
Eps. 2
Di sekolah SMA Negeri Nusa Bangsa.
Dua gadis remaja tengah berlari tergopoh-gopoh menyusuri sepanjang lorong kelas yang mereka lewati. Dengan langkah seribu langkah mereka berdua berlari sekuat tenaga, mengerahkan kekuatan demi tidak kena hukuman dari guru killer.
Jihan dan Rani tampak kelimpungan akibat terlambat hampir lima belas menit dari waktu masuk sekolah. Bahkan mereka hampir tidak diperbolehkan satpam masuk ke sekolah akibatnya mereka terlambat sepuluh menit lagi. Setelah berdebat beberapa waktu dengan pak satpam akhirnya mereka berhasil lolos dan diperbolehkan masuk area sekolah dengan sangat terpaksa.
"Ayo Han, lebarkan langkahmu cepat sebelum Bu killer masuk," Rani menyemangati sahabatnya sesekali dia juga menggandeng tangan Jihan agar berlari menyeimbangi dirinya.
Jihan ngos-ngosan saat dirinya terus saja ditarik oleh Rani agar menyeimbangi langkah kakinya yang lebar itu.
"Sabar Ran, ini aku sudah lari sekuat mungkin. Lagian kita ini sudah pasti terlambat tau, masuk paling cuma sisa sepuluh menit aja," menjawab dengan nada tak menentu. "Kamu sih pake lambat lambat di jalan udah tau makin siang juga."
"Demi keamananmu Han, aku takut gaji di potong pak suami kalau bawa kamu kebut dijalan."
"Gila ya kamu Ran, demi uang suamiku, kamu sampai mengorbankan diri kita terlambat sekolah. Gila beneran kamu Ran."
Jihan tak tahan lagi, dirinya berhenti sejenak mengambil nafas dalam-dalam. Sedangkan Rani terus berlari ke depan.
"Gila ni cewek, bisa lebar gitu sih langkahnya. Padahal ini rok span loh yang di pakai." Jihan terengah-engah sambil menopang berat tubuhnya ke lutut sembari melihat sahabatnya yang berlari dengan amat brutal di depan.
Merasa ada yang tertinggal, Rani menghentikan langkah dan menengok ke belakang. "Heii Jihan kenapa malah berhenti sih menyusahkan aku aja," dengan amat terpaksa Rani berbalik mundur menghampiri Jihan yang justru tak bergerak menyusulnya.
"Aku capek Ran, gak kuat deh sumpah. Kamu brutal banget larinya meski pakai rok span."
"Ahh kamu aja yg lemah, cewek Tarzan ini. Ayoo cepat!! Keburu ditambah nanti hukumannya." Ajak rani.
"Udah terlanjur telat sih Ran, yaudah gak apa-apa dihukum sekalian. Mustahil juga kita lolos kalau masuk kelas. Udah jam berapa ini. Buk killer pasti udah ngomel-ngomel gak jelas," Jihan putus asa akibat tak berdaya lari lagi.
"Heh Jihan tumben banget kamu ngajak bolos. Biasanya anti bolos anak ini. Kenapa mau bolos?" Rani terheran pasalnya sahabat satu satunya ini tak pernah melakukan hal yang dianggapnya haram yaitu bolos.
Jihan membenahi posisi berdiri nya, kini malah bersandar di tembok dekat pondasi. Padahal jarak ruang jelas mereka tinggal melewati tiga ruang kelas lagi.
"Aku capek banget Ran, gara-gara mas Arga semalaman gak biarin aku tidur," jawabnya polos tanpa berdosa.
"Whatt? Udah buka segel kamu Han?" Rani menganga tak percaya dengan penurunan sahabatnya.
"Heh, pelankan suaramu. Nanti ada yg dengar gimana?"
Jihan menunjukkan jari telunjuk ke dekat bibir menyuruh Rani melirihkan suaranya.
"Mustahil, gak ada yang dengar semua murid pada belajar Han."
Jihan menengok ke kiri dan kanan, memang benar sepi sekali.
"Tapi Tuhan maha mendengar Ran!"
Rani menatap datar ke arah Jihan. "Tuhan tidak akan protes juga kalau mendengarkan, Han."
"Iya juga sih," Jihan sedikit merapikan rambut yang berhamburan karena lari tadi.
"Mas Arga marah gak ya kalau aku bolos, sekali aja?" Sambung Jihan.
"Kayaknya aman deh kalau aku gak kasih tau pak suami," balas Rani.
