Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Kepedasan


__ADS_3

Eps. 18


Flash Back terakhir 2 bulan sebelumnya.


Jihan sedang berada di dapur, berkutat dengan peralatan masak. Gadis itu sedang membuat masakan bernama mie nyemek. Yaitu mie instan yang di rebus dengan tambahan toping pelengkap seperti sayur sawi, sosis, dan juga telur yang kemudian di oseng menjadi satu diatas wajan berisikan kuah kaldu.


Jihan dengan pakaian rumahan yang sederhana sambil rambutnya di gulung tinggi dengan jepit rambut, membuat aura manis sekaligus seksi dari sudut pandang orang yang melihatnya.


Perkataan kakak ipar nya tadi membuat Jihan sedikit murka dan juga kesal. Ia terus berpikir bagaimana bisa kakak dari suaminya mengatakan hal yang begitu bodoh di hadapannya.


Rasanya Jihan sangat marah jika mengingat-ingat kejadian tadi siang, hingga dia tidak sadar jika menuangkan saos sambel terlalu banyak kedalam masakannya.


"Kakak ipar bener bener meremehkan aku, ya? Tunggu dan lihat saja bagaimana aku meluluhkan hati mas Arga," menatap ke arah lain sambil tangannya terus memencet botol saos sambal tersebut dengan gereget.


Arga baru saja sampai dirumah, ketika membuka pintu ia langsung mencium aroma sedap dari arah dapur yang ia yakini ada Jihan sedang memasak.


Hari ke hari hubungan Arga dan Jihan semakin membaik. Keduanya perlahan mulai saling menerima satu sama lain. Pertengkaran pun hampir tidak pernah terjadi, sebab Arga yang memilih untuk mengalah jika sedang beradu argument.


"Hemm wanginya, masak apa sayang?" Tanya Arga setelah meletakkan tas di kursi meja makan.


"Loh mas, sudah pulang? Kok aku gak denger suara mas Arga masuk?" Sembari mengaduk mie dalam wajan.


"Haha, mungkin kamu terlalu fokus masak. Wahh kelihatannya enak, aku jadi laper."


Arga mendekatkan Indra penciuman nya ke wajan. Hidungnya mengendus aroma masakan Jihan, setelah itu ide usil terlintas. Arga mengenduskan penciuman ke dekat wajah jihan, sembari berkata, "Wangi banget lagi," setelah itu tertawa senang.


Jihan tersipu, "Ihh mas apa apaan sih? Yang di cium itu masakannya lho," salah tingkah sendiri.


"Haha, kenapa wajahnya merah gitu? Suka ya kalau aku cium cium. Apa mau aku cium beneran?."


"Masss!!!" Jihan merengek kesal.


Mas Arga ini pintar sekali sih buat aku salting.


Arga mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Jihan, matanya menatap lekat pada bibir ranum Jihan. Rasanya ia ingin sekali mengecup bibir itu, baginya ciuman pertama mereka waktu itu adalah candu bagi Arga.


Semakin dekat hingga jarak antara keduanya hanya terhalang lima centimeter saja. Jihan terdiam dan menundukkan pandangannya. Saat Arga akan mendekatkan bibirnya, Jihan langsung menghalanginya dengan sendok berisikan kuah kaldu yang akan ia cicipi tadi.


"Etss! Mas mau apa? Coba rasakan masakanku dulu kurang apa coba?" Menempelkan sendok ke bibir Arga.


Arga hanya diam sembari memperhatikan sendok tersebut, rasanya dia sangat kesal karena tidak jadi mencium bibir istrinya.


"Ayoo mas icipi dulu.. aaa buka mulutnya, ayoo!"


Arga masih diam. Sambil menatap datar Jihan.


"Mass, ayoo buka mulutnya ... Aaa," Jihan memasang wajah imut.


Cihh aku menyerah, aku kalah. Pesona Jihan terlalu mempesona. Bagaimana bisa aku marah dengan dia yang semanis ini.

__ADS_1


Arga membuka mulutnya, kemudian Jihan langsung menyuapkan sendok itu ke mulut Arga.


Kesan pertama yang Arga rasakan adalah masakan Jihan sangat pedas. Tapi dirinya tak berani protes, sebisa mungkin menutupi ekspresi rasa pedasnya. Karena dia tahu selera Jihan adalah makanan pedas, mungkin saja Jihan sengaja memperbanyak cita rasa pedasnya.


"Bagaimana? Enak tidak?" Menanti jawaban dengan mata bebinar, yakin jika tidak ada masalah dengan masakannya.


Arga mengangguk, sebenarnya dia tidak terlalu menyukai makanan pedas. Padahal matanya sudah memerah menahan pedas. "Enak sayang, apapun yang kamu masak terasa enak," tersenyum.


"Yang bener mas? Tapi wajahnya mas Arga kok merah gitu, kenapa?" Sembari menyentuh pipi Arga.


"Gak sayang, gak apa-apa kok," berusaha memalingkan wajahnya.


Jihan terdiam dan berpikir sejenak, "Astaga aku lupa, apa jangan jangan kepedasan ya mas?"


Jihan segera menyendok kan kuah ke mulutnya, dan dia terkejut ternyata rasanya pedas sekali. Dia baru teringat jika telah menambahkan saos sambal tarlalu banyak.


