
Eps. 12
Rintik hujan mulai membasahi bumi, awan hitam dengan suara gemuruh membuat suasana malam itu terasa sunyi dan hawa yang dingin.
Malam itu adalah untuk pertama kalinya Jihan dan Arga menunaikan sholat magrib di rumah bersama sebagai suami istri. Dengan Arga yang menjadi imam, suaranya saat melantunkan ayat suci begitu terdengar merdu. Hati Jihan sampai dibuat berdesir takjub dengan bacaan sang suami.
Selesai sholat, Jihan mencium punggung tangan suaminya lalu mereka lanjut mengirimkan doa untuk almarhum sang ayah.
Air matanya jatuh, tumpah dengan deras di atas sajadah. Memohon agar diberikan keihlasan dan kesabaran. Dan meminta pada Sang Maha pencipta agar ayahnya diberikan tempat terbaik di sisinya.
Ya Allah, Tuhan semesta alam. Sang Maha Cinta dan Maha Penyayang. Berikanlah yang terbaik untuk pernikahan ini. Jadikanlah aku dan dirinya satu, Samawa di dalam ridho mu. Hamba hanya manusia biasa yang bahkan tidak memiliki separuh dari kesempurnaanMu. Namun jadikanlah hamba pemimpin yang baik untuk istri hamba Ya rabb. Jadikanlah kami pasangan yang kau rahmati.
Didalam hati Arga memohon dengan sangat, dia sadar jika statusnya kini sudah berbeda. Untuk menjadi pemimpin yang bertanggungjawab di hadapan Tuhan. Takut jika tidak mampu menjadi pemimpin yang baik, Arga berjanji akan terus belajar dan berdoa agar bisa menjaga amanah dari almarhum ayah mertuanya.
Jihan menangis tersedu-sedu, hatinya begitu sakit namun merasa hangat. Setelah mengucap Amin, Arga menoleh ke belakang. Dikihatnya Jihan yang terduduk tangannya menengadah menutup wajah. Sampai terdengar sesegukan.
Arga meraih pundak Jihan, mengelus peran punggungnya. Hatinya ikut sakit melihat Jihan yang menangis. Namun ia berusaha tegar. Diciumnya pucuk kepala sang istri.
"Jangan sedih lagi ya, kamu adalah tanggung jawabku sekarang. Yang harus aku bahagiakan, ada aku di sini. Jangan merasa sendiri yaa.. aku tau kamu wanita yang kuat dan hebat."
Hujan tinggal menyisakan rintik-rintik kecil, dengan Arga yang masih mendekap Jihan di pelukannya.
*****
"Mas Arga," panggil Jihan. Arga menoleh ke arah sumber suara, dirinya tersenyum melihat kedatangan Jihan yang nampak lebih segar dari sebelumnya.
Kini mereka berada di taman belakang rumah Arga. Jihan datang dengan membawakan dua cangkir teh hangat.
Dengan wajah bersih, bebas make up bahan merkuri. Dan hanya menampilkan wajah asli Jihan yang berseri, dengan warna bibir yang murni berwarna pink. Menambah kesan manis di wajah Jihan.
"Sudah selesai?" Tanya Arga. Jihan menjawab dengan anggukan kepala. "Kemarilah duduk bersamaku."
Jihan menghampiri kursi yang di tepuk Arga, terlihat gadis itu sedikit risih dengan pakaian yang dia kenakan sebab itu adalah baju milik Arga, sebuah kaos oblong putih berukuran all size dengan bawahan celana training yang terlihat gombor.
Arga tertawa ringan melihat sang istri, "Tidak nyaman dengan bajunya, ya?"
"Hehe enggak kok mas, aku nyaman nyaman saja, hanya sedikit kebesaran."
Jihan merasa tak enak hati. Sudah di pinjami baju masa masih protes. Bagus jika Arga mau pinjamkan.
''Syukur kalau begitu, tadi mau aku carikan baju kakak perempuan ku, barangkali masih ada tapi aku tidak tau mama simpan di mana,'' menyeruput tehnya.
''Tidak mas jangan repot-repot, pakai ini aja masih bisa kok. Terimakasih ya,'' tolak Jihan.
"Iyaa sama sama." Arga tersenyum.
Jihan memberikan cangkir teh untuk Arga, Arga menerimanya.
