
Eps. 15
Hari kehari sudah dilalui Jihan dengan banyak kesabaran, mencoba tetap berdiri tegar meskipun hati tengah getar. Tak terasa sudah hampir sebulan lamanya, Jihan tinggal bersama mas Arga. Dan semenjak kejadian petir yang membuat Jihan takut itu, kini jihan memutus kan untuk memperbolehkan Arga tinggal sekamar dengannya. Lagipula dirinya merasa tak pantas jika di lihat sang mertua, tidak tidur sekamar dengan suami sendiri.
Ibu juga mulai bangkit dari keterpurukannya, kehilangan membuatnya terpukul dan sekarang sudah cukup giliran dirinya untuk bangkit menjalani sisa hidup yang masih diberikan tuhan.
Papa Arga sudah kembali bekerja di luar kota, bisa pulang selama lima hari itu saja sudah sangat beruntung. Mau tidak mau dia mesti kembali mengurus bisnisnya yang belum usai juga. Dan mama tidak merasa kesepian lagi sebab sudah memiliki Jihan disisinya sebagai menantu.
Sedangkan Haikal, si adik ipar yang menyebalkan itu. Tidak pernah kembali pulang lagi semenjak pertengkaran pagi itu. Dia benar benar menepati janjinya untuk tidak menginjakkan kaki di rumah nya lagi.
Berulang kali Jihan menasihati sang suami agar pergi meminta maaf dan membujuk Haikal kembali, bahkan Jihan tak segan-segan bila dirinya yang harus minta maaf terlebih dahulu asalkan hubungan Arga dan Haikal kembali seperti dulu. Namun, Arga tetap keukeuh dalam pendiriannya. Tak ingin mengalah jika bukan dirinya yang salah.
Itulah mas Arga, meskipun dia terlihat lembut dan manja. Tapi sifat keras kepalanya ini sangat susah di jinakkan. Jika itu kemauan nya maka dia akan keukeuh memegang prinsip nya.
Malam hari yang sunyi, terlihat Arga sedang duduk termenung di pinggir kolam ikan. Sembari tangan kanannya memberi makan ikan di kolam. Terlihat ikan-ikan yang kelaparan langsung berkumpul membentuk satu koloni dengan beraneka ragam jenis ikannya.
"Mas Arga," panggil Jihan, dirinya ingin ikut bergabung memberi makan ikan.
"Iya, kemari duduklah."
"Mas lagi ngapain?" Tanya nya basa basi.
"Nih, kasih makan ikan. Mau coba?" Tawar Arga sembari menyodorkan makan ikan.
"Boleh mas?"
"Kenapa tidak? Tentu boleh. Ambilah," kemudian Jihan menerima makanan ikan tersebut.
Dirinya mulai menaburkannya di atas kolam. Terlihat segerombolan ikan koi beranekaragam itu langsung menyambarnya.
"Wahh banyak juga ikan nya, mas. Aku baru tahu kalau di rumah mas Arga juga punya kolam ikan."
"Iya sayang, hobi papa juga memelihara ikan hias. Ini termasuk salah satunya saja. Lainnya masih banyak."
Deg! Jantung Jihan berdebar kencang ketika mendengar Arga memanggilnya dengan sebutan sayang. Biasanya dia akan memanggil hany, tapi seiring berjalannya waktu Arga malah terbiasa memanggil sayang.
Duhh, ini jantungku berdetak atau berdebar sih? Ini ukuran detakan normal atau sebab berdebar karena mas Arga panggil sayang, ya?
"Papa multitalenta ya ternyata mas," ujar Jihan untuk menghilangkan kegugupan.
"Iya sayang, sama, aku juga " Arga tersenyum.
Mata Arga memandang wajah cantik Jihan, yang malam itu terlihat bersinar dengan pantulan cahaya rembulan dan bintang yang terang benderang.
Jihan yang merasa di pandangi Arga, melirik sekilas kemudian menundukkan wajahnya.
"Ada apa mas lihatin aku? Aku malu mas jangan dilihatin terus."
Namun Arga justru menyunggingkan senyum jahilnya, "Siapa suruh kamu cantik sekali."
Degg! jantungku udah nggak aman ini kayaknya.
"Haha mas Arga bisa aja," wajah Jihan terlihat merona. Dirinya bingung harus menjawab apa. Sebab dibuat mati gaya oleh tatapan mata mas Arga
"Sayang, mau aku beritahu gak?"
"Beritahu apa mas?"
Arga meraih makanan ikan ditangan Jihan dan menutupnya kembali. Sedari tadi Jihan terus menuangkan makanan ikan tersebut, mungkin saja ikan ikannya sudah kenyang.
"Aku punya rencana kedepannya, bagaimana kamu setuju gak?"
__ADS_1
Jihan menatap datar ke arah Arga. "Mas belum kasih tau, tapi sudah tanya aku setuju atau enggak. Maksudnya bagaimana?"
Arga tergelak, wajah bingung dan kesal sang istri membuatnya gemas. Jika tidak menjahili Jihan sehari saja, rasanya hidup terasa hambar.