"Ihh iya ya, mas Arga gak mungkin tau kalau gak kamu kasih tau," melirik Rani dengan tatapan kesal. "Dasar mata mata, mata batin, mata kaki!"
"Heh, sembarangan aja kalau ngatain orang. Jadi gimana nih? Bolos aja yukk!" Ajak rani tanpa berdosa.
Jihan terlihat menimbang-nimbang keputusan, "Kalau aku gak masuk sekolahnya dari rumah dan mas Arga tahu, pasti dia gak akan marah. Tapi kalau bolos sekolahnya pas aku udah di sekolah, mas Arga maklumi gak ya? Kan aku terlambat gara-gara dia juga."
Rani mulai jengah dengan kebimbangan Jihan, maklum saja murid rajin satu kelas itu hari ini mendadak tidak ingin masuk kelas karena terlambat. Rani yang mengerti kebimbangan Jihan mencoba meyakinkannya.
"Udah Han, kalau aku gak bilang. Kan semua aman. Sekali saja Han, selepas jam bu killer habis kita masuk deh, ya ya ya," pinta Rani dengan seribu alasan manis, namun Jihan masih diam mencoba mencerna ajakan Rani.
"Ayolah Han, sekali aja. Kita ke kantin aja maem seblak atau bakso atau soto. Enak nya pagi pagi maem yang anget, kuahnya sedap, apalagi ditaburi bawang goreng, diperasi jeruk nipis dan di tumplekkan sambel. Wiihh mantap," membayangkan nya saja membuat Rani sampai menelan ludahnya tak tahan.
Jihan masih diam tak bergeming, membuat Rani tak putus asa menghasut nya.
"Ayolah Han, aku gak akan bilang ke pak suami deh. Ya ya."
Jihan masih terlihat ragu, apakah benar ucapan sahabat nya ini bisa dipegang. Bukankah ketika melihat selembar uang saja dia bisa buka mulut nanti, Jihan meragukan ucapan Rani.
"Duhh Jihan kok melihatku dengan wajah mencurigakan gitu sih. Iya iya aku gak akan terhasut oleh uang suamimu. Mau dia nyogok aku berapapun untuk bilang apa yang terjadi hari ini, aku gak akan buka mulut."
Kebiasaan mas Arga untuk selalu menanyakan hal apa yang terjadi pada Jihan setiap harinya ketika disekolah.
"Benar bisa dipercaya?"
Rani mengangguk yakin, sembari mengepalkan tangannya menyentuh dada, "Aku bisa diandalkan kali ini. Demi persahabatan kita, aku gak akan berkhianat. Prinsipku sungguh sangat sangat teguh kali ini."
"Oke aku percaya deh,," jawab Jihan pasrah.
"Jadi ..?" Tanya Rani.
"Tapi Ran, sebenarnya sebagai siswa yang teladan kita gak boleh jadi contoh yang buruk buat adek kelas kita karena membolos."
"Welehh Han Han, sekali aja kok gak apa-apa sekali aja." Rani keukeh meyakinkan Jihan.
__ADS_1
"Apa aku berubah pikiran ya, gak jadi bolos aja yukk," ingin menggandeng tangan Rani menuju kelas.
tiba-tiba Rani menyahut, "No jangan geret aku ke kelas. Aku tlaktir deh ke kantin aja yukk. Aku yang bayar, Jihan makan gratis deh."
"Nah, kalau ini aku mau deh. Bilang dari tadi gitu, kalau gini kan aku jadi mau bolos."
"Heleh, dasar licik kamu Han," Rani menatap kesal kearah sahabatnya. "Tadi sok gak mau di ajak bolos. Pas denger gratisan langsung gas."
Jihan tertawa, "Haha asyiknya di traktir karyawan suami sendiri. Itung itung buat biaya kompensasi akibat ngajak aku bolos. Itukan termasuk merugikan diriku sendiri Ran."
"Dasar modus pencitraan kamu Han. Sudah pintar membodohi orang sekarang, memang patut diberi apresiasi si pak suami itu." Rani bertepuk tangan. Jihan hanya membusungkan dadanya merasa bangga. Karena ajaran suaminya bisa membuat dirinya yang semula gadis polos menjadi pintar membodohi orang orang tertentu.
"Yasudah gak apapa. Hitung hitung kamu nyicip gaji ku, ayo kita pergi sekarang!" Ajak rani. Kemudian menggandeng tangan Jihan menuju kantin.
