Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Mau gak sama Mas Arga?


__ADS_3

Eps. 8


Hari berikutnya, Jihan menjalankan rutinitas pagi seperti biasa, yakni dirinya akan menyempatkan untuk menyirami tanaman sang ayah agar tetap tumbuh tercukupi dengan mineral yang dibutuhkan.


Jihan mengambil gembor yang telah diisi air secukupnya. Dan mulai menyiramkan pada bunga-bunga indah milik sang ayah. Jihan bersenandung kecil sembari memancarkan senyum seakan-akan sedang menyapa tumbuhan tersebut.


Terdengar suara pintu garasi yang terbuka dari sebelah perumahan yang Jihan tinggali. Menampilkan sosok pria bertubuh tinggi, bersih, dan rambut sedikit gondrong.


Dia adalah mas Arga. Seorang pria pekerja keras namun masih pejaka. Seorang pria yang bisa di bilang cukup mapan namun masih bujang.


Jihan memalingkan pandangannya menatap mas Arga sekilas. Tenyata mas Arga juga memalingkan pandangannya menatap Jihan. Sehingga tidak sengaja dua manik mata mereka saling menatap.


Jihan tersenyum canggung sembari menganggukkan kepalanya untuk menyapa. Yang mendapat senyuman manis dari Jihan balas menyapa. Dengan menganggukkan kepala juga.


Menutupi rasa canggung yang tiba-tiba datang, Jihan menyapa Arga. "Pagi mas Arga," Jihan tersenyum.


"Pagi juga Nim," balas Arga.


Jihan mengernyitkan dahi heran, bagaimana bisa dia memanggilku dengan nama belakangku itu. Mas Arga sok akrab deh. Batin Jihan.


Sedangkan di sisi lain Arga tengah berkutat dengan pikirannya juga. Benar kan?namanya siapa sih? Sejauh ini aku sering dengar Tante Diana (ibu Jihan) sering manggilnya Nim Nim gitu. Batinnya.


"Emm kamu belum berangkat sekolah, Nim?" Tanya Arga mengusir kecanggungan yang tiba-tiba datang lagi.


Dasar mas Arga aneh, kalau sudah berangkat kenapa juga aku masih di sini. Batin Jihan.


"Iya belum mas, masih nyiram bunganya ayah,"


Jihan segera menuangkan semua isi air dalam gembor tersebut.


"Oyya, hati-hati nanti bajumu kebasahan,"mas Arga tersenyum. Jihan balas mengangguk dan ikut senyum.


Wah apa gak salah dengar aku ya? Mas Arga memperingati aku? Dia sedang perhatian kah? Batinnya.


"Mas Arga juga pelan-pelan ngeluarin motornya. Awas keserempet kendaraan lain nanti lecet," balas Jihan sedikit basa basi. Lagi lagi diselingi senyum.


Arga balas tersenyum, "Haha, tenang saja, aku udah biasa. Ya sudah lanjutkan, Nim. Aku bawa pergi motorku kembali."


Jihan mengangguk dan tersenyum lagi. Tiba-tiba saja dirinya ingin tersenyum sendiri.


Sedangkan Jihan tidak menyadari, jika senyuman manis itu membuat getaran kecil dalam hati Arga.


Nim, kamu manis banget kalau lagi senyum. Batin Arga. Setelah dirinya mengambil motor, dan melirik sekilas kearah Jihan sebelum pergi meninggalkan garasi.


Sebenarnya Arga tidak mengetahui siapa nama asli gadis yang ia panggil Nim. Meskipun sudah bertetangga lumayan lama, Arga tidak kenal dekat dengan Jihan. Bertemu saja jika pagi itupun saat Jihan menyiram bunga sedangkan Arga mengambil motor di garasi.


Arga membawa pergi motornya dari garasi yang letaknya tepat di sebelah perumahan milik Jihan. Hanya saja terbatas oleh pagar beton.


