
Eps. 25
"Han!" Panggil Rani ketika mereka sedang makan siang di kantin.
"Hmm," menjawab singkat.
"Kenapa sih? Pms belum sembuh?" Tanya Rani lagi sembari menyuapkan bakso ke mulutnya.
"Ck, aku lagi kesel. Kamu diam aja deh, aku lagi pusing ini."
Rani tidak bertanya lagi, sebab dia tahu jika sang sahabat tengah kesal semua orang bisa kena getahnya.
Tak seperti biasanya jihan yang ceria mendadak murung. Rani sempat berpikiran jika sahabatnya itu mungkin sedang ada masalah rumah tangga.
___
"Anak-anak, Minggu depan kita sudah mulai ujian ya. Dimohon untuk mempersiapkan diri masing-masing dan lebih giat belajar lagi. Dan bagi..," Bu Meri menjeda ucapannya kemudian melirik kearah Rani gadis itu tengah tersenyum lebar. "Yang suka membolos jam pelajaran tolong jangan dibiasakan! Atau sekolah akan mempersulit ujian kalian. Sampai sini paham?!"
Itu kata perintah atau ancaman sih? Kenapa terdengar tidak enak. Rani.
Semua siswa mengangguk mengiyakan. Sebentar lagi menjelang kelulusan Jihan dan teman-teman. Rasanya tidak lama lagi hanya menghitung mundur mereka benar-benar akan berpisah. Semua kenangan yang pernah terangkai disekolah tercinta itu akan menjadi memori terindah. Memori yang dirangkai yang disimpan dalam hati serta dikenang dalam ingatan.
Selama duduk di bangku sekolah Jihan sama sekali tidak pernah merasakan jatuh cinta ataupun berpacaran dengan laki-laki manapun. Benar-benar hanya fokus mengurus dirinya sendiri dan pendidikan.
Hingga suatu perjodohan mendadak yang mengharuskan dia langsung menikah dengan lelaki pilihan sang ayah. Sempat membuat Jihan sedikit frustasi namun dia bisa menghadapinya. Jihan adalah gadis yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru perlahan mulai bisa menerima kehadiran suami dalam hari-hari nya.
Tapi kenapa saat dia benar-benar sudah jatuh hati dengan sang suami, justru mas Arga melakukan tindakan yang mengecewakan dirinya? Benar bisa di percaya atau tidak? Atau hanya salah paham kah semua ini?
Ingin bertanya tapi masih kesal. Hati menolak untuk mencari tahu tapi akal justru bergejolak ingin mencari tahu. Apa tidak bisa ya semuanya itu mengikuti kata hati saja? Dan kenapa masih mengedepankan gengsi?
Sebuah ketukan di helm membuyarkan lamunan gadis itu.
"Ngelamun aja Han? Ini sudah sampai rumah. Mau turun gak?" Tanya Rani ketika motor yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman depan rumah Jihan.
Jihan hanya melirik lesu, "kok kayaknya hari ini cepat sekali ya? Tau tau sudah pulang lagi kerumah."
Jihan menghela nafas panjang, "Kenapa kamu gak ajak aku muter-muter sekali lagi ran?"
Rani mengernyitkan dahi, "Kamu demam ya Han?" Tangannya tergerak menyentuh dahi sang sahabat.
"Enggak panas kok? Tapi kenapa kamu aneh sih hari ini? Kelihatannya lesu banget, bukannya kalau disekolah selalu semangat? Dan mau cepet-cepet pulang biar ketemu pak suami?"
"Entahlah Ran aku lagi bete. Bad mood males ketemu mas Arga."
Rani pun mencoba untuk mengajak Jihan membuka diri. Menceritakan keluh kesahnya, meski gadis itu tahu jika tidak baik ikut campur urusan rumah tangga orang. Tapi namanya wanita normal tidak bisa jika tidak menggosip.
Rani pun mengajak Jihan duduk di bangku dekat pohon yang teduh. "Duduk dulu, kita gosip sebentar," ajaknya.
