
Eps. 4
Memasuki jam makan siang, Arga membuka ransel dan mengeluarkan bekal yang telah dipersiapkan sang istri.
Satu persatu kotak makan ia buka, aroma sedap menyeruak namun tak menggugah selera makan Arga.
Ditengah menikmati makanan siang, Arga melamun ada perasaan gelisah yang tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya.
Sebenarnya apa sih yang membuat mas Arga menjadi gelisah seharian ini, setelah sampai di tempat kerja. Dirinya benar benar tak fokus saat berada di lapangan kerja. Bahkan hingga menyantap makan siang pun dirinya terlihat murung.
Ditambah lagi, biasanya sang istri akan mengabari setelah pulang sekolah dan itu bertepatan dengan waktu makan siang di tempat kerja. Arga menunggu panggilan tersebut, namun tak kunjung mendapatinya.
Ternyata yang membuat Arga merasa gelisah adalah akibat kejadian semalam yang gagal.
Flash Back.
Jihan dan Arga sedang menonton televisi diruang tamu setelah menyelesaikan makan malam. Mereka duduk sembari menonton acara drama Korea yang sedang booming akhir pekan ini. Drama bergenre romantis yang dibumbui kisah percintaan yang panas dan sedikit menguras emosi.
Rumah baru yang mereka tinggali ini cukup nyaman, terlihat masih ada sudut ruangan yang kosong belum terisi perabot rumah tangga.
Bahkan plastik di televisi mereka saja belum di kupas sehingga meninggalkan kesan televisi baru dibeli.
Jihan duduk di sofa dengan kaki di angkat keatas meja dan disilangkan, sambil memangku cemilan kue kering yang ia buat sendiri.
Jika berada di rumah, Jihan sering mengenakan daster rumahan, namun kali ini ada yang berbeda, Jihan mengenakan daster yang modelnya berbeda dengan biasanya. Sehingga lebih memperlihatkan lekuk tubuhnya yang berisi dan putih mulus.
Arga menghampiri sang istri dengan membawakan minuman yang diminta Jihan. "Ini sayang, minumnya."
Jihan menerima gelas itu, "Terima kasih mas," balasnya dengan senyuman yang manis dimata Arga. Jihan kembali memfokuskan perhatiannya pada drama yang ia tonton. Karena ini adalah episode yang sedang seru serunya.
Arga mendudukkan diri di samping Jihan, sembari pandangannya menyapu kearah Jihan yang terlihat sangat cantik malam itu dengan mengenakan daster yang baru kali ini Arga lihat. Sepertinya Jihan baru membelinya dan baru memakainya kali ini. Batin Arga tertegun.
Arga lebih mendekatkan posisi duduknya ke dekat Jihan.
"Sayang nonton apa sih? Serius banget, aku sampai gak diperdulikan."
Tak mendapat respon dari sang istri membuat Arga memunculkan ide jahil.
Arga meraih toples makanan di pangkuan Jihan, dan meletakkan diatas meja. Kemudian Arga merubah posisi duduknya sekarang menjadi berbaring di atas pangkuan Jihan.
Jihan mulai kesal dengan ulah usil si suami durjana, "Mas Arga kok diambil sih toplesnya? Ganggu aja deh!"
"Habisnya kamu cuekin aku sayang. Nonton apa sih?"
Memposisikan kepalanya senyaman mungkin di pangkuan Jihan.
"Ya mas kan bisa lihat sendiri tu, apa yang aku lihat. Tuh lihat sana matanya ke sana jangan lihatin aku," berkata dengan ketus.
Namun Arga tak mau memalingkan wajahnya agar menghadap televisi, dirinya malah menatap wajah cantik Jihan dari bawah pangkuan Jihan.
"Enak lihat kamu aja sayang, manis, cantik, nyata lagi." Kata-kata gombal keluar dari bibir Arga.
"Mas apaan sih. Ngaco aja!" tersipu malu.
Jihan mencoba agar tidak tergoda dengan tingkah menggemaskan si suami, dirinya kembali menatap ke layar televisi.
Arga mulai usil lagi dengan menusuk-nusuk pipi Jihan dengan jari telunjuknya. Namun, Jihan tak memperdulikannya.
"Ckk dicuekin lagi aku," Arga berdecak kesal.
"Mangkanya mas jangan ganggu aku kalau lagi nonton!"