"Ayoo!!" Sorak Jihan bersemangat.
Akhirnya kedua gadis berseragam SMA itu tidak jadi menuju kelas. Justru meneruskan langkah kakinya menuju kantin. Demi menghindari hukuman dan demi mengisi perut dengan makanan yang membuat nafsu makan siapa saja jadi bertambah.
Sedangkan di ruang kelas, Bu Meri atau yang sering di panggil Bu killer tengah keheranan. Pasalnya baru kali ini dia melihat bangku tempatnya Jihan duduk terlihat kosong. Bukan hanya Bu meri saja yang keheranan, teman teman yang lain juga ikut heran ketika melihat kursi si anak rajin itu kosong tanpa keterangan si empunya pergi kemana.
Berbeda jika melihat kursi disebelahnya lagi, yakni tempat duduk Rani. Mereka sudah biasa melihat kursi itu sering kosong tak berpenghuni, bahkan jikalau berpenghuni sekalipun si empunya kursi akan tidur sepanjang jam pelajaran.
"Baiklah jika tidak ada yang tahu keberadaan dua penghuni bangku kosong itu, hari ini ibu anggap alpa!" Kata Bu Meri kepada murid lainnya dalam kelas Jihan.
"Ketua kelas, tolong sampaikan nanti kepada mereka berdua untuk menemui ibu jika sudah terlihat batang hidungnya," Bu Meri berkata dengan nada dingin dan raut wajah jutek yang membuat siapa pun melihatnya menjadi bad mood.
Bu Meri satu satunya guru yang jarang tersenyum, atau mungkin tidak pernah tersenyum atau bisa jadi lupa caranya tersenyum. Entahlah yang jelas Bu Meri itu orangnya sangat jutek dan kejam jika mengetahui muridnya melanggar peraturan sekolah. Maklum saja selain menjabat guru mata pelajaran sejarah, dirinya juga guru BK. Dan setiap murid yang berurusan dengan dia, sudah pasti akan kelimpungan panik.
Jadi tunggu saja bagaimana nasib Jihan dan juga Rani nanti setelah disidang akibat bolos pelajarannya Bu Meri.
____
Di kantin sekolah.
Dua gadis bersahabatan bagai kepompong itu tengah asyik menyeruput kuah bakso yang ditaburi bawang goreng dan perasan jeruk nipis yang terlihat segar.
Jihan dan Rani benar-benar bolos jam pelajaran Bu Meri. Mereka ini patut diacungi jempol sebab berani mencari masalah dengan guru killer.
Slruupphh... Rani menyeruput mi bakso dalam mangkuk nya yang berkuah hitam pekat akibat banyaknya kecap yang ia tambahkan. Berbeda dengan mangkuk Jihan yang kuahnya justru terlihat kuning keorenan karena banyaknya sambel yang ditumpahkan dalam mangkuknya.
"Huh hah haaahh,, pedes pedes enak Ran." Kata Jihan ketika menyendokkan bakso ke mulutnya.
"Huh ngeri banget anak ini, itu bakso jadi kuah lava gunung meletus gitu sih Han."
"Enak Ran, punyamu sendiri tuh lihat malah hitam kayak kekurangan cahaya petunjuk. Kalau punyaku terang benderang seperti kehidupanku dengan mas Arga," canda Jihan.
"Heleh, mentang mentang udah punya misuaa."
"Dasar kudet banget sih Han, misua itu suami. Dibalik aja tuh katanya."
"Owalah," jawab cuek Jihan. Dan lebih khusyuk menyantap baksonya.
"Oh ah oh oh aja, nanti gak paham tanya lagi."
"Kalau aku tanya itu bukan gak paham, tapi lupa Ran."
"Masih ngeles aja kamu han, oiya. Bagaimana perasaan mu setelah pertama kali bolos. Apa yang anda rasakan?" Tanya Rani seolah olah mewawancarai Jihan dengan menyodorkan botol minum menghadap mulut Jihan, seperti mikrofon.
Jihan berdehem dan membenarkan posisi duduknya dengan bibir yang sedikit dower akibat kepedasan, Jihan menjawab.
"Waahh sungguh hal yang gila, bener benar gila. Ini pertama kalinya bagi saya membolos. Saya sangat terharu karena bisa melakukan hal semenegangkan ini," Jihan berlagak seolah terharu dengan prestasi baru yang ia lakukan.
