Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Pergi dengan senyuman


__ADS_3

Eps. 10


Pintu ruang rawat inap terbuka, Jihan berjalan masuk menghampiri ranjang tempat ayah nya terbaring. Setelah tadi keluar dari IGD dan di pindah ke ruang inap setelah dipastikan kondisinya tidak lagi kritis.


Jihan duduk di kursi samping ranjang sang ayah. Diraihnya tangan yang terlah keriput itu, mengusapnya pelan.


"Ayah,," lirihnya. "Kenapa tidak cerita sebelumnya? Kenapa ayah menyembunyikannya? Kenapa ayah tidak memberitahu kami?" menatap tubuh yang terbaring lemah tersebut.


"Hatiku sakit melihat ayah terbaring seperti ini, seakan ada bagian hidupku yang akan direnggut, yah," tanpa sadar air mata telah membanjiri wajah Jihan.


"Jihan ingin ayah baik-baik saja, Jihan belum siap jika harus kehilangan ayah," wajah yang biasanya tersenyum berseri itu terlihat sembab. Mata jihan bahkan sampai terlihat sipit.


Jihan mencium punggung tangan sang ayah sembari meletakkannya pada wajahnya, kemudian Jihan merebahkan kepalanya di ranjang samping tempat tidur sang ayah. Tiba tiba jari tangan itu sedikit bergerak. Selang beberapa waktu setelah nya, Jihan mulai merasakan ada usapan tangan yang menyentuh kepalanya.


Jihan mendongakkan kepala, "Ayah sudah bangun, Yah?" Jihan senang melihat ayahnya sudah sadar kembali.


Dia segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan sang ayah. Jihan masih berada di dalam ruangan sambil menunggu dokter selesai memeriksa sang ayah.


Terlihat ibu Jihan sudah masuk ke dalam ruangan, setelah dokter mengatakan bahwa kondisi sang ayah jauh membaik. Semua mengucap syukur.


"Hanim," lirih sang ayah. "Kemari nak, mendekat lah. Ada yang mau ayah bicarakan."


Jihan mendekat ke arah sang ayah, "iya yah, aku disini. Ayah bicara saja, aku akan mendengarkan."


"Sebelum itu, apa kamu bisa menuruti permintaan ayah? Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya, Nim."


Jihan tak sanggup mendengar perkataan ayahnya, "jangan bicara seperti itu, yah. Aku yakin ini gak akan jadi permintaan terakhir ayah. Apapun itu aku akan menurutinya yah, ayah mintalah banyak hal padaku. Agar aku selalu bisa mewujudkannya."


Jihan mencoba menahan air mata yang hampir tumpah, sedangkan sang ibu masih berdiri di sebelah ranjang sang suami. Matanya ikut berkaca kaca ketika melihat sang suami berbaring lemah.


Ayah menengok ke arah sang istri, "Bu. Ayah minta tolong, bisa panggilkan nak Arga dan mama nya kemari."


Bu Diana mengangguk, "ayah tunggu sebentar, akan ibu panggilkan."


Setelah mengatakan itu Bu Diana segera keluar, sedangkan Jihan masih setia menggenggam erat tangan ayahnya. Seolah tak ingin melepaskan tautan tangan tersebut.


Arga dan Bu nur masuk ke ruangan. Perlahan Arga berjalan menghampiri pak Ardi.


"Ada apa om? Saya sudah di sini," tanyanya.


"Nak Arga, Hanim, ada yang ingin ayah sampaikan."


"Iya om, bicaralah. Pelan-pelan saja," ucap Arga.


Pak Ardi mencoba mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa. Kini tangganya tergerak meraih tangan Arga. Sedang satu tangannya lagi masih menggenggam tangan Jihan.


"Jika aku memintamu melakukan satu hal untukku, mungkin untuk terakhir kalinya. Apa nak Arga mau?"


Arga tak banyak pikir, langsung memberikan jawaban yang sekiranya bisa membuat tenang pak Ardi. "Insya Allah om. Selama saya mampu untuk melakukanya." Jawabnya dengan yakin.


