Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Dua Kakak Ipar


__ADS_3

Eps. 17


POV author.


"Datang kok gak bilang bilang sih kalian ini? Mama kan belum menyiapkan apa-apa." Kata Bu nur sembari melepaskan pelukannya pada Shintia.


"Mama ini, namanya juga mau kasih kejutan. Kalau dikasih tau ya gak kejutan namanya." Balas Shintia.


"Setidaknya kan bilang, tiba-tiba saja datang. Mama kira ada apa," jawab mama.


"Yah ma, datang salah gak datang salah. Memang harus ada apa-apa dulu ya baru boleh datang?" Ketus Sophia.


"Enggak sayang, cukup. Mama mengalah, intinya mama bahagia sekali kalian datang. Mama sangat rindu."


Sedangkan Jihan terlihat diam berdiri di tempatnya. Dengan memasang wajah senyum semanis mungkin.


"Dia siapa ma?" Tanya Shintia ketika melihat Jihan. "Kok manis sekali, teman main Haikal kah?"


Jihan tersenyum canggung, mama segera memperkenalkan Jihan pada kedua putrinya.


"Bukan nak, ini Jihan dia istrinya Arga. Yang mama ceritakan waktu itu,"


"Oiya? Waahh masih muda sekali, cantik lagi," Shintia menghampiri Jihan. "Hai Jihan, apa kabar?"


"Baik kak, kakak sendiri?" Balas Jihan tersenyum.


"Baik kok, kamu manis sekali ya. Pantas Arga setuju menikahi kamu, boleh peluk?"


Jihan tertawa canggung, "kakak bisa aja, tentu boleh peluk."


Shintia segera membentangkan tangannya dan memeluk Jihan. Keduanya terlihat sangat akrab meskipun baru pertama kali berjumpa.


Berbeda dengan Sophia yang terlihat tak menyukai Jihan dan terus menatapnya dengan pandangan tidak suka. Jihan pun hanya memakluminya dengan senyuman.


"Sophia, kenalan dulu sama adik ipar kita." Seru Shintia ketika melepaskan pelukannya.


Sophia hanya menyunggingkan senyum sedikit, dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Jihan.


"Salam kenal, ya. Panggil kak Phia aja," katanya dengan nada sedikit ketus.


Jihan meraih uluran tangan itu, "Senang bertemu kak Phia," tersenyum.


"Gitu doang? Peluk dong, ayo peluk," kata Shintia.


"Iya Phia, kalian harus jadi akrab lho, jangan ketus-ketus begitu ih," sambung mama.


"Yang penting sudah kenalan, aku rasa cukup ma." Balas Sophia singkat.


Perkenalkan singkat itu jelas bisa dirasakan Jihan sebagai tanda ketidaksukaan Sophia terhadap dirinya. Tak ada wajah senang atau senyum yang ditunjukkan Sophia, sedari tadi hanya memasang wajah ketus jika melihat Jihan. Jelas Jihan dapat menyimpulkan bahwa sang kakak ipar yang satu ini bukanlah orang yang mudah dihadapi.


"Anak anak kemana ini? Tidak ikut ya?" Bu nur menanyai keberadaan cucu-cucu nya.


"Masih pada sekolah, ma. Nanti papa nya yang jemput. Kita kesini cuma sebentar aja kok ma, kebetulan agak senggang hariini." Balas Shintia.

__ADS_1


"Ohh jadi kesini cuma gara-gara senggang aja. Mama kira kangen sama mama."


"Eh bukan bukan begitu ma,, ya kami kangen juga kok, iya kan Phia?" Menyenggol lengan Phia.


"Iya ma, jangan mikir yang buruk-buruk sama kita dong." Balas Sophia.


"Iya ma,, kami kesini juga sekalian mau kenalan sama adik ipar kami ini, iya kan Jihan. Ada banyak yang mau Kakak ceritakan lho sama Jihan," Shintia sangat bersemangat sekali.


"Oiya kak, aku sangat menanti cerita kakak," balas Jihan.