Jarak rumah Arga dengan Jihan adalah tiga rumah. Sebenarnya dua rumah berpenghuni dan satu rumah di samping perumahan yang Jihan tinggali itu adalah khusus untuk tempat parkir sepeda motor atau mobil milik orang yang tinggal di kompleks tersebut lebih tepatnya lagi sebuah garasi. Arga sering memakirkan motornya di sana sehingga setiap ingin mengambilnya dia sempat bertemu dengan Jihan meskipun tidak selalu berbincang lama.


Antara keluarga Jihan dan Arga sudah kenal dekat juga seperti satu keluarga. Mama Arga sering berkunjung ke rumah Jihan untuk sekadar mencari teman ngobrol atau berbagi makanan. Sebab kedua kakak perempuan Arga telah menikah dan tinggal di rumah suaminya sedangkan Arga jarang dirumah sebab sibuk bekerja. Dan adik bontot Arga juga jarang dirumah. Anak itu lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sang Tante yang letaknya dekat sekolahan Jihan. Sedang si suami juga sibuk bekerja di luar kota hanya sebulan dua kali pulang kerumah.


Sehingga hal itu membuat mamanya mas Arga merasa kesepian.


Tak lama setelah acara sapa menyapa tadi, Jihan telah di jemput oleh sahabat karibnya untuk pergi ke sekolah. Dia adalah Rani. Seorang gadis barbar yang unik dan langka.


Jihan masuk kedalam untuk mengambil tasnya dan pamitan pada ibu dan ayahnya. Rani menekan klakson berkali-kali agar si empunya rumah keluar.


"Hiih Rani!" Teriak Jihan kesal. "Bisa jangan berisik gak? Malu didengari orang tau!"


"Hehe maaf,, habisnya lama kamu Han, yasudah ayo keburu telat. Kamu kan anti telat."


Setelah mengatakan itu Jihan dan Rani melajukan motor menuju sekolahnya. Rani dan Jihan sering berangkat sekolah bersama, jarak rumah Rani dengan Jihan lumayan jauh namun gadis tersebut tetap ingin menjemput sahabat baiknya itu untuk bareng ke sekolah.


Demi tidak terlambat Rani menambah laju motornya dengan kecepatan tinggi. Namun masih berhati-hati. Sudah biasa Jihan dibuat jantungan oleh Rani demi menghindari keterlambatan. Berbeda dengan cara membonceng saat Jihan sudah bersuami. Rani terlihat sangat hati-hati bukan? Iya karena takut di marahi pak Suami jika istrinya sampai kenapa-napa.


_____


Hari hari sudah berlalu, dan masih sama setiap pagi Jihan selalu menyapa mas Arga. Atau justru sebaliknya tergantung siapa duluan yang canggungnya tak terlalu terlihat.

__ADS_1


Hari ini adalah weekend, saatnya Jihan berkumpul dengan ayah dan ibu. Sebelumnya mereka ingin mengadakan piknik ke taman kota sembari menikmati kesejukan hawa asri dan rindang, namun lagi-lagi rencana itu tak terlaksana sebab sang ayah tiba-tiba batuknya kambuh. Dan membuat ayah jihan harus beristirahat agar tidak kelelahan. Alhasil seteleh perundingan yang lumayan lama. Mereka memutuskan untuk piknik pribadi di halaman depan rumah. Lagi pula pekarangan rumah mereka tak jauh asri dari taman kota.


Jihan menuntun sang ayah menuju kursi taman, sedangkan ibunya sedang menggelar tikar untuk duduk di sana, dengan menikmati buah-buah segar yang telah disiapkan, ada jus buah juga dan beberapa toples makanan ringan hasil olahan tangan Jihan sendiri.


"Nah, piknik di depan rumah sendiri juga gak kalah seru kan yah, sama piknik di taman kota. Malah lebih bagusan udara di sini kan kan kan," ucap Jihan setelah ayahnya duduk bersila di tikar.


"Iya Nim, ayah lebih nyaman di sini sambil lihat tanaman ayah, yang sudah ayah anggap sebagai anak sendiri," tersenyum sambil menikmati hembusan udara yang begitu sejuk.


