Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Sejenak mengenal Rani


__ADS_3

Sepanjang hari ini Jihan terlihat murung. Bagaimana tidak, sejak bertemu Satrio gadis itu merasa tidak nyaman. Ada saja pikiran-pikiran negatif yang menghantui dirinya.


Sore hari yang terlihat damai, lembayung senja hari itu nampak begitu indah di lihat mata. Sinar jingga turut menghangatkan pandangan mata. Jihan duduk diatas ayunan dibelakang rumahnya.


Ayunan itu sengaja diletakkan di sana sebab halaman belakang rumah mereka langsung menghadap kearah matahari tenggelam, sehingga tempat itu menjadi tempat favorit Jihan saat tengah menyendiri.


''Sayang, sedang apa?'' suara Arga memecahkan keheningan Jihan.


Gadis itu menoleh sebentar ke arah sang suami, ''Sedang duduk, mas. Memangnya sedang menari nari?.''


Arga tersenyum, dan mendudukkan dirinya disebelah Jihan.


Menatap istrinya yang nampak kurang ceria, tak seperti hari hari biasa.


Merasa ditatap seperti itu, Jihan menjadi risih.


''Mas kenapa sih lihatin nya begitu? Malu tau, hadap sana!'' perintahnya.


Namun Arga tak mengindahkan permintaan itu. Justru menatap semakin dekat.


''Ihh mass! Jangan begitu, hadap sana. Sana lihat ke depan!'' Jihan menepis pelan wajah suaminya.


Arga menangkup tangan Jihan, ''Untuk apa lihat yang lainnya, kalau di samping ku aja ada bidadari secantik ini,'' Arga tersenyum.


Jihan menatap manik mata suaminya, tak dapat di pungkiri lagi. Hatinya senang ketika mendengar perkataan manis sang suami.


''Dasar tukang gombal, sana menjauh!'' usir Jihan.


Arga tergelak melihat tingkah sang istri yang menurutnya amat menggemaskan. Dirinya tak tahan jika tak menggoda Jihan.


''Uuhh sayang, sini aku peluk,'' Arga segera mendekap tubuh mungil Jihan.


''Mas, kok malah meluk sih. Disuruh jauh padahal,'' ia berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.


''Nggak mau ah, enak meluk kamu.''


''Mass.. '' suaranya mulai kesal.


''Kenapa sih, orang meluk istri sendiri kok nggak boleh. Pahala lo sayang, daripada aku meluk istri orang.''


Jihan langsung menatap tajam suaminya. ''Ohh jadi mas mau meluk istri orang. Siapa?''

__ADS_1


Mulai kesal dan mendorong paksa tubuh Arga agar menjauh.


''Sok-Sok mau meluk istri orang, istri sndiri aja belum disentuh,'' ngedumel lirih.


Tapi Arga masih bisa mendengar nya.


''Ohh jadi sayang mau di sentuh, ayo sudah masuk!'' menarik lengan Jihan.


''Eh eh,, mas ngapain sih.. jangan seperti itu,'' gemas dengan kelakuan suaminya membuat Jihan tak tahan ingin mencubit perut Arga.


Arga kesakitan, sambil mengelus perutnya. ''Shhtt,, sakit tau!''


''Biarin aja, mas itu nggak tau orang lagi kesel ya. Malah di ganggu. Rasain tuh.''


Sebenarnya Arga mengetahui jika Jihan sedang ada masalah. Dilihat dari raut wajah yang dari tadi tak bersahabat itu. Namun Arga mencoba menahan diri untuk tidak bertanya dulu, sebab istrinya itu menang suka begitu. Jika ada masalah tidak mau langsung mengatakan, tunggu sedikit tenang dulu.


Tak jarang saking sudah tenangnya, sampai lupa apa yang mau dibicarakan.


''Aku tahu sayang lagi kesal. Makanya aku mencoba menghibur kamu,'' bibirnya tersenyum hangat, kemudian mengelus lembut pipi sang istri.


Jihan menatap lekat sang suami, hatinya tersentuh kemudian menghamburkan dirinya kedalam pelukan Arga.


Arga semakin mempererat pelukannya. Dan mencium pucuk kepala sang istri. Merasakan aroma wangi yang sekaligus candu baginya.


Sejak pertengkarannya hari itu, membuat Arga lebih ingin memahami istrinya lagi. Mencoba menjadi suami yang lebih baik lagi. Dan belajar untuk mengontrol emosinya.


*****


Tak terasa waktu kelulusan Rani dan juga Jihan sebentar lagi. Minggu ini adalah waktu sibuk bagi angkatan mereka untuk mempersiapkan diri menuju pertempuran terakhir pendidikan di bangku SMA.


Rania Missaki, atau lebih akrab di panggil Rani. Namanya yang terdengar keren itu menunjukkan jika gadis tersebut bukan seratus persen keturunan Indonesia. Ayahnya asli berasal dari Jepang sedangkan ibunya asli Indonesia. Perpaduan wajah lokal blasteran Jepang membuat Rani tak kalah cantik dan imut dari Jihan.


Hanya saja gadis itu lebih suka berpakaian tomboi, sehingga wajah imutnya tertutupi dengan sifatnya yang barbar.


Rani sedang duduk di depan meja komputer. Tangannya tak berhenti mengetik kata demi kata.


Berbeda dengan kehidupan anak-anak remaja seusianya, yang cenderung menyukai kehidupan yang mewah dan penuh kasih sayang full dari orang tua. Rani merupakan gadis yang tumbuh dengan mandiri serta jauh dari kehidupan mewah. Padahal orang tuanya adalah salah satu pengusaha tersukses di negara ini.