"Terimakasih yaa," dan tersenyum lagi.
Jihan mulai menyeruput tehnya namun dia lupa jika teh itu masih panas alhasil lidahnya terasa terbakar.
"Shhtt,, aww panas."
Arga meletakkan kembali teh nya, dia khawatir dan langsung menyentuh wajah jihan, Refleks Jihan memanyunkan bibir.
Arga memegang dagu Jihan bibirnya tergerak untuk meniup bibir Jihan. Sedikit pelan dirinya mengusap bibir sang istri dengan jari jempolnya.
"Sudah lebih baik?" Tanya Arga.
"I-iya mas, lumayan."
"Lain kali hati-hati ya, sudah tau masih panas malah langsung di minum," Arga masih meniup bibir Jihan.
__ADS_1
Jihan terpaku melihat perhatian yang diberikan Arga. Mendadak dirinya tersadar dan sedikit menjauhkan wajahnya dari Arga. Sebab berada di posisi sedekat itu apalagi dengan bibir yang disentuh-sentuh dan ditiup Arga membuat Jantungnya berdegup kencang.
"Iya mas, lain kali akan ku perhatikan. Terimakasih sudah membantuku tadi."
"Iya iya nggak apa-apa, diminum lagi teh nya. Tiup pelan pelan."
Suasana kembali hening. Keduanya menikmati teh masing masing sambil berkutat sendiri dengan pikirannya.
"Nim, kamu mau dengar tentang keluargaku tidak?''
"Iya mas? Ada apa?"
''Aku mau cerita, agar kamu lebih memahamiku lebih jauh. Begitupun aku juga ingin memahamimu dengan lebih dalam.''
Jihan mengangguk, "Cerita lah mas. Aku akan mendengarkan. Nanti ganti aku yang bercerita."
Hujan menyisakan rintikan kecil yang terdengar lirih diatas genting namun suasananya tetap tenang Arga pun memulai kisahnya.
Arga mulai bercerita tentang kehidupan pribadinya terlebih dahulu, bercerita tentang bagaimana pekerjaannya, status jabatan apa yang ia duduki di perusahaan, membahas tentang gaji bulanannya juga dan membahas jika dirinya sudah memiliki tabungan masa depan untuk membeli rumah yang nantinya akan ia tinggali bersama istri dan anak-anaknya.
Arga melanjutkan ceritanya, dengan membahas silsilah keluarga. Dimulai dari keseharian mamanya dan kesukaannya, jika menyangkut hal ini Arga yakin Jihan perlu tahu lebih banyak sebab mama nya sering berkunjung kerumah Jihan. Untuk papa Arga, dirinya bercerita mengenai pekerjaan sang papa yang membuatnya jarang menghabiskan waktu di rumah sebab, lokasi kantor nya berada di luar kota. Dan hanya bisa pulang kerumah sebulan dua kali.
Arga memiliki dua orang kakak perempuan yang sekarang tinggal masing-masing bersama suami mereka. Kedua kakak Arga memiliki sikap yang sangat bertolakbelakang, Kakak pertamanya bernama Shintia dia tipe orang yang loyal, friendly, dan humoris. Keluarga kecilnya telah lengkap dengan kehadiran satu anak perempuan yang sekarang duduk di kelas dua SD.
Kakak kedua Arga bernama Shopia. Dia memiliki kepribadian yang lebih kasar, tegas, dan sedikit julid. Namun dia adalah sosok ibu penyayang bagi anak laki-lakinya yang kini memasuki usia TK.
Arga juga memiliki satu adik laki-laki namanya Haikal. Haikal memang jarang berada dirumah, dirinya lebih sering menghabiskan waktu dirumah sang tante yang dekat dengan sekolahan. Dia merasa nyaman ketika berada di sana karena rumah itu sepi sebab sang Tante tidak bisa memiliki anak lebih tepatnya lagi mandul, sehingga sejak Haikal masih bayi sang Tante lah yang sering merawatnya hingga keterusan sampai sekarang. Namun sesekali juga Haikal menyempatkan untuk pulang kerumah sang mama untuk menjenguk.
