
Eps. 6
Arga sempat geram dengan tindakan ceroboh istrinya. Bagaimana bisa membiarkan pintu rumah terbuka sedang dirinya tidur diatas sofa tanpa menggunakan selimut untuk menutupi tubuh. Bagaimana jika ada orang jahat yang masuk dan memandangi tubuhnya.
Batinnya tak habis pikir dengan ulah Jihan.
Hingga ide jahil kembali muncul. Sebelum itu Arga memutuskan untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Membiarkan sang istri masih terlelap dalam mimpinya.
Setelah selesai, Arga berjalan ke dapur untuk mengambil air dingin di kulkas. Dan berjalan menuju sofa lalu duduk di dekat kaki Jihan yang diselonjorkan diatas.
Arga meraih kaki Jihan untuk diletakkan di atas pangkuannya. Sembari memijit-mijit kecil betis kaki Jihan yang nampak mulus.
Namun gadis itu tak bereaksi apapun. Arga melanjutkan keusilannya dengan menggelitik pelan telapak kaki Jihan. Tapi ternyata gadis itu sangat kebal, dirinya sama sekali tidak terusik dan tidak geli.
"Terbuat dari apa sih kulit istriku ini. Kebal sekali."
Tak pantang menyerah, Arga meraih botol minuman dingin yang ia ambil dari kulkas, dan menempelkannya di telapak tangan. Agar suhu dingin di botol berpindah ke telapak tangannya.
"Hukuman kecil dari suami yang tidak kau hubungi seharian ini, sayang. Terima ini."
Awalnya Arga menempelkan telapak tangannya ke kaki Jihan tapi gadis itu masih kebal, hanya menggeliat kecil. Arga tak menyerah, kini telapak tangannya yang dingin beralih menyentuh pipi Jihan.
Ada guratan wajah mengeriyip dari Jihan. Sepertinya rencana Arga berhasil. Dirasa telapak tangannya sudah tak dingin lagi. Arga malah menuangkan air dingin itu untuk membasahi tangannya.
"Seperti ini pasti lebih berhasil," Arga semakin menekan nekan pipi Jihan dengan kedua tangannya yang dingin.
Jihan menggeliat, "Hmmm,, apa ini kok dingin dingin," Jihan memegang tangan itu dan sedikit meremasnya. "Kok kasar ya," ucapnya masih belum tersadar. Dengan kelopak mata yang masih setengah tertutup.
Terlihat sunggingan tawa dari Arga, karena berhasil mengerjai sang istri. Tak hanya itu, kini jari Arga kembali memencet hidung Jihan sehingga gadis itu sedikit kesusahan dalam bernafas.
Jihan terkesiap seketika langsung membulatkan matanya, "Yaampun mas, mas Arga mau bunuh aku ya?" Sembari mengatur nafas yang tak beraturan.
"Hahaha" Arga justru tertawa puas. Jihan dibuat kesal lagi. Mungkin karena hormonnya sedang tak seimbang hingga membuat dirinya mudah marah.
"Mas resek nyebelin, ganggu orang tidur aja," ketusnya.
Arga mencubit pipi sang istri, "dasar istri bandel. Suami pulang kerja itu di sambut bukan malah di tinggal tidur."
Jihan terpekik kesakitan "Sakit mas awww aww lepasin!" Sembari mengelus pipinya yang sedikit memerah. "Aku udah nunggu mas didepan tadi. Terus ngantuk jadi aku tinggal masuk tidur mas."
"Oiya? Kamu harus di kasih hukuman sayang! Karena telah melakukan beberapa kesalahan, tau!"
Jihan mengernyitkan dahi heran, "Kesalahan apa sih mas?"
Sedikit ada guratan wajah panik. Jangan jangan mas Arga tau kalau aku bolos ya, apa Rani laporan ya? Atau atau apa ya? Gawat! Batinnya.
Arga menyentil kening Jihan. "Pura-pura gak ingat ya kamu sayang?"
"Aww sakit mas, kok main kekerasan dalam rumah tangga sih." Mengelus keningnya. "Memang apa yang aku perbuat?"
"Mau ku kasih tau sayang? Perlu ku ingatin ya?" Tanya nya sambil mendekati wajah Jihan.
"Heh mas jangan dekat dekat dong! Agak menjauh dikit," namun ucapan itu tak dihiraukan Arga. Membuat Jihan memejamkan matanya sambil berdoa dalam hati.
Gawat! Gawat! Mas Arga sepertinya tau aku bolos. Sialan di Rani itu berani buka mulut dia.