"Hahaha iya sayang maaf, emm jadi begini, sini mendekatlah." Arga menjentikkan jari agar Jihan mendekatkan telinganya untuk Arga membisikkan sesuatu.
"Rahasia banget ya mas? Sampai bisik-bisik begini?"
"Iya sayang, cepat mendekatlah!"
Tanpa banyak berpikir Jihan mendekatkan telinganya ke bibir Arga, entah dirinya belum tersadar jika sedang di jahili Arga. Memang semenjak belakangan ini hubungan keduanya semakin membaik. Hari ke hari mereka lalui dengan canda tawa. Seolah rasa canggung yang dulunya sempat ada kini mulai memudar dan berganti rasa nyaman.
"Aku ingin memberi tahu, kalau..." Ucapan Arga sengaja di potong. Arga mengubah intonasinya jadi semakin lirih sehingga tidak terlalu terdengar di telinga Jihan. "Kamu cantik," bisik nya kemudian langsung meniup telinga Jihan.
Jihan bergelik geli. "mas Arga! Bilang apasih? Geli tauu telinga ku." Jihan mengelus telinganya.
"Hahaha" Arga tertawa puas melihat ekspresi kesal sang istri.
"Ohhh, mas ngerjain aku lagi ya. Jahat banget sih!" Jihan ngedumel kesal.
"Haha maaf, iya iya aku kasih tau. Sudahi cemberut nya," Arga mengelus pipi Jihan.
"Aku ingin beli rumah untuk kita berdua tinggali sayang."
Jihan tersentak, "beli rumah lagi mas?"
Arga tersenyum, "memang kapan aku pernah beli rumah sebelumnya, hmm?"
"Ee,, maksudnya. Ya kan ada rumah mama sama ibu. Bisa kita tinggal di salah satunya mas. Jadi gak perlu buang buang uang."
"Siapa memang yang buang-buang uang? Ini kan termasuk memenuhi kebutuhan hidup primer sayang, lagian kita gak mungkin selamanya numpang tinggal sama orang tua, kita harus belajar ngurus rumah tangga sendiri," Arga menatap Jihan
"Aku tidak ingin jadi beban mama papa ataupun ibu. Sekarang aku sudah beristri tugasku memenuhi kebutuhan dan menjalankan kewajiban sayang, sekarang aku punya tanggung jawab besar,, yaitu kamu. Jadi aku ingin merangkai kehidupan rumah tangga kita sendiri."
"Tapi mas, kalau untuk mengurus rumah tangga sendiri rasanya aku belum siap. Masih banyak yang perlu dipelajari."
"Aku pun sama sayang, perlu belajar banyak, nanti kita belajar sama sama ya," jawabnya tersenyum.
"Mas, kalau untuk meninggalkan ibu dan pindah kerumah yang lokasinya jauh, aku gak mau. Ibu kekeuh ingin tinggal di rumah itu. Dan sendiri, nanti siapa yang jaga ibu?"
Arga meraih tangan Jihan, mengelus punggung tangan yang terlihat mulus itu.
"Kita gak pergi jauh sayang, aku sudah memikirkan semuanya. Kita akan tetap tinggal di kompleks ini, hanya saja rumah nya yang berbeda. Aku tahu pasti kamu gak akan tega kalau ninggalin ibu jauh-jauh jadi sudah kupersiapkan rumah disekitar sini. Kalau kamu kangen ingin pulang jadi tidak rumit, bagaimana?"
Mata Jihan berkaca kaca, mas Arga sungguh baik sekali. Dia mengerti semua yang Jihan rasakan. Bahkan hal kecil tak luput dari perhatiannya.
"Mas, ayah pernah bilang. Jika aku harus menuruti ucapan suamiku selama itu demi kebaikan bersama. Jadi aku setuju, aku ikut kata mas Arga saja," Jihan tersenyum.
"Terimakasih sayang, aku janji kedepannya akan selalu membuat mu tersenyum seperti ini," Arga menatap lekat mata Jihan.
"Aku yang seharusnya terimakasih banyak ke mas, karena banyak mengerti aku."
Deg, hati Arga berdesir.
Jantung ku keras sekali debarannya, semoga Jihan gak sampai merasakannya. Apa ini namnya cinta pertama? Sejak kenal Jihan hatiku selalu nyaman berada di sisinya, dan debaran jantung ku ini menandakan apa? Dari dlu jika bertemu Jihan aku selalu merasakan hal yang sama. Masa benar aku telah jatuh cinta sama istriku ini sejak dulu?
Batin Arga.
"Sayang," panggil Arga. "Ada satu hal lagi yang mau aku bahas.
"Iya mas katakan saja," tangan Jihan masih di genggam erat dengan Arga.
__ADS_1
"Mari rayakan acara pernikahan setelah kelulusan mu," mata Arga menatap penuh harap. Terlihat Jihan hanya bengong masih mencerna keputusan untuk menjawab dengan tepat.