Jihan pun mau tidak mau dari pada pusing sendiri akhirnya membagi unek-unek yang berada di hatinya. Menceritakan semuanya tentang masalah mas Arga dan janda menyebalkan itu.
Rani sebagai seorang sahabat baik mendengarkan semua cerita Jihan. Sesekali sambil menanggapi.
Selesai bercerita Rani pun ikut kesal. Dia mengepal tangannya dan bersiap ingin memberikan bogeman di wajah janda gatal itu.
"Ini gak bisa dibiarin! Enak aja main gatel sama laki orang. Kalau gatel itu garuk sendiri kenapa ngajak suami orang."
"Sudah kubilang kamu pasti kesal mendengar nya makanya aku nggak crita. Huh kamu aja yg bukan istrinya mas Arga kesal apalagi aku."
Rani terduduk kembali, menetralkan emosinya. "Terus udah minta penjelasan pak suami belum?"
Gadis itu menggeleng, "Habis sarapan aku buru-buru berangkat gitu. Kamu sudah jemput. Ya aku tinggal mas Arga."
"Jadi kamu berangkat sekolah tanpa restu suami ya? Hayoo dosa loh!" Ledek Rani.
Jihan pun segera menggelengkan kepalanya, "Mana ada! Aku tetap cium tangan kok. Tapi habis itu langsung pergi."
"Kasihannya pak suami," menggelengkan kepala. "Tapi biar tahu rasa juga sih siapa suruh berurusan sama janda bodong itu."
Jihan terdiam mendengarkan ocehan sang sahabat.
Rani lanjut berkata, "tapi Han, kamu mikir gak sih. Kalau berada di posisi mas Arga akan melakukan hal yang sama lagian si Mutia itu hampir sekarat deh kyanya makanya pak suami sampai gak tega. Lagian aku yakin kok maksud sesungguhnya pak suami bantuin Mutia itu karena nggak mau lihat dia terkapar didepan rumah kalian. Maksudnya eekk gitu loh," memperagakan gerakan seperti orang mati mendadak.
Jihan beralih menatap Rani. "Bisa jadi ya ran. Ehh tapi aku tetap kesal lah, kenapa gak langsung cerita ke aku? Malah bohong bilang sudah minta ijin. Emang kapan?"
"Lewat handphone kali ijinnya." Celetuk Rani.
Tiba-tiba Jihan teringat jika semalaman hingga sekarang ini ponselnya berada dirumah sang ibu. Dan kehabisan daya. Bisa jadi ini semua hanya kesalahan pahaman.
Setelah tersadar, Jihan mengusir sahabatnya itu untuk pulang. Karena hari semakin siang dan diyakini Rani ingin berhibenasi.
___
__ADS_1
Jihan sudah berada dirumah orang tuanya. Masih memakai seragam sekolah lengkap. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua siang. Sebentar lagi suaminya akan pulang jadi dia sedikit tergesa-gesa sebab belum menyiapkan makanan
"Loh loh datang kok tidak salam malah nyelonong masuk aja Nim?" Sahut ibu di depan ruang santai sambil menonton tv
"Maaf Bu, assalamualaikum," ucap Jihan. "Jihan cari handphone Bu mau ke kamar.
Gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar sembari sedikit berlari. Ketika sudah sampai didepan pintu ia langsung membukanya dan mencari handphone tersebut. Ketika sudah dapat dia menyalakan tombol power namun benar handphone low batt. Pantas seja jika benar mas Arga menghubungi nya dia tidak tahu.
Jihan segera keluar kamar dan ingin segera pulang kerumahnya.
"Loh loh kok buru-buru? Gak sopan ya kamu."
"Maaf Bu, nanti Jihan jelasin. Jihan pulang dulu ya," jawabnya terburu-buru.
"Gak mau makan dulu Nim?"
Jihan memutar ganggang pintu, "tidak Bu! Nanti saja."
Gadis itu pulang sembari berlari untung jarak rumah mereka tidak jauh. Jihan segera berganti pakaian dan mengcas handphone nya. Sembari menunggu dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan ketika mas Arga pulang.