Haikal adalah adik kelas satu tingkat di bawah Jihan. Kepribadian Haikal hampir sama dengan Kakaknya yang bernama Sophia. Haikal tipe laki-laki yang dingin, cuek dan terkadang sedikit menyebalkan. Ya, Jihan membenarkan cerita tentang haikal. Sebab dia juga kadang merasa kesal jika tidak sengaja berpapasan dengan haikal disekolah.
Bukan sering namun kadang-kadang saja, entah punya dendam apa setiap bertemu Jihan dia selalu melirik dengan tatapan tidak suka.
"Untuk masalah yang lainnya, jika ada yang mau kau tanyakan bisa kau tanyakan Nim. Pada mama atau papa. Mereka juga bisa menjawab jika jawaban yang aku berikan kurang meyakinkanmu."
"Aaa,, enggak kok mas. Sudah cukup jelas, sekarang aku jadi lebih tahu banyak tentang keluarga mas Arga, tentang apa yang disukai dan yang tidak Terima kasih mas, informasi nya sangat membantu," Jihan tersenyum.
"Iyaa sama sama, terus tersenyum seperti ini ya, kamu lebih cantik kalau tersenyum.''
Mas Arga bisa aja, aku jadi malu.
Menatap Jihan dengan senyum yang hangat. " Sekarang kamu ganti bercerita nim."
"Mau cerita apa mas? Aku tidak punya apa-apa untuk di ceritakan."
"Masa sih? Apa saja deh, tentang keseharian kamu, kesukaan kamu atau apa saja boleh."
Jihan meletakkan cangkir yang ia pegang. Kemudian mulai bercerita, tidak banyak namun informasi yang ia berikan cukup jelas. Tidak bertele-tele, hanya mengingatkan beberapa hal saja kepada Arga.
"Itu dulu ya mas, selebihnya mas Arga akan mengenalku dengan sendirinya. Aku tidak tau lagi mau cerita apa, hehe."
Imutnya..
Tangan Arga refleks mengelus kepala Jihan.
"Mas Arga," panggil Jihan. "Apa mas yakin pernikahan ini bisa bertahan sampai hari-hari selanjutnya, bagaimana jika salah satu dari kita merasa bosan?" Tanya nya.
"Tidak akan kubiarkaan kebosanan menjadi alasan rumah tangga kita hancur, karena menurut ku bosan itu bukan alasan yang tepat untuk mengakhiri sebuah hubungan," Arga mejeda ucapannya. ''Kalau dirasa bosan mulai ada, kita bisa mengatasinya bersama. Aku yakin apapun yang dikerjakan bersama-sama akan menghasilkan perasaan yang baru dan bisa mengusir kebosanan itu sendiri.''
Terdengar rintik hujan mulai jatuh deras kembali.
"Tapi aku bisa memberikan keringanan untukmu, Nim." Sambung Arga.
"Keringanan? Maksudnya mas apa?" Jihan tak paham.
__ADS_1
Arga kembali menatap mata Jihan, seolah mengatakan dengan jujur apa yang ingin ia katakan itu berasal murni dari dalam hatinya. Tanpa ada tekanan dari manapun.
"Jika suatu saat, kamu merasa ingin benar-benar menyerah dengan pernikahan ini, atau mungkin kamu merasakan jika hubungan rumah tangga ini adalah sebuah tekanan untukmu, dan kamu merasa tertekan tidak nyaman atau istilahnya, kamu merasa tidak ada yang bisa dipertahankan di dalam rumah tangga ini, maka aku bisa memberikan kebebasan untuk memilih jalan lainnya," Arga membuang pandangannya menatap ke arah lain.
Jihan hanya diam mematung, ketika mendengar semua perkataan yang keluar dari bibir Arga.
"Tapi bukankah itu sama saja seperti mas menyerah terhadap ini semua? Amanah ayah,," kata Jihan.
"Aku bukannya mau menyerah Nim, Aku hanya tidak ingin kamu merasa tertekan dengan ini semua, aku juga tidak mau membuat mu hidup dalam satu sangkar pernikahan dengan orang yang tak bisa kamu cintai. Jika tidak bisa mencintai jangan di paksakan."
"Tapi bagaimana jika aku yang tidak mau lepas dari mas Arga? Bagaimana jika nanti Justru aku yang teramat jatuh cinta sama mas Arga, sedangkan mas Arga tidak mencintai aku?" Jihan menatap ke arah Arga. Harap harap cemas menanti jawaban Arga.