"Kenapa harus dirayakan mas? Mendaftar sah ke pencatatan sipil bukankah sudah cukup?"
"Aku ingin semua orang tau kalau kamu punyaku."
Jihan tertunduk diam.
"Tapi aku takut mas," ucapnya.
"Apa yang membuatmu takut?"
"Aku takut terlalu mencintai mas Arga, aku takut aku akan menjadi serakah sampai-sampai tidak mau jauh dari mas. Aku takut jatuh cinta semakin dalam sama mas. Dan saat itu terjadi aku takut mas yang pergi meninggalkan aku."
Arga mengelus kepala Jihan, "Tidak akan aku lakukan itu Sayang, aku sendiri saja sudah jatuh cinta sama kamu dari dulu, aku yang duluan cinta kamu dan aku sudah terlanjur nyaman meski baru beberapa waktu kita bersama. Jadi bagaimana bisa aku meninggalkan kamu?"
Wajah Arga di dekatkan lebih lekat ke wajah Jihan, tangannya tergerak memegang tengkuk leher Jihan dan mendekatkan kepala Jihan sehingga antara jidat Arga dan Jihan bertemu.
"Aku sudah janji tidak akan pernah memaksa, kalau kamu bilang tidak maka aku tidak akan melakukanya, kamu sekarang tanggung jawab ku. Bersama-sama kita akan melewati badai yang akan menghadang kedepannya, aku janji."
Arga menggesekkan hidungnya ke hidung Jihan. Matanya lurus menatap bibir Jihan. Gadis itu jadi lagi gaya.
"Terimakasih mas, aku akan belajar mencintai mas Arga pelan pelan," Jihan tersenyum.
Dibawah sinar rembulan yang terang, diiringi suara air mancur dari kolam. Menambah kesan tenteram malam itu, sepasang suami istri yang mulai merasakan ada benih benih cinta yang mulai tumbuh. Diantara hati keduanya, namun masih merasa bimbang. Apakah benar ini cinta? Atau hanya perasaan kagum atau ini hanyalah sebuah rasa yang biasa, yang normal umunya dirasakan laki-laki dan perempuan yang sedang berduaan saja?
Arga masih mendekatkan wajahnya dengan wajah Jihan. Keduanya saling memandang, kemudian pandangan itu beralih menatap bibir masing-masing. Arga mendekatkan bibirnya untuk menyentuh bibir Jihan.
Jihan memejamkan mata, ketika merasakan sebuah kecupan yang mendarat di bibirnya.
Ciuman pertamaku!
Hanya sebuah kecupan singkat yang Arga berikan, kemudian menyudahinya. Stelah itu Jihan memalingkan wajahnya, terlihat pipinya yang merona.
Arga tersenyum, merasakan bibir Jihan yang lembut dan terasa manis. Meskipun hanya kecupan singkat namun rasanya sangat membekas di hati.
Jihan segera berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Arga yang justru terlihat menyunggingkan senyum.
Buru buru Jihan berjalan menuju kamar takut dilihat mama jika ketauan wajahnya merona semerah itu.
"Dia sangat menggemaskan, ekspresi nya yang seperti itu, bagaimana bisa aku melepaskanmu sayang," kata Arga setelah kepergian Jihan. Sambil mengingat ciuman itu.
Yang ternyata merupakan ciuman pertama nya juga.
"Aku rasa, ini benar perasaan cinta. Aku telah jatuh cinta sama kamu sayang sejak dulu."
Sedangkan di dalam kamar, Jihan terlihat salah tingkah. Dirinya langsung menjatuhkan diri ke kasur dan berguling-guling di sana. Menahan gejolak yang berkecamuk di dada.
"Astaga astaga! Jihan! Itu ciuman pertama mu, Arga ambil. Mas Arga? Suamimu Arga itu. Malu malu banget, aku mau terjun ke laut aja," berulang kali Jihan menepuk nepuk pipinya mencoba menyadarkan diri. Ini hanya mimpi atau kenyataan.
Jihan menepuk beluk bantal dengan keras, dan memukul mukulkan ke kepalanya. "Astaga rasa bekas bibirnya mas Arga masih kerasa, gimana nih." Jihan menyentuh bibirnya. Sekelebat bayangan kejadian di pinggir kolam itu kembali terngiang-ngiang.
"Bibir itu, lembut juga. Dan terasa hangat. Mas Arga" Jihan kembali terngiang-ngiang dengan ciuman pertama nya tadi.
"Mas Arga ngerasa hal yang sama juga gak ya, kenapa juga dua cium cium aku? Gimana aku menghadapi dia nanti," Jihan kebingungan sendiri.
"Ya, lebih baik aku segera tidur. Pura pura tidur saja nanti pas mas masuk. Aku gak mau natap wajahnya. Malu banget,"
Jihan segera memposisikan dirinya senyaman mungkin untuk tidur dia benar benar berbaring di ujung ranjang. Dan memilih posisi membelakangi area tidur Arga.
Bahkan saking tidak maunya dilihat Arga, Jihan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Agar Arga tak memandangi dirinya.
__ADS_1