Arga semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Jihan kemudian memberikan kecupan singkat di sana.
"Hukuman pertama untuk istri ku!"
Jihan sedikit terkejut tak menduga jika hukuman semanis ini yang akan diberikan Arga. Ciuman memangnya termasuk hukuman ya? Batinnya.
"Mas kok main cium-cium lagi sih," ucapnya sembari memegang bibir bekas ciuman Arga.
"Itu hukuman pertama buat kamu sayang. Atas kesalahanmu karena telah membuatku khawatir. Seharian kemana saja tidak memberi kabar aku? Biasanya jam pulang sekolah kamu nemani aku makan siang sambil vc," berkata dengan ketusnya.
Syukur lah ternyata masalah ini yang mas Arga permasalahkan. Ucapnya dalam hati.
Jihan menyengir, "Hehehe maaf mas sayang," ucapnya sambil menyentuh kedua pipi Arga dan mengelusnya. "Baterai hape tadi habis mas. Lagian aku udah telpon mas tadi tapi gak diangkat, jadi impas ya mas sayang, kan karena kesalahan teknis."
Wajah kesal Arga belum menghilang, "Udah dong mas jangan ngambek lagi ya ya, emuahh," Jihan memberikan kecupan dipipi Arga.
Terlihat Arga sedikit menyunggingkan senyum, namun masih ia tahan. Padahal dalam lubuk hatinya sangat tak tahan ingin menyerang sang istri yang tengah bergelayut manja-manjanya.
__ADS_1
"Oke aku maafkan kesalahan pertama! Kesalahan selanjutnya belum."
Haduhh ada lagi? Apasih kesalahanku ini? dimata mas Arga banyak sekali, hal kecil saja dipermasalahkan, hukumannya juga malah menguntungkan dirinya sendiri. Merutuk kesal dalam hati.
"Ayolah mas, kesalahan yang mana lagi?"
Tidak mungkin kan mas Arga tahu tentang pembolosan tadi. Tidak mungkin kayaknya. Batinnya.
Arga kembali meraih wajah Jihan dan menatapnya lekat. "Kesalahan karena kamu tidur dengan pakaian seperti ini dan pintu rumah tidak kamu tutup rapat!"
"Itukan supaya mas gak bingung kalau mau masuk rumah. Kalau aku kunci nanti mas lewat mana hayo?" Mencoba mencari alibi seaman mungkin.
"Dasar anak bandel!" Mengecup singkat bibir Jihan.
"Gak usah di kunci sayang. Tinggal kamu tutup rapat saja ingat di tutup rapat, yang penting tidak dibiarkan terbuka seperti tadi. Untung aku yang masuk, kalau orang jahat bagaimana?"
Astaga mas Arga teliti sekali, aku juga ceroboh banget sih. Merutuki diri sendiri.
"Hehe, maafkan aku mas," kini tangannya bergelayut manja di leher Arga. "Aku janji gak akan mengulangi hal itu lagi deh. Maaf ya. Aku ngaku ini salahku deh, maaf ya, ya,," menatap dengan tatapan memohon.
Manis sekali istriku ini, aku makan juga kamu nanti. Batin Arga.
"Baiklah, aku bisa kasih kamu pilihan untuk hukuman kedua ini. Aku kasih keringannya dengan memberikan dua pilihan," kata Arga.
Jihan melepaskan rangkulan tangannya dari leher Arga. Merubah posisi duduknya dengan menaikkan kakinya bersila di atas sofa.
"Baiklah apa mas? Yang mudah saja ya? Minta pijat kah? Atau cukur kumis mas aja deh."
"Gak! Semua salah." Sambil bersendekap.
"Apa terus mas?"
Kembali ide usil muncul di otak Arga, yang tak ingin membiarkan sang istri lolos dengan mudah. "Pilih aku yang cium kamu, atau kamu yang cium aku duluan."
"Cihh,, apa ada hukuman yang malah menguntungkan si pemberi hukuman sendiri mas mas. Mas Arga ini jangan aneh aneh kenapa? Aku gak mau pilih dua-duanya kalau begitu.''
Jihan dibuat kesal dengan permintaan aneh si suami durjana. Dia tidak tahu saja bahwa dirinya tengah mengalami siklus hormon yang tidak seimbang justru malah digoda seenak jidatnya.
Sialan mas Arga ni, bisa bisanya masih memojokkanku seperti ini. Batinnya.
