nim, jika perlu pakai saja bajuku buat mengelap ingusmu, mau tidak?"


Tak diduga Jihan mengangguk, "Mau mas. Hidungku sudah mampet."


Dan benar saja tanpa merasa ragu, Arga melepas jaket yang ia kenakan. Agar Jihan bisa mengelap ingus dan air matanya sesuka hati di jaket itu.


"Jangan mas, gak perlu sampai di buka beneran. Aku cuma bercanda saja.''


"Kalau butuh beneran gak masalah Nim pakai saja, nih," desak Arga menyodorkan jaketnya, namun Jihan menolak. Tapi Arga tidak menyerah, dia sodorkan lagi jaketnya sampai Jihan menerimanya.


Sehingga itu membuat keduanya saling lempar lemparan jaket, dan itu membuat Jihan mengurangi sedihnya. Namun tak melupakan rasa sakitnya.


Arga sedikit tenang, jikalau gadis itu bisa mengontrol kesedihannya. Dia juga sedih hanya saja tidak ingin menunjukkan hal itu agar dirinya bisa menjadi penopang bagi keluarga Jihan yang sedang runtuh.

__ADS_1


__ADS_2