"Aku lega mendengar itu," ucap pak Ardi. Kini ganti menatap sang putri. "Hanim, kamu tahu betapa ayah sangat menyayangimu nak. Ayah selalu ingin membuat mu tertawa, membuatmu bahagia dan merasa aman," kata-kata nya terjeda.


"Maaf jika ayah menyembunyikan kebenaran ini pada kalian karena ayah tidak ingin membuat semuanya khawatir.''


"Hanim tau yah. Ayah jangan teruskan ucapan lagi lebih baik istirahat ya yah."


Pak Ardi tersenyum, "Ayah belum juga bilang intinya dengarkan dulu, Nim," mengelus wajah jihan.


"Kalau begitu segera selesaikan dan ayah istirahat."

__ADS_1


Pak Ardi tersenyum, "Setelah ini ayah takut tidak akan ada yang bisa menjagamu. Jadi tanpa basa basi, nak Arga apa bisa menjaga Jihan, saya ingin melihat nak Arga menikahi putri saya satu-satunya.'' Ucap nya dengan lemah namun sorot matanya memelas memohon.


Semua orang yang ada di dalam ruangan terkejut.


"Ayah bicara apa? Jangan mengada ngada. Ayah nggak akan kemana-mana. Ayah yang akan menjaga Jihan sampai nanti."


Bu Diana tak dapat menahan air matanya lagi, kenyataan ini sangat pedih untuk hidupnya.


"Hanim, sudah janji akan menuruti ayah, nak. Jangan di ingkari."


Arga masih terdiam, otaknya berpikir harus menerima ini semua atau menolaknya. Pertama kali dalam hidup nya dia sulit menentukan keputusan yang tepat.


"Ayah nggak akan kemana-mana, Ayah masih bisa menjaga Jihan kok, Jihan yakin,'' mengusap air matanya.


Keluarga Jihan dan Arga memang sudah kenal dekat, kepercayaan kedua keluarga itu terjalin dengan sendirinya. Hingga hanya Arga lah yang menjadi kepercayaan satu satunya yang bisa diandalkan pak Ardi. Takutnya jika dirinya sudah tidak bersama lagi dengan putri kesayangannya, Jihan akan salah mengambil jalan hidup dengan laki-laki yang bahkan pak Ardi tidak tau seluk beluknya nanti.


Dan saat ini hanya Arga sajalah yang memang benar-benar bisa dia percaya.


''Ayah mohon nak,'' mata pak Ardi memelas dengan sangat.


Jihan sempat kesal dengan permintaan ayahnya. Jihan jadi ganti diam.


''Nak Arga bagaimana? Ini bukanlah permintaan yang susah.''


Mata tua yang sayu itu menatap penuh harap. Menanti jawaban yang meyakinkan. Arga menatap Jihan, bu Diana dan terakhir kepada mama nya. Seolah meminta bantuan mencari keputusan yang tepat.


Yakinkan hatimu mas dan jawab sesuai isi hatimu nak. Pilih jawaban yang tepat. Mama percaya pada semua keputusanmu. Itulah sorot mata yang tergambar dari tatapan sang mama. Mencoba meyakinkan putranya.


Tatapan penuh harap dari pak Ardi membuat Arga tak sampai hati jika memberikan jawaban yang tidak menyenangkan. Terlebih lagi dokter telah memvonis bahwa umur pak Ardi tidak lama lagi bukankah, sama saja jika dirinya diberi amanah untuk menjaga putri semata wayang sepeninggalnya.


Akhirnya Arga berani mengambil keputusan dan memantapkan hatinya.


Mamanya menatap bangga kepada Arga, sebab telah memutuskan perkara yang benar. Terlebih lagi, Mama Arga sangat menginginkan Jihan menjadi menantunya.


Terukir senyum puas di wajah pak Ardi, berulang kali mengucap terima kasih pada Arga.


''Perlakukan lah putriku dengan baik nak dan sayangi dia. Saya percayakan dia padamu.''


Pak Ardi meraih jemari Jihan untuk di persatukan dengan Arga. Ada perasaan lega saat permintaan terakhirnya disetujui.


Jihan yang diam membisu tanpa mengucapkan sepatah katapun namun hatinya masih bimbang dengan keputusan ini.


