
Eps. 13
"Emm maksudku, mas ikut ke kamar temani aku bisa? Aku takut?"
Didalam kamar.
Karena suara petir yang tak kunjung hilang justru makin menjadi jadi, Arga tak tega jika harus meninggalkan Jihan sendiri di dalam kamar, apalagi tadi dia melihat jikalau sang istri amat ketakutan dengan suara petir yang menggema.
Oleh karena itu Arga memutuskan untuk tidur di kamar yang sama. Lagipula hujan yang justru tambah deras membuat mama dan papanya tidak pulang kerumah dan memilih bermalam di rumah ibu Jihan.
"Sudah masuk kamar, Nim. Kenapa masih memegangi kaosku? Tidak ingin melepaskan ya?" Kata Arga setelah tiba di kamar.
"Ohh maaf mas, aku kira belum masuk kamar tadi, hehe. Maaf ya mas," ucapnya gugup.
"Haha nggak apa-apa, sudah sana naik ke ranjang."
Tunjuk Arga pada spring bed berukuran sedang yang sekiranya muat di tiduri dua orang namun sedikit sesak.
"I-iya mas," ucap Jihan ragu. "Mas Arga jangan kemana-mana, ya. Jangan tinggalin aku!" Sambungnya.
Arga masih berdiri ditempatnya sedangkan Jihan telah beranjak ke atas tempat tidur.
"Enggak,,, aku tungguin kamu dinsini kok. Jangan takut. Aku gak akan melewati batas dan gak akan berbuat yang tidak tidak," ucapnya tersenyum.
Sekilas Jihan telah melupakan rasa dukanya, sebab kehadiran Arga yang selalu menemani di sisinya, Jihan merasa nyaman dan terlindungi.
"Yasudah kalau begitu, kamu tidur di ranjang aku temani duduk di sini ya, tunggu kamu tidur baru aku pindah ke sofa sana," tunjuk Arga di sudut ruangan yang terdapat sofa berukuran panjang.
Gadis itu membaringkan tubuhnya, membelakangi Arga yang duduk di bawah ranjang sembari membaca sebuah buku, entah buku berjudul apa, tapi mas Arga terlihat begitu fokus saat membaca.
Arga melirik sekilas ke arah Jihan, ia memperhatikan ketika Jihan tidak berselimut. Arga tergerak untuk menyelimuti tubuh Jihan. Jihan menengok sekilas kearah Arga.
"Pakai selimutnya, hawanya dingin," ucap Arga tersenyum.
Setelah itu Arga melanjutkan membaca buku. Jihan masih sulit terpejam, beberapa kali dirinya menggeliat dan menggonta-ganti posisi tidur. Ditambah suara petir yang terkadang masih terdengar membuatnya sulit memejamkan mata.
"Kenapa belum tidur, Nim? Tidak nyaman kah?" Tanya Arga ketika memperhatikan sedari tadi istrinya tak bisa diam bergerak.
"A-aku sedikit takut mas." Jihan membalikkan tubuh menghadap Arga.
"Ada aku disini jangan takut, biasanya kalau dirumah waktu hujan begini apa yang bisa membuat mu jadi tenang, hmm?" Tanya Arga.
Jihan kembali teringat dengan kenangan sang ayah matanya menatap kosong kearah lurus, sambil berkata.
"Ayah mas, biasanya ayah akan menemani tidur di ranjang sembari mengelus kepalaku."
Arga jadi inisiatif ia letakkan kembali bukunya ke atas meja, kemudian naik ke atas ranjang di samping Jihan berbaring.
"Mas? Mau apa?" Tanya Jihan.
"Bisa aku gantikan posisi ayah untuk menemanimu di sini? Janji, tidak akan berbuat yang lebih selain tidur," ucapan Arga barusan membuat hati Jihan bergetar. Seolah ada perasaan haru yang menyusup dalam hatinya.
"Terimakasih mas, aku percaya sama mas," tidak ada kata lain yang dapat diucapkan Jihan selain kata terima kasih dan terus berterimakasih.
Kemudian Arga membawa tubuh sang isteri untuk berbaring bersama di atas ranjang. Dengan lengan Arga dijadikan bantalan untuk kepala Jihan, sedangkan tubuh Jihan memeluk Arga.
"Begini tidak apa-apa kan?" Tanya Arga memastikan.
"Tapi mas jangan macem-macem dulu ya!" Pinta Jihan.
