Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Mas Ngapain?


__ADS_3

Eps. 26


"Jadi kamu lebih pilih mempercayai omongan tetangga?"


Arga semakin kecewa jika benar istrinya lebih mempercayai ucapan orang lain ketimbang ucapan suami sendiri.


"Enggak mas," Jihan frustasi.


Aduh bagaimana sih cara menjelaskan nya?


Berpikir lagi mencari kalimat yang tepat. "Andai mas langsung memberitahuku tadi pagi, pasti semuanya tidak seperti ini," matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku memang mau jelaskan semuanya ke kamu tadi pagi, tapi kamu sudah keburu marah! Aku jadi serba salah disini."


Arga marah pada istrinya bisa-bisanya dia berpikiran seburuk itu tentang nya. Rasa kecewa mengalahkan kepercayaan nya pada istrinya. Pria itu tidak ingin membahas lagi. Intinya dia sudah menyampaikan sesuatu yang ingin ia sampaikan.


"Mas," panggil Jihan lirih. Air mata tak dapat ditahan lagi. Satu tetes jatuh membasahi pipinya. "Oke aku yang salah. Tapi gak seharusnya mas bicara kasar seperti ini. Kesannya seperti mas sedang membela mba Mutia."


"Astagfirullah Jihan!" Arga mengacak-acak rambutnya sendiri. "Sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan tentang aku? Buang pikiran burukmu jauh-jauh," wajahnya mulai ditekuk lesu. Arga mengusap kasar wajahnya. Ingin pulang kerumah disambut istri bukannya disambut masalah seperti ini. Dia juga mengaku salah sebenarnya sebab tidak langsung berkata jujur.


"Bukan pikiran buruk mas, istri mana yang tidak cemburu suaminya keluar malam-malam dengan wanita lain?" sudah sangat kesal Jihan sampai tak bisa mengontrol emosinya.


Arga hanya diam tak menanggapi. Menghela nafas dalam-dalam. Dan memilih memalingkan wajahnya.


"Mas!! Aku bicara sama mas Arga kenapa diam?''


"Kamu mau aku bicara apa lagi? Aku lelah Jihan, sudahlah kamu terlalu cemburu tanpa sebab. Jangan kekanak-kanakan.''


"Aku gak mau berhenti, semua belum jelas mas!"


"Kamu jangan kekanak-kanakan Jihan!"


"Mas itu yang kekanak-kanakan!"


Arga mencoba menetralkan perasaannya. "Ya Allah sayang ..Kamu mau penjelasan apa lagi? Semuanya sudah jelas. Ini cuma salah paham.''


"Kenapa seperti sedang menutup-nutupi masalah ini?"


Arga mengalah, sudah sangat lelah meladeni istri nya. Ia membalikkan badan, menghela nafas panjang. Menetralkan hatinya yang berkecamuk.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, aku lelah! Jangan ganggu dulu!" Ucap Arga sedikit geram.


Arga langsung pergi meninggalkan Jihan yang mematung diam seribu bahasa. Hati Jihan serasa sesak. Atmosfer dalam ruangan itu seolah menipis. Benar-benar sesak.


Jihan hanya menatap kepergian Arga dengan tangis.


Kenapa mas? Kenapa kamu semarah itu hanya karena masalah Mba Mutia. Apa benar adanya omongan tetangga itu?


____

__ADS_1


Arga masuk kedalam kamarnya. Menunduk lesu ada penyesalan dalam hati sebab melampiaskan kemarahannya pada Jihan.


''Arrghhh,'' berteriak frustasi.


''Seharusnya aku tidak melampiaskan kekesalanku padanya,'' menutup wajah dengan kedua tangannya.


''Astagfirullah, maafkan hamba ya Allah. Maaf sayang aku tidak bermaksud marah padamu. Aku terbawa emosi dengan kejadian di kantor. Hatiku merasa sakit dan bersalah. Maaf sayang."


Bahkan air mata sudah jatuh membasahi wajah tampannya. Pertama kali Arga menangis sesenggukan seperti itu.


Pria itu bukan marah perihal istrinya yang membahas masalah Mutia, akan tetapi dia merutuki kebodohannya yang menyangkutkan masalah rumah tangga ke pekerjaan sehingga hampir menyebabkan kerugian sangat besar. Andai dia bisa menyelesaikan kesalahpahaman dengan sang istri lebih awal mungkin semua tidak akan terjadi.


___


Jihan menangis sesenggukan di pangkuan sang ibu. Setelah pertengkaran dengan arga tadi, dia tak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana. Satu-satunya yang berada di pikiran nya adalah ingin kerumah ibu dan menangis di pelukannya.


Ibu menerima kedatangan putrinya dengan lapang. Namun enggan bertanya, namun ibu dapat menebak hal apa sebenarnya yang sudah terjadi.