"Wahh anda sungguh pemberani ya, apakah setalah ini anda akan di sidang orang tua anda ketika mengetahui kenakalan baru anda, nyonya Jihan?"
"Duh kalau masalah itu saya kurang tahu, tapi yang jelas mungkin suami saya akan marah ketika mengetahui ini." Menunduk kepalanya berlagak sedih.
Percakapan keduanya terdengar dan terlihat begitu konyol, tanpa beban dan rasa takut mereka masih bisa bercanda di kala situasi bolos tersebut, sedangkan mereka tahu konsekuensi nanti akan berhadapan dengan guru killer.
"Sepertinya aman aman saja jika saya tidak memberikan rekaman wawancara ini pada suami nyonya Jihan," balas Rani.
"Kalau begitu jangan diberikan ya nona Rani."
"Haha tenang saja nyonya, tidak saya berikan paling hanya saya lihatkan sedikit saja."
"Wah anda ini benar benar reporter pintar ya. Saya tidak sabar menantikan acara anda di masa depan nanti," kemudian Jihan meraih tangan Rani dan menjabat nya.
"Semoga sukses besty, aku yakin cita-citamu tercapai untuk menjadi seorang reporter terkenal," ucap Jihan kepada Sabahat nya.
"Terima kasih kembali besty, kamu membuatku terharu deh. Pingin pelukk.."
Jihan berpindah duduk ke samping Rani dan membentangkan tangan agar sahabatnya bisa masuk kedalam pelukannya.
Mereka berdua pun berpelukan dengan penuh sayang layaknya saudara sendiri.
"Oiya Han, nanti ketika aku udah jadi reporter terkenal apa kamu bisa bantu aku?"
Jihan melepaskan pelukannya, "Tentu kawan. Selama aku mampu, akan ku bantu kamu hingga titik darah menstruasi."
"Heh! Jorok Lo Jihan,"
__ADS_1
Jihan tertawa melihat ekspresi wajah Rani. Seru sekali menggoda sahabatnya itu.
"Bercanda Ran,, mau minta bantuan apa emangnya. Kayak yakin banget aku bisa bantu." Merangkul pundak Rani.
"Iya Han, aku yakin kamu bisa bantu," Rani menatap lekat mata Jihan. Kini keduanya tidak melanjutkan acara makan baksonya dan memilih meneruskan obrolan absrud mereka.
"Bantu apa sih Ran? Serius nya."
"Jadi gini," Rani balas merangkul pundak Jihan dan mendekatkan dirinya untuk membisikkan sesuatu ke telinga Jihan. "Kan nanti aku jadi reporter tuh, mesti kan berita gak selalu ada yang booming. Nah pas aku berada di titik terendah ku sebagai reporter kamu bisa bantu aku tuh," sambung Rani.
"Iyaa aku tau Ran, bantu apa tapi? Berbelit banget sih anak ini," Jihan mulia kesal ditambah dengan rasa penasaran akibat ucapan Rani yang membuat nya pusing.
"Hehe sabar besty, aku minta bantuan kamu, bisa dong aku melakukan siaran langsung waktu kamu lagi dibuka segel sama mas Arga mu. Hahaha," Rani melepaskan rangkulannya dan menjauh beberapa centi dari tubuh Jihan.
"Dasar bocah kurang ajar kamu Ran," Jihan melayangkan sentilan ke jidan Rani yang tengah tertawa terbahak-bahak.
"Awww sakit Han, pedih banget kejam kamu. Benar kata pak suami ya. Kamu istri yang kejam!"
"Biarin aja, aku bahkan bisa lebih kejam lagi dari ini tau?Asal kamu tau aja, cita-citaku pingin jadi psikopat. Bisa jadi kamu kamu korban pertama yang aku mutilasi," Ganti Jihan yang tertawa kejam.
"Hiih ngeri banget sih kamu Han. Tega sama aku,"
Jihan menjulurkan lidah mengejek, "Biarin. Doakan ya biar terkabul."
"Gila sihh,,, Pergi jauh aku keluar benua ini, yang gak ada kamunya." Rani mengelus keningnya yang sedikit merah karena jitakan Jihan.
Jihan tertawa puas karena berhasil membalikkan situasi. Dirinya tak habis pikir, bisa-bisa nya Rani masih memanfaatkan rumah tangga sahabat sendiri untuk kepentingan karier nya.
"Oiya Han, tadi kamu belum balas pertanyaanku loh."
Jihan melirik malas ke arah Rani, "Pertanyaan yang mana lagi?"