"Ya macem-macem dong sudah suami istri mau ngapain lagi," goda Arga sifat jahilnya mulai lagi.
Reflek Jihan memukul dada Arga sedikit keras hingga membuat si pemilik tubuh mengernyit kesakitan. Jihan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Arga sembari menyilang kan tangan ke dada membentuk pertahanan.
"Haha, kamu ini galak juga, ya? Dadaku sampai sakit kamu pukul."
"Biarin aja mas, Mas udah janji loh tadi," ketusnya.
"Iya-iya aku minta maaf, hanya bercanda. Sini mendekat lagi dengar tuh petir nya masih bunyi-bunyi.''
Jihan memasang telinga baik-baik untuk mendengar, memang benar suara petir masih bergemuruh. Buru-buru Jihan mendekat ke tubuh Arga.
Arga meraih tubuh sang istri dan membawanya kembali dalam pelukan. ''Tenang aja, aku gak akan berbuat itu kok. Sebelum kamu sendiri yang menyerahkan dirimu dengan ikhlas, tidurlah dengan nyenyak aku gak akan kemana-mana," Arga mengelus pucuk kepala Jihan.
"I-iya mas, terima kasih atas pengertiannya," Jihan tersenyum.
Arga bisa merasakan jika sang istri tengah tersenyum meskipun wajah mereka tidak saling menatap.
Hampir dua puluh menitan Jihan dan Arga berada dalam posisi seperti itu, Namun masih canggung. Terlebih lagi Arga yang terlihat sedang menahan mati-matian sesuatu perasaan yang mulai menggebu.
"Mas Arga tahu tidak?" Jihan angkat bicara ketika dirinya merasa tidak bisa tidur.
"Belum tidur juga, Nim? Aku kira sudah,'' Arga menghembuskan nafas berat.
Jihan mendongakkan kepala, menatap ke wajah Arga.
"Belum bisa tidur mas, boleh aku sambil bercerita?"
"Mau cerita apa memangnya?" Tanya Arga, sembari sedikit melonggarkan pelukannya.
"Tentang apa aja mas, mas mau dengarin atau tidak?"
Arga menatap manik mata dengan bola mata kecoklatan itu, "Silakan jika itu membuat mu lebih baik," Arga tersenyum.
"Terima kasih mas, mas Arga tau gak?"
"Gak tau, Nim. Kamu belum ngomong," Arga memotong ucapan Jihan.
"Ihh mas aku belum selesai bicaranya. Oya sebelum itu bisa tidak, mas Arga ganti nama panggilan aku. Jangan panggil Nim Nim seperti itu, aku sedikit aneh rasanya."
"Hahhaa, terus mau dipanggil apa? Hmm?"
"Jihan saja mas, seperti yang lainnya."
"Tapi rasanya agak mengganjal di lidahku, ganti yang lain saja, ya. Yang berbeda dari yang lainnya."
Mengganjal apanya sih mas, kamu cuma menyebut namaku bukan memakan namaku.
__ADS_1
"Kamu punya ide nggak, mau dipanggil apa?" Tanya Arga.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Terserah mas Arga saja."
"Gimana kalau Hany? Kan Jihan tambah huruf y, jadi hany artinya madu kan manis kayak orangnya, hehe. Gimana?"
''Itukan honey mas,'' Jihan memasang wajah datar.
''Sama aja Han, Hany. Wihh keren juga ya, haha,'' Arga tertawa. Sedangkan wajah sang istri terlihat cemberut.
"Ahh gak mau mas lebih aneh lagi dari, Nim. Aku gak setuju."
"Habis mau di panggil siapa? Sayang?" Arga mendekatkan wajahnya.
"Ehh itu,," Jihan terlihat tersipu, ditambah lagi wajah Arga yang begitu dekat dengannya.
Sesak mas sesak, jangan dekat-dekat bisa tidak. Batinnya.
"Kok diam? Gimana Hany atau sayang?" Tanya Arga kembali. Sengaja menggoda Jihan dengan ucapan yang manis. Bagi Arga melihat wajah tersipu Jihan adalah hal yang sangat menggemaskan.
"Kalau sayang agak aneh lagi mas, malu mas. Masa suami istri manggil nya sayang sayangan.''
Seketika Arga memasang wajah kebingungan, suasana mesra yang tercipta tadi hilang begitu saja karena kepolosan sang istri.
Jihan ini memang gadis yang aneh, namanya sudah bersuami istri terus mau di panggil apa lagi? Arga keheranan.
