Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Beristri Seorang Pelajar


__ADS_3

Eps. 3


Di sisi lain, seorang pria tengah duduk di kursi meja makan sembari menyantap sarapan. Pria itu menikmati sarapannya dengan khidmat, terlihat dari ekspresi wajah yang beberapa kali memejamkan mata saking enaknya menu yang ia santap.


Dia adalah Arga Dwijaya. Seorang pria berumur 28 tahun yang menikahi gadis SMA berumur belia. Arga adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dia memiliki dua kakak perempuan dan satu adik laki-laki.


Pria itu masih menyantap sarapannya hingga sendokan terkahir, dan meraih gelas kemudian meneguk air putih tersebut.


Arga bersendawa kemudian mengelus perutnya yang kekenyangan. Sebelum beranjak dari tempat duduk, ia sempat melamunkan istri imutnya yang membuat dirinya mabuk kepayang.


"Masakan istriku memang terbaik, semenjak di rawat dia berat badanku makin berisi aja," terkekeh sendiri dengan lamunannya.


"Cantik banget dia hari ini, duhh bisa gila aku. Bisa fokus kerja gak ya aku hari ini." Memikirkannya saja membuat Arga frustasi, apalagi mengingat wajah istrinya itu semakin menambah rasa rindu di hati Arga. Maklum namanya juga pengantin baru.


"Senyumnya itu,, manis sekali. Arrghhh.." Arga mengacak-acak rambutnya, "Sadar Ga, kamu harus kerja sekarang. Urus dia nanti setelah pulang kerja," Arga menepuk pipi agar tersadar dari lamunannya.


Mau tidak mau dia harus berangkat kerja karena sekarang ada seseorang yang harus ia beri nafkah. Arga beranjak dari tempat duduk sebelum itu ia mengambil piring bekas sarapan dan membawa nya ke wastafel untuk dicuci.


Sudah menjadi kebiasaan Arga untuk selalu mencuci piring sehabis makan, jika tidak ditemani Jihan. Atau tidak gadis itu akan mengamuk karena melihat piring kotor tergeletak begitu saja.


Arga pun kembali tersenyum saat mengingatnya, dimana Jihan tengah asyik memotong buah kemudian Arga datang membawa piring kotor dan menggeletakkannya begitu saja. Dengan tatapan menusuk Jihan melirik ke arah suaminya sembari memperkeras potongan buah di atas telenan yang ia gunakan sebagai dasar untuk mengiris buah. Sehingga terdengar seperti orang sedang mencacah daging.


Mendengar hal itu Arga paham jika sang istri tengah memberikan kode agar dirinya mencuci piring bekas makan sendiri. Akhirnya Arga mencuci piring tersebut, dengan di selingi tawa mengejek.


Arga meletakkan piring yang sudah ia cuci ke dalam rak piring. Kemudian meraih lap untuk mengelap sisa air ditangannya.


Kembali ia teringat dengan kebiasaan saat Jihan kesal akibat ulah jahilnya, biasanya setelah mencuci piring jika ada Jihan disekitarnya, maka pria itu akan menghampiri Jihan kemudian mendaratkan kecupan manis di pipi Jihan. Dan hal itu membuat rona merah di pipi Jihan.


Arga kembali tersadar dengan lamunannya, dia harus segera menghentikan lamunan itu jika tidak akan berdampak bahaya bagi dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan hasratnya. Arga benar-benar dibuat frustasi dengan bayang bayang Jihan, apalagi setelah semalam mereka gagal melaksanakan sesuatu sebagai suami istri. Mengingat hal itu tentu membuat Arga kembali dirundung kesedihan, pria itu sedikit kecewa.


Akhirnya Arga memutuskan untuk pergi mandi, dan segera bersiap berangkat kerja.