"Mendingan kamu lihat aku aja sayang, wajahku gak kalah ganteng dari oppa Korea itu."
"Mas pede sekali sih," Jihan tergelak.
Sekarang tingkah Arga semakin menjadi-jadi, dirinya merubah posisi tidur ke arah samping sehingga wajahnya menghadap ke perut Jihan dan merangkul pinggang Jihan.
Sesekali Arga menghirup aroma wangi pakaian yang Jihan kenakan. Tangannya tak dibiarkan diam. Dibalik pinggang Jihan, tangan Arga mengelus punggungnya. Sembari sedikit menggesekkan wajah menyusuri perut rata Jihan.
Jihan terkekeh, "Mas geli tauu ngapain sih kayak gitu?"
"Ngusap dedek, sayang." Ucapnya asal.
Dedek apanya sih, boro-boro hamil, buka segel saja belum. Batin Jihan. Kini Jihan mulai tidak fokus menyaksikan drama Korea tersebut.
"Kamu wangi banget sayang, buat aku candu."
"Kan bajunya pakai pewangi mas, ada ada aja deh."
Arga masih membenamkan wajahnya di balik perut Jihan. Tiba-tiba saja dilayar televisi tengah menunjukkan adegan drama yang begitu romantis. Dimana pemeran laki-laki sedang mencium pemeran perempuan.
Hal itu membuat reaksi Jihan tak karuan, adegan ciuman yang ia tonton itu meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Bahkan kecupannya dengan mas Arga masih terbilang jauh dari drama itu.
Mendengar suara istrinya yang merancau tidak jelas, membuat Arga memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke arah wajah Jihan.
"Kamu kenapa sih sayang? Kok uget uget sendiri, kayak cacing kepanasa.''
"Aaa mas Arga, minggir Dlu sana," Jihan mengangkat kepala Arga sehingga membuat pria itu terpaksa mendudukkan dirinya.
"Apasih yang lebih seru dibanding aku," Arga mengalihkan pandangannya ke arah televisi dan ikut menyaksikan adegan apa yang dilihat sang istri.
Owalah ternyata ini toh yang buat istriku meronta-ronta, batin Arga.
Jihan masih tak melepaskan pandangannya dari layar televisi.
Arga menyunggingkan senyum usilnya.
"Kenapa sayang? Kamu juga mau seperti itu? Aku bisa beri," ucap Arga dengan usil.
Jihan melihat sekilas kearah suaminya, entah hal konyol apa lagi yang akan dilakukan si suami.
Jihan tak menanggapinya, kembali meluruskan pandangan ke layar televisi.
"Kalau mau sekarang aku bisa beri..." Ucapan Arga terputus ketika adegan ciuman yang tadi romantis justru berubah menjadi adegan yang lebih panas.
Jihan dan Arga membulatkan matanya saat melihat adegan itu.
Jihan menelan ludah, melirik ke arah Arga yang masih diam mematung menyaksikan drama tersebut.
Melihat sang suami tak bereaksi apapun, membuat Jihan angkat bicara. "Mas! Mas Arga gak apa-apa kan? Emm aku gak sengaja lihat ini. Aku gak tau akan ada adegan begitu. Aku pindah ya?" Tangan Jihan tergerak ingin mengambil remote control di meja. Namun tiba-tiba Arga mencekal lengan tangannya.
Arga menatap ke arah Jihan entah apa yang ada di pikirannya. Kemudian Arga mendorong tubuh Jihan sehingga membuat dirinya terbaring di atas sofa dengan tubuh Arga yang mengungkungnya.
__ADS_1
"Dasar bocah nakal ya kamu sayang,," menatap lekat bola mata Jihan. "Belum cukup umur sudah nonton begituan. Untung ketahuan sama aku."
Arga masih menindih tubuh Jihan dengan tangannya yang mencekal lengan Jihan.
"Bukan mass bukan begitu.. aku gak tau mas sumpah," jawab Jihan panik layaknya seperti maling yang tertangkap basah.
"Kamu mau menggoda ku ya sayang?" Tanya Arga.
"Enggak mas, menggoda gimananya?" Jawabnya dengan nada sedikit menantang. "Lagian aku yakin mas gak akan tergoda!"
Arga menyipitkan matanya, terlihat wajah iblis sudah mulai tergambar. "Yakin dari mananya aku gak akan tergoda?"
"Dari..?" Jihan mencari alasan. "Ya pokoknya yakin. Mas gak akan melakukan hal itu!''