"Bilang tadi terserah saja, tapi ku panggil begitu masih kurang cocok, emang ya wanita itu makhluk paling ribet," Arga berkata dengan wajah datar.
"Hehe, aku juga bingung mas."
"Kalau gitu pilih satu, Hany atau sayang?" Tanya Arga.
"Jihan aja kenapa sih mas?"
"Lidahku ngganjal manggil seperti itu."
"Mas Arga ini, yasudah Hany saja. Kalau di pikir-pikir keren juga, hehe," pertama kalinya Jihan tertawa ceria semenjak tangisan terakhirnya tadi. Arga sedikit lebih tenang melihat wajah ceria Jihan perlahan mulai berseri kembali.
"Oke, Hany." Arga tersenyum.
Degg hati Jihan berdesir, merasakan sesuatu sensasi berbeda yang entah datang dari mana membawa maksud apa. Mendengar Arga memanggilnya dengan nama Hany seolah ada kesan tersirat yang mendalam di panggilan barunya itu.
Jihan dan Arga saling menatap. Kemudian Arga berkata,
''Tapi aku lebih suka manggil kamu sayang.''
Jihan tak tahu lagi dengan jalan berpikir mas Arga, ''Terserah mas saja mau panggil apa, aku suka semuanya,'' jawabnya tersenyum. Lebih baik mengalah 'kan dari pada urusan nama panggilan ini gak kunjung selesai, pikir Jihan.
''Kamu benar benar menggemaskan,'' kata Arga sambil mengelus pipi Jihan.
"Oiya, aku penasaran, kenapa kamu di panggil Nim? Itu artinya apa?" Tanya Arga.
"Namaku kan jihanim Miranda, ayah dan ibuku itu yang suka manggil aku dengan sebutan Hanim, jadi keterusan deh sampai sekarang."
"Ohh begitu ya," sahut Arga.
Arga sedikit memutar bola matanya, berpikir kenapa dirinya juga ikut manggil Nim, "Haha kalau itu sebenarnya aku gak tau nama asli mu, aku ikut ikutan aja manggil Nim Nim. Soalnya ibu sama ayah kan sering manggil kamu begitu," jawabnya.
Jihan menatap datar ke arah Arga, "ohh jadi ceritanya mas ini plagiat, ya?"
"Plagiat apanya?"
"Ya ikutan manggil begitu." Jawab Jihan singkat. Jihan menggoyang goyangkan tubuhnya agar mendapatkan posisi tidur yang nyaman.
"Hany," Arga memasang muka datar. "Cukup jangan banyak bergerak, gerakkan mu itu bisa membahayakan kita."
Arga merasakan perasaan yang sulit dia tahan jika Jihan terus bergerak. Dirinya takut jika Jihan tak bisa diam, maka Arga akan melakukan hal lebih.
"Kenapa emangnya mas?" Tanya nya polos.
"Intinya kamu jangan banyak bergerak, ya. Sudah malam lebih baik kita tidur saja," ajak Arga.
"Loh mas tapi aku mau cerita,.." ucapan Jihan terpotong.
"Besok saja, ini sudah malam. Suara petir juga terlalu keras. Aku gak bisa dengar jelas, ayoo tidur." Arga meraih tubuh Jihan dan memeluknya erat agar gadis itu tak bisa bergerak semaunya. Karena Arga khawatir jika tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Baiklah aku tidur mas, lain kali aja ceritanya. Selamat malam mas terimakasih," ucap Jihan lirih.
Sekilas dia mendongakkan kepalanya menatap Arga, ternyata Arga sudah memejamkan mata. Mungkin saja mas Arga kelelahan.
Hangat dalam dekapan sang suami membuat Jihan terbawa suasana malam yang dingin namun dirinya merasa hangat dan aman dalam pelukan mas Arga.
Keesokan paginya.
Samar-samar terdengar suara ayam berkokok, rintik hujan mulai mereda. Hanya tersisa tetesan tetesan air yang mengalir dari dahan dan ranting pohon yang jatuh ke tanah.
Arga dan Jihan masih belum keluar dari kamar, mereka masih nyaman berpelukan satu sama lain. Berada dalam posisi ternyaman seperti itu dalam semalaman membuat keduanya masih hanyut dalam alam mimpi.
Meskipun terasa ditangan Arga rasa pegal dan sedikit kesemutan akibat menjadi bantalan tidur sang istri, namun tak membuat Arga menyerah. Asal sang istri bisa tidur nyenyak maka bukan masalah baginya.