____


Beberapa waktu berlalu, setelah kabar mendadak tersebut Pak Ardi ingin segera agar pernikahan sang putri secepat mungkin dilaksanakan. Agar dirinya bisa tenang sebelum pergi untuk selamanya.


Berhubung pernikahan itu mendadak dan juga Jihan masih dalam status sekolah membuat pak Ardi memutuskan agar sang putri menikah siri saja dahulu. Yang penting dirinya telah benar-benar menyaksikan bila sang putri telah bersama orang pilihannya.


Kebetulan hari itu bertepatan dengan kepulangan papa Arga dari kerja di luar kota. Sang papa sebelumnya telah diberitahu akan kabar mendadak tersebut. Respon positif didapatkan dirinya tak mempermasalahkan jika sang putra menikahi putri sahabatnya yang bahkan tinggal bertetanggaan.


Pernikahan Jihan dilangsungkan selepas kedatangan papa Arga, agar menjadi saksi nikahnya juga. Acara ijab kabul di laksanakan dalam ruangan tempat sang ayah dirawat. Dan hanya dihadiri kedua orang tua dan beberapa perawat serta dokter sebagai saksi.


Bermodalkan mas kawin berupa perhiasan mas seberat tujuh Gram dan juga seperangkat alat sholat. Pernikahan yang sederhana, tertutup dan berjalan khidmat resmi terucap dalam ruangan tersebut.


Pak Ardi turut bahagia menyaksikan moment sakral tersebut. Perasaan lega ia rasakan ketika berhasil mempercayakan sang putri ke tangan orang yang tepat untuk menjaganya.


Jihan terlihat cantik dengan balutan kebaya putih yang sederhana, namun tak menutupi wajah sembabnya. Selepas ijab Kabul terucap dirinya dan suami barunya meminta restu pada kedua orang tua mereka.


Ayahnya sempat berpesan ketika Jihan memeluk tubuh lemah itu. "Nak, kamu sudah menjadi Istri orang. Berlakulah yang baik, turuti suamimu, dan jaga ibumu nak. Ibumu memang terlihat agak keras pada kamu, namun yakinlah ibu sangat menyenangi kamu melebihi apapun di dunia ini. Jadi, ayah titip jaga ibu, ya nak."

__ADS_1


Air mata Jihan terus mengalir dengan deras membasahi wajah cantiknya, ibu menghampiri Jihan dan merangkul sang putri.


"Bu, selepas ayah tidak ada. Carilah kebahagiaan yang baru. Ayah tidak masalah. Maaf jika hanya bisa menemani dirimu sampai batas usia ini. Rasanya tubuh ayah sudah tak kuat lagi menahannya. Ayah sungguh merasa sakit, tapi ayah bisa merasakan ketenangan dalam kesakitan ini. Maaf jika selama ini membuatmu tidak bahagia dengan hidup menemaniku. Kau bisa mencari kebahagiaan mu nanti.''ayah tersenyum.


"Perlu kau tahu, hanya kamu cinta satu satunya dihidupku. Terima kasih banyak memberikanku kebahagiaan.," sambung ayah, sembari mencium punggung tangan istrinya.


"Ayah bicara apa? jangan mengatakan itu, ibu tidak pernah menyesal menikahi ayah. Kita sudah janji untuk merawat cucu kita nanti bersama-sama kan, maka bertahanlah, yah."


"Ada mereka yang akan bantu merawatnya," sorot mata pak Ardi menunjuk pada orang tua Arga. "Bisakah anak dan istriku menunjukkan senyum untukku? Aku ingin melihatnya."


Rasanya tubuh pak Ardi semakin melemah, perasaan yang seakan menjadi moment terakhir kalinya melihat wajah anak dan istrinya, dirinya merasakan tanda-tanda segera pergi meninggalkan mereka.


Dalam kesakitan dirinya ikhlas jika Tuhan memanggil sekarang, sebab dirinya meninggal dalam keadaan damai. Dikelilingi orang orang terkasih.


Jihan dan sang ibu tersenyum, tapi tak menutupi rasa sedihnya bahkan senyum itu terlihat seperti senyum paling menyakitkan.


Jihan terus memandang sang ayah, mencium kening dan telapak tangannya.