Hehe yakin aja Dlu ya kan, lagian aku masih sekolah gak mungkin mas Arga melakukan itu iya kan. Batin Jihan.
"Coba katakan lagi?" Tantang Arga.
"Mas gak akan melakukan itu!"
Arga semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Hingga tercipta jarak yang hanya tiga centimeter saja. Hembusan nafas Arga bahkan bisa terasa di kulit wajah Jihan.
"Mas, mas Arga mau apa?" Jihan sedikit memalingkan wajahnya untuk memberi ruang bernafas. Rasanya nafas nya mulai tercekat sesak dan panas.
"Coba bilang apa tadi? Aku gak dengar!"
"Mas budeg ya. Aku bilang mas gak akan lakukan hal itu." Setelah mengatakan itu Jihan memejamkan matanya. Karena Arga semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Jihan.
Lindungi aku tuhan, apa aku buat salah ya? Dia mau apa ini? Batin Jihan.
Cup,,, kecupan lama yang di daratkan Arga ke bibir ranum milik Jihan.
Jihan membuka matanya, melotot ke arah sang suami. "Mas kok curi curi cium sih?"
Arga tergelak, "Kamu menggoda aku sayang, salahkan dirimu sendiri kenapa bisa kecolongan."
Jihan terpaku dengan ucapan sang suami, masih setengah sadar dengan yang dilakukan Arga. Memang itu bukan lah ciuman pertama yang mereka lakukan. Tapi ciuman ini berbeda dengan sebelumnya.
Ada perasaan hangat dan nyaman, dan ciuman itu lembut dan penuh cinta. Dan dan apalagi ya? Hanya Jihan yang bisa merasakannya.
Jihan dan Arga saling menatap lekat, manik mata keduanya bertemu. Dan memandang jadi satu.
"Lain kali jangan bilang aku gak akan melakukan hal itu ya sayang, kalau saja aku gak bisa nahan hasrat ku. Aku juga bisa jadi iblis di ranjang."
Arga membelai pipi mulus Jihan, dan memberikan kecupan hangat di sana. Kecupan yang cukup lama. Bahkan Jihan dibuat geli dengan kumis tipis yang baru tumbuh sekitar wajah Arga.
"Mas kumisnya gelii tau,, cukur sana!''
"Kamu yang cukurkan ya," Arga masih menghujani kecupan di pipi Jihan.
Suamiku mengerikan sekali sih. Aku jadi takut. Jihan bergelik ngeri saat membayangkan kata-kata menjadi iblis di ranjang.
Arga sedikit memberikan ruang antara tubuhnya dengan tubuh Jihan. Sebelum melepaskan kungkungan tubuh tersebut, Arga mendaratkan kecupan di kening Jihan. Kecupan yang cukup lama dan terasa hangat Jihan sampai memejamkan matanya.
Setelah itu Arga bangkit membiarkan si istri masih memejamkan mata, belum tersadar jika Arga sudah merubah posisi menjadi duduk. Arga masih memperhatikan ekspresi wajah Jihan. Yang menurutnya amat menggemaskan.
"Hei sayang, aku sudah selesai. Buka matamu," ucapan Arga membuat Jihan tersadar.
Dia langsung membelalakkan matanya, dan merubah posisi duduknya. Mati aku ketahuan lagi mikir mesum dong. Mas Arga sialan. Merutuki diri sendiri.
"Mas apaan sih. Mas Arga resek," setelah mengatakan hal itu Jihan berlari menuju kamar. Meninggalkan Arga yang duduk di sofa. Dengan wajah yang semerah kepiting rebus Jihan menepuk pipi nya agar tersadar.
"Duhh dasar otak mesum. Apa sih yang aku pikirkan, kelihatan banget gak ya. Malu banget,'' Jihan mengusap pipinya setelah tiba dikamar, dan beralih berjalan menuju meja rias.
Ucapan mas Arga seakan gentayangan di otaknya.
"Mas Arga usil banget!!" Berteriak frustasi.
Sesaat kemudian terdengar pintu kamar terbuka. Dan menampilkan sosok tubuh Arga dengan raut wajah usilnya. Dirinya benar-benar bangga bisa membuat istrinya tersipu seperti itu.
"Mas mau ngapain lagi?" Tanya Jihan panik.
"Mau tidur sayang, memangnya mau ngapain lagi? Mau lanjut yang tadi kah?" Arga mulai usil lagi.