"Tapi mas Arga curang tau! Aku mau pindah ke kamar aja!" Ucapnya sambil mencoba berdiri. Namun dirinya malah tak sengaja tergelincir dan menyebabkan jatuh ke pangkuan Arga.
"Nah kan apa ku bilang, kamu ini pintar menggoda ya sayang. Berlagak tak mau disentuh tapi sebenarnya kamu inginkan?"
"Ihh mas Arga ngapain sih, bukan gitu mas aku gak sengaja keseleo tadi," mencoba bangkit namun Arga melingkarkan lengan ke pinggang Jihan hingga membuat gadis itu terduduk kembali.
"Tapi kamu jatuh tepat di pangkuanku. Sekalian saja ya kita teruskan di kamar," setelah mengatakan itu Arga membopong tubuh Jihan yang berada dipangkuannya. Dan membawanya menuju kamar mereka.
Di dalam kamar.
Arga perlahan meletakkan Jihan diatas ranjang. Terlihat Jihan tak memberontak seperti biasanya mungkin saja karena dirinya sedang menahan nyeri di bagian perut bawahnya dan juga pinggang.
Arga mengambil ancang-ancang untuk mengungkung tubuh Jihan, namun dirinya mengurungkan sebab melihat Jihan tengah merintih kesakitan.
"Sayang? Ada apa? Tiba-tiba pucat. Apa aku menyakiti mu kah? Mana yang sakit?"
Tanya Arga penuh khawatir. Sembari tangannya menyusuri tubuh Jihan, berusaha mencari bagian tubuh mana yang sakit.
"Perutku mas nyeri, sakit sekali," berkata sambil memegangi perutnya. Tangan Arga ikut tergerak mengelus perut Jihan
"Kenapa sayang?"
"Aku lagi datang bulan mas, setiap haid selalu nyeri kalau hari awal awal," merintih kesakitan.
"Ya ampun maaf sayang aku lupa kalau kamu lagi datang bulan. Semenyakitkan itu kah? Atau kita pergi ke dokter saja ya," ucapnya dengan penuh khawatir.
"Tidak mas jangan! gak perlu sampai kerumah sakit. Ini sudah biasa kok. Bukan sebelumnya juga seperti ini."
"Tapi bukankah kemarin kamu gak sampai kayak gini sayang?" Arga mendudukkan diri di sebelah Jihan.
"Sebenarnya sakitnya sama mas cuma aku tutupi, aku masih tahan kok."
"Yaampun sayang, kamu buat aku khawatir saja. Kenapa sampai segitunya? Lain kali kalau lagi kesakitan bilang aku jangan diam saja. Kalau tejadi apa apa gimana? Jangan pernah menyembunyikan apapun dari aku selama kamu hidup bersamaku ya."
__ADS_1
"Maaf mas buat mas khawatir, aku gak bermaksud seperti itu," ada guratan wajah penyesalan yang tergambar di wajah Jihan.
"Lain kali jangan diulangi lagi ya. Yausdah mas ke dapur dulu ambil air hangat tunggu disini jangan coba-coba bangun!" Ancamnya namun penuh perhatian.
Arga segera beranjak menuju dapur, niatnya ingin mengambil sesuatu yang bisa meredakan rasa nyeri sang istri.
Tak lama kemudian Arga kembali dengan secangkir minuman yang entah isinya apa, dan sebotol air hangat yang ia masukkan ke dalam botol kaca.
"Itu apa mas?" Tanya Jihan setelah Arga mendudukkan diri di samping ranjang Jihan.
"Ini minuman jahe merah hangat, bisa membantu meredakan nyeri kamu sayang. Diminum ya habisin."
Jihan menurut perkataan sang suami yang mendadak jadi dokter itu, yang merawatnya dengan baik dan perhatian yang Arga berikan membuat Jihan semakin jatuh hati.
"Wlekk kok rasanya gak enak sih mas?"
"Ya namanya juga jamu tradisional sayang. Minum saja biar lekas sembuh yang dicari itu bukan rasanya tapi khasiatnya sayang, Ayo minum lagi!
Jihan menurut, meski dengan perasaan sedikit tepaksa sebab rasa minuman itu sama sekali tidak enak. Dan sedikit membuat eneg. Setelah menghabiskan minumannya kini Arga menyodorkan botol kaca berisi air hangat.
"Buka bajumu sayang?"
Jihan melototkan matanya, "Mass! Mas Arga apa apaan sih? Aku lagi sakit mas, jangan aneh-aneh!"
