
Eps. 22
Arga memarkirkan motor dipinggir jalan dekat halaman sebuah rumah yang tidak asing baginya. Tofa yang sedari tadi di bonceng hanya diam tidak mengajukan pertanyaan apa-apa, sebab melihat raut wajah Arga yang sedikit cemas dan muram.
''Bukannya ini komplek rumah mu ya Ga? Katanya mau cari pohon kelapa?'' tanya tofa setelah merasa heran kenapa tempat yang di tuju bukan kebun buah atau tempat lain.
''Ya memang mau cari pohon kelapa, ada di salah satu rumah di sini!''
''Tadi kamu bilang tidak ada?'' tanya lagi.
''Ya! dirumahku tidak ada tapi rumah tetanggaku ada. Sudah diam dan jangan banyak tanya lagi!'' ketusnya.
Arga melangkahkan kaki diikuti Tofa yang berjalan di sampingnya, hingga mereka tiba di suatu rumah.
''Loh ini kan rumah Mba Mutia, iya kan?'' tanya tofa memastikan.
Arga mengangguk, ''Mangkannya aku bawa kamu kemari biar tidak ada kesalahpahaman, kau kan tahu bagaimana hubungan istriku dengan Mba Mutia. Dan sifat mereka sangat sulit di hadapi,'' jelasnya.
Tofa mangguk-mangguk. ''Kau benar Ga, duhh ternyata punya istri ada gak enak nya juga ya. Hahaha,'' menepuk pundak sahabatnya.
Arga menatap kesal tangan yang mendarat di pundaknya, ''Singkirkan tanganmu! Dan jangan bicara yang tidak-tidak tentang istriku!"
''Siapa yang ngomongin istrimu, aku kan cuma menyampaikan pemikiran ku.''
''Itu namanya di cemburui, mangkanya cepat menikah sana biar tahu rasanya di cemburui bagaimana,'' ketusnya.
Arga menatap dengan kesal, author jadi curiga jangan-jangan sebenarnya yang sedang pms adalah mas Arga.
''Taoi bisa tidak jangan menatapku begitu, dan jangan ungkit-ungkit selalu perihal aku belum punya pasangan,'' tofa kesal dan balik menatap ketus, ''Padahal aku hanya bercanda tadi, dasar sensi!''
Arga masih tak mau mengalah, ''Secara tidak langsung kau menyindirnya! Paham tidak? Huh susah sekali bicara sama jomblo!''
Astaga aku lagi yang kena, pria yang sudah menikah memang sulit di pahami jalan pikiran nya. Bajingan ini benar-benar membuatku sangat kesal. Tofa.
''Ayo cepat! kasihan istriku sedang kesakitan. Awas sampai terjadi apa-apa sama Jihan, kau nanti ku tuntut!" ancamnya.
''Oke iya ayo!" berjalan dengan sangat cepat dan penuh semangat membara serta rasa percaya diri.
Wajah Arga masih sedikit panik, sebab disisi lain ia takut jika Mutia membuat masalah yang tidak-tidak dan bercerita yang bukan-bukan kepada Jihan mengenai Arga yang datang kerumahnya. Jihan memang tidak suka jika sang suami berurusan dengan wanita janda satu ini.
Tapi disatu sisi dirinya juga terpaksa demi kesembuhan sang istri, dan kebetulannya lagi kenapa harus ada di rumah Mutia sih pohon kelapa nya?
Pikiran Arga semakin gelisah.
''Jangan melamun! Ayo ketuk pintu nya,'' perintah Tofa.
''Kau saja lah!" menunjuk dengan sorot mata.
''Ckk, sudah sampai di sini masih merepotkan!" Mau tidak mau tofa pula ujung-ujungnya yang harus direpotkan.
Suara ketukan pintu, ''Permisi! Mba Mutia!'' Tangan nya masih mengetuk pintu.
Tidak lama kemudian terdengar sahutan dari dalam. ''Iya tunggu sebentar!''
Pintu pun terbuka, mata Mutia langsung terbelalak lebar melihat siapa sosok tubuh yang sedang berdiri dihadapannya sambil membuang muka.
__ADS_1
''Ehh mas Arga? Ngapain kesini? Cariin aku ya? Kenapa? Kangen yaa? Ciye ciye,," celetuknya tanpa henti. Tanpa menoleh sedikitpun pada tofa.