"Mas Arga cukup!" Jihan menutup telinga dengan kedua tangannya.
Lagi dan lagi Arga tertawa melihat aksi konyol si istri.
Arga semakin mendekatkan langkahnya menghampiri Jihan yang terduduk di kursi rias. Dari arah belakang Arga ikut duduk di kursi yang sama dan memeluk tubuh Jihan.
Melingkarkan tangannya di perut jihan, kini kepala Arga di sandarkan ke pundak Jihan. Sembari menatap kecantikan istrinya dari pantulan cermin.
"Mas mau apa?" tanya nya dengan sedikit risih akibat ulah jahil sang suami.
"Mau lihat istriku yang cantik," balasnya dengan senyum.
"Lepasin dong mas. Gerah nih," Jihan mencoba meronta dari pelukan Arga.
"Sayang jangan banyak bergerak, atau kamu membangunkan singa lapar," Arga memejamkan matanya, Sembari menghirup aroma wangi di ceruk leher Jihan.
Jihan tergelitik akibat gesekan kumis tipis mas Arga.
"Kamu cantik banget sayang, aku suka kamu pakai baju ini."
Tuh kan kayaknya aku salah kostum deh, gara-gara Rani sih pake rekomendasi daster kayak gini. Batin Jihan.
Jihan memperhatikan daster yang ia kenakan, memang benar daster ini terlihat agak terbuka. Belahan dada berbentuk v ini justru menonjolkan aset berharga miliknya. Pantas saja jika singa lapar ini terus menggeliat manja ditubuhnya.
"Kalau gitu aku gak akan pakai baju ini lagi deh mas."
Arga menghentikan aksi mencumbui leher istrinya. "Kenapa sayang? Aku malah suka kamu pakai ini."
"Ya karena ini bahaya buat aku mas, sama aja aku ngundang singa kelaparan dong."
Arga begitu gemas dengan wajah kesal Jihan, kini dirinya mencium pipi Jihan dengan cukup lama.
"Mas cukup! Geli tauu," bentak Jihan yang mulai kesal.
"Haha iya-iya, aku cuma mau peluk kamu aja sayang," masih memeluk tubuh Jihan. "Siapa yang rekomendasi baju begini ke kamu?" Tanya Arga.
"Siapa lagi kalau bukan karyawan mu itu mas. Si Rani," berkata dengan ketus.
"Wah memang pintar anak itu, besok aku tambahi gajinya. Biar rekomendasi baju model lain. Haha"
__ADS_1
Jihan mencubit lengan Arga, "Mas kok jadi sekongkol sama dia sih? Menyebalkan."
"Sakit banget cubitan mu sayang, kamu melukai tanganku. Kamu harus dapat hukuman dari aku."
Mendapat tatapan kesal dari Arga, Jihan meminta maaf karena tidak sengaja mencubit lengannya. Padahal cubitan itu tidak sakit, Arga saja yang melebih-lebihkan.
Arga bangkit dari duduknya, kini dirinya berdiri. Dan mengambil ancang-ancang untuk membopong tubuh Jihan dan membaringkannya diatas ranjang. Sejurus kemudian Arga langsung menindih tubuh mungil itu.
Jihan merasa panik, seperti dejavu beberapa menit yang lalu setelah berhasil lolos dari kungkungan singa kini dirinya kembali di kungkung lagi.
"Mas mau ap.. mppphhh" ucapan Jihan terpotong karena Arga langsung mendarat kan kecupan di bibir Jihan. Hingga membuat wanita itu terengah-engah akibat mendapat serangan dadakan.
Arga semakin memperdalam kecupan itu, kini tangannya di gunakan untuk menyekal tangan Jihan disamping kepala Jihan. Perlahan lahan Arga melepaskan kecupan itu, membiarkan Jihan mengambil nafas sejenak.
Deru nafas Jihan terengah-engah. "Jangan lupa bernafas sayang," ucap Arga terkekeh.
Wajah Jihan bersemu merah, suaminya ini benar-benar membuatnya panas dingin.
Arga mengusap bibir ranum Jihan dengan jari jempolnya, masih menatap lekat ke wajah Jihan. Namun pandangannya tak hanya berhenti disana namun mengakses ke seluruh tubuh Jihan
"Aku ingin kamu sayang," ucapnya saat mendekatkan bibirnya ke telinga Jihan. Jihan ikut terhanyut dalam buaian sang suami. Tanpa membalas perkataan Arga, Jihan justru memejamkan matanya.