"Nim, jangan cemburu ayahmu punya anak lain lagi loh," ejek sang ibu.


Jihan menatap kesal kearah ibunya, "Kalau aku punya adik kayak tumbuhan gitu gak masalah Bu, dia mana bisa bersaing sama aku, Jelas lebih cantikkan aku, iya kan Yah?" kata Jihan. Dirinya sudah ikut duduk bersila di tikar samping sang ayah.


Ayah mengangguk tersenyum.


Sedangkan ibu hanya menanggapi dengan melengos.


Keluarga kecil nan bahagia itu menikmati sarapan paginya sambil di temani bunga-bunga yang bermekaran indah dan tumbuh dengan subur.


Hingga suara yang tak asing ditelinga mereka terdengar, "Pagi Bu Diana, pak Ardi," sapa wanita berumur paruh baya itu. Sembari melangkahkan kaki mendekati pintu pagar rumah Jihan. "Ehh ada Jihan juga rupanya pagi Jihan," sambung Bu Nurul dengan senyuman hangat.


Ohh Jadi namanya Jihan, tapi kenapa di panggil Nim? Mungkin nama belakangnya. Bisikan hati Arga. Ketika mamanya menyebut nama Jihan.


Jihan beserta kedua orang tuanya membalas sapaan yang tak lain dari mama nya mas Arga.


"Mampir sini Bu Nur, sarapan bareng yuk," ajak ibu Jihan. "Ohh sama mas Arga juga toh. Yukk sekalian saja sini," sambungnya setelah melihat Arga berjalan dari belakang mamanya.


Rupanya Arga dan sang mama habis selesai melaksanakan rutinitas sehat setiap weekend yakni joging pagi mengitari satu gang kompleks perumahan mereka.


Bu Nur tertarik dengan ajakan ibunya Jihan. Dirinya menarik lengan Arga yang ingin meninggalkan sang mama untuk pulang terlebih dahulu. "Hei! Mau kemana mas? ayo temani mama kita mampir sebentar."


"Malu ma, mama aja. Arga pulang duluan."


"Gak bisa, ikut mama ayo. Itung itung silaturahmi mas. Ayo sebentar saja," desak Bu nur pada sang putra sembari melirihkan ucapannya.


"Hehe maaf ya Bu Diana, Arga emang begitu anaknya suka sungkan bukan pemalu kok tapi," Bu nur membela sang putra.


"Haha gak apa-apa Bu nur. Namanya juga anak-anak jarang kumpul bareng begini kan, jadi masih sungkan," balas ibunya Jihan. "Ayo mas Arga ikut gabung sini, ada Jihan juga loh," sambungnya.


Kini Arga dan sang mama telah masuk ke pekarangan rumah Jihan dan sudah ikut bergabung duduk di atas tikar yang sama. Terlihat Jihan masih bersikap tenang-tenang saja. Menyapa dengan senyuman seperti hari-hari biasa.


"Wah sarapannya seru ya diluar rumah begini, lingkungan segar. Hijau bersih pula. Tumben Bu na?"


Bu Diana memberikan gelas berisi jus segar. Dan diterima oleh Bu Nur dan juga Arga. Arga mengucapkan terima kasih.


"Iya Bu Nur. Tadi ayah Jihan nih bandel, pingin piknik ke tama kota. Padahal lagi gak fit badannya."


"Ohh seperti itu toh, duh pak Ardi. Saya kalau punya rumah rindang begini gak usah piknik jauh-jauh. Didepan rumah sendiri aja enak."


"Tuh ,, ayah dengarin benar kataku kan," timpal Jihan.


Ayah tertawa, "Iya iya. Besok piknik aja lagi rame-rame di sini. Barengan sama keluarga mas Arga. Bisakan nak Arga?"


Arga yang disebut namanya mendongakkan kepala, menatap ke arah ayah Jihan "I-iya om. Halaman rumahnya segar udaranya enak, Tamannya juga cantik secantik yang ngerawat," canda Arga sembari tersenyum ke arah Jihan.


