
Eps. 7
Kisah awal mula sebelum Jihan di nikahi mas Arga. Tentang bagaimana mas Arga dan Jihan menjadi satu pasangan yang berawal dari tetangga kini membangun rumah tangga.
____
Dua bulan sebelumnya
Praanggg..!! Terdengar suara pecahan piring kaca dari arah dapur. Seorang ibu berumur sekitar tiga puluhan menghampiri sumber suara.
"Astaga Hanim! Kamu apakan lagi piring ibu. Kemarin sudah dua kali dipecahkan. Belum lagi kemarin-kemarin nya terus hari ini. Sudah ada berapa lusin total Nim?"
"Yaaa ibu maaf aku gak sengaja, tadi dia kepeleset sendiri piring nya," balas Jihan.
Pelaku pemecahan piring tersebut tidak lain adalah Jihan. Gadis itu tengah mencuci piring di wastafel, namun tak sengaja piring tersebut malah menjatuhkan diri. Jihan tak ingin disalahkan justru malah ganti menyalahkan piringnya sendiri.
"Mana bisa piring kepeleset sendiri kalau gak karena ulahmu! Ibu gak tau mesti gimana lagi. Pusing kepala ibu, semua piring kamu habis kan, Nim,'' sembari memijat pelan keningnya.
"Ibu, nanti aku ganti deh kalau sudah punya uang. Aku kan gak sengaja," memasang raut sedih.
"Mau berapa kali kamu gak sengaja Nim? ibu mikir kedepannya gimana pas besok kamu nikah. Apa gak habis semua piring mertuamu kamu pecahkan."
"Ibu!!" Rengeknya. "Kalau gak mau piringnya habis ya biar suamiku nanti yang kebagian tugas cuci piring."
"Yasudah menikah saja besok, ya!" balas ibu.
"Ibuuu.." rengeknya kesal.
Ibu menggeleng-gelengkan kepala, "Besok kalau nikah beli piring plastik aja Nim!" Sambung ibu.
"Sembarangan aja Bu, memangnya siapa yang mau nikah besok! Coba apa-apa kalau mau nyumpahin aku nikah jangan ada kata besoknya. Tahun depan kek, atau dua tahun lagi. Gitu-gitu besok aku nikah beneran gimana?"
"Baguslah kalau emang nikah betulan, kerugian ibu bisa berkurang karena gak ada yang pecahkan piring lagi,"
Ibu mengambil sapu dan skop sampah untuk menyapu serpihan kaca piring tersebut.
"Sudah sana nikah aja. Gantian buat rugi ibu mertua mu Nim," sambungnya sembari menyapu serpihan kaca piring.
"Nim Nim, ibu ini. Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil nama belakangku," merasa frustasi. "Aku gak suka Buu!" Merengek manja.
"Ya habis namamu itu, mau di panggil apa lagi memangnya?"
"Jihan gitu kan bisa Bu."
"Tapi ibu sudah kebiasaan manggil Hanim dari kamu kecil. Ayahmu juga senang manggil begitu. Sudah! Jangan banyak protes. Segera bersihkan bekas dilantai ini. Ibu buang sampah kaca ke belakang dulu," tunjuknya kearah lantai yang sedikit basah akibat cipratan air sabun.
Jihan sedikit menggerutu sebab sang ibu selalu memanggilnya dengan nama Hanim, nama belakang yang tak ia sukai tapi sang ayah menyukainya.
__ADS_1
"Jangan diteruskan lagi cuci piringnya. Ibu masih sayang sama piring piringnya. Lebih baik kamu kerjakan yang lain saja, atau gak susul ayahmu sana bantu berkebun," setelah mengatakan itu ibu pergi meninggalkan Jihan yang masih menggurutu tidak jelas.
Jihanim Miranda, nama lengkap gadis berusia delapan belas tahun tersebut. Seorang anak semata wayang paling tersayang oleh sang ayah. Nama Hanim merupakan panggilan favorit sang ayah sejak Jihan masih kecil. Diambil dari nama belakang Jihan.
Hanim sendiri memiliki makna Yang penuh kasih sayang. Dengan harapan Jihan akan memiliki hati yang penuh kasih sayang dan menjelma menjadi seorang perempuan yang bersifat penyayang dan pemaaf, sehingga ia memberikan panggilan itu kepada putri semata wayangnya.
Jihan tinggal bertiga dengan kedua orang tuanya di sebuah perumahan sederhana di kompleks yang padat penduduk.