__ADS_1


Begitulah kisah singkat tentang kebiasaan pagi Arga, ada saja drama percintaan yang Arga buat untuk menggoda sang istri agar tidak jauh jauh darinya. Tapi di sisi lain Arga juga tidak mau mengganggu pendidikan Jihan. Dirinya sadar jika saat ini tengah beristri seorang pelajar, jadi sebisa mungkin Arga akan mencoba memakluminya.


Arga dan Jihan adalah pasangan suami istri yang terpaut usia lumayan jauh, sebelum mereka tinggal serumah mereka adalah tetangga sebelah rumah, yang berjarak sekitar tiga rumah saja.


Mereka menikah lantaran perjodohan yang dibuat oleh orang tua Jihan. Atas permintaan almarhum ayah Jihan. Saat ini usia pernikahan keduanya sudah menginjak dua bulan. Dan selama itu Arga berusaha membuat Jihan semakin jatuh cinta pada dirinya dengan beraneka ragam drama yang ia ciptakan.


Mereka tinggal di sebuah rumah minimalis, uang hasil keringat Arga dia belikan rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah orang tua mereka. Arga memilih untuk tinggal berdua dengan sang istri agar tidak merepotkan kedua orang tuanya jika harus tinggal bersama. Tidak ingin menjadi beban.


Sedangkan Jihan, adalah seorang siswi SMA yang duduk di bangku kelas dua belas dan sebentar lagi akan lulus dari sekolah.


Pernikahan Arga dengan Jihan tidak banyak di ketahui oleh orang banyak, bahkan sahabat terdekat Jihan hanya Rani sajalah yang mengetahui nya. Jihan dan Arga baru menikah siri, rencananya mereka akan mengadakan pesta besar-besaran dan mendaftarkan pernikahannya ke negara nanti setelah Jihan menamatkan pendidikan terakhir di SMA.


Setelah selesai bersiap dan memakai seragam lengkap kerjanya, Arga kembali ke dapur memasukkan bekal yang telah di siapkan sang istri ke dalam ransel.


Memastikan bahwa dia telah membawa semua yang disiapkan Jihan, agar Jihan tidak marah ketika mengetahui Arga melewatkan satu kotak saja yang di siapkan.


Bekal itu sangat komplit, ada beberapa kotak makan yang didalamnya terisi jenis hidangan yang berbeda. Untuk makan siang ada nasi, sayur dan lauk yang di letakkan terpisah. Sedangkan untuk pencuci mulut ada buah buahan yang di potong kecil kecil, dan dimasukkan ke kotak makan yang ukurannya lebih mini. Sedangkan untuk cemilan, Jihan tak melupakan ada manakan ringan yang ia buat sendiri seperti puding atau kue kue basah yang ia buat malamnya sebelum pergi sekolah. Dan jangan lupakan wadah minum yang terisi jus segar didalamnya.


Setelah memastikan tidak ada satu barang pun yang tertinggal, Arga keluar rumah dan kini duduk di kursi teras sembari menunggu mesin motornya panas.


Dia sedang memakai kaos kaki dan sepatu safety, pria itu semakin nampak maskulin dengan sisiran rambut yang rapi dan sedikit mengkilat karena diberi minyak rambut. Pria berstelan seragam perusahaan itu benar benar gagah seperti om om perusahaan yang cool, jika saja ada Jihan di sana pasti dirinya tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menggoda om om perusahaan satu ini.


Arga adalah salah satu karyawan di sebuah perusahaan batu bara yang cukup besar dan terkenal di kotanya. Perusahaan tempat Arga kerja adalah perusahaan cabang dari Perusahaan pusat yang letaknya di ibu kota.


Posisi jabatan Arga adalah seorang operator, gaji yang dia peroleh juga lumayan banyak untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang istri. Bekerja dengan giat, bertanggung jawab dan penuh dedikasi membuat dirinya sering dipuji oleh atasannya dan dihormati karyawan lainnya.


Arga telah sepenuhnya siap untuk berangkat kerja, dengan memakai helm dan jaket untuk melindungi dirinya. Dia kembali memeriksa sekali lagi, jika rumah telah benar-benar di kunci dan meletakkan kunci tersebut di bawa pot bunga. Agar Jihan bisa membuka pintu jika telah pulang sekolah. Setelah itu beranjak duduk ke motor.