Kepedean sekali sih janda ini haha. Tofa.
Arga memasang wajah datar tanpa senyum, dan sedikit mengerutkan alisnya.
Sedangkan tofa yang menyimak sedari tadi menahan tawa nya, dan itu tidak sengaja tertangkap penglihatan Arga.
Sialan pejaka satu ini! malah menertawakan aku!. Arga.
"Bukan mba, saya kemari ada perlu,'' jawabnya ragu.
''Wahh iya kah? tumben sekali nyariin aku,, aaa Abang jangan sungkan sungkan kalau mau ada perlu bilang aja, kalau bisa aku yang datangi juga gak apa-apa kok,'' berkata dengan nada manja. Bahkan postur tubuhnya tidak bisa dikondisikan, bergaya sok imut dan manja.
Pantas Arga ngajak aku, orang yang dihadapi janda genit begini, wajar lah kalau dia takut disalahpahami istrinya. Tofa.
Arga memijat keningnya merasa pening dengan omong kosong Mutia. "Langsung saja deh mba, saya mau minta kelapa muda. Saya rasa di belakang rumah mba ada pohon kelapa kan?"
Mutia memikirkan sesuatu, "Oiya bang, ada banyak malahan. Abang perlu berapa? ambil aja deh sesuka Abang, atau mau adek yang ambilin?" tangannya bergelayut manja di lengan Arga.
Tofa semakin jelas menahan tawanya. Sampai wajahnya memerah.
Arga melotot kaget, sambil mengayunkan lengannya agar Mutia melepaskan gelayutannya.
Wah wah be**enar-benar ya kehadiran ku disini sama sekali gak dianggap! jadi fungsinya aku ada di sini buat apa? batin tofa lagi.
Arga melirik ke arah tofa, mengisyaratkan agar dia mengambil alih pembicaraan, dilihat dari raut wajah Arga yang mulai kesal dan jengah.
"Tunjukkan saja mba, biar aku yang ambil. Ayo dimana?" sahut tofa.
Tiba di halaman belakang, tofa dan Arga saling memandang.
Apanya yang dimaksud banyak? j**elas jelas cuma ada satu pohon, mana kecil pendek lagi. batin Tofa.
Banyak dari mananya? pendek, kecil, buahnya cuma satu gitu yang gede. Arga.
"Gimana bang, ada kan pohonnya banyak lagi buahnya," senyumnya dengan penuh percaya diri.
"Ee? Mba gak salah ya? banyak dari mananya?" tanya tofa.
"Lah ini siapa sih? temannya bang Arga, ya?" malah balik bertanya. Sebelumnya Mutia memang tidak pernah mengenal Tofa, sedangkan tofa jelas sudah tahu banyak tentang Mutia sebab Arga yang menceritakan jika ada perselisihan diantara istri dan tetangga yang janda itu.
Sialan! jadi dari tadi aku dianggap apaan? janda ini benar-benar menjengkelkan.
"Iya dia temanku mba, Tofa namanya. Masih bujang dan sedang mencari calon istri, katanya." Jawab Arga.
Apa lagi maksud bajingan ini, mau nyomblangi aku sama wanita beginian? Awas kamu Ga!
"Owalah mas tofa, maaf ya saya baru kenal, tapi sepertinya mas tofa udah kenal saya ya, hehe."
Mata Mutia melihat ke arah pria yang tak kalah manis dengan Arga. Memperhatikan setiap jengkal tubuh dari atas sampai bawah.
''Haha gak apa-apa mba. Jadi beneran cuma ini pohonnya?'' tanya tofa memastikan sekali lagi.
''Iya lah mana lagi coba, itu buahnya banyak,'' tunjuknya pada segerombolan buah kelapa, memang benar ada banyak tapi itu kan masih sangat dini, mereka kecil kecil sekali. Bahkan mas Arga pun ragu apakah itu mengandung air atau tidak.
__ADS_1
''Nyerah aja deh bro, aku udah gak tahan di sini lama-lama, kita coba saja ambil buahnya,'' bisik tofa.
Arga mengangguk, ''Kasihan juga istriku udah menunggu lama.''
Tofa bergegas segera mencari tongkat untuk meraih kelapa tersebut, memang tidak tinggi tapi juga perlu alat lain sebagai bantuan.