Gadis itu sedikit dibuat salah tingkah, kok bisa-bisanya sih mas Arga bicara seperti itu bikin malu aja deh, batinnya.


"Haha nak Arga bisa saja, kalau nak Arga tertarik ambil saja," seketika ucapan pak Ardi membuat seluruh orang yang berada di sana beradu pandang bertanya tanya.


Mengerti jika dirinya salah mengucap, pak Ardi segera membenahi ucapannya. "Ehh maksudnya bunganya, ya bunga. Kalau nak Arga tertarik ambil saja tidak apa-apa, hehe," suasana kembali cair, semuanya tertawa.


"Haha pak Ardi ini bisa saja, saya kira tadi Jihannya loh yang mau di kasih ke Arga," ucap Bu Nur.


Sebenarnya kalau putra mu mau menerimanya, aku akan berikan. Aku takut tidak ada yang menjaganya setelah kepergianku kelak, ucap pak Ardi dalam hati. Ada kesedihan yang tiba-tiba melanda ketika mengingat akan penyakitnya.


"Tanya dulu Bu Nur sama yang mau di kasih, mau atau tidak, haha," canda Bu Diana.


Sial sekali hari ini aku jadi buli-bulinan begini, Cukup hentikan. Aku malu sangat malu. Batin Jihan meronta.


Jihan berusaha bersikap biasa saja, menundukkan wajahnya sambil menikmati buah segar di mangkuknya, Berbeda dengan Arga yang terlihat menatap Jihan sambil menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Kalau yang ingin dikasihkan bersedia saya ambil, gak masalah sih Om, tante," dibalas candaan juga oleh Arga.


Cih, apa-apaan sih kok aku berasa jadi barang yang akan diberikan sebagai hadiah. Jihan menggerutu dalam hati.


"Duhh manisnya, gimana Jihan mau tidak sama mas Arga?" Tanya Bu Nur.


"Haha, aku.. aku tidak tau apa yang sedang kalian bahas. Maaf kurang memperhatikan hehe," Jihan hanya menanggapi dengan tawa canggung.


"Duhh makin manis aja Jihan ini. Pingin sekali saya jadikan mantu loh. Haha, maaf mulut saya agak susah di kontrol, kalau lagi bahagia," ucap Bu nur.


"Lah gak apa-apa Bu, siapa tau emang jodohnya kan terus besok menikah." Ucap ibu Jihan. Yang tanpa ia sadari omongan itu bisa menjadi doa dan terkabul.


"Ibu!! Bilang apa sih?" Jihan merengek sembari melotot ke arah sang ibu menyuruhnya agar diam.


Arga dibuat gemas dengan ekspresi wajah Jihan yang menurut nya begitu cantik dan ingin sekali memilikinya.


Ibu,, bikin aku malu aja deh, duhh mana mas Arga ngelihatin terus lagi. Bisa salto aku nanti ini. Eh salting maksudnya. Jihan membantin sambil sedikit mengusap keningnya agar menutupi wajahnya yang tak kuasa menahan malu.


Pak Ardi menanggapi itu dengan tawa, ada harapan jika saja semoga memang benar Jihan bisa menikah dengan Arga. Seorang laki-laki yang sudah dianggap sebagai anak sendiri. Sebab hubungan pertemanan antara dirinya dan papa Arga yang sudah terjalin sangat lama.


Membuat pak Ardi bisa mempercayai Arga adalah pasangan yang tepat untuk sang putri, dan yakin jika Arga bisa menjaganya. Dirinya sangat ingin melihat putri semata wayangnya menikah sebelum pada akhirya dia meninggalkan sang putri untuk selamanya.


"Sudah .. sudah.. lihat tuh, wajah Jihan sampai memerah begitu, sedang tersipu ya Jihan?'' goda Bu Nur.


Tersipu darimananya tante? aku ini sedang kepanasan kena sinar matahari. Batin Jihan.