Pintu rumah terbuka, terlihat Bu Nur dan pak Toha sudah kembali dari rumah Jihan. Jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi, kebetulan itu adalah hari libur. Tak keran jika pintu kamar Arga masih tertutup.
"Papa masuk ke kamar dulu bersih-bersih badan, ya. Mama mau nengok Arga dulu," Ucap Bu nur pada sang suami.
Namun pak Toha menyekal tangan sang istri, "tunggu dulu ma! Jangan di ganggu Arga tidak sendiri di dalam kamar."
Raut wajah kebingungan masih menguasai Bu Nur. Dirinya masih belum paham, atau mungkin sebenarnya dia lupa jika Arga kini telah beristri.
"Aiisshh mama ini, Arga kan sudah punya istri. Biarkan mereka tidur lebih lama, jangan di bangunkan."
Sekilas bayangan tentang wajah menantunya terlintas di benak Bu Nur. Sorot matanya berbinar, "oiyaa mama lupa mama lupa, mama sudah punya mantu sekarang. Astaga anakku sudah punya istri. Haha mama lupa pa. Mama lupa," Bu Nur heboh sendiri.
"Maa, pelankan suara jangan berisik. Nanti mereka terusik, sudah semalam hujan deras begitu pasti mereka butuh waktu banyak buat istirahat." Pak Toha menenangkan sang istri.
"Mama sangat senang paa,, papa benar. Sudah hujan deras memangnya mau melakukan apa lagi kalau bukan melakukan itu," tersenyum jahil.
Pak Toha menggelengkan kepalanya, Istriku ini benar-benar jahil. Batinnya.
__ADS_1
"Baiklah mama tidak ganggu, sudah papa pergi mandi sana, mama mau masak," usir Bu nur pada sang suami. Padahal itu hanyalah alasan saja.
"Iya papa ke kamar dulu." Kemudian pak Toha pergi meninggalkan sang istri.
Setelah kepergian sang suami ke kamar, Bu nur melanjutkan aksi jahilnya perlahan dirinya mengendap-endap jalan menuju pintu kamar Arga yang masih tertutup rapat.
Kemudian Bu nur mulai mendekatkan telinganya ke arah pintu, guna menguping suara apa yang bisa ia tangkap di dalam sana.
Cukup lama dirinya berdiri di sana namun tak kunjung memperoleh apa yang ingin ia dengar.
"Mereka ini sedang apa? Kok diam diam aja gak ada suara ya?"
Bu nur masih setia bediri di posisi itu dan masih memasang pendengaran baik-baik.
"Ckk,, mereka ini mau ngerjain orang tua kah? Dari tadi kok gak bersuara sih," Mulai kesal.
Memangnya apa yang ingin anda dengar, ohh nyonya Nurul? Kata author.
Belum lama merutuk kesal tiba-tiba saja terdengar suara ganggang pintu yang terbuka. Bu Nur kelagapan langsung menjauhkan diri dari pintu dengan raut wajah panik seperti maling yang tertangkap basah.
Ceklekk pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Jihan dengan wajah segar dan jangan lupakan senyuman pagi yang manis.
Jihan ikut tekejut ketika mendapati sang mertua tengah berdiri di depan pintu kamar mas Arga.
"Mama sudah pulang? Dari kapan?" Tanya jihan.
"Aa-aa iya nak, sudah dari tadi. Hehe," Bu nur tertawa canggung untuk menghilangkan kepanikan.
Jihan memperhatikan gelagat sang mertua yang dirasa sedikit aneh.
"Mama lagi ngapain di depan pintu?" Tanya Jihan.
Panik, raut wajah panik semakin tergambar jelas di wajah Bu nur. "Emm itu ma-mama lagi cari kunci kamar mama. Iya tadi sepertinya jatuh disini," Bu nur mengambil alibi sambil mencari cari kunci. Padahal disekitar sana tidak ada apa-apa.
"Duh mana ya? Tadi mama jatuhkan di sekitar sini, mama ingat kok."
Pandangan Jihan ikut mencari kunci yang di maksud, "aku bantu cari ma."
Jihan turut menjongkokkan badannya guna mencari kunci, siapa tau ada di bawah tempat yang tak bisa tergapai oleh pengelihatan mama mertua nya.
Tak lama kemudian Arga keluar dari kamar, "kalian cari apa?"
Duh Arga keluar lagi, mampus mama ini nak. Ketahuan sudah lagu nguping. Batin Bu nur.