Brukk..
Kelapa muda itu jatuh dengan mulus, untung saja tidak terlalu tinggi dan jatuhnya mendarat cantik di rerumputan, sehingga tidak pecah.
Arga mengambil kelapa muda tersebut, dan mengguncang nya perlahan. Terdengar ada suara air, dan dipastikan ada isinya. Arga dan tofa bernafas lega.
''Terimakasih, ya mba. Kalau begitu kami permisi dulu ,'' pamit Arga secara buru-buru.
''Loh Abang kok cepat pulangnya? Gak mau mampir minum dulu, kah? Aku buatin cemilan deh, mau gak?''
Arga mendengus keras, ''Gak usah repot-repot mba. Saya sudah di tunggui istri dirumah, dia lagi kesakitan dan butuh air kelapa,'' jelasnya.
Mutia termangu diam tak bergeming.
''Iya mba, kami permisi dulu, lain kali saja nanti aku main main kerumah mba,'' basa basi tofa membual. Dengan harapan wanita itu diam dan tidak menghentikan mereka pulang.
''Ohh tega ya Abang sama aku, ternyata susah payah cari kelapa sampai kerumah aku demi istrinya, ya?"
''Lah mba ini kok lucu sih, kalau bukan demi istri, memang demi siapa lagi. Maklum dia ini laki-laki yang sudah beristri jadi ya wajar saja,'' tofa membela.
Mutia jadi kesal dan melengos. Tapi ia mencoba menahannya menjaga image agar tidak membuat dua orang pria ini ilfeel padanya.
''Yasudah sana, pulang saja. Abang kalau mau kerumah lagi silakan saja. Pintu rumah selalu terbuka untuk mu,'' dengan rasa kecewa dan berat hati Mutia berlalu meninggalkan Arga dan tofa. Dengan hati dongkol dan geram-geram kesal karena merasa terbodohi.
''Ya sudah biarkan saja dia, ayo Top kita pulang.''
Tofa mengangguk, ''Kalau di pikir-pikir kasihan juga ga Mba Mutia.''
Sambil melangkahkan kaki meninggalkan halaman rumah Mutia, ''Lebih kasihan mana denganku, jika aku terlalu baik dengan wanita yang menjadi rival istri ku itu? Kalau Jihan tahu entah aku yang harus dikasihani, atau malah mba Mutia yang lebih terkasihani? Secara kau tahu sifat Jihan jika sudah cemburu.''
''Benar juga sih, sekali-kali kau harus bersikap keras juga dengan wanita seperti mba Mutia. Sabar ya mba, belum jodoh sama Arga. Haha,'' tawa mengejek.
Mereka sudah sampai di motor yang terparkir di pinggiran jalan, ''Boleh ku beri saran top?'' tanya Arga.
Tofa mengangkat sebelah alisnya, ''Apa?''
''Kalau kau suka dengan mba Mutia, segera lamar saja. Kau bisa jadi pencegahan yang baik untuk rumah tanggaku dengan Jihan agar tidak diganggu oleh nya,'' Arga balas tertawa mengejek. Puas membalas ucapan sahabatnya tadi.
''Dasar pria bajingan berkedok suami!'' ketus tofa.
Senyum dan tawa keceriaan telah kembali ke wajah tampan mas Arga, stelah berhasil melalui saat-saat menegangkan tadi. Kini dirinya kembali pada sifat ceria nya dengan wajah yang secerah mentari. Awan suram memang sudah berlaku dari wajahnya, tapi awan mendung justru terlihat menutupi wajah Mutia.
Setelah pergi meninggalkan Arga dan tofa di belakang rumah tadi, dia langsung masuk ke kamar.
''Bisa-bisanya, demi bocah tengik itu bang Arga memanfaatkan aku, kalau saja tadi tidak ku ijinkan mengambil air kelapanya, pasti dia akan kesakitan dan lebih menderita lagi. Sial kenapa tidak ku tanyakan dari awal sih?'' Memandang pantulan dirinya dari cermin.
''Kau bisa kurang ajar padaku, tapi itu tidak lama. Kau tidak tahu sedang berurusan sama siapa, ya bocah?''
bersambung...
__ADS_1
Apa lagi niat jahatmu wahai mba Mutia 😩