Dia sadar jika sikapnya tadi lagi sedikit keterlaluan dengan sang suami. Seharusnya dia tidak bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Jika memang ini semua adalah kesalahpahaman maka sebaiknya diselesaikan.
Setelah beberapa saat berkutat di dapur akhirnya masakan pun siap. Jihan menyusun semuanya diatas meja makan, memeriksa sekali lagi jika hidangan itu telah sempurna. Jam menunjukkan pukul empat sore. Berarti setengah jam lagi suaminya akan pulang.
Dia beralih kedalam kamar untuk membersihkan diri setelah itu kembali mengambil handphone nya. Ketika baterai sudah separuh terisi dia menyalakan tombol power. Dilihat kosong. Tidak ada pesan ataupun panggilan yang masuk. Jihan memeriksa beranda chatnya dengan sang suami. Masih sama tidak ad chat baru yang masuk.
Masa mas Arga beneran nggak lapor ke aku sih?
Masih mencoba menahan emosi. Memang ya wanita pencemburu adalah makhluk paling ribet. Sebab selalu berperang dengan pikirannya sendiri. Selaku overthinking meski hanya kejadian kecil sekalipun. Diam dirumah kepikiran keluar rumah tambah overthinking lagi.
Mencoba tenang sesaat. Jihan menghela nafas dalam-dalam.
Tunggu saja mas pulang baru dibahas..
____
"Saya tidak mau dengar lagi ada kesalahan seperti ini ya! Sedikit saja tidak teliti kita semua rugi," kata seorang pria yang duduk di sebuah ruangan. Pria separuh baya itu memijit keningnya merasakan pusing yang tiba-tiba menjalar.
"Kamu tau gara-gara kelalaian kamu, bisa menyebabkan bukan hanya kerugian tapi hilangnya nyawa orang lain. Saya tidak habis pikir," sambung pria itu.
"Baik pak, saya minta maaf. Semua salah saya. Saya janji akan bertanggung jawab," balas pria yang berdiri di hadapannya sambil membungkukkan badan.
"Pergilah!" Mengusir dengan lambaian tangan. "Tidak ada kata lain kali. Saya mau semua pekerja saya aman dan lebih hati-hati lagi kedepannya."
Arga benar-benar menyesali apa yang telah terjadi. Seandainya waktu bisa di putar kembali dia akan lebih berhati-hati. Syukurlah tuhan masih baik dan berpihak padanya. Namun rasa bersalah itu masih ada, membekas dalam hati.
___
Mentari perlahan pergi, tidak biasanya Arga pulang selarut ini. Dilihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dengan lesu dan letih dia pulang kerumah.
Sepanjang jalan pikirannya penuh dengan hal-hal negatif yang kemungkinan akan terjadi. Bayang-bayang tentang kehilangan nyawa selalu menghantui pikirannya ditambah lagi masalah sang istri yang tiba-tiba marah padanya.
Pria itu telah sampai di depan rumahnya dan berjalan masuk. Memutar ganggang pintu, didapati sunyi. Entah berada di mana istrinya biasanya akan menyambut kedatangannya dengan hangat. Mungkin masih marah, pikirnya.
Tidak ingin ambil pusing, Arga berjalan menuju kamar. Dan langsung membersihkan badan. Setengah jam kemudian ia keluar dari kamar dan menuju dapur. Kehadiran istrinya belum juga terlihat. Tapi di meja makan sudah tertata makanan. Arga segera mengambil piring dan mengambil makanannya.
____
Jihan berada di rumah ibunya. Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan masalah yang sedang ia hadapi dari kemarin sendirian. Tapi jika ia tidak mencari jalan keluarnya dengan meminta pendapat orang yang lebih berpengalaman dalam rumah tangga, takutnya Jihan sendiri yang akan menyesal dikemudian hari. Ia pun mengalah dan membahasnya dengan sang ibu.
Ibu menyimak keluh kesah Jihan dengan seksama. "Hanim, Hanim!"
Jihan menengadah kepalanya, "Aku harus bagaimana Bu? Disatu sisi ragu tapi juga tidak mau salah paham terus."