"Mas maafkan aku, aku kebanyakan kasih sambel ke mie nya tadi. Sebentar aku ambilkan minum, ya."


Jihan tergesa-gesa, setelah itu menyodorkan air dingin kepada Arga. Arga menerima nya dan meneguknya hingga tandas.


"Maafkan aku ya mas, aku lupa kalau mas gak bisa makan makanan terlalu pedas. Mas Arga juga kenapa diam saja? Kenapa tidak bilang kalau kepedasan?" Jihan merasa bersalah.


"Gak sayang, kan aku udh bilang gak apa-apa. Aku bisa makan apa aja yang sayang masak," menenangkan Jihan sambil mengelus pipinya.


"Jangan menyalahkan dirimu ya sayang, salahkan saos nya kenapa terlalu pedas."


"Mas Arga bisa saja," sembari memukul lengan Arga.


Arga meraih tangan jihan dan mengecup nya, "sudah tidak terlalu."


"Kalau begitu masih terasa pedasnya ya mas?" semakin merasa bersalah.


Tiba-tiba ide bodoh terpikirkan di otak Jihan, entah apa yang mendorong gadis itu untuk melakukan ide konyolnya.


"Boleh aku bantu hilangkan pedasnya, mas?"


Arga mengernyitkan dahi heran, memang bisa apa istrinya lakukan untuk menghilangkan rasa pedas itu.


Tanpa banyak berpikir, Jihan mendekatkan diri ke arah suaminya. kemudian merangkul tengkuk Arga. Dan mendekatkan bibirnya ke bibir Arga. Jihan mengecup bibir Arga cukup lama.


Arga dibuat kaget dengan tingkah inisiatif istrinya, sampai-sampai matanya terbelalak lebar.


"Bagaimana? Sudah mendingan belum?"


Arga tersenyum, tidak menyangka jika istri kecilnya bisa memikirkan hal itu untuk menebus rasa bersalahnya.


"Belum, masih kurang," senyum jahil terukir di bibir Arga.


Arga langsung menarik kembali tubuh Jihan dekat dengannya, dan langsung menyambar bibir ranum sang istri. Memperdalam kecupannya, bahkan lidahnya tidak bisa di kondisikan lagi. Bermain menyusuri setiap rongga mulut sang istri. Jihan hampir tidak bisa mengimbangi ciuman panas suaminya.

__ADS_1


Arga menyudahi kecupannya saat Jihan mulai kehabisan nafas.


Jihan menutupi wajahnya yang bersemu merah, bahkan detak jantung nya semakin bertambah cepat.


Ohh astaga, mas Arga ini selalu mengejutkan jantung ku. Bagaimana jika tiba-tiba aku serangan jantung karena sikapnya.


Melihat ekspresi Jihan yang begitu menggemaskan, Arga jadi semakin ingin menggodanya.


"Ciyee sayang, malu yaa.." sambil tertawa mencolek dagu Jihan. "Ciye ciye yang salting ciuman sampai lupa bernafas, haha." Goda Arga.


"Ihh mas Arga! Jangan begitu," memukul dada Arga.


"Haha.. siapa suruh kamu manis sekali, apa mau cium lagi kah?"


Duhh kalau aku tidak menghentikan mas Arga, bisa kewalahan aku meladeninya. Sudahlah lebih baik aku mengalihkan pembicaraan.


"Tidak mau! Mas bau keringat. mandi dulu sana!"


"Masa sih?" Arga mengenduskan mencium aroma tubuhnya.


"Iya sana! Cepat mandi. Habis itu kita makan, aku buatkan mie yang gak pedas buat mas."


"Ehh jangan sayang, aku makan yang itu saja. Tidak usah masak lagi," tersenyum.


"Beneran mas gak apa-apa kalau makan ini?"


Arga mengangguk, "iya sayang, pokoknya jangan masak lagi, kasihan kamu pasti capek."


"Tapi mas kan gak bisa makan pedas, nanti sakit bagaimana?"


Arga meletakkan telunjuknya di bibir Jihan, "sudah jangan membantah lagi, jangan diganti! Atau gak aku cium kamu."


"Hehe,, iya iya tidak diganti kok mas. Yasudah sana mas Arga mandi dulu ya sana .. huss sana.." usirnya pelan sambil mendorong tubuh sang suami.


Duh bisa mati gaya aku kalau mas Arga cium cium terus. Aku mau cari aman untuk jantung ku yang masih muda.


Setelah berhasil menggoda istrinya. Arga segera meninggalkan dapur dan masuk ke kamar mandi. Dia sangat puas sekali bisa semakin bermesraan dengan sang istri.


Kejadian tadi terus terngiang-ngiang di benaknya, melihat betapa antusiasnya Jihan yang berinisiatif mulai berani mencium terlebih dulu.


"Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta setiap harinya dengan kamu, sayang."


Berkata sembari menyalakan keran air, senyuman dan wajah Jihan terus saja menari-nari di pikirannya.


"Benar-benar harus di tuntaskan, huhff.. sabar Ga. Istrimu masih terlalu kecil."


Sedangkan wanita yang berada di dapur, terus saja tersenyum sendiri. Tidak menyangka jika berani bertindak inisiatif terlebih dahulu.


"Aaa .. padahal aku masih mau lho mas, kalau mas Arga cium cium lagi, hehe."

__ADS_1


Berkata sambil menata piring di meja makan.


__ADS_2