Mengerti kesalahpahaman sang istri, "Hei dasar istri otak mesum! Bukan untuk itu maksudkuu sayang. Aku hanya ingin meletakkan botol berisi air hangat ini ke perutmu supaya suhu hangatnya membuat rasa nyerinya sedikit padam. Paham?"
Jihan membulatkan bibirnya membentuk huruf oo, sok sok paham dia tuh.
Jihan mempersilakan Arga menyentuh perutnya sembari memberikan sedikit pijatan di sana. Ternyata benar, rasa hangat dari botol itu mampu membuat dirinya sedikit rileks rasa nyeri juga berkurang.
"Sayang, aku pindah baring di sampingmu ya. Supaya lebih mudah mengelus perutmu, janji gak akan macam macam kamu lagi sakit dan butuh perawatan.," setelah meminta ijin Jihan mengangguk, kini dirinya tak banyak berkomentar sebab tindakan sang suami mampu membuat dirinya merasa nyaman.
Arga sudah merubah posisinya dengan berbaring miring dibelakang Jihan yang membelakangi dirinya. Tangan Arga masih tergerak sembari mengelus perut Jihan.
"Bagaimana lebih enakan?" Tanya Arga.
"Hmm mas, sedikit berkurang nyerinya," Jihan memejamkan mata menikmati kenyamanan tersebut.
"Syukurlah kalau enakan," balasnya.
"Mas tahu dari mana cara seperti ini? Kok sepertinya tau banyak, seperti sudah pernah merawat orang haid juga? Siapa yang mas rawat,?" Tanya Jihan dengan nada mengintrogasi.
Arga menyunggingkan senyum dibalik punggung Jihan. "Mantan pacarku lah sayang "
Moood jihan seolah meledak setelah mendengar penuturan Arga. Biasa bisanya dia menyebut nyebut mantan pacar saat berada seranjang berdua dengan dirinya. Besar sekali nyalinya. Batin Jihan.
Jihan melepaskan paksa lingkaran tangan Arga dari perutnya. Arga yang mengerti jika ucapannya itu membuat kesal sang istri berusaha menahan tubuh Jihan agar tidak berpaling darinya.
"Haha maaf sayang, maaf aku hanya bercanda. Jangan marah. Jangan pergi!" Ucapnya sambil mendekap erat tubuh Jihan.
"Mas bercandanya gak lucu tau," berkata dengan ketus.
"Haha iya sayang maaf, sini merapat lagi. Jangan jauh jauh dari aku, ya." Arga menarik kembali tubuh Jihan agar berada di dekapannya. Kemudian kembali mengelus perut Jihan.
"Aku tahu sebab, aku punya Kakak perempuan sayang. Mereka juga pernah mengalami hal yang sama seperti kamu. Terus mama ku selalu melakukan hal kayak gini juga. Jadi aku teringat terus memperaktikkan nya ke kamu." Sambung Arga. Sembari memberikan kecupan di kepala Jihan.
"Ohh begitu," sengaja Jihan berespon biasa saja.
"Sebelumnya aku gak pernah melakukan hal ini untuk wanita lain. Baru kamu yang pertama kalinya sayang, dan untuk kedepannya cuma kamu saja." Arga mencoba meluluhkan hati Jihan.
Terlihat Jihan tengah menyungging senyum kebahagiaan yang coba ia tutupi dengan guling. Sedikit ada guratan rona wajah nya yang tersipu.
"Sudah puas mendengar penjelasannya?" Tanya Arga setelah tak mendengar respon apapun dari sang istri. Namun dirinya tahu jika istrinya tengah menyembunyikan wajah berseri-seri nya tersebut. Jelas Arga mengetahuinya sebab melihat ekspresi wajah Jihan dari pantulan cermin diseberang mereka. Konyol bukan?
Jihan berdehem, "Aku percaya sama mas Arga."
Arga menahan tawanya karena tingkah imut sang istri. "Kalau begitu kamu istirahat saja ya. Mas jagain kamu."
Jihan mengangguk dengan tangan Arga yang masih setia mengelus perutnya. Hingga Jihan tak lagi merasakan nyeri luar biasa seperti sebelumnya.
Jika saja aku tau dipeluk seperti ini adalah obat terbaik atas rasa nyeri ini, tau begitu kenapa gak dari dulu menikah aja. Kan enak punya suami bisa ngelus-ngelus kayak gini.. waaah nyaman nyaa. Tangan mas Arga ini ajaib. Suamiku mendadak dokter. Haha
Ungkapan perasaan jihan dalam hati.
__ADS_1