Setelah itu mereka pamit untuk membawa Jihan agar mengobrol bareng supaya saling mengenal lebih dekat.


Mereka sudah duduk diruang tamu, dengan Jihan yang menahan gemetar setengah mati.


Duhh berasa seperti mau di sidang aja.


"Oiya Jihan, sekarang tinggal di rumah sendiri sama Arga ya?" Akhirnya Shintia membuka pembicaraan.


"Iya kak, dekat saja dari rumah mama. Kapan-kapan mampir ya kak," Jihan tersenyum.


"Tentu, nanti kakak ajakin keponakan Arga biar mereka dekat sama Tante muda nya, hehe." Shintia mencoba mencairkan suasana.


Berbeda dengan Shintia yang mencoba membangun keakraban, Sophia justru semakin tidak suka ketika kakaknya berusaha mendekatkan anak anak mereka kepada Jihan.


Hingga sebuah ide terlintas di benak Sophia. Ia ingin menghujani Jihan dengan mencecer banyak pertanyaan.


''Oiya, kamu masih sekolah, ya?'' tanya Sophia.


Jihan menatap kakak iparnya sekilas, kemudian tersenyum. ''Iya kak benar,'' Jihan memasang mimik wajah setenang mungkin.


"Owh, kelas berapa?" Sophia melanjutkan pertanyaannya.


"Tiga SMA kak, ini sedang dekat ujian akhir menjelang kelulusan."


Shintia diam dan menyimak keduanya, mungkin saja dengan ini mereka dapat akur.


"Gak malu ya, masih sekolah udah nikah," menatap sinis.


Nah kan nah,, perasaanku bener. Kak Phia mau memprovokasi aku, coba saja kalau bisa.


"Emang teman teman di sekolah gak ada yang tahu kamu udah bersuami?" Meneruskan pertanyaannya.


Jihan menarik nafas dalam-dalam, mencoba mencari jawaban yang bisa membalikkan keadaan. Sehingga dirinya tak mudah di sepelekan.


"Masalah itu ya kak. Sebenarnya tidak ada satupun yang tahu tentang masalah hidup pribadiku. Aku juga bukan tipe orang yang akan membiarkan orang lain mencari tahu dengan sembarangan, tentang masalah aku malu atau tidak. Ya jelas tidak lah kak, kenapa harus malu? Fitrah perempuan pada dasarnya memang akan menikah 'kan pada akhirnya."


Setelah mengatakan kalimat sepanjang itu, Jihan tersenyum sambil menahan gugup. Dirinya sampai mencengkeram erat ujung dres yang ia pakai.


"Oiya? Tunjukkan pada ku kau punya apa yang bisa dibanggakan dari dirimu? yang menurut mu pantas Arga dapatkan dari pernikahan ini?" Menatap penampilan Jihan dari atas sampai bawah.


Ohh jadi ini maksudnya, oke akan ku tunjukkan.


Jihan memasang tembok kepercayaan diri yang sangat kokoh untuk menjawab pertanyaan Sophia.

__ADS_1


Jihan tersenyum, "Ahh kakak ipar, tidak perlu khawatir. Tentu kakak sudah tahu jawabannya sendiri kan."


Jihan membusungkan dadanya dengan tegak, seolah ingin menunjukkan jika miliknya cukup berisi dan yakin jika Arga akan merasa puas.


"Selain itu, aku juga selalu menyiapkan segala kebutuhan mas Arga tanpa kekurangan sedikit pun kak. Mas Arga juga menghargai apa yang aku lakukan. Jadi aku sangat yakin mas Arga puas dengan diriku, dan aku layak untuk nya," lanjut Jihan.


Aduh aduh,, aku lancang sekali nggak ya? ahh enggak deh, emang itu kenyataanya kan.


Shintia tersenyum bangga mendengar jawaban Jihan, sedangkan Sophia semakin tidak suka sebab gadis kecil ini bisa menjawabnya seperti itu.


"Haha pikiran anak muda memang terkadang labil, bahkan seringkali mengatakan sebaliknya padahal dia tidak menginginkan hal itu," balas Sophia.