"Aku anggap kamu setuju sayang," setelah mengatakan hal itu, Arga kembali mendaratkan kecupan di seluruh wajah Jihan. Tak tertinggal satu jengkal pun.
Setelah puas bermain dengan wajah istrinya, kini Arga mengambil jarak antar tubuhnya dan tubuh Jihan untuk melepas kaos yang ia kenakan. Setelah melempar kaos kesembarang tempat, Arga kembali mengungkung tubuh Jihan.
Astaga kenapa bisa bagus gini sih tubuh mas Arga, gimana aku gak klepek-klepek coba dibuatnya. Batin Jihan sambil menatap tubuh kekar dihadapannya tersebut.
Terlihat Rona merah ketika Jihan menatap secara dekat dada bidang milik Arga. "Kenapa kamu tersipu sayang? Terpesona?"
"Mas Arga" Jihan merengek. Kini Arga kembali menyerang Jihan dengan ciuman, Jihan terlihat amat menikmatinya.
Hingga ciuman itu turun ke leher Jihan, Arga sedikit menyibakkan rambut Jihan yang menutupi pundak mulus milik istrinya. Dan membuat kecupan kecil di area sekitar tulang leher.
Kecupan itu terus turun, hingga satu tangan Arga tergerak untuk membuka kancing daster yang dikenakan Jihan. Jihan yang hanyut dalam buaian itu seketika dibuat tidak sadarkan diri, seolah dunia hanya ada dirinya dan mas Arga saja.
Saat kancing daster itu terbuka sepenuh nya, Arga tersenyum menyaksikan dua aset berharga milih Jihan yang terlihat indah dan menggoda. Arga tak bisa menahan hasratnya lagi, dan segera mencumbu dada istrinya. Tanpa sadar tangan Jihan tergerak meremas rambut Arga. Ada perasaan geli geli enak gimana gitu, yang ia rasakan.
Lama berkutat diarea yang sekarang menjadi favoritnya, Arga ingin menuntut lebih dari itu. Namun, saat di tengah perjalanan, Jihan tersadar kembali ketika merasakan ada sesuatu yang hangat keluar dari **** *************. Sepertinya menstruasi nya datang lebih awal dari tanggal biasanya.
Jihan langsung mendorong tubuh Arga, dan membuat laki-laki itu tergeletak di samping nya. Jihan segera berlari menuju kamar mandi. Arga yang kebingungan turut menyusul sang istri hingga berhenti di depan pintu kamar mandi
Arga mengetuk ngetuk pintu kamar mandi. "Sayang ada apa? Kenapa lari?" Panik panik mulai menguasai Arga takut dirinya salah trik.
Tak ada sahutan dari dalam, selang tiga menit kemudian Jihan keluar dari kamar mandi.
"Mas aku lagi datang bulan. Maaf gak bisa lanjut," ucapannya dengan raut wajah malu.
Arga menepuk jidatnya, "astaga sayang kamu buat aku khawatir. Aku kira kenapa, syukur kalau gak apa-apa"
Ada guratan wajah kecewa dari Arga namun dirinya tetap mentabahkan diri setabah mungkin. Harus sabar belum waktunya.
Jihan menatap wajah suaminya, "Mas gak apa-apa kah? Kok pucat?"
Tangan Jihan tergerak membelai pipi sang suami, yang dirasa suhu tubuhnya sedikit tidak normal. Arga menepis lembut tangan Jihan.
"Tidak papa sayang, yasudah sana istirahat dulu. Aku mau ke kamar mandi sebentar," ucapnya dengan guratan wajah sedih.
Jihan mengangguk mengerti, dalam lubuk hatinya sedang menahan tawa melihat ekspresi wajah menyedihkan dari Arga. Singa lapar tadi mendadak tak berdaya.
Setelahnya, Arga masuk ke dalam kamar mandi, dan menyalakan shower untuk mengguyur tubuhnya agar suhu badannya kembali normal. Sedangkan Jihan tengah tertawa puas di atas tempat tidur akibat melihat ekspresi wajah Arga yang lucu tapi menyedihkan.
Dan pada akhirnya, malam itu berakhir dengan kegagalan.
Flash back selesai.
Arga kembali berdecak kesal, "Pening rasanya kepalaku ini. Memikirkannya," sembari memijat-mijat pangkal hidung.