"Nim, kamu ini kok lebih percaya sama omongan orang? Ketimbang suamimu sendiri? Jelas-jelas kamu gak lihat secara langsung kok bisa ambil kesimpulan seperti itu?" Hardik ibu.
"Tapi Bu, semuanya nampak nyata, lagian aku cek mas Arga juga tidak minta ijin kok. Dan paginya malah diam saja tidak menyinggung itu gimana aku tidak curiga?"
Ibu menghela nafas, mencari kata-kata yang tepat dan mudah dipahami namun tidak menyinggung siapapun.
"Anak ini dasar sudah tua tapi masih labil," melirik ke arah putrinya.
"Nim! Menurut ibu ya, gimana suamimu mau menjelaskan jika kamu saja sudah keburu marah begitu. Datang datang pulang kerumah masa langsung memusuhi nak Arga? Dilihat dari sifat kamu, ibu pikir nak Arga mau menghindari sesuatu yang lebih buruk lagi. Coba pikir sendiri, kamu saja kalau pas lagi marah menyebalkan begitu, pasti nak Arga mau menghindari keributan yang lebih besar lagi, jadi dia milih mengalah. Dan menunggu kamu bisa meredakan emosi Nim," jelas ibu.
"Jadi jangan selalu salahkan orang lain ketika marah. Tapi perbaiki dirimu itu Nim. Coba pikir dulu, apa yang ibu bilang ini salah atau tidak?" Sambung ibu.
Perlahan hati Jihan mulai Luluh, pikirannya mulai terbuka untuk menerima ucapan sang ibu. Jika dipikir-pikir dirinya juga telah keterlaluan dengan suaminya. Tidak seharusnya cemburu buta seperti itu.
Jihan menyempatkan diri untuk memeluk sang ibu sebelum pergi pulang. Hatinya mulai tenang, malam ini ia bertekad untuk meminta maaf pada sang suami.
''Terimakasih banyak ya Bu, Jihan sayang ibu. Sebaiknya Jihan pulang dulu, terimakasih lagi Bu i love you," mencium pipi ibunya.
__ADS_1
"Anak nakal! Berhenti mencium ibu. Cium suami mu sana! Minta maaf dengan cara yang benar," menyembunyikan senyumnya dan mengusap bekas kecupan Jihan.
"ih ibu kok malah di hapus bekasnya, iya-iya Jihan ngerti diatas awan masih ada langit diatasnya lagi masih ada gengsi nya ibu."
''Kamu sendiri saja juga gengsian, malah ngatain ibu!," ketusnya.
Setelah itu Jihan pulang kerumahnya sendiri.
Jihan sengaja kerumah ibu sebab sedari tadi menunggu kedatangan suaminya tapi tidak kunjung datang juga. Dia berpikir Arga sedang lembur.
___
Sampai di rumah Jihan memutar ganggang pintu, mendapati lampu dapur sudah nyala semua. Sebelumnya dia hanya menyalakan satu lampu dekat meja makan. Rupanya lampu dekat wastafel juga sudah nyala berarti suaminya itu sudah pulang.
Jihan melangkahkan kaki mencari keberadaan Arga. Hingga kakinya berhenti di depan pintu kamar yang tengah terbuka. Terlihat Arga sedan menggulung sajadah sehabis menunaikan sholat magrib.
Jihan masuk kedalam, perlahan mendekati sang suami dan memanggilnya, "Mas!"
Arga menoleh, wajahnya nampak lesu. "Iya sayang?" Jawabnya datar tak bersemangat.
Ada apa ya dengan mas Arga apa dia masih marah gara-gara sikapku tadi pagi?
Arga berjalan ke dekat meja rias dan meletakkan pecinya. Kemudian berjalan menuju ranjang lalu duduk di tepi nya.
"Mas sudah makan?" Tanya Jihan lembut.
Arga membalas dengan anggukkan.
Tuh kan masa masih marah?. Jihan.
Jihan memberanikan diri untuk menyinggung masalah tadi pagi. Sebab melihat raut wajah lesu sang suami, pikirnya dia masih marah karena Jihan mendiami seharian. Bahkan tidak menyambut nya pulang.