Tatapan tak suka semakin tergambar jelas di wajah Sophia. Dirinya tak menyangka jika adik iparnya yang masih bocah ini bisa sepercaya diri mengatakan hal itu. Mungkin dirinya terlalu meremehkan Jihan.


Apasih maksud kak Phia?


"Apa kau yakin dengan pernikahanmu dengan Arga? Benar-benar sudah merasa jika dirimu itu pasangan yang terbaik untuk Arga?


Deg! pertanyaan itu membuat hati nurani Jihan kesal.


Dirasa sudah keterlaluan, Shintia menghentikan ucapan sang adik. Ia takut jika dibiarkan lama kelamaan akan berakibat tidak baik.


"Phia aku rasa sudah cukup, kasihan Jihan pasti lelah kan."


"Tunggu sebentar kak, biar dia menjawabnya terlebih dahulu," Sophia tetap tak ingin menyudahi pembicaraan yang menurutnya seru ini.


Jihan benar-benar merasa jengah, sangat ingin mengakhiri semua pembicaraan yang menurutnya tak penting ini. Ternyata semua yang ia katakan tadi belum cukup untuk menutup mulut kakak iparnya.


"Tidak apa-apa kak Shintia, aku pikir kak Phia sangat menyayangi mas Arga, jadi itu sebabnya dia ingin memastikan jika mas Arga mendapatkan istri yang baik."


"Jangan dimasukkan hati ya Jihan," sembari memegang tangan Jihan.


Jihan tersenyum, "Jika kakak ingin mendengar jawabanku maka tolong kakak simak baik-baik. Pernikahan bisa bertahan karena kepercayaan antara dua orang kak, dan aku dengan mas Arga sedang berusaha membangun kepercayaan itu. Masalah aku ini adalah pasangan yang terbaik atau bukan, itu tidak dapat dibuktikan hanya dengan ucapan saja. Ku akui, aku juga wanita biasa yang memiliki banyak kekurangan. Begitupun sebaliknya dengan mas Arga. Maka dari itu semua tidak ada yang terbaik kak. Aku dan mas Arga hanya saling melengkapi agar menjadi yang baik. Aku percaya dengan mas Arga, dan mas Arga percaya dengan aku. Itu saja sudah cukup." Menjeda ucapannya sejenak.


"Aku dan mas Arga minta doa nya saja dari kak Phia dan kak Shintia ya, semoga pernikahan ku dengan mas Arga bertahan lama," sambung nya.


"Aku rasa sudah cukup lama di rumah mama. Sebentar lagi mas Arga akan pulang, aku mau pamit duluan ya kak, sekalian mau membuktikan kalau aku bisa jadi istri yang baik buat mas, meskipun usiaku lebih muda," akhir pembicaraan itu diselingi dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.


Jihan berdiri sambil membetulkan roknya yang sedikit kusut. Dia menganggukkan kepala kepada kedua kakak iparnya kemudian pergi menghampiri mertuanya di dapur untuk pamit.


"Kau sudah agak keterlaluan dengan nya, Phia."


Berbicara setelah Jihan meninggalkan mereka.


"Biarkan saja, aku hanya ingin mengujinya."


Shintia menatap serius ke arah Sophia. "Aku harap setelah kau mendengar jawaban Jihan, dikemudian hari tidak akan menyusahkan dan memojokkannya lagi."


Setelah mengatakan hal itu Shintia pergi meninggalkan Phia.


"Dia bilang pernikahan bertahan karena kepercayaan kan? Tau apa anak kecil sepertimu tentang pernikahan? Sombong sekali ya."


Tidak tau apa pemicu alasan ketidaksukaan nya kepada Jihan. Tapi sekali tidak suka maka Sophia tetap tidak akan pernah suka.

__ADS_1


Semakin dia mendengar jawaban Jihan yang sangat percaya diri itu. Semakin semangat pula dia ingin membuat jihan tidak ingin menetap lama di keluarganya.


__ADS_2