"Ini mas, mama cari kunci kamar. Bilangnya jatuh disekitar sini. Jadi aku bantu cari."
"Kunci kamar?" Arga mengeryitkan dahi heran. Kemudian menatap sang mama dengan tatapan mengintimidasi.
Mama yang mendapat tatapan curiga seperti itu mengerti jika sang putra tak mempercayai alasannya tersebut. Tidak seperti Jihan yang dengan polosnya mempercayai alasan itu.
Mama pasti sedang berulah lagi, mustahil kunci kamar sampai dia jatuhkan. Batin Arga.
Jihan masih sibuk mencari, tak lama kemudian papa datang.
"Ma, papa sudah mandi. Giliran mama berganti pakaian sana, nanti papa istirahat di kamar habis sarapan saja."
Duh papa kenapa ikut-ikuttan datang juga? Ketahuan kan kalau mama lagi berbohong.
"Loh, mama bilang kunci kamarnya jatuh di sini, kok papa sudah selesai mandi. Ini maksudnya gimana, ya?" Tanya Jihan penuh tanda tanya. Masih belum memahami kondisi yang sesungguhnya.
Papa dan mama saling bertatapan, yang satunya bingung apa yang sebenarnya terjadi sedang yang satunya lagi cemas berharap si suami tidak berkata lebih banyak lagi. Atau tidak kebohongannya akan terungkap.
Huh benar-benar ekstrem, Harus jaga image, ya tetap jaga image. Batinnya.
Arga menggeleng-gelengkan kepala, "istriku terlalu polos, kasihan kalau tiap hari di tipu begini," Berkata lirih sambil menepuk jidatnya.
Bu nur terlihat hanya tertawa canggung.
"Ini ada apa sih? Apa yang papa lewatkan?" Satu pertanyaan belum terjawab dan kini satu orang yang bertambah bingung ikut bergabung.
"Hehe,,," Bu nur hanya menanggapi dengan tawa canggung lagi.
___
Kini Jihan telah berada di dapur, berkutat dengan semua peralatan masak. Pengalaman pertama nya memasak di rumah orang lain dan memasak untuk anggota keluarga baru.
Jihan masih fokus memasak menu sarapan yang biasa di hidangkan dirumahnya. Setelah memesan rencananya Jihan akan pulang kerumah ibu nya untuk melihat kondisinya dan mengantari makanan.
"Hmm wanginya masakan mantu mama," celetuk Bu nur.
Yang entah sejak kapan tiba-tiba sudah berada tepat dibelakang Jihan. Hingga membuat gadis itu sempat terhenyak kaget.
"Ehh mama bikin kaget deh," jawab Jihan.
"Haha, maaf maaf mama gak bermaksud. Masak apa sayang?"
"Ini ma, sarapan biasa aja kok kayak yang sering dimakan dirumah ibu. Aku gak tau mama papa sama mas Arga suka atau enggk, semoga aja suka ya."
"Ohh pasti suka sayang, kalau yang buat mantu mama." Bu nur tersenyum.
Bu nur memperhatikan cara memasak Jihan yang terlihat sudah lihai, tentram hati Bu nur melihat pemandangan didepannya ini. Seperti melihat seorang bidadari yang bangun pagi untuk membuat sarapan pagi.
"Jihan suka masak ya sayang?"
"Iya ma, suka sekali. Biasanya ayah yang nemani aku. Kami sering masak berdua," raut wajah Jihan berubah menjadi sedih. Ketika mengingat tentang almarhum ayah.
"Jangan sedih sayang, kamu masih punya kami. Kalau rindu ayah, kan ada papa sekarang. Jangan merasa sendiri, ya," Bu nur memberikan kecupan kecil di kening Jihan.
Kini anggota keluarga telah berkumpul di meja makan. Terlihat Arga nampak segar setelah membersihkan tubuhnya. Ada sang papa juga yang terlihat sangat ceria sebab sedari tadi memasang senyum yang tak pudar pudar.
"Silakan di makan semuanya," Jihan mempersilakan setelah selesai menata piring berisi sarapan yang dadi aromanya saja sudah menggugah selera.
"Mantuku pintar masak ya, aromanya sedap sekali." Puji papa.
"Terimakasih, Pa. Sini Jihan ambilkan nasi ya," tangannya tergerak ingin megambil piring sang mertua namun di hentikan.
"Tidak usah nak, kamu punya suami. Jadi layani dulu suamimu.''
__ADS_1
bersambung....