"Mas aku mau bahas masalah tadi pagi," takut takut tapi berani Jihan berkata.
Terdengar Arga menghela nafas, "Kamu masih marah jadi jangan dibahas dulu, ya!."
"Enggak mas, aku udah nggak marah. Maaf ya mas seharian ini buat mas Arga kesal."
Sebenarnya Arga malas membahas masalah apapun malam ini sebab pikirannya masih tidak tenang karena masalah pekerjaan tadi.
"Enggak sayang, aku gak kesal kok. Udah jangan di bahas dulu ya." Memilih pergi untuk menghindari pembahasan apapun.
Yang Arga rasakan adalah entah perasaan semacam cemas dan khawatir dan bingung dan semuanya bercampur jadi satu.
Loh kok malah ninggalin aku sih? Tidak bisa dibiarkan harus jelas malam ini!
"Mas tunggu, jangan kabur!' menyusul langkah kaki suaminya keluar kamar.
Arga mengambil air putih di kulkas. Jihan datang menghampiri nya.
"Mas kenapa sih? Kok menghindari aku? Kalau masih marah aku minta maaf mas. Ayo kita jelaskan hariini juga."
"Sebenarnya kamu mau jelaskan apa sih? Dari pagi tiba-tiba langsung marah. Bicara dulu mau aku jelaskan apa?" nadanya sedikit kesal.
Jihan sedikit terkejut, "Mas! Kenapa kasar?"
"Huufhh,, bicara saja kamu mau aku menjelaskan apa?" Merendahkan intonasi nya.
Jihan agak gemetar, tapi dia memberanikan diri untuk berbicara.
"Masalah semalam mas, mas kemana sama mba Mutia?" Tanyanya sambil menatap lekat mata Arga berharap di sana tidak ada secuil pun kebohongan.
"Masalah itu, aku cuma ngantar dia ke klinik. Dia berhenti didepan rumah aku kira siapa, pas aku lagi periksa kunci motor. Aku kasihan, siapapun berada di posisinya pasti aku bantu. Selebihnya tidak berbuat macam-macam." Jawab Arga.
Menatap sang istri dengan serius berharap jika Jihan mempercayai semua ucapannya. Dan menyudahi persoalan ini. Sebab mood Arga sedang tidak baik. Takutnya jika diteruskan akan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti istrinya.
"Sudah? Sampai sini paham?" Arga beralih mengembalikan gelas dan ingin meninggalkan Jihan yang masih terdiam. Namun Jihan menyekal lengan Arga untuk tidak pergi.
"Tapi kenapa mas gak ijin dulu ke aku?"
"Aku mau menghubungi kamu tapi sudah larut sekali aku hanya tidak ingin menganggu istirahat mu."
"Seharusnya mas kirim pesan atau mencoba menghubungi saja. Agar aku percaya jika mas masih memikirkan perasaanku. Aku hanya takut mba Mutia berbuat yang tidak-tidak sama kamu mas."
Arga menatap tajam kearah Jihan, kata-kata yang Jihan dikeluarkan Jihan sedikit menyakiti perasaannya ketika dia tidak mempercayai nya.
"Memangnya apa yang bisa dilakukan orang yang sedang sakit, Jihan aku selama ini mencoba untuk menghargai kamu dan percaya sama kamu. Tapi kenapa kamu tidak memercayai aku sebagai suamimu? Apa kamu pikir aku tega menyelingkuhi istriku sendiri? Apa dimatamu aku suami bejat seperti itu?" Mata Arga penuh kekecewaan. Terlihat jelas hingga Jihan dapat merasakan nya.
Jihan tersentak, Arga pasti benar-benar marah sebab sampai memanggil dirinya dengan sebutan nama. Bukan panggilan sayang lagi.
"Bukan seperti itu maksud ku mas, jangan salah paham dulu. Aku juga mengaku salah, sebab aku tidak langsung bertanya padamu. Tapi Bu Rida bilang .." ucapannya terputus.
__ADS_1
"Jadi kamu lebih pilih mempercayai omongan tetangga?"
bersambung...