Arga menatap balik ke arah Jihan, memperdalam tatapan matanya ke manik mata Jihan.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Nim, saat kamu mulai mencintai aku, aku pastikan aku lebih dulu yang jatuh cinta sama kamu," mata Arga tak berpaling dari menatap mata Jihan.
"Tidak kubiarkan semua ketakutan yang aku utarakan tadi terjadi. Karena aku pastikan, bahwa aku sendiri yang akan membimbing mu. Mengajari kamu tentang cinta. Tidak akan kubiarkaan alasan apapun menjadi dasar perpisahan kita."
Hati Jihan mulai tersentuh dengan ucapan Arga, namun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Apakah benar ucapan pria yang sudah menjadi suaminya ini bisa di pegang?
Apa dirinya bisa memberikan kepercayaan untuk mas Arga?
"Aku tidak tahu mesti jawab bagaimana mas, tapi aku minta. Tolong beri aku waktu dan kita jalani perlahan ya mas."
Arga tersenyum, tangannya tergerak untuk mengelus kepala Jihan. "Aku akan memberikan banyak waktu untukmu, aku tidak mau memaksa, sebelum kamu sendiri yang menyatakan."
Ada perasaan lega dihati Jihan. Kini dirinya telah berjanji pada dirinya sendiri. Bahwa akan memberikan kesempatan pada Arga untuk memberinya kepercayaan, mau tidak mau suka tidak suka Jihan mesti menerima kenyataan bahwa sekarang dirinya sudah bersuami dan perlahan akan belajar menjadi istri yang pengertian.
Langit masih terlihat gelap, hujan seperti turut mempermainkan dua insan yang tengah bercengkrama tersebut. Kadang hujan akan reda namun beberapa saat kemudian hujan akan kembali turun dengan deras. Sebuah kilatan cahaya terlihat melintas di awan, menandakan akan ada petir.
Perlahan hanya suara gemuruh saja yang terdengar. Namun tiba-tiba,
Jedduuaarr!!! Sebuah sambaran petir melintas. Sontak membuat Jihan kaget dan ketakutan, reflek dirinya langsung memeluk tubuh Arga.
Sebenarnya Arga tak kalah terkejutnya juga, terlebih lagi lebih terkejut ketika mendapatkan serangan pelukan mendadak dari Jihan.
"Mas Arga, aku takut," lirih Jihan dalam pelukan Arga.
Arga mencoba menenangkan tubuh gemetar itu, mengelus punggung Jihan perlahan.
"Tenang Nim, sudah tidak apa-apa. Ada aku disini. Tenanglah.
"Mas, kita masuk saja yok. Aku takut," pintanya.
"Baiklah, ayo kita masuk saja. Ayo berdiri perlahan." Ajak Arga sembari melepaskan lingkaran tangan Jihan di pinggangnya.
Namun Jihan masih erat menggenggam pinggang Arga. "Nim, gimana mau masuk kalau kamu pegang erat kayak gini? Atau mau aku gendong saja kah?"
"Mas ,,, ohh maaf aku takut banget mas. Maaf mas aku lancang ya," Jihan segera melepaskan pelukannya
Arga membalas dengan senyum, "Enggak kok, ayo masuk dulu. Berdiri perlahan." Arga menuntun Jihan masuk kedalam rumah.
Gadis itu masih sedikit gemetar sebab terkejut dengan suara petir tadi. Yang membuatnya sampai tak sadar jika memeluk erat tubuh mas Arga.
Saat sudah masuk di dalam rumah, Jihan kembali memanggil nama sang suami, "mas Arga!"
Arga menoleh ke arah Jihan yang berjalan di belakangnya, tangan gadis itu menarik ujung kaos Arga.
"Ya, ada apa, Nim?"
Jihan sedikit ragu untuk mengatakannya, namun dirinya lebih takut lagi jika tidak mengatakannya. Kali ini dia harus mengesampingkan gengsi demi keamanan mental.
"Bisa tidak jangan tinggalkan aku sendiri malam ini," kata Jihan.
__ADS_1
"Memangnya aku mau kemana, Nim? Aku gak kemana mana kok," jawab Arga tersenyum.
"Emm maksudku mas, mas ikut ke kamar temani aku bisa? Aku takut?"