Jihan tertawa untuk mengusir rasa canggung, "Haha Tante bisa saja. Enggak kok Tan, ini mataharinya mulai terik aku agak kepanasan duhh panas...," Jihan mengkipas kipaskan tangannya.


"Ah alasan saja dia itu Bu," sahut ibu Jihan.


Arga melihat ke arah Jihan, memang benar ada sinar matahari yang mulai menyusup di balik dedaunan dan membuat Jihan kesilauan. Arga paham, dirinya kini berdiri dan merubah tempat duduknya. Beralih menjadi duduk di kursi taman seberang Jihan duduk. Sehingga tubuhnya itu dapat menghalangi Jihan dari pantulan sinar matahari yang menyilaukan wajah cantik Jihan.


Semua tidak tersadar dengan perhatian kecil yang Arga berikan. Kecuali Jihan, yang mulai menduga duga alasan Arga merubah posisi duduknya apakah untuk menghalau sinar matahari itu?


Ahh mungkin perasaanku saja deh, gak mungkin mas Arga bisa sepeka itu. Mungkin pantatnya pegal duduk di bawah. Batin Jihan.


Dan mereka semua meneruskan acara sarapan tersebut bersama-sama. Diselingi canda tawa dan obrolan obrolan hangat seputar masalah sehari-hari.


Bercerita kesana kemari tentang keseharian Jihan di sekolah dan di rumah. Tentang pekerjaan Arga, dan tentang hal lainnya.


Hingga terjadilah sesuatu yang tak terduga. Tiba-tiba saja ayah Jihan mulai terbatuk-batuk dengan parah lagi. Hingga membuatnya sesak. Seketika semua orang menjadi khawatir.


Jihan mengelus pundak sang ayah, "Ayah, pelan pelan yah, tarik nafas perlahan." Jihan mulai khawatir.


Bu Diana terlihat sangat kebingungan juga, "Kita bawa kerumah sakit ya, Yah. Batuk Ayah ini sudah nggak normal. Ibu nggak mau dengar penolakan," ucap ibu.


"Iya Bu, kita bawa ke rumah sakit saja," balas Jihan.


"Saya ikut ya Bu na, ayoo naik mobil saya saja," timpal Bu Nur.


"Tidak tidak perlu,, aku mau di rumah saja. Jangan bawa aku kemanapun," pinta pak Ardi.


Dirinya tak ingin jika penyakit nya sampai diketahui sang anak dan istri.


"Ayah! kenapa masih bandel juga sih. Sudah keadaan begini sebaiknya nurut saja!!." Titah Jihan.


"Iya om benar, kita periksakan saja, saya ikut antar," tawar Arga.


Ayah Jihan mencoba mengatur nafas yang mulai sesak, perlahan mengambil nafas dan membuangnya pelan. Namun batuk itu tak kunjung mereda. Semakin merasakan nyeri di sekujur tubuh membuatnya tak banyak protes. Ditambah lagi dari hidungnya keluar setetes darah segar, menambah kekhawatiran semua orang.


"Ayah nggak boleh menolak lagi! Kalau perlu ibu sendiri yang akan menggeret ayah ke rumah sakit. Ayo Nim, seret saja ayah jika masih membantah," kemudian Bu Diana memapah tubuh pak Ardi dibantu Jihan juga.


"Kami tetap ikut ya Tante, sebentar saya bawa mobil kemari," Arga segera berlari menuju rumahnya.


"Saya juga ikut Bu Nana.''


Didalam mobil pun, batuk pak Ardi tak kunjung membaik. Jihan terus merangkul tubuh rentan itu, sembari mengusap dada sang ayah agar batuknya berkurang.


Tuhan, apa ini sudah mendekati ajalku? tubuhku teramat sakit sekarang. Sebelum kau panggil aku, ijinkan aku melihat putriku menikah terlebih dahulu. Doa ayah dalam hati.

__ADS_1


Dan mobil tersebut terus melaju memecah keramaian kota, dengan Arga yang mengendarainya.


__ADS_2