"Nak Arga, ayah titip jaga Jihan dan ibunya nak. Tolong Sayangi mereka."


Arga meraih uluran tangan ayah mertuanya, dan menciumnya. "Insya Allah akan saya jaga mereka dengan kasih sayangku, yah."


Tubuh pak Ardi semakin melemah, alat pendeteksi jantung mulai menunjukkan grafik tak normal.


"Toha," panggil ayah pada papa Arga. "Jaga mantumu baik-baik ya, sayangi dia seperti putrimu sendiri. Aku sudah menepati janji masa muda kita, untuk menikahkan putriku dengan putramu."


"Ardi, bicara apa kau ini. Kau akan tetap baik-baik saja hingga nanti kita menggendong cucu kita. Ayolah jangan berbicara seperti itu." Kata pak Toha. Jarang bertemu dengan sahabatnya itu, tiba-tiba bertemu justru dalam keadaan sepilu ini.


Namun dirinya juga memiliki perasaan bahagia sebab sahabatnya itu mempercayai sang putra untuk menjaga putri semata wayangnya.


"Tubuhku rasanya sangat sakit, tapi aku sangat bersyukur melihat moment indah ini. Kini aku bisa pergi dengan tenang."


Ayah tersenyum, senyuman itu nampak begitu tenang dan manis. Mungkin senyum terakhir yang akan mereka lihat untuk terakhir kalinya.


Jihan semakin mendekap erat tangan ayahnya. Ibu memberikan pelukan agar menguatkan Jihan.


Seisi ruangan tampak pilu dengan dokter dan para perawat yang turut meyaksikan kejadian sedih itu ikut meneteskan air mata. Ketika melihat cinta yang begitu besar dari sesosok ayah.


Selang beberapa saat kemudian, alat pendeteksi jantung pak Ardi mulai melemah. Grafik yang tergambar mulai menunjukkan garis datar dan perlahan lahan semakin datar hingga menjadi garis horizontal. Menandakan bahwa tidak ada denyut jantung yang terdeteksi lagi. Dokter segera mengambil tindakan darurat sebelum pada akhirnya denyut jantung itu benar benar-benar berhenti.


Jihan dan sang ibu saling memeluk, air mata keduanya tak bisa ditahan lagi. Perasaan takut, takut, dan takut kehilangan terus bergentayangan di dalam benak mereka.


Hingga pada akhirnya pernyataan mutlak keluar dari mulut dokter. Yang menyatakan bahwa denyut jantung pak Ardi benar benar berhenti.


Sontak penuturan dokter membuat seisi ruangan semakin terpukul. Lemas mulai menyerang tubuh ibu Jihan. Jihan turut merasakan getaran dalam tubuhnya


Seolah dunia yang sedang ia coba bangun, hilang, hancur seketika. Direnggut dari dirinya secara paksa.


Tubuh Jihan melemas menatap jasad sang ayah yang terbaring dingin di atas ranjang. Wajah yang biasanya selalu menatapnya dengan ruang dan penuh canda tawa kini terlihat datar pucat dan sudah tak bernyawa lagi.


Tuhan, secepat ini kau mengambil kebahagiaanku. Aku belum bisa ikhlas. Gimana hari-hariku tanpa ayah, apa yang akan kulakukan kedepannya. Batin Jihan.


Seisi ruangan penuh dengan tumpahan tangisan, ibu Jihan sampai terduduk lemas tak kuasa menerima kenyataan sakit ini. Usia pernikahan yang terbilang sangat singkat ia rasakan. Lelaki yang dulunya tidak ia cintai, perlahan seiring berjalannya waktu rasa cinta itu tumbuh dan kini lelaki itu pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Hati mereka amat tersayat, dunia memang kejam. Terkadang mengambil paksa hal-hal yang membuat kita bahagia, memanggil orang orang yang kita sayangi. Tapi percayalah jika rencana Tuhan jauh lebih baik. Kita tidak tahu, sedangkan Tuhan maha tahu. Berserah diri dan coba menghadapinya dengan keikhlasan.


Sebab saat dirimu ikhlas dengan apa yang terjadi, disitulah tuhan telah merencanakan kebahagiaan untukmu.


Di pemakaman

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2