"Susah juga ya punya istri cantik dan manis begitu, mana masih sekolah lagi, ckk menyebalkan." Dirinya menggerutu tidak jelas.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Arga mencoba menenangkan diri. Pergi ke pojokkan ruang kantor menghampiri jendela yang memperlihatkan pemandangan alam terbuka dengan hamparan pohon pohon yang terlihat hijau segar, maklum saja karena letak lokasi kantor Arga di dekat daerah perhutanan. Arga mencoba mencari ketenangan saat melihat alam bebas. Merasakan setiap hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
"Kenapa Jihan belum nelpon ya? bikin nafsu makanku tidak enak," Arga menatap kotak makan diatasi meja nya. Terlihat tidak habis seperti biasanya. Kali ini Arga hanya makan beberapa suapan saja.
Mungkin pria itu sedang tak berselera makan lantaran sang istri tidak melakukan panggilan video call seperti biasa.
Arga ingin duluan menghubungi sang istri, tapi ia urungkan. Sebab ia merasa sedikit gengsi, bila menghubungi Jihan terlebih dahulu biasanya Jihan akan mengejeknya, berkata jika suami yang manja, suami yang tidak bisa jauh jauh dari istri, dan beraneka macam ejekkan lainnya. Tentu Arga tidak ingin terlihat seperti itu. Padahal kenyataannya memang benar.
Jika saja Jihan melihat kotak makan itu masih belum kosong isinya, dia akan mengancam menyuruh Arga tidur diluar rumah jika sampai tak mengabiskan bekalnya. Sehingga membuat Arga akan melahap ludes bekal makannya.
"Awas kamu ya sayang, tunggu hukuman dari aku nanti!''
Lama bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba suara seseorang terdengar dan menghamburkan lamunannya.
"Ga! Kok ngelamun aja. Awas kesambet demit lo," sembari menepuk pundak Arga.
"Gak papa Top, cuma lagi pusing dikit," balasnya sambil memijat pangkal hidung.
Dia adalah Tofa atau biasa di panggil Topa oleh Arga, teman dekat seperjuangannya. Bersama dengan Tofa, dirinya mengikuti setiap tes agar bisa menempati posisi di perusahaan batu bara tersebut.
Tofa melirik ke arah bekal makan yang isinya masih banyak, "tumben kotak bekal mu gak habis Ga? Kenapa? Gak nafsu makan? Atau karena belum diingati makan sama ayang?" Tofa tergelak.
"Iyaaa," balasnya singkat.
Arga tak bereaksi berlebihan seperti hari-hari biasa jika tofa sedang mengejeknya.
Tofa dibuat keheranan dengan tingkah laku temannya hari ini yang nampak murung tidak seperti biasa.
"Lah responnya dangkal juga ternyata."
"He'em," balas Arga singkat.
"Owlah Ga, Ga. Aku paham perasaan mu, gagal gol kali ini ya, haha sabar Ga. Istrimu masih terlalu dini kamu harus menunggu waktu yang tepat."
Tofa sok memberikan nasihat padahal dirinya sendiri belum menikah. Darimana paham rasa yang Arga rasakan.
Sorot mata Arga melirik tajam ke arah Tofa, yang mendapat lirikan menusuk menelan ludah, panik panik seperti ada bom waktu akan meledak.
"Haha santai bro! sepertinya kamu harus menenangkan diri mu Ga, jangan murung terus. Sebentar lagi mau masuk jam kerja kembali. Sebaiknya tenangkan diri dan perbaiki hati, oke!"
Setelah mengatakan itu Tofa menepuk pundak Arga untuk memberi kan semangat. Kemudian Tofa meninggalkan Arga.
"Ckk,, sok memberi nasihat. Padahal dirinya sendiri belum menikah. Mana tau kamu apa yang kurasakan." Berkata dengan kesal setelah kepergian teman karibnya itu.
__ADS_1
Satu-satu nya teman kerja yang mengetahui bahwa Arga telah berstatus suami orang hanyalah Tofa. Selain akrab di tempat kerja, Tofa dan Arga juga akrab jika diluar tempat kerja. Bahkan tak jarang Tofa mengunjungi rumah Arga ketika masih bujang.
Namun setelah Arga beristri, Tofa sudah jarang mengunjungi tempat tinggal Arga lantaran tak ingin mengusik masa masa honeymoon temannya tersebut.