Rumah yang ia tinggali ini, meski minimalis namun terlihat nyaman dan asri sebab sang ayah yang gemar berkebun dengan menanam pohon-pohon kecil serta tanaman hias lainnya.
Sehingga pemandangan halaman rumahnya nampak hijau segar.
Jihan menghampiri sang ayah yang tengah berkebun di halaman depan rumah. "Yah!" Panggilnya pada seorang pria tua yang terlihat sedang berjongkok sembari memindahkan tanah kedalam pot bunga.
Ayah melambaikan tangan agar Jihan menghampirinya.
"Kenapa kok cemberut anak ayah? Habis mecahkan piring lagi ya," diselingi tawa mengejek.
"Ayah," rengek Jihan. "Sudah tahu masih tanya pula."
"Haha,, lain kali hati hati Nim, masih bagus anak ayah tidak kena pecahan kacanya. Sayang tubuhmu kalau kena sakit nak."
"Ayah beda banget sama ibu, kalau ibu sayang ke piringnya malahan ketimbang aku," tangan Jihan tergerak ikut membantu memasukkan tanah ke dalam pot.
"Haha, bukan seperti itu nak. Ibu juga sayang, cuma agak gengsi buat menunjukkannya." Ayah sedikit berbisik ketika mengatakan hal itu. Memastikan agar sang istri tak mendengar jika mereka sedang membicarakan tentang dirinya.
Jihan dan ayahnya memang sangat dekat sejak kecil, keduanya sering menghabiskan waktu bersama jika berada di rumah. Bercanda gurau, makan bersama, masak bersama terkadang juga tidur di depan tv bersama jika menonton tv hingga larut malam bila ada acara sinetron kesukaan mereka.
Jihan dan ayah hampir memiliki kebiasaan dan kepribadian yang sama. Mulai dari makanan, argumentasi, hingga warna pakaian memiliki selera yang sama. Berbeda dengan sang ibu yang sedikit bertolak belakang dengan ayah dan anak tersebut.
Saat sedang asyik bersenda gurau sembari memindahkan tanah ke pot, tiba-tiba ayah Jihan terbatuk batuk dengan keras. Suara batuk itu bahkan berulang kali hingga terdengar oleh sang ibu. Ibu dengan paniknya berlari ke halaman rumah.
"Uhuuukk uhukkk!" Ayah terus terbatuk. Jihan tak tinggal diam dirinya mengusap punggung sang ayah untuk menenangkan.
"Ayah pelan-pelan yah, tarik nafas pelan yah," Guratan wajah khawatir dari Jihan.
"Ada apa yah?" Tanya ibu ketika telah datang memastikan. "Kambuh lagi ya sesaknya. Tuh ibu kan udah bilang ayah jangan capek-capek, baru juga sembuh sudah ngeyel mau berkebun lagi."
Ibu menuntun sang ayah agar terduduk di kursi taman. Sembari melepaskan sarung tangan yang digunakan sebagai pelindung tangannya dari kotoran.
"Sudah Bu, ayah gak apa-apa kok cuma batuk biasa. Sudah jangan khawatir," ayah mencoba menenangkan istri dan anaknya yang terlihat khawatir.
"Hanim, ambilkan ayah minum ya," perintah sang ibu. Jihan segera berlari ke dapur mengambilkan segelas air putih hangat untuk sang ayah.
selang beberapa menit kemudian Jihan datang dengan air di tangannya. Menyodorkan kepada sang ayah. "Di minum pelan-pelan yah," ucapnya masih dengan wajah khawatir.
Ayah meneguk air yang diberikan Jihan. "Terimakasih anak ayah. Sudah jangan khawatir lagi ayah lebih baik."
__ADS_1
Jihan tak dapat menutupi rasa khawatirnya, sebab semenjak satu pekan belakangan ini batuk sang ayah semakin menjadi jadi. Sedangkan ayah tidak ingin dibawa periksa lebih lanjut ke dokter dan hanya ingin di rawat di rumah sambil meminum obat yang diresepkan dokter.
"Kita ke rumah sakit aja yok, Yah. Kayaknya batuk ayah gak sembuh-sembuh juga dari kemarin, aku khawatir ayah kenapa-napa."
"Benar kata Hanim, Yah. Kita pergi ke dokter ayok," sambung ibu.
"Tidak tidak! ayah tidak mau pergi kemanapun. Ini hanya batuk biasa Nim, nanti jika sudah waktunya sembuh pasti akan sembuh."