"Ituu yang pas kita masih di lorong, yang udah buka segel?"
Sepertinya Rani belum kapok juga dengan sentilan kesadaran tadi. Sekarang ingin memancing singa betina yang sedang pms itu.
"Kepoo yaa? Tapi pelankan suaramu nanti Bu kantin dengar bahaya loh."
"Upss iya Han iya maaf ya. Iya nih aku kepo. Jadi gimana? Udah jebol dong ya?" Lihatlah ekspresi wajah Rani yang begitu ingin tahu pasal percintaan sahabatnya. Raut wajah itu membuat Jihan geli dan ingin mengerjai Rani.
"Menurut mu?" Jihan menggoda sahabatnya agar kesal. Dia meraih gelas berisi es jeruk dingin, dan menyeruputnya dengan santai. Membiarkan sahabat nya berpikir keras dengan rasa penasarannya.
"Kayaknya sihh, udah ya? Ha iya kan udah .. akhirnya sahabat ku goolll," tanpa sadar berteriak kegirangan.
Jihan menarik lengan baju Rani, membuatnya terduduk kembali. Meskipun kantin terlihat sepi karena belum ada anak istirahat tapi kan ada ibu kantin yang menjaga.
"Sudah dibilang pelankan suaramu, kayak dunia punya kamu sendiri aja," sedikit mencubit kecil lengan Rani.
"Nih ya ku kasih tau, mas Arga belum gol tau. Tapi hampir, lebih tepatnya lagi sih, GAGAL!" memberikan intonasi menekan.
Rani terlihat kecewa, "Yah belum gol ya, gagal lagi. Kasihan pak suami."
Jihan tergelak, "Kenapa kamu yang sedih sih. Lucu deh."
"Habis gak Gol sih, bayangkan aja gimana terpukul nya perasaan suami ketika gak jadi gol," berkata seolah dirinya sudah pernah mengalaminya saja.
"Habis gimana, tiba-tiba aku menstruasi lebih awal dari tanggal biasanya. Kalau tadi malam gak keluar mungkin hari ini aku gak akan masuk sekolah dan duduk bolos sama kamu di sini."
"Idihh,, biasa aja lihat aku nya!" Rani tidak terima dengan tatapan menyepelekan dari Jihan.
"Semoga saja pak suami diberi ketabahan ya."
Jihan menengok ke arah Rani,
"Heh heloo Rani! Ekspresi kamu itu mengingat kan sama ekspresi mas Arga tau tadi malam. Kalian sama persis kecewanya. Hahaha."
"Namanya juga kita punya telepati sebagai bos dan karyawan.''
"Tapi aku harus mengucapkan terima kasih banyak ke kamu Ran."
"Aku?" Tunjuk nya ada dirinya sendiri.
"Iya Ran, kamu. Memangnya siapa lagi disini cuma ada kita."
"Memang aku berbuat hal ajaib apa sampai kamu terima kasih gitu?" Tanya rani heran.
"Karena baju yang kamu rekomendasikan itu ooh," Jihan sedikit tersipu. "Daster ajaib. Mas Arga jadi liar gara-gara lihat aku pakai baju itu. Hahaha."
Rani membulat kan matanya tak percaya, "Seriusan Han? Wah aku hebat dong yaa.. haha pintar juga aku," membanggakan diri sendiri. "Pasti gajiku dobel ini kan ya?"
"Ehh kok tau?" Jihan heran bagaimana mungkin sahabatnya itu mengetahui jika Arga akan menaikkan gajinya. Apa dia memasang cctv di rumah nya.
"Aku belum kasih tau kamu, tapi kamu kok udah tau. Memang benar mas Arga mau naikkan gaji kamu," sambungnya dengan ketus.
"Gak jadi sedih deh kalau begitu, pakai rencana ini aja biar pak suami cepat gol. Hahaha," Rani masih menertawakan rencana konyolnya. Yang tak disangka ternyata akan berhasil.
"Haha," Jihan ikut tertawa, "Dasar konyol! Udah lanjutkan makannya, terus kita masuk kelas nanti."
"Iya iya nyonya istri," masih berlagak menyombongkan diri.
__ADS_1
"Jangan lupa jaga rahasia loh Ran, jangan bilang bilang suamiku kalau aku bolos!" Ancam Jihan.
Rani merapatkan mulutnya seolah memperagakan menarik resleting yang ada di bibirnya. Aman!