Ibu mencoba menenangkan Jihan dengan mengelus kepalanya pelan.


''Maaf ya nim, bukan ibu mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Sebenarnya apa yang terjadi?'' tanya ibu pelan.


Bukannya menjawab Jihan justru menangis sesegukkan.


''Hei,, kok tambah nangis nim? Sudah diam, cup cup cup.''


''Jihan mau tidur sini malam ini bu,'' ucapnya dengan suara serak.


Malam itu Jihan menghabiskan separuh malamnya di rumah sang ibu. Dibalik selimut yang membungkus badannya, gadis itu tengah meringkuk. Dinginnya hawa malam ikut membekukan hatinya yang terlanjur sakit.


Malam yang biasanya hangat dengan dekapan suami kini berubah menjadi sedingin es. Ibu masih menemani Jihan di samping ranjang sembari mengelus punggungnya.


Saat ini ibu paham, jika sang putri sedang membutuhkan dukungannya. Masalah pertama dalam rumah tangga sang anak, dan ibu yakin ini adalah ujian pertama yang harus bisa mereka selesaikan. Agar kedepannya jika ada badai yang mungkin lebih besar dari ini, pasangan suami-istri itu bisa melaluinya dengan pondasi rumah tangga yang lebih kuat lagi.


_____


Keesokan paginya, Jihan sudah bangun dengan wajah yang terlihat sembab. Jelas terlihat lingkar hitam di matanya.


''Pagi sekali bangunnya nim?'' tanya ibu yang baru keluar dari kamar mendapati Jihan sudah terduduk di meja makan.


''Jihan mau pulang ganti baju dan langsung kesekolah bu,'' jawabnya.


''Kalau kamu gak mau masak, sarapan sini aja Nim. Sekalian ajak suamimu.''


''Ibu sendiri aja yang suruh mas kesini aku buru buru.''


Jihan berdiri dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan ibu di ruang makan.


''Buru-buru kemana? Masih juga pagi Nim, gerbang sekolah belum buka.''

__ADS_1


''Jihan pulang dulu Bu,'' Jihan keluar dari rumah sang ibu masih memakai handuk di kepala nya bekas keramas tadi.


Tak di duga ternyata saat hendak keluar pagar rumah sang ibu, tidak sengaja Mutia melihat hal itu. Siasat konyol terlintas di benaknya. Dia pun ingin memancing emosi Jihan.


''Selamat pagi Jihan,'' sapa Mutia sengaja.


Kayak suara babi ngepet betina ini.


Jihan menghentikan langkahnya, menoleh ke sumber suara setelah itu bersikap acuh melengos begitu saja.


Ohh berani ngacangin aku ya. Mutia.


"Ekhem, habis nginap dirumah orang tua ya Dek?"


Iyuh apaan sih manggil dek, kamswupay.


"Ckk dasar kepo," Jawabnya santai.


Jihan melanjutkan langkah kakinya, mencoba tak menghiraukan keberadaan Mutia.


"Owhh bener berarti, pantas mas Arga aku lihat duduk sendirian di teras tadi malam. Ternyata istrinya gak dirumah," sambung Mutia masih memancing emosi Jihan.


Jihan terhenti. Menarik nafas dalam-dalam.


"Maaf ya mba, segitu gak punya kerjaan kah sampai harus ngintip suami orang. Kalau kurang kerjaan mba bisa tuh jadi tukang cuci baju dirumah ibu. Kebetulan baju kotor numpuk."


"Enak aja, memang aku pembantu mu?"


"Ya kalau tidak mau di kira pembantu, jangan ngurusi rumah tangga orang!!," ketus Jihan.


Jihan langsung meninggalkan Mutia begitu saja. Malas mencari masalah dengan tukang onar.


''Hei,, dasar gak sopan sama orang tua,'' sahut Mutia.


''Situ jadi orang tua juga gak sopan. Kalau mau di hormati makanya jadi orang tua yang sopan,'' Jihan berkata sambil terus berjalan membelakangi Mutia.


''Dasar bocah labil. Stress,'' timpal Mutia.


Sesampainya di rumah, Jihan mendapati pintu yang sudah terbuka. Mungkin mas Arga sengaja membukanya sehabis subuhan di musholla.


Tanpa suara Jihan berjalan pelan menuju kamar. Mengintip sedikit di balik pintu melihat keberadaan sang suami. Dirasa hening dan sepi Jihan langsung masuk.


Jihan mengambil stelan seragam sekolah dalam lemari. Setelah itu langsung membuka bajunya begitu saja untuk berganti pakaian.


Saat kancing piyama tidurnya terbuka semua, terdengar pintu kamar terbuka. Arga masuk begitu saja dengan hanya menggunakan sarung tanpa memakai baju.


Jihan langsung menoleh ke belakang dan terhenyak mendapati Arga sudah berdiri di belakangnya. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


''Mas ngapain?''

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2