Karena kesuksesan itu, membuat Rani jauh dari mama dan papa nya. Yang setiap hari sibuk mengurusi bisnis, terbang dari satu negara ke negara lain. Jadilah Rani tinggal sendiri hanya ditemani oleh pengasuh yang setia menjaganya dari kecil hingga sekarang ini.


Namun meskipun begitu, orang tua kandung Rania tidak melupakan kewajiban mereka untuk memberikan nafkah pada puterinya. Setiap bulan uang selalu dikirim tepat waktu ke ATM tabungan milik Rania.

__ADS_1


Namun gadis itu enggan menggunakannya secara berlebihan. Meskipin nominal yang diberikan bukan jumlah yang sedikit. Padahal jika dia mau uang itu cukup untuk dibuat hidup mewah dengan berbelanja barang-barang branded, namun ini adalah Rania gadis itu sangat hemat, dan menggunakan uang tersebut seperlunya saja. Misal untuk biaya keperluan sekolah atau untuk service motor kesayangannya.


Sebenarnya Rania diberikan fasilitas lebih, contohnya seperti mobil. Bahkan jika dia bersedia sudah ada sopir yang siap mengantarkannya kemanapun tanpa ia harus panas-panasan naik motor di bawah terik mentari ataupun dinginnya hujan.


Namun kembali lagi dia adalah Rania, gadis yang tidak suka hidup berfoya-foya untuk memamerkan kekayaannya. Dia hanya ingin menjadi Rania yang dikenal sederhana, periang, dan tidak sok kaya.


Dia yang sudah biasa hidup sederhana dan banyak diajarkan kebaikan oleh ibu pengasuhnya membuat Rania tidak menjadi seorang yang takabur.


Meski terkadang dia juga masih menerima uang dari Mas Arga yang konon katanya adalah gaji selama menjaga Jihan agar tidak di dekati sembarang laki-laki jika tidak sedang bersama Pak suami. Tentunya ia lakukan itu dengan hati yang senang. Sebab dekat dengan keluarga Jihan juga menjadi salah satu alasan Rani bisa merasakan hangatnya sebuah keharmonisan. Karena berteman dengan Jihan dia tidak merasa sendirian lagi.


Memikirkan semua itu membuat hatinya damai, dia pun menghentikan lamunannya ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka, ''Maaf non. Bibi ganggu belajarnya, mari makan dulu setelah itu lanjut lagi,'' senyum yang tak bosan dipandang Rani sejak kecil. Wajah pengasuhnya itu sudah seperti obat penenang dikala Rani lelah.


''Iya bi, tunggu sebentar, ya.''


Kasih sayang Bi Ajeng pada Rania begitu besar layaknya ibu dan anak sendiri.


Setelah itu mereka turun menuju meja makan sembari bergandengan tangan. Memang bukan hal yang mudah bagi Rani hidup jauh dari mama papa nya. Dia adalah anak semata wayang, terkadang juga merasa hampa dan kesepian, selama ini hanya bi Ajeng saja yang mampu membuatnya merasakan hangatnya kasih sayang keluarga.


Rani sendiri juga tak mau jika diajak berpergian bersama kedua orang tuanya. Akan susah baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Terlebih orang tuanya sering berpindah-pindah tempat tinggal menyesuaikan dengan urusan bisnis nya. Waktu pulang untuk mengunjungi Rani pun tak menentu, kadang bisa sebulan hanya dua kali. Paling lama juga tiga hari.


Rani telah duduk di meja makan, bi Ajeng segera meletakkan piring beserta sayur kesukaan Rani. Setelah itu Rani menyendokkan dengan lahap ke mulutnya.


''Oiya non, tadi Ibu telpon Bibi. Beliau bilang minggu depan jika tidak ada halangan akan pulang.''


Rani terhenti sejenak, bukan hal besar lagi jika menyangkut kepulangan mama papa nya. Baginya ada dan tidak ada mereka sama saja, Rani juga pasti kesepian. Sebab mereka akan fokus pada urusan masing-masing.


''Non? Tidak senang Mama pulang?'' tanya bi Ajeng hati-hati.


Rani tersenyum getir, ''Mana mungkin bi, perasaanku sulit dijelaskan. Intinya aku tidak sedih tapi juga tidak senang.''


Bi Ajeng tau apa yang ada di pikiran anak asuhnya itu.


''Non, jangan sedih terus ya, bibi nggak akan pernah meninggalkan Non Rani sendiri sampai kapanpun, yaa.. ''


Rani menatap mata bi Ajeng, ''Terimakasih ya bi. Selama ini cuma bibi yang paham perasaanku.''


Bi Ajeng mengenggam jemari Rani, seolah menyalurkan kehangatan lewat kasih sayang nya. Selama ini pun ia sangat tulus menyayangi Rania, dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Sebab bi Ajeng juga tahu rasanya merindukan orang yang ia sayang. Berkat kehadiran Rani di hidupnya, rasa rindu itu perlahan terobati pada sang mendiang almarhum putrinya.


Begitupun dengan Rani, yang sudah menganggap bi Ajeng sperti orang tua angkatnya. Yang setia dan ikhlas merawatnya dari kecil hingga dewasa. Ia berharap jika saja Mamanya sebaik Bi Ajeng yang bisa menemaninya setiap saat maka lebih lengkap lah kebahagian yang Rani rasakan.


Namun semuanya hanyalah angan. Pada kenyataannya Rani hanyalah seorang putri yang hidup dengan sedikit perhatian orang tua kandung. Puteri yang hanya bisa menangis dan menahan rindu di pelukan orang asing yang justru kasih sayang nya mengalahkan kasih sayang orang tua kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2