"Ayah ini keras kepala sekali sih," kesal Jihan.
"Sama seperti kamu juga keras kepala Nim, kalau sakit malah lebih parah lagi, gak mau mengatakannya pada kami," jawab ibu.
Jihan melirik ke arah sang ibu, memang benar juga sih apa yang ibu bilang. Aku dan ayah memang sama saja. Batinnya.
"Haha sudah sudah, namanya juga ayah dan anak. Ayah sudah baikan ini, tidak perlu ke dokter," ayah tersenyum.
Jihan menatap sang ayah, mencoba memakluminya.
"Ayah kalau masih sakit kenapa di paksa berkebun? Kan ada Jihan. Biar yang merawat tanaman ayah," Jihan berkata sambil memijat pelan pundak sang ayah.
"Ayahmu ini memang bandel, sudah ibu kasih tau berapa kali. Yah, kalau jadi orang tua susah di bilangi jangan jadi orang tua kalau begitu." Ibu berkata dengan ketus namun jelas tergambar ada guratan wajah khawatir di wajahnya. Namun ibu menutupinya dengan berkata ketus.
"Haha, maaf nyonya nyonya. Orang tua yang hampir sekarat ini menyusahkan kalian," ayah berkata dengan santai.
"Ayah! Tidak boleh bicara seperti itu. Apanya yang sekarat? Ayah akan tetap sehat saja sampai Jihan punya anak nanti. Ayah gak akan kenapa-napa."
Jihan memeluk tubuh sang ayah. Ayah pun membalas pelukan Jihan dengan mengelus kepalanya penuh sayang.
"Kalau begitu bisa berikan cucu ayah secepat mungkin nak? Umur tidak ada yang tahu, bisa jadi besok atau lusa ayah sudah tidak disini lagi bersama kalian."
Ayah Jihan mengatakannya dengan sendu, seolah ada yang di sembunyikan dan tak ingin ungkapkan pada siapapun.
"Ayah bicara apa sih! Jangan negatif thinking yah, ayah masih akan terus hidup sampai kita punya cicit," ucap ibu menenangkan sembari ikut menghambur kedalam pelukan Jihan.
Jadilah sekeluarga itu berpelukan dengan penuh cinta kasih di taman bawah pohon yang rindang depan rumah mereka.
Usia ayah Jihan sudah tak lagi muda, akan menginjak 60 tahun. Namun tubuh rentan itu masih ia paksa agar tetap bugar jasmani dan rohani. Ayah Jihan juga sering melakukan pekerjaan ringan agar melatih otot agar tidak tegang diusia senja. Sedang ibu Jihan masih muda berumur sekitar 38 tahun. Perbedaan umur yang terpaut cukup jauh.
Memutuskan menjadi pensiun di usia 50 tahunan lebih, membuat ayah Jihan memilih untuk membuka toko bunga kecil kecilan yang menjual beraneka ragam jenis tanaman hias yang ditaksir memiliki harga mahal pada masa ke masa. Semua jenis tanaman hias yang unik dan langka bisa didapati di toko Bunga hias milik ayah Jihan.
Beberapa pekan belakangan ini, ayah Jihan mulai merasakan ada yang tidak beres pada tubuhnya. Sempat dirinya memeriksakan kondisi tersebut ke dokter. Hasil mengejutkan ia terima seolah menjadi tusukan panah yang menghujami tubuh ayah Jihan mendapatkan kabar buruk jika dirinya menderita kanker darah stadium akhir.
Dokter memiliki argumen bahwa usia ayah Jihan tidak akan bertahan lama. Namun kembali lagi pada takdir tuhan. Kita kembalikan semuanya pada dzat yang maha pencipta. Untuk sekarang ini ayah Jihan hanya bisa pasrah dan meyerahkan semuanya pada Tuhan.
Namun, sang ayah belum memberitahu kabar ini pada istri dan putri semata wayangnya. Lantaran tak ingin membuat mereka khawatir dan memilih menyembunyikannya. Menahan rasa perih setiap kali batuk dan hanya bisa meredakan dengan obat-obatan yang diberi dokter.
Untuk sekarang ini yang ingin dilakukan pak Ardi selaku ayah Jihan adalah ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama sang istri dan putri kesayangannya. Menjalani hari hari seperti biasanya. Selama sisa umur yang ia miliki.
__ADS_1