"Sudah ganteng aja bang Arga, segar pula." Ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul entah sejak kapan.


"Ehh mbak Mutia, sejak kapan di situ?" Tanya Arga sedikit terkejut melihat wanita janda tengah berdiri dibalik pagar rumahnya.

__ADS_1


"Udah lama bang, bang Arga aja yang gak lihat aku, sibuk ngelamun sendiri sih."  Jawab wanita yang tinggal di samping perumahan yang ditinggali Arga dan Jihan. Namanya adalah Mutia. Seorang janda kembang yang menikah baru beberapa bulan namun diceraikan sang suami.


Ngapain juga aku lihatin kamu! Istriku saja lebih cantik.


Arga melengos malas menghadapi wanita janda tersebut, dirinya sadar bahwa sudah beristri jadi sepatutnya menjaga kehormatan agar tidak terlalu dekat dengan wanita yang sering di sebut janda bodong oleh Jihan.


"Bang Arga, kok semakin cuek sih," Mutia berjalan mendekati kearah pagar rumah Arga sedangkan Arga masih stay di atas motornya.


"Saya mau berangkat kerja mbak Mutia, sudah makin siang. Permisi." Balas Arga dengan sopan. Masih menghormati Mutia sebagai wanita yang usianya lebih tua dari dirinya.


"Bang Arga, aku boleh gak numpang sekalian. Sampai depan gang situ, mau beli sayur. Boleh ya," berkata dengan manja.


Apa apan sih nih orang, gak takut apa di labrak lagi sama istriku, batin Arga.


"Bang Arga kok diem aja, boleh ya.. bantu tetangga apa salahnya bang. Janji cuma sampai depan situ aja. Kaki ku lagi sakit bang," Mutia menunjukkan kakinya yang memang terlihat sedikit bengkak.


"Emm,, gimana ya mbak, Bukan saya gak mau bantu tapi saya gak enak nanti di lihat orang orang. Saya kan sudah beristri," Arga masih mencari alasan untuk menolaknya.


"Yahh, aku lupa. Bang Arga udah punya istri. Coba aja istrinya bang Arga itu aku ya."


Arga hanya menanggapi dengan tawa receh, jika saja sang istri ada di sana sudah pasti janda gatel itu akan di hajar habis habisan oleh Jihan, sebab berani menggoda sang suami.


"Sekali lagi maaf ya mbak, saya buru-buru ni. Lagipula saya gak lewat gang depan situ, saya lewat gang belakang saja sudah makin siang takut terlambat, Permisi Mbak," Arga mulai mengegas motornya meninggalkan si Mutia yang termangu menatap kepergian Arga.


Malas sekali meladeni dirinya, kalau ketahuan Jihan aku juga yang kena getahnya. Arga berdumel sendiri.


"Iyaa bang, hati-hati yaa.. miss you," ucapnya sedikit keras.


Arga bergelik ngeri mendengar ucapan miss you dari bibir wanita itu. Jika saja ucapan itu keluar dari bibir sang istri maka Arga akan sangat senang bahkan tidak segan mengecup bibir Jihan. Sayangnya kata-kata manis itu justru terucap dari bibir wanita yang membuatnya tidak nyaman akan tindakannya yang terkadang suka berlebihan. Itu sangat menggelikan batin Arga.


"Dasar si ganteng, dulu pas belum nikah gak secuek ini. Pasti gara-gara istrinya tuh, sudah menghasut bang Arga biar menjauh dari aku," berkata dengan sangat tidak sadar diri.

__ADS_1


Jelas saja Jihan akan melakukan hal itu, baginya orang luar tidak boleh masuk ke dalam kehidupan suaminya. Memangnya istri mana yang senang melihat sang suami di dekati wanita lain